Share

Bab 6

Author: Arievelle
last update Last Updated: 2025-11-07 08:05:49

Setelah satu jam di perpustakaan, Aluna akhirnya menyerah. Ia tahu pikirannya nggak akan tenang sebelum memastikan satu hal apakah “Sagaras Mahendra Adiguna” itu benar dia.

Dengan napas berat, Aluna membuka chat W******p. Nomor dosen pembimbing yang tertulis di SK sudah ia simpan tadi pagi.

Tanpa banyak mikir, ia ketik pesan singkat.

Selamat siang, Pak. Saya Aluna Prameswari mahasiswi bimbingan skripsi Bapak. Saya ingin mengonfirmasi jadwal pertemuan untuk membahas skripsi saya. Apakah Bapak ada waktu minggu ini?

Pesan terkirim. Tanda centang dua abu-abu. Lalu biru. Lalu tak lama kemudian balasan masuk.

"Ke ruangan saya sekarang."

Satu kalimat. Dingin. Tegas. Tanpa titik dua, tanpa salam. Sama persis seperti nada bicaranya semalam.

Aluna menatap layar lama. Rasanya seperti darahnya berhenti mengalir sesaat. Ia membaca ulang kalimat itu berkali-kali, berharap ada kesalahan. Tapi tidak. Nomor itu benar. Nama itu juga sama.

Jantungnya berdetak cepat. Ia sempat menggigit ujung pulpen, mencoba menenangkan diri.

“Ya udah, paling cuma mirip. Lagian, mana mungkin,” bisiknya, tapi nada suaranya sendiri terdengar goyah.

Tangannya gemetar kecil waktu menutup laptop dan memasukkan semuanya ke tas.

Langkahnya menuju gedung dosen terasa berat.

Setiap langkah seperti memantulkan suara jantungnya sendiri.

Di lantai dua, papan nama kecil itu menunggu di depan pintu berwarna krem.

Dr. Sagaras Mahendra Adiguna, M.M.

Ia berhenti tepat di depannya. Napasnya berat.

Tangannya sempat menggantung di udara sebelum akhirnya mengetuk pelan.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Suara itu persis seperti yang ia ingat. Tenang, dalam, dan membuat udara di paru-parunya seolah menipis.

Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan suara engsel yang nyaris tenggelam oleh detak jantung Aluna sendiri. Ruangan itu rapi, wangi kopi hitam, dan berisi aroma kertas baru. Di balik meja besar kayu cokelat muda, seseorang tengah menatap layar laptop dan ketika ia mendongak, dunia Aluna seolah berhenti sebentar.

Sagara.

Masih dengan ekspresi tenang, kemeja putih dilipat di lengan, dan jam tangan yang sama seperti malam itu. Ia mengerutkan kening sejenak, seperti sedang memastikan sesuatu. Lalu… sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum ramah dosen, tapi lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan rahasia kecil yang menyenangkan.

“Silakan duduk,” katanya tenang. Nada suaranya tidak berubah, tapi ada sesuatu di balik ketenangannya yang membuat udara di ruangan itu lebih berat.

Aluna berdiri kaku di depan kursi, matanya menatap meja, bukan wajahnya. Ia ingin bicara, tapi lidahnya seperti membatu.

Bahkan untuk mengatur napas pun terasa susah.

“Mahasiswa baru bimbingan saya, kan?” Sagara menutup laptopnya perlahan.

“Iya, Pak.” suaranya hampir hilang, terlalu pelan.

Sagara menyandarkan tubuh ke kursi, tangan kirinya memutar pena di antara jari. Tatapannya jatuh tepat ke arah Aluna, tenang tapi tajam, seperti sedang mengukur jarak yang pernah ada di antara mereka.

“Nama kamu?”

“Aluna Prameswari.”

“Hmm.” Ia mengangguk kecil, matanya tak lepas dari wajahnya. “Kita… pernah ketemu sebelumnya, ya?”

Pertanyaan itu keluar datar, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Aluna menegang.

Ia cepat-cepat menunduk. “Sepertinya tidak, Pak.”

Sagara hanya tersenyum tipis lagi—senyum itu, yang samar tapi jelas punya arti lain.

“Baiklah.” Ia membuka map di mejanya, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

“Tulis topik penelitian kamu di sini,” katanya, mendorong selembar kertas ke arah Aluna.

Aluna melangkah maju. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil pulpen. Sagara memperhatikan gerakannya dengan tatapan tenang, nyaris tak berkedip. Dan saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, aroma parfum pria itu menyeruak halus—aroma yang semalam menempel di pikirannya sampai sekarang.

Untuk sepersekian detik, Aluna berhenti menulis.

Tangannya beku di atas kertas. Sagara memperhatikannya sebentar, lalu menurunkan suaranya sedikit, nyaris seperti bisikan.

“Tenang saja, Aluna. Di sini… saya dosen kamu.”

Nada suaranya datar, tapi matanya berkata lain.

Aluna menelan ludah, pelan, mencoba menegakkan tubuhnya lagi. “Iya, Pak.”

Tapi bahkan setelah menulis topiknya dan keluar dari ruangan itu, ia masih bisa merasakan tatapan itu di punggungnya dingin, lembut, tapi berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 21

    Pagi itu, meski jam operasional baru saja dimulai Aluna bersama Naura dan Zora jalan di mall karena Naura bilang, "Gue butuh kopi mahal dulu biar bisa mikir skripsi murah." Mereka berjalan berdampingan menuju lantai dua, dengan rencana sederhana: sarapan, kopi, lalu skripsi-an dengan wifi cafe.Seperti biasa, Naura sudah mengeluh lagi. "Demi apa pun, otak gue baru nyala kalau minum kopi mahal," gumamnya sambil mengutak-atik tote bag-nya."Mahal yang bikin dompet menjerit tapi jiwa tercerahkan," timpal Zora, penuh dramatis.Aluna terkekeh. Sisa lelah semalam masih menempel, tapi celotehan dua sahabatnya cukup jadi penawar. Ada kehangatan aneh saat mereka bertiga bersama: rusuh, enggak efisien, tapi selalu menyenangkan.Eskalator membawa mereka naik perlahan. Naura sibuk menunjuk segala hal—sepatu blink-blink, parfum diskon, bahkan stan skincare yang masih tutup. Zora merengek soal tumitnya yang lecet. Aluna sendiri cuma mengamati sekeliling, merasa kontras dengan suasana klub semalam y

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 20

    Aluna mengangkat kepalanya perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan lagi ketakutan yang murni, tapi setitik tekad yang mulai menyala."Tidak," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkannya karena aku nggak mau seperti ibu."Dengan gerakan yang lebih pasti, ia meraih tisu dan membersihkan sisa air mata dan riasan yang luntur di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri.Setelah merasa sedikit lebih baik, Aluna membuka pintu toilet dan keluar. Lorong belakang masih sepi, tetapi kali ini ia tidak merasa sekecil dan selemah tadi. Ia berjalan dengan langkah yang lebih tegap, meskipun hatinya masih berdebar kencang.Ia harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri dan menunggu Sagara menghancurkannya. Ia harus mencari cara untuk melindungi dirinya sendiri, untuk melawan balik.Baru beberapa meter keluar dari pintu toilet, suara langka

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 19

    Aluna keluar dari ruangan pribadi Sagara dengan langkah yang tidak stabil. Pintu berat itu menutup perlahan di belakangnya, namun suara klik-nya terdengar seperti palu yang memaku peti mati—mengurung napasnya, mengunci masa depannya. Gadis itu menyeret langkahnya menjauh dari lorong VIP, berusaha tidak terlihat kacau. Musik club masih menghantam dari lantai bawah, tapi lorong belakang untuk staff lebih sepi, hanya terdengar suara AC berdengung dan langkah karyawan yang lalu-lalang. Begitu sampai di depan toilet karyawan, Aluna langsung masuk dan mengunci pintunya. Klik. Suara yang biasanya membuatnya merasa aman kali ini justru terasa seperti apitan terakhir sebelum ia pecah. Lampu putih dingin di atas kepala membuat wajahnya tampak pucat di cermin. Rambutnya berantakan. Bibirnya memerah bekas tekanan. Dan matanya terlihat seperti mata seorang gadis yang baru lari dari sesuatu yang gelap. Aluna memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap pantulan dirinya lebih lama. Tan

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 18

    Aluna meronta dalam hati, namun tubuhnya seolah membeku. Ciuman Sagara semakin dalam, merasuki setiap inci dirinya. Ia merasa seperti terhisap ke dalam pusaran yang gelap dan berbahaya. Di tengah kekalutan itu, Aluna melihat bayangan dirinya di masa depan, seorang wanita yang terjebak dalam dunia malam, seperti ibunya. Ia tidak ingin menjadi seperti itu. Ia ingin meraih mimpinya, menjadi seorang sarjana yang sukses, dan membuktikan bahwa ia bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Dengan sekuat tenaga, Aluna mendorong Sagara menjauh. Ia terhuyung ke belakang, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tatapan Sagara menggelap, bukan hanya marah tapi juga tersinggung. "Kenapa?" Suara Sagara terdengar rendah dan dingin. "Aku tidak bisa," bisik Aluna, suaranya bergetar seperti daun yang tertiup angin. "Aku bukan wanita seperti itu." Sagara tertawa sinis, suara yang berhasil mengiris hati Aluna. "Lucu sekali. Kau pikir kau siapa, Aluna? Dunia tidak peduli kau seperti apa." Aluna me

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 17

    Waktu seolah berhenti. Aluna bisa merasakan napas Sagara menerpa wajahnya, hangat dan menggoda. Ia tahu, ia seharusnya mendorong Sagara menjauh, berlari secepat mungkin, dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Tapi kakinya terasa terpaku di tempatnya. Ada kekuatan aneh yang menariknya lebih dekat, membuatnya ingin merasakan lebih. Ia seorang mahasiswi yang sedang berjuang untuk meraih gelar sarjana, seorang gadis yang telah bekerja keras selama empat tahun di Eden untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak seharusnya berada di sini, di dalam cengkeraman pemilik klub malam yang baru, yang juga dosen pembimbingnya. "Buka matamu, Aluna," bisik Sagara, suaranya nyaris tak terdengar. Aluna menggeleng pelan. Ia takut dengan apa yang akan dilihatnya, dengan apa yang akan dirasakannya. Ia takut pada Sagara, tapi ia juga takut pada dirinya sendiri. Ia takut jika ia membuka mata, ia akan melihat bayangan ibunya di sana, seorang wanita yang telah menyerahkan segalanya untuk bertahan hidup di

  • Dosenku Di Club Malam   Bab 16

    Sagara menatap dalam Aluna. Ia tak mengatakan apapun lagi, hanya saja ia terus menggerakkan ibu jarinya di pipinya, gerakannya lembut namun makin lama makin membawa sensasi tersendiri di dada Aluna. Sagara bisa melihat perasaan perlawanan yang perlahan-lahan mulai pudar di mata gadis di depannya."Mengapa diam?" bisiknya lagi, bahkan terdengar lebih lembut dari sebelumnya.Kini ibu jari Sagara lebih turun ke bawah, menelusuri rahang Aluna. Mata Aluna kembali terpejam. Pikirannya berkata tidak, namun tubuhnya tidak bisa bohong. Ia menikmati sentuhan Sagara. Sentuhan dari dosen pembimbing skripsinya.Sagara sama sekali tidak berniat menghentikan ibu jarinya, elusannya terus turun ke lehernya dan meraba di bawah dagunya, sampai menuju tempat detak jantung Aluna yang berdebar lebih keras dari sebelumnya.Sagara mengeratkan ujung ibu jarinya di atasnya, seolah ingin menguji keberaniannya.“Kenapa tidak menjauh?" bisik Sagara lebih dekat dari sebelumnya, sehingga pria itu hampir menyentuh t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status