Home / Romansa / Dosenku, Musuhku, Suamiku / Bab 1. Dunia Terlalu Kecil

Share

Dosenku, Musuhku, Suamiku
Dosenku, Musuhku, Suamiku
Author: Agniya14

Bab 1. Dunia Terlalu Kecil

Author: Agniya14
last update Last Updated: 2025-08-18 15:55:21

"Jangan lepaskan …."

Dalam remang, seorang perempuan yang dipengaruhi efek alkohol itu dikuasai pelukan oleh pria gagah dan maskulin di atas kasur.

Aroma keringatnya yang pekat bercampur dengan wangi parfum maskulin yang memabukkan membuat Vivi, nama perempuan itu, semakin tak berdaya. Gejolak hasrat itu membakar tubuhnya, memintanya untuk tunduk.

"Hngh ...."

Ujung-ujung jari pria itu meremas dan menekan punggungnya semakin erat, seerat pagutan pria itu ketika menyambar bibir mungil miliknya.

Sensasi itu membuat Vivi memejamkan mata, kepalanya berkata 'pergi', tapi tubuhnya justru menolak.

Hentakan demi hentakan membuat desahan lolos dari bibir mereka, berpadu dengan derit halus dari pegas kasur.

Cengkeraman Vivi pada punggung pria itu semakin erat, kuku-kuku jarinya menancap.

Kemudian derit kasur itu berhenti, digantikan oleh suara napas terengah-engah dan hening yang pekat.

“Vivi!?”

Vivi berusaha menjaga kesadarannya. Di depannya, wajah pria itu menatapnya tajam.

“Vi! Bangun ….”

Suara bariton itu perlahan-lahan berubah menjadi suara perempuan, membuatnya terlonjak. Nafasnya memburu, kulitnya terasa panas dan basah oleh keringat.

Matanya terbuka–bukan kasur, bukan pelukan pria itu, melainkan kursi sempit berlapis kain abu-abu.

Pandangannya berganti ke deretan kursi mobil travel yang kini sedang ia tumpangi. Saat ini, Vivi tengah menuju kampusnya di Bandung setelah menanti dua tahun lamanya untuk berkuliah di kampus yang ia idam-idamkan.

"Kamu pulang jam berapa sih semalam? Aku ngechat tadi malam nggak dibales-bales."

Vivi cepat-cepat mengatur ekspresinya agar tidak dicurigai. "Oh … aku nginep di rumah teman. Kemarin aku pergi sama dia. Malamnya capek banget, jadi aku ketiduran di sana.”

Lala menatapnya curiga, tetapi tak melanjutkan. "Ya udah, kirain kamu kenapa-kenapa."

Vivi mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia tahu kini ia telah terperosok dalam masalah. Ya, masalah yang sangat … besar!

Ia menatap keluar jendela, berusaha meyakinkan diri bahwa adegan-adegan yang barusan ia rasakan benar-benar mimpi.

Namun, pikirannya tak bisa menampik; sprei putih kusut malam itu, aroma parfum asing yang masih menempel di benaknya, dan rasa jijik pada tubuhnya sendiri ini terlalu nyata untuk dibilang sebagai mimpi.

Semua bermula dari pesta kecil bersama tiga teman SMA-nya. Ia mencoba alkohol untuk pertama kali, kepalanya cepat melayang, dan ingatannya terputus. Yang tersisa hanya potongan samar: dirinya mendekati dua pria asing, lalu gelap.

Saat sadar, ia sudah berada di ranjang dengan seorang pria dewasa yang tak ia kenal. Panik, Vivi memunguti pakaiannya dan kabur pulang. Sesampainya di rumah pun, ia bergegas untuk berangkat ke pool tempat ia memesan travel menuju Bandung.

Dan, di sinilah ia sekarang, memikirkan kembali kejadian bodoh yang ia lakukan pada malam itu.

Travel terus berjalan sampai akhirnya tiba di kota Bandung. Begitu travel memasuki gerbang kota, Vivi memaksa dirinya fokus ke tujuan awalnya yakni kampus.

Dari pool travel ini dia masih harus naik angkutan umum menuju kampus. Bersama dengan Lala, dia tiba di kampus tepat jam sepuluh pagi.

Hari ini penyambutan mahasiswa baru diadakan di aula besar yang sudah penuh sejak pagi. Riuh suara, lampu panggung, dan sorak-sorai panitia membuat suasana terasa hangat kontras dengan perasaan Vivi saat ini.

Ia duduk di barisan tengah, mencoba larut dalam acara dan melupakan sejenak masalah yang dia alami.

Vivi mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah bahagia seperti dirinya. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada seorang lelaki berkemeja rapi di samping dekat tembok. Sekilas wajah itu terasa begitu familiar.

Ia menyipitkan mata, mencoba mengingat. Di mana dia pernah melihatnya melihat lelaki itu.

Dan tiba-tiba, potongan memori semalam menyeruak—malam yang berantakan, wajah samar di balik cahaya redup. Jantung Vivi berdegup kencang. Jangan bilang ... dia lelaki yang tadi malam?

Saat pikiran itu bergulir, pria tersebut menoleh. Tatapan mereka bertemu, singkat tapi cukup untuk membuat darah Vivi berdesir. Lelaki itu pun tampak sedikit terkejut, seolah sama-sama mengenali dirinya.

“Ya Tuhan ...," gumam Vivi dalam hati, panik. “Dia ngeliat ke sini. Duh, kenapa dia ada di sini?"

Vivi buru-buru berpindah tempat, ia pun langsung pergi dari sana dengan cepat sebelum sebuah pesan masuk di ponselnya.

“Vi, nanti setelah dari kampus, temui Mama Papa di restoran ya, nanti Mama akan kirim lokasinya. Jangan sampai terlambat!”

Desahan pendek keluar dari mulut Vivi tatkala ia melihat pesan tersebut, bahkan ketika ia sudah di Bandung pun, cengkraman orang tuanya tak bisa sepenuhnya ia lepaskan.

***

Malam itu, setelah acara penyambutan mahasiswa baru. Vivi ditunggu Ratna–ibunya Vivi di sebuah restoran. Restoran Ananta. Dia harus tiba pada jam tujuh malam.

Begitu tiba di restoran Ananta, ia berjalan malas menuju meja yang dipesan. Langkahnya terhenti mendadak.

Di meja itu, ada seseorang yang duduk dengan santai mengenakan kemeja biru yang lengan atasnya digulung.

Tubuh Vivi membeku, kenapa … dia bisa bertemu pria itu lagi di sini?!

“Lama sekali. Kupikir kamu nggak akan datang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 168. Persiapan

    Vivi dan Giorgio menghabiskan sore yang tenang di kamar bayi yang beraroma kayu baru dan cat segar. Mereka memutuskan untuk memberikan sentuhan personal pada dinding kamar tersebut dengan menempelkan stiker wallpaper bermotif awan dan bintang-bintang kecil yang berpendar dalam gelap.​"Sedikit ke kanan, Gio. Nah, di situ!" seru Vivi sambil mengarahkan suaminya dari kursi goyang.​Giorgio dengan telaten menempelkan stiker itu, memastikan tidak ada gelembung udara yang tersisa. "Gimana? Sudah pas belum?" tanya Giorgio sambil mundur selangkah untuk melihat hasil kerjanya.​Vivi bangkit berdiri, menghampiri Giorgio, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil memandangi dinding yang kini tampak jauh lebih hidup. "Sempurna. Si Kecil pasti suka melihat bintang-bintang ini sebelum tidur nanti."​Kamar yang tadinya hanya berisi furnitur itu kini terasa jauh lebih hangat. Ada keranjang bayi yang sudah dilapisi kain lembut, boneka rajut berbentuk beruang di sudut ruangan, dan tumpukan b

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 167. Hari Terakhir Ujian

    Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.​"Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.​Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."​Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis.​"Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 166. Belajar Bareng Lala

    Suasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. ​Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.​Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. ​"Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 165. Kedatangan Orang tua

    Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut.​"Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.​Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.​Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah.​"Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?"​"Sehat,

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 164. Pindah Rumah

    Pagi itu, suasana di apartemen lama tampak sibuk. Giorgio tidak ingin Vivi kelelahan, jadi ia menyewa jasa pindah rumah profesional ang menangani segalanya. Mulai dari membungkus barang pecah belah hingga mengangkut furnitur. Sementara para petugas hilir mudik, Giorgio terus memastikan Vivi duduk tenang sambil sesekali meminum air putihnya.​Satu jam kemudian, mobil mereka membelah jalanan Bandung yang sejuk. Begitu gerbang kayu jati otomatis rumah baru itu terbuka, sebuah bangunan bergaya minimalis tropis dengan jendela-jendela kaca besar menyambut mereka.​"Kita sampai," ujar Giorgio lembut sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.​Vivi melangkah keluar, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan sisa embun yang masih tertinggal di deduk. Begitu pintu utama dibuka, Vivi terpana. Interior rumah itu sudah tertata sempurna. Sofa beludru berwarna krem yang empuk, pencahayaan warm white yang menenangkan, hingga karpet bulu yang tebal di ruang keluarga. Semuanya dirancang untuk ken

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 163. Kejutan Rumah

    Giorgio mengajak Vivi pulang ke rumah orang tuanya. Papa Giorgio ingin membuat syukuran atas kehamilan Vivi di sebuah hotel mewah. ​Lampu-lampu kristal di koridor hotel bintang lima itu berpendar mewah, tapi suasana di dalam suite pribadi tempat Vivi bersiap terasa jauh lebih tenang dan intim. Giorgio, suaminya, tidak tanggung-tanggung dalam mewujudkan keinginan sang Papa. Alih-alih syukuran sederhana di rumah, sebuah acara megah telah disiapkan di ballroom utama untuk menyambut calon pewaris keluarga mereka.​Vivi duduk tegak di depan cermin besar berbingkai emas. Jemari terampil penata rias baru saja memulaskan sentuhan akhir pada bibirnya. Gaun hamil berbahan satin sutra dengan aksen brokat halus itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan perutnya yang kini kian membuncit namun tetap terlihat anggun.​Giorgio yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, tak mampu mengalihkan pandangannya. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi Vivi. Matanya menatap baya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status