Masuk“Apa saya boleh pergi, Pak?” tanya Aluna pelan, setelah merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
“Tunggu. Kali ini belum.” Sagara menurunkan pandangannya, lalu duduk di samping Aluna. Gerakannya tenang, tapi cukup untuk membuat napas Aluna tercekat. Ia diam, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Hatinya berdebar entah karena takut, gugup, atau keduanya. Di sebelahnya, Sagara masih menatap tanpa suara. Tatapan itu menusuk, seperti bisa menembus lapisan pikirannya. “Aku ingin bertanya sesuatu,” katanya akhirnya, lembut tapi tegas. “Jawab dengan jujur. Apakah kau takut padaku, Aluna?” “Sedikit, Pak.” Senyum tipis terbit di sudut bibir Sagara. Nyaris tak terlihat. “Kenapa? Ada alasan tertentu untuk takut?” Aluna menunduk, tak sanggup menatap. Jarak mereka terlalu dekat. Parfum Sagara dengan aroma kayu dan mint yang khas membuyarkan pikirannya. Lalu, jemari Sagara menyentuh lembut rambut Aluna. Ia condong sedikit, suaranya menurun, hampir seperti desau angin. “Kau bisa mendengar detak jantungmu, ya?” bisiknya. “Aku juga bisa. Terdengar lebih keras dari kata-kata yang belum kau ucapkan.” Aluna melangkah mundur pelan, berusaha memberi ruang. Tapi matanya masih tertahan di wajah pria itu. “Tenang saja,” Sagara tersenyum kecil, “aku tak akan memakanmu. Setidaknya... bukan hari ini.” Ada nada main-main dalam suaranya—tapi juga ancaman samar yang entah kenapa membuat bulu kuduk Aluna berdiri. “Kau boleh pergi,” lanjutnya. “Tapi ingat, kapan pun aku memanggilmu, kau harus datang. Dan mulai sekarang jangan pernah berbohong apalagi main-main padaku.” Aluna langsung bergegas keluar. Berada satu ruangan dengan Sagara membuatnya tak bisa bernapas lega—seolah setiap inci udara di sana dikendalikan olehnya. Begitu pintu menutup, Sagara masih diam di tempat. Tatapannya mengikuti kepergian Aluna, hingga hanya keheningan yang tersisa. Lalu, senyum tipis kembali terbit di sudut bibirnya. “Ah…” desisnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Dia bahkan belum menyadari hal terbaik dari semua ini.” Suara tawanya pecah, terdengar rendah, ringan, tapi menyimpan sesuatu yang gelap di dalamnya. “Manusia memang lemah dan mudah tertipu.” Kali ini tawanya terdengar lebih keras. Lebih jujur. Lebih kejam. “Dan aku,” katanya dengan nada puas, “sangat menyukainya.” *** Begitu pintu tertutup di belakangnya, Aluna akhirnya bisa bernapas. Nafasnya tersengal cepat dan tak beraturan. Tangan dinginnya bergetar saat menggenggam tas. Ia berjalan tergesa menyusuri koridor, tapi langkahnya tak pernah benar-benar stabil. “Kenapa aku gemetar begini?” gumamnya, hampir tanpa suara. Setiap bayangan Sagara terlintas di kepalanya membuat bulu kuduknya berdiri. Tatapan itu… suara itu… seolah masih mengurungnya bahkan setelah ia keluar dari ruangan. Rasanya seperti baru saja keluar dari sesuatu yang tidak seharusnya ia masuki. Tapi di antara ketakutan itu, ada sesuatu lain yang mengganggu rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan. Ia berhenti di depan cermin besar di ujung lorong. Wajahnya pucat, pupil matanya membesar. “Aku takut…” bisiknya pelan. “Tapi kenapa jantungku masih berdebar seperti ini?” Tangannya naik menyentuh dada, mencoba menenangkan degup yang seolah berlari tanpa arah. Tapi semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin jelas bayangan Sagara di pikirannya. Dan entah kenapa Aluna tahu, ini baru permulaan. Aluna kembali memulai pekerjaannya, ia berdiri di balik bar, masih mengenakan seragam hitam yang ketat di pinggang, rambutnya diikat asal-asalan. Tangannya sibuk menuang minuman, tapi pikirannya masih kabur. “Luna!” Suara Gina menembus bisingnya musik. Cewek itu melangkah cepat sambil membawa nampan penuh gelas. Lipstiknya merah menyala, senyumnya lebar seperti biasa. “Lo ngelamun lagi ya? Dari tadi gue liatin kayak robot. Lo tuh kerja di club, bukan di pemakaman.” Aluna menghela napas. “Cuma pusing dikit, Gin.” “Pusing? Lo yakin bukan karena someone?” Aluna memutar bola mata, tapi pipinya sedikit memanas. “Nggak ada someone. Udah kerja sana, sebelum Mbak Rena marah.” Gina nyengir, mencondongkan badan. “Kalo lo nggak mau ngomong, gue bakal nebak. Muka lo tuh kayak abis disihir seseorang antara takut, bingung, tapi malah kepikiran terus.” Aluna diam. Tangannya gemetar sedikit saat menuang vodka. Cairan jernih itu meluber keluar gelas, menetes ke meja. Gina langsung sigap, mengambil lap. “Tuh kan. Lihat? Lo tuh nggak fokus.” “Tadi…” Aluna menelan ludah, suaranya nyaris tenggelam di antara dentuman bass. “Gue ketemu bos lagi.” “Bos? Pak Sagara maksud Lo? “Siapa lagi.” Gina menaikkan alisnya, separuh menggoda, separuh serius. “Jangan bilang Lo abis di unboxing?” Aluna melotot ke arah Gina. Fiks, jika otak sahabat nya ini telah terkontaminasi. “Mulut Lo tuh ya. Minta di sumpel. Yang ada mah dia bikin gue takut,” katanya pelan. “Tapi gue nggak bisa berhenti mikirin dia.” Gina terdiam, kehilangan kata-kata untuk sesaat. Musik berubah jadi lebih lambat, bas-nya berdengung di dada. “Hati-hati, Lun. Orang kayak bos gitu biasanya berbahaya.” Aluna tersenyum tipis, meski matanya kosong. “Gue juga tahu. Kalo bisa juga gue mau mundur.”Pagi itu, meski jam operasional baru saja dimulai Aluna bersama Naura dan Zora jalan di mall karena Naura bilang, "Gue butuh kopi mahal dulu biar bisa mikir skripsi murah." Mereka berjalan berdampingan menuju lantai dua, dengan rencana sederhana: sarapan, kopi, lalu skripsi-an dengan wifi cafe.Seperti biasa, Naura sudah mengeluh lagi. "Demi apa pun, otak gue baru nyala kalau minum kopi mahal," gumamnya sambil mengutak-atik tote bag-nya."Mahal yang bikin dompet menjerit tapi jiwa tercerahkan," timpal Zora, penuh dramatis.Aluna terkekeh. Sisa lelah semalam masih menempel, tapi celotehan dua sahabatnya cukup jadi penawar. Ada kehangatan aneh saat mereka bertiga bersama: rusuh, enggak efisien, tapi selalu menyenangkan.Eskalator membawa mereka naik perlahan. Naura sibuk menunjuk segala hal—sepatu blink-blink, parfum diskon, bahkan stan skincare yang masih tutup. Zora merengek soal tumitnya yang lecet. Aluna sendiri cuma mengamati sekeliling, merasa kontras dengan suasana klub semalam y
Aluna mengangkat kepalanya perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan lagi ketakutan yang murni, tapi setitik tekad yang mulai menyala."Tidak," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkannya karena aku nggak mau seperti ibu."Dengan gerakan yang lebih pasti, ia meraih tisu dan membersihkan sisa air mata dan riasan yang luntur di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri.Setelah merasa sedikit lebih baik, Aluna membuka pintu toilet dan keluar. Lorong belakang masih sepi, tetapi kali ini ia tidak merasa sekecil dan selemah tadi. Ia berjalan dengan langkah yang lebih tegap, meskipun hatinya masih berdebar kencang.Ia harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri dan menunggu Sagara menghancurkannya. Ia harus mencari cara untuk melindungi dirinya sendiri, untuk melawan balik.Baru beberapa meter keluar dari pintu toilet, suara langka
Aluna keluar dari ruangan pribadi Sagara dengan langkah yang tidak stabil. Pintu berat itu menutup perlahan di belakangnya, namun suara klik-nya terdengar seperti palu yang memaku peti mati—mengurung napasnya, mengunci masa depannya. Gadis itu menyeret langkahnya menjauh dari lorong VIP, berusaha tidak terlihat kacau. Musik club masih menghantam dari lantai bawah, tapi lorong belakang untuk staff lebih sepi, hanya terdengar suara AC berdengung dan langkah karyawan yang lalu-lalang. Begitu sampai di depan toilet karyawan, Aluna langsung masuk dan mengunci pintunya. Klik. Suara yang biasanya membuatnya merasa aman kali ini justru terasa seperti apitan terakhir sebelum ia pecah. Lampu putih dingin di atas kepala membuat wajahnya tampak pucat di cermin. Rambutnya berantakan. Bibirnya memerah bekas tekanan. Dan matanya terlihat seperti mata seorang gadis yang baru lari dari sesuatu yang gelap. Aluna memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap pantulan dirinya lebih lama. Tan
Aluna meronta dalam hati, namun tubuhnya seolah membeku. Ciuman Sagara semakin dalam, merasuki setiap inci dirinya. Ia merasa seperti terhisap ke dalam pusaran yang gelap dan berbahaya. Di tengah kekalutan itu, Aluna melihat bayangan dirinya di masa depan, seorang wanita yang terjebak dalam dunia malam, seperti ibunya. Ia tidak ingin menjadi seperti itu. Ia ingin meraih mimpinya, menjadi seorang sarjana yang sukses, dan membuktikan bahwa ia bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Dengan sekuat tenaga, Aluna mendorong Sagara menjauh. Ia terhuyung ke belakang, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tatapan Sagara menggelap, bukan hanya marah tapi juga tersinggung. "Kenapa?" Suara Sagara terdengar rendah dan dingin. "Aku tidak bisa," bisik Aluna, suaranya bergetar seperti daun yang tertiup angin. "Aku bukan wanita seperti itu." Sagara tertawa sinis, suara yang berhasil mengiris hati Aluna. "Lucu sekali. Kau pikir kau siapa, Aluna? Dunia tidak peduli kau seperti apa." Aluna me
Waktu seolah berhenti. Aluna bisa merasakan napas Sagara menerpa wajahnya, hangat dan menggoda. Ia tahu, ia seharusnya mendorong Sagara menjauh, berlari secepat mungkin, dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Tapi kakinya terasa terpaku di tempatnya. Ada kekuatan aneh yang menariknya lebih dekat, membuatnya ingin merasakan lebih. Ia seorang mahasiswi yang sedang berjuang untuk meraih gelar sarjana, seorang gadis yang telah bekerja keras selama empat tahun di Eden untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak seharusnya berada di sini, di dalam cengkeraman pemilik klub malam yang baru, yang juga dosen pembimbingnya. "Buka matamu, Aluna," bisik Sagara, suaranya nyaris tak terdengar. Aluna menggeleng pelan. Ia takut dengan apa yang akan dilihatnya, dengan apa yang akan dirasakannya. Ia takut pada Sagara, tapi ia juga takut pada dirinya sendiri. Ia takut jika ia membuka mata, ia akan melihat bayangan ibunya di sana, seorang wanita yang telah menyerahkan segalanya untuk bertahan hidup di
Sagara menatap dalam Aluna. Ia tak mengatakan apapun lagi, hanya saja ia terus menggerakkan ibu jarinya di pipinya, gerakannya lembut namun makin lama makin membawa sensasi tersendiri di dada Aluna. Sagara bisa melihat perasaan perlawanan yang perlahan-lahan mulai pudar di mata gadis di depannya."Mengapa diam?" bisiknya lagi, bahkan terdengar lebih lembut dari sebelumnya.Kini ibu jari Sagara lebih turun ke bawah, menelusuri rahang Aluna. Mata Aluna kembali terpejam. Pikirannya berkata tidak, namun tubuhnya tidak bisa bohong. Ia menikmati sentuhan Sagara. Sentuhan dari dosen pembimbing skripsinya.Sagara sama sekali tidak berniat menghentikan ibu jarinya, elusannya terus turun ke lehernya dan meraba di bawah dagunya, sampai menuju tempat detak jantung Aluna yang berdebar lebih keras dari sebelumnya.Sagara mengeratkan ujung ibu jarinya di atasnya, seolah ingin menguji keberaniannya.“Kenapa tidak menjauh?" bisik Sagara lebih dekat dari sebelumnya, sehingga pria itu hampir menyentuh t







