Share

Bab 111. Rujak

Penulis: Agniya14
last update Tanggal publikasi: 2025-11-03 13:09:58

Giorgio menepikan mobilnya tepat di depan warung sop kaki kambing yang ramai. Asap kuah mengepul dari panci besar, menyebarkan aroma rempah yang menusuk hidung. Aroma yang diiidamkan oleh Vivi.

Giorgio mendesah pendek sambil menatap gerobak penjual sop. “Ya Tuhan, Vivi, kamu kenapa sih mintanya makanan beginian,” gumamnya sambil turun dari mobil. Meski bibirnya merengut dia tetap melangkah dengan cepat.

Ia mendekat ke meja pesanan. "Satu bungkus sop kaki kambing, Bang," katanya.

Penjual menga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 170. Ending

    Seminggu setelah hari yang bersejarah di rumah sakit itu, suasana di rumah baru Ciumbuleuit telah sepenuhnya berubah. Rumah yang awalnya terasa sangat luas dan sunyi, kini dipenuhi dengan kehidupan. Aroma minyak telon, bedak bayi, dan cucian bersih yang dijemur di bawah sinar matahari pagi Bandung seolah menjadi dekorasi baru yang paling indah.​Vivi duduk di kursi goyang di dalam kamar bayi yang telah mereka hias dengan stiker bintang dan awan. Di pelukannya, jagoan kecil yang mereka beri nama Gavriel Arkanza, yang berarti "Kekuatan Tuhan yang Menjadi Cahaya"—sedang tertidur lelap setelah menyusu. Vivi memandangi wajah mungil itu dengan tatapan yang tak pernah bosan. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di hatinya; perjuangan melewati mual di awal kehamilan, beban ujian semester yang berat, hingga rasa sakit saat persalinan, semuanya menguap seketika setiap kali ia melihat jemari mungil Gavriel bergerak dalam tidurnya.​Pintu kamar terbuka perlahan. Giorgio masuk dengan membawa

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 169. Vivi Melahirkan

    Di dalam kamar yang sejuk, Vivi tiba-tiba terbangun. Ia tidak terbangun karena haus atau ingin ke toilet seperti biasanya, melainkan karena sebuah gelombang rasa mulas yang perlahan naik, mencengkeram perut bawahnya, lalu perlahan menghilang.​Vivi terdiam, mengatur napasnya. "Mungkin cuma kontraksi palsu lagi," batinnya mencoba tenang.​Namun, sepuluh menit kemudian, rasa itu datang lagi. Kali ini lebih kuat, menjalar hingga ke punggung bawahnya. Vivi melirik jam digital di nakas. Ia mulai menghitung. Ketika gelombang ketiga datang tepat sepuluh menit setelahnya, ia tahu ini bukan lagi latihan.​"Gio ... Giorgio ...," bisiknya sambil menyentuh lengan suaminya.​Giorgio, yang selama ini tidurnya tidak nyenyak sejak kehamilan Vivi besar, langsung terjaga sepenuhnya. Ia duduk tegak dalam sekejap. "Ya? Kenapa, Vi? Ada yang sakit? Mau ke kamar mandi?"​"Kayaknya sudah waktunya, Gio," ucap Vivi pelan, mencoba menahan rasa mulas yang mulai memuncak. "Sudah teratur, setiap sepuluh menit."​M

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 168. Persiapan

    Vivi dan Giorgio menghabiskan sore yang tenang di kamar bayi yang beraroma kayu baru dan cat segar. Mereka memutuskan untuk memberikan sentuhan personal pada dinding kamar tersebut dengan menempelkan stiker wallpaper bermotif awan dan bintang-bintang kecil yang berpendar dalam gelap.​"Sedikit ke kanan, Gio. Nah, di situ!" seru Vivi sambil mengarahkan suaminya dari kursi goyang.​Giorgio dengan telaten menempelkan stiker itu, memastikan tidak ada gelembung udara yang tersisa. "Gimana? Sudah pas belum?" tanya Giorgio sambil mundur selangkah untuk melihat hasil kerjanya.​Vivi bangkit berdiri, menghampiri Giorgio, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil memandangi dinding yang kini tampak jauh lebih hidup. "Sempurna. Si Kecil pasti suka melihat bintang-bintang ini sebelum tidur nanti."​Kamar yang tadinya hanya berisi furnitur itu kini terasa jauh lebih hangat. Ada keranjang bayi yang sudah dilapisi kain lembut, boneka rajut berbentuk beruang di sudut ruangan, dan tumpukan b

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 167. Hari Terakhir Ujian

    Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.​"Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.​Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."​Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis.​"Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 166. Belajar Bareng Lala

    Suasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. ​Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.​Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. ​"Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 165. Kedatangan Orang tua

    Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut.​"Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.​Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.​Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah.​"Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?"​"Sehat,

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 147. Belajar Sebelum Ujian

    Akhir pekan yang cerah seharusnya menjadi waktu untuk bersantai. Namun, bagi Vivi, akhir pekan kali ini terasa seperti garis start di arena pacuan kuda. Ia duduk di meja belajarnya yang penuh sesak di apartemen, dikelilingi tumpukan buku tebal berlabel mata kuliah semester ini. Hari Senin sudah me

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 146. Cemburu

    Pintu apartemen berdecit pelan saat Giorgio menutupnya. Udara dalam apartemen ruangan terasa dingin, berbeda dari hiruk pikuk Bandung yang baru saja ia tinggalkan. Ia melonggarkan dasi dan segera beranjak, langkah kakinya yang berat membawa kecemasan samar.​Ia mencari Vivi ke dalam kamar. Suasanan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 145. Bukti

    Vivi menoleh, pandangannya bertemu dengan sorot mata Giorgio yang penuh pertanyaan. Jantungnya berdesir cemas. Ia cepat-cepat memasang topeng.​"Nggak. Aku nggak lagi mikir apa-apa kok," jawabnya, suaranya sedikit terlalu tinggi dari biasanya.​Giorgio bergeming. Alisnya yang tebal sedikit terangka

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 144. Mikir Apa, Vi?

    Giorgio bergerak cepat dan hati-hati. Ia menuang air ke dalam gelas kristal bening, mengambil dua butir obat penurun panas dari blister, dan meletakkannya di atas nampan kecil. ​Vivi terbaring lemah, wajahnya memerah karena suhu tubuh yang tinggi. Keringat membasahi pelipisnya.​“Vi, bangun sebent

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status