LOGINEva dan Aprilia duduk terpisah, mereka mulai memilih heronya masing-masing dan masuk ke dalam pertandingan. Eva mulai bergerak ke mid lane dan menghancurkan minion satu per satu, lalu Aprilia datang dan memulai penyerangan.
Eva membalas serangannya beberapa kali, lalu ia mundur. Eva tidak berancana untuk langsung melawannya, karena ia tahu kalau hero ini belum cukup kuat. Jadi ia memutuskan untuk menggunakan taktik maju mundur sambil menyerang minion.
Aprilia melirik ke arah Eva sambil tersenyum. 'Jangan pikir kamu bisa menang menggunakan trik murahan seperti ini.'
Aprilia menggunakan serangan kejutan, ia keluar dari semak-semak dan langsung menyerang Eva dengan seluruh skillnya. Eva sempat kewalahan hingga darahnya mulai sekarat.
Para anggota tim yang menonton pertandingan mereka, semuanya tersenyum. Mereka merasa bangga, karena sebentar lagi mereka akan memiliki anggota penembak yang hebat seperti Aprilia. Mereka semua juga merasa yakin kalau E
"Ke suatu tempatnya itu ... ke mana ya, Bu?"Ibu Anna tersenyum tipis. "Ke sebuah Panti Asuhan yang dekat dengan rumah ibu. Kamu tertarik?"Eva diam sejenak, ia melirik ke arah lain. "Hm ... memangnya, apa yang akan kita lakukan di sana, Bu? Apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertiku di sana?""Banyak hal." Ia menempelkan kepalan tangan di pipi. "Kamu bisa bermain dan berinteraksi dengan anak-anak yang ada di sana. Kamu juga bisa melihat secara langsung seperti apa perkembangan kognitif anak dan perbedaannya terhadap usia yang berbeda.""Menarik, bukan? Kamu bisa terjun ke lapangan langsung daripada hanya sekedar belajar teori saja."Eva menunduk sesaat, lalu ia setengah melirik ke arah ibu Anna. "Menarik, sih ... tapi, kenapa saya?""Karena ibu mau, kamu bisa belajar untuk mempercayai orang lagi."Napas Eva tercekat, sebelum berbicara, ia menarik napasnya dalam-dalam. "Ibu ... saya mengerti dengan niat baik ibu untuk membantu saya.
Eva sedang jalan-jalan menuju kantin, ia menggerakkan kontroller kursi roda. Wajahnya sedikit murung, dan sedikit merasa kesepian dikarenakan ketidakhadiran Clara di sampingnya. Biasanya, sahabatnya ini bisa membuatnya terhibur, dan melupakan masalah yang ada. Kehadiran sahabatnya yang cerewet itu, membuat hari-hari menjadi lebih berwarna.Selama perjalanan menuju ke kantin, Eva merasakan tatapan yang tajam dari para mahasiswa kepada dirinya. Ia memang berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan itu dan bersikap biasa saja, namun kali ini, tatapan itu jauh lebih menusuk dibandingkan sebelumnya. Eva menggenggam pegangan kursi roda dengan kuat, hingga ujung jarinya memutih.'Sial! Apa kursi roda ini nggak bisa berjalan lebih cepat? Cepat bawa aku keluar dari sini!' batinnya.Tidak lama kemudian, Eva akhirnya sampai di kantin. Ia memilih tempat yang dekat dengan jendela, dan berada di pojokan. Ia tidak ingin terlihat oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang di sek
Di depan kantor dosen, William sedang menikmati secangkir kopi yang ia bawa, sambil menatap ke luar jendela. Melihat birunya langit yang disertai dengan awan-awan yang berjalan dengan perlahan. Pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh berbagai macam hal.Tetapi, lamunan itu akhirnya terpecah saat seseorang menepuk pundaknya. "Yo, brother."William mendecak. "Bisa nggak, kamu jangan panggil aku begitu? Kita ini masih di kampus, kau ingat?"Surya menutup mulut dengan tangannya. "Ups, maaf. Kebiasaan soalnya, hehe."William menghela nafas kecil, lalu ia kembali menyeruput kopi. Surya menatap sejenak cangkir yang dipegang oleh William. "Ngomong-ngomong, apa yang bapak lakukan di sini? Dan ... kenapa bapak bawa cangkir kopi keluar ruangan?"William diam sejenak, tatapannya tidak beralih sedikit pun dari jendela. "Cuman mau cari udara segar."Surya menaikkan alisnya. "Udara segar? Di sini?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh kembali ke
Di kelas, Eva sedang mencatat beberapa poin penting yang baru saja ia pelajari. Catatan itu ia buat dengan serapi mungkin agar ia bisa dengan mudah memahaminya. Di catatan tersebut, terdapat beberapa poin yang diwarnai menggunakan stabilo, lalu terdapat beberapa tulisan yang diberi kotak.Saat sedang mencatat, Eva sesekali melirik ke arah Clara yang ada di sebelahnya. Clara menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Semenjak mereka dipanggil ke ruang meeting, sikap Clara yang awalnya ceria dan juga cerewet, berubah menjadi pendiam. Bahkan, saat mereka berdua bertemu saja, Clara hanya menyapanya dengan senyuman saja.Eva hendak melanjutkan mencatat lagi, tetapi ia masih tidak terbiasa dengan sikap Clara yang seperti ini. Tubuhnnya berputar hingga menghadap Clara. "Clara, kamu nggak apa-apa?" Eva menggoyangkan tangannya."Hmm ..." Clara hanya menjawab tanpa melirik sedikit pun."Kamu mau pergi ke kantin, nggak? Kita beli makanan kesukaanmu."Clar
Di sebuah kamar yang diterangi oleh lampu, William mengoleskan obat salep ke tangan Eva yang terkena pukulan. Ujung jarinya menyentuh kulit tangan sang istri dengan lembut dan hati-hati, memastikan agar tidak menimbulkan rasa nyeri.Eva tidak berkata apa-apa, ia hanya diam saja sambil menatap wajah William yang sangat serius. Alisnya sedikit menurun dan terlihat kerutan samar di dahinya. Tetapi, Eva memilih diam sambil menikmati pemandangan ini. Padahal pria ini baru saja meluapkan emosinya, tapi ia masih bisa merawat lukanya seperti ini.Terdengar sebuah suara berat yang memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu ceroboh sampai membuat dirimu terluka, hm?"Eva menghela nafas kecil. "Aku cuman nggak mau kamu kena pukul ayahmu. Itu saja."William setengah melirik ke arah Eva, menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu ... aku sendiri juga masih bisa menghindar, kok. Kamu lupa dengan janjimu padaku?""Aku masih ingat dengan janjiku untuk menjaga diri, tapi yang tadi itu
William menyeringai lebar, ia merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut mereka. "Kalian semua pasti sangat terkejut, 'kan? Kalau aku sih sama sekali nggak kaget, karena istriku itu ... bukanlah wanita lemah yang mau diinjak begitu saja oleh kalian. Dia sangat kuat."Eva mengulum bibirnya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di depan mertua dan juga musuh bebuyutannya itu. Ia ingin bisa menjadi seorang istri yang baik dan juga kuat bagi William, bisa berada di sisinya dan menghadapi banyak rintangan bersama-sama.Itu adalah impiannya.William menoleh ke arah jam tangannya. "Sudah mulai larut malam. Aku rasa percakapan kita cukup sampai di sini saja."Michael mengerutkan dahinya. "Apa?! Jadi kamu berniat mengusir kami?""Maaf, pak Michael. Bukan bermaksud untuk mengusir, tapi ini memang sudah larut malam dan kami harus istirahat. Jika ingin berbincang lagi, kita bisa a







