Share

Bab 62. Lega

Author: Agniya14
last update Last Updated: 2025-10-02 00:57:15

“Sudahlah, Antonio. Aku nggak akan datang,” ucap Vivi datar sambil menutup bukunya.

Antonio yang sejak tadi bersandar di tepi meja langsung menegakkan tubuh. Rahangnya mengencang, matanya menatap Vivi tanpa berkedip.

“Ya terus kamu maunya apa supaya datang?” tanyanya serius, nada suaranya lebih berat dari sebelumnya.

Vivi menoleh sebentar lalu mengangkat alis santai. “Nggak ada,” sahutnya pendek. “Itu jawabannya.”

Tanpa menunggu reaksi, Vivi memasukkan buku ke tas dan berdiri. Ia berjalan melewati deretan bangku kuliah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Antonio.

Antonio hanya bisa mengikuti punggung Vivi dengan tatapan tajam. Jemarinya mengepal di samping tubuh, napasnya tertahan seolah mencoba menahan kesal.

“Dia pikir bisa seenaknya aja nolak?” gumamnya pelan.

Namun, Vivi sudah menghilang di ambang pintu, tak tertarik lagi meladeni perdebatan apa pun.

Antonio masih terpaku di tempatnya, rahangnya mengera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 167. Hari Terakhir Ujian

    Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.​"Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.​Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."​Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis.​"Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 166. Belajar Bareng Lala

    Suasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. ​Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.​Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. ​"Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 165. Kedatangan Orang tua

    Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut.​"Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.​Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.​Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah.​"Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?"​"Sehat,

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 164. Pindah Rumah

    Pagi itu, suasana di apartemen lama tampak sibuk. Giorgio tidak ingin Vivi kelelahan, jadi ia menyewa jasa pindah rumah profesional ang menangani segalanya. Mulai dari membungkus barang pecah belah hingga mengangkut furnitur. Sementara para petugas hilir mudik, Giorgio terus memastikan Vivi duduk tenang sambil sesekali meminum air putihnya.​Satu jam kemudian, mobil mereka membelah jalanan Bandung yang sejuk. Begitu gerbang kayu jati otomatis rumah baru itu terbuka, sebuah bangunan bergaya minimalis tropis dengan jendela-jendela kaca besar menyambut mereka.​"Kita sampai," ujar Giorgio lembut sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.​Vivi melangkah keluar, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan sisa embun yang masih tertinggal di deduk. Begitu pintu utama dibuka, Vivi terpana. Interior rumah itu sudah tertata sempurna. Sofa beludru berwarna krem yang empuk, pencahayaan warm white yang menenangkan, hingga karpet bulu yang tebal di ruang keluarga. Semuanya dirancang untuk ken

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 163. Kejutan Rumah

    Giorgio mengajak Vivi pulang ke rumah orang tuanya. Papa Giorgio ingin membuat syukuran atas kehamilan Vivi di sebuah hotel mewah. ​Lampu-lampu kristal di koridor hotel bintang lima itu berpendar mewah, tapi suasana di dalam suite pribadi tempat Vivi bersiap terasa jauh lebih tenang dan intim. Giorgio, suaminya, tidak tanggung-tanggung dalam mewujudkan keinginan sang Papa. Alih-alih syukuran sederhana di rumah, sebuah acara megah telah disiapkan di ballroom utama untuk menyambut calon pewaris keluarga mereka.​Vivi duduk tegak di depan cermin besar berbingkai emas. Jemari terampil penata rias baru saja memulaskan sentuhan akhir pada bibirnya. Gaun hamil berbahan satin sutra dengan aksen brokat halus itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan perutnya yang kini kian membuncit namun tetap terlihat anggun.​Giorgio yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, tak mampu mengalihkan pandangannya. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi Vivi. Matanya menatap baya

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 162. Masih Kuliah

    Sinar matahari siang itu menembus celah-celah pepohonan mahoni di depan kantin, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di atas meja kayu. Vivi menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap lembut perutnya yang kini terasa semakin berat di bawah tunik longgar yang ia kenakan. Meski napasnya mulai sering terasa pendek, semangatnya untuk menyelesaikan semester genap ini tidak surut sedikit pun. Ia bertekad, sebelum tangisan bayi itu pecah, ia sudah harus menuntaskan semua tugas kuliahnya.​Lala, sepupunya yang selalu ceria, baru saja meletakkan dua mangkuk bakso yang uapnya masih mengepul. Ia memperhatikan gerakan tangan Vivi di atas perutnya dengan mata berbinar.​"Vi, serius deh, jenis kelamin si Kecil apa?" tanya Lala tiba-tiba, hampir tersedak kerupuk karena rasa penasaran yang sudah di ujung lidah.​Vivi hanya tersenyum simpul, menyendok kuah baksonya pelan. "Rahasia," jawabnya pendek, membuat Lala mengerucutkan bibir.​"Ih, pelit banget! Emang dok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status