共有

Bab 5

作者: Arievelle
last update 最終更新日: 2025-11-07 07:50:25

Jam di layar HP baru menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit waktu Aluna sampai di kampus. Ia baru saja mendapat pesan dari bagian administrasi untuk ngambil SK dosen pembimbing skripsi.

Rambutnya masih agak lembap habis cuci muka di toilet dekat gerbang. Kali ini make up Aluna begitu natural. Sekilas, ia kelihatan seperti mahasiswi biasa. Padahal barusan, beberapa jam lalu, tangannya masih memegang lap basah di ruangan VIP Eden.

“Pagi, Mbak” sapanya waktu masuk ke ruang fakultas.

"Pagi, ada yang bisa saya bantu?"

"Begini Bu, saya mau mengambil SK Dosen Pembimbing Skripsi.

"Atas nama siapa?" tanya balik sekretaris prodi.

“Aluna Prameswari, Bu.”

Seraya menunggu Aluna mengamati sekitar, sekretaris prodi itu terlihat mengetik sesuatu di komputer nya, lalu tak lama bunyi mesin fotokopi terdengar. “Ini SK-nya. Dosen pembimbing utama kamu sudah ditetapkan.”

"Baik, Bu Terimakasih."

“Selamat, ya. semoga lancar skripsinya.”

“Terima kasih, Bu.” Aluna tersenyum. Senyum yang sopan, tapi kaku.

Begitu keluar, ia berdiri di dekat taman fakultas, membuka kertas itu dengan jari yang sedikit bergetar. Nama di baris bawah langsung menarik matanya.

Dosen Pembimbing Utama: Dr. Sagaras Mahendra Adiguna, M.M.

Aluna diam. Angin lewat pelan, tapi dadanya mendadak sesak. Nama itu… mustahil kan?

Tangannya buru-buru melipat kertas itu, seolah kalau ia nggak lihat, tulisan itu bakal berubah sendiri.

“Banyak kali orang namanya Sagara,” gumamnya lirih, setengah meyakinkan diri sendiri. “Iya, pasti bukan dia.” Suaranya pelan, nyaris seperti doa.

Tapi kenangan samar dari semalam menampar: suara berat itu, caranya memanggil namanya, tatapan yang tajam tapi santai. Ia menggigit bibir bawahnya, menepis pikiran yang mulai liar.

Bukan. Nggak mungkin. Dosen muda? Di kampusnya? Yang katanya lulusan luar negeri? Masa iya?

“Lo serius?” suara Naura bikin Aluna kaget.

Dari arah kantin, Naura melambai sambil bawa dua gelas es teh, diikuti Zora yang sibuk bungkus nasi goreng.

“Lo bengong ngapain? Ayo sini. Zora udah marah-marah kelaparan,” seru Naura.

Aluna buru-buru melipat kertas itu dan menyimpannya ke tas. “Oh, iya. Abis ambil SK,” jawabnya santai, meski nadanya agak serak.

Mereka duduk di meja pojok kantin.

Naura langsung nembak, “Terus lo dapet siapa? Jangan bilang yang killer itu, ya?”

Zora nyeletuk sambil nyendok nasi, “Atau jangan-jangan yang baru tuh? Katanya dosen muda, cakep tapi galak banget. Mahasiswa bisnis udah heboh dari kemarin.”

Aluna cuma mengangkat bahu. “Baru sih kayaknya.”

“Namanya siapa?”

“Sagara,” jawabnya pelan, lalu buru-buru nyeruput es tehnya.

“Sagara siapa?”

“Mahendra. Kayaknya dia yang baru pindah itu.”

Naura berdecak, “Lo beruntung! Katanya doi ganteng parah, masih muda, tapi super disiplin. Ya ampun, skripsi lo bakal lulus duluan, Lun.”

Aluna cuma nyengir kecil. Dalam hati, dadanya terasa berat. Ia nggak berani mikir terlalu jauh, tapi satu hal pasti: dunia malam dan dunia siangnya mulai beririsan. Dan entah kenapa, itu nggak terasa seperti kebetulan.

Naura menyender santai di kursi, memainkan sedotannya. “Jadi, kapan lu mau ngasih suratnya ke Pak Sagara?” tanyanya santai.

“Gue denger beliau sibuk banget, jarang nongol di kampus. Kalo bisa cepet ketemu, biar skripsi lu cepet kelar juga, Lun.”

Zora nimpalin sambil cengengesan, “Iya, katanya sih kalau udah keburu penuh jadwalnya, susah banget ngejar bimbingan. Nanti malah numpuk.”

Aluna hanya tersenyum tipis. “Ya… liat aja nanti. Gue belum sempet cari jadwalnya,” jawabnya datar, pura-pura sibuk motongin ayam di piringnya.

Naura mencondongkan badan. “Loh, tumben lo nggak buru-buru. Biasanya yang rajin tuh, tiap ada pengumuman langsung beresin.”

“Iya nih,” tambah Zora, “jangan-jangan lo takut duluan gara-gara katanya killer?”

Aluna terkekeh pendek, lebih ke menutupi gugup. “Takut apaan sih. Cuma… ya, baru aja dapet. Gue mau pelan-pelan dulu.”

Padahal, di dalam dadanya, pelan-pelan bukan karena santai. Tapi karena ketakutan. Nama itu masih berputar di kepalanya seperti gema yang nggak mau hilang. Sagara.

Dr. Sagaras Mahendra Adiguna.

Tangannya refleks menyentuh tas tempat SK itu disimpan. Masih di sana, masih nyata.

Dan tiap kali Zora atau Naura nyebut “Pak Sagara”, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Pokoknya jangan nunda, Lun,” kata Naura, “ntar keburu disemprot dosen lain. Gue aja udah WA asistennya dua kali buat janjian.” Aluna angguk kecil. “Iya, nanti gue coba hubungi,” katanya pelan.

Tapi di kepalanya, cuma ada satu kalimat:

Gimana kalau benar dia orangnya?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 21

    Pagi itu, meski jam operasional baru saja dimulai Aluna bersama Naura dan Zora jalan di mall karena Naura bilang, "Gue butuh kopi mahal dulu biar bisa mikir skripsi murah." Mereka berjalan berdampingan menuju lantai dua, dengan rencana sederhana: sarapan, kopi, lalu skripsi-an dengan wifi cafe.Seperti biasa, Naura sudah mengeluh lagi. "Demi apa pun, otak gue baru nyala kalau minum kopi mahal," gumamnya sambil mengutak-atik tote bag-nya."Mahal yang bikin dompet menjerit tapi jiwa tercerahkan," timpal Zora, penuh dramatis.Aluna terkekeh. Sisa lelah semalam masih menempel, tapi celotehan dua sahabatnya cukup jadi penawar. Ada kehangatan aneh saat mereka bertiga bersama: rusuh, enggak efisien, tapi selalu menyenangkan.Eskalator membawa mereka naik perlahan. Naura sibuk menunjuk segala hal—sepatu blink-blink, parfum diskon, bahkan stan skincare yang masih tutup. Zora merengek soal tumitnya yang lecet. Aluna sendiri cuma mengamati sekeliling, merasa kontras dengan suasana klub semalam y

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 20

    Aluna mengangkat kepalanya perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan lagi ketakutan yang murni, tapi setitik tekad yang mulai menyala."Tidak," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkannya karena aku nggak mau seperti ibu."Dengan gerakan yang lebih pasti, ia meraih tisu dan membersihkan sisa air mata dan riasan yang luntur di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri.Setelah merasa sedikit lebih baik, Aluna membuka pintu toilet dan keluar. Lorong belakang masih sepi, tetapi kali ini ia tidak merasa sekecil dan selemah tadi. Ia berjalan dengan langkah yang lebih tegap, meskipun hatinya masih berdebar kencang.Ia harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri dan menunggu Sagara menghancurkannya. Ia harus mencari cara untuk melindungi dirinya sendiri, untuk melawan balik.Baru beberapa meter keluar dari pintu toilet, suara langka

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 19

    Aluna keluar dari ruangan pribadi Sagara dengan langkah yang tidak stabil. Pintu berat itu menutup perlahan di belakangnya, namun suara klik-nya terdengar seperti palu yang memaku peti mati—mengurung napasnya, mengunci masa depannya. Gadis itu menyeret langkahnya menjauh dari lorong VIP, berusaha tidak terlihat kacau. Musik club masih menghantam dari lantai bawah, tapi lorong belakang untuk staff lebih sepi, hanya terdengar suara AC berdengung dan langkah karyawan yang lalu-lalang. Begitu sampai di depan toilet karyawan, Aluna langsung masuk dan mengunci pintunya. Klik. Suara yang biasanya membuatnya merasa aman kali ini justru terasa seperti apitan terakhir sebelum ia pecah. Lampu putih dingin di atas kepala membuat wajahnya tampak pucat di cermin. Rambutnya berantakan. Bibirnya memerah bekas tekanan. Dan matanya terlihat seperti mata seorang gadis yang baru lari dari sesuatu yang gelap. Aluna memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap pantulan dirinya lebih lama. Tan

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 18

    Aluna meronta dalam hati, namun tubuhnya seolah membeku. Ciuman Sagara semakin dalam, merasuki setiap inci dirinya. Ia merasa seperti terhisap ke dalam pusaran yang gelap dan berbahaya. Di tengah kekalutan itu, Aluna melihat bayangan dirinya di masa depan, seorang wanita yang terjebak dalam dunia malam, seperti ibunya. Ia tidak ingin menjadi seperti itu. Ia ingin meraih mimpinya, menjadi seorang sarjana yang sukses, dan membuktikan bahwa ia bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Dengan sekuat tenaga, Aluna mendorong Sagara menjauh. Ia terhuyung ke belakang, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tatapan Sagara menggelap, bukan hanya marah tapi juga tersinggung. "Kenapa?" Suara Sagara terdengar rendah dan dingin. "Aku tidak bisa," bisik Aluna, suaranya bergetar seperti daun yang tertiup angin. "Aku bukan wanita seperti itu." Sagara tertawa sinis, suara yang berhasil mengiris hati Aluna. "Lucu sekali. Kau pikir kau siapa, Aluna? Dunia tidak peduli kau seperti apa." Aluna me

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 17

    Waktu seolah berhenti. Aluna bisa merasakan napas Sagara menerpa wajahnya, hangat dan menggoda. Ia tahu, ia seharusnya mendorong Sagara menjauh, berlari secepat mungkin, dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Tapi kakinya terasa terpaku di tempatnya. Ada kekuatan aneh yang menariknya lebih dekat, membuatnya ingin merasakan lebih. Ia seorang mahasiswi yang sedang berjuang untuk meraih gelar sarjana, seorang gadis yang telah bekerja keras selama empat tahun di Eden untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak seharusnya berada di sini, di dalam cengkeraman pemilik klub malam yang baru, yang juga dosen pembimbingnya. "Buka matamu, Aluna," bisik Sagara, suaranya nyaris tak terdengar. Aluna menggeleng pelan. Ia takut dengan apa yang akan dilihatnya, dengan apa yang akan dirasakannya. Ia takut pada Sagara, tapi ia juga takut pada dirinya sendiri. Ia takut jika ia membuka mata, ia akan melihat bayangan ibunya di sana, seorang wanita yang telah menyerahkan segalanya untuk bertahan hidup di

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 16

    Sagara menatap dalam Aluna. Ia tak mengatakan apapun lagi, hanya saja ia terus menggerakkan ibu jarinya di pipinya, gerakannya lembut namun makin lama makin membawa sensasi tersendiri di dada Aluna. Sagara bisa melihat perasaan perlawanan yang perlahan-lahan mulai pudar di mata gadis di depannya."Mengapa diam?" bisiknya lagi, bahkan terdengar lebih lembut dari sebelumnya.Kini ibu jari Sagara lebih turun ke bawah, menelusuri rahang Aluna. Mata Aluna kembali terpejam. Pikirannya berkata tidak, namun tubuhnya tidak bisa bohong. Ia menikmati sentuhan Sagara. Sentuhan dari dosen pembimbing skripsinya.Sagara sama sekali tidak berniat menghentikan ibu jarinya, elusannya terus turun ke lehernya dan meraba di bawah dagunya, sampai menuju tempat detak jantung Aluna yang berdebar lebih keras dari sebelumnya.Sagara mengeratkan ujung ibu jarinya di atasnya, seolah ingin menguji keberaniannya.“Kenapa tidak menjauh?" bisik Sagara lebih dekat dari sebelumnya, sehingga pria itu hampir menyentuh t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status