Share

Bab 5 Anak Perwira vs Penjual Susu

"Yuk, Mas!" Agha melihat Rania membawa cooler bag. Hatinya amat tersentuh saat melihat semangat gadis yang berselisih lebih dari lima tahun dengan usianya. 

"Ra, kamu nggak masalah kuliah sambil kerja?" 

"Memangnya kenapa, Mas?"

"Aku khawatir kamu nggak bisa atur waktu. Nanti kuliahmu justru terbengkalai." Rania duduk sebentar di samping Agha dengan memberi jarak cooler bag di tengahnya, karena kursi yang tersedia lumayan panjang.

"Nggak gitu juga, Mas. Aku malah bisa latihan wirausaha. Kan di kampus ada mata kuliah kewirausahaan sekarang." Rania menjelaskan dengan wajah sumringah.

"Ya sudah, yang penting fokus pada kuliahmu biar cepat lulus dan...." Agha menjeda kalimatnya. Dia tak yakin kalimat selanjutnya akan membuat Rania senang mendengarnya.

"Dan bisa kerja lalu dapat uang banyak," sambung Rania seraya tertawa renyah. Agha sedikit kecewa ternyata kalimat lanjutannya beda dengan yang dipikirkan Rania.

"Kenapa, Mas?"

"Haha, iya iya dapat uang banyak biar cepat kaya raya lalu lupa sama aku."

"Ishh, enggaklah. Pak polisi selalu di hati semua orang."

"Yang penting aku selalu di hatimu, Ra," ucap Agha tentunya hanya tertahan di dalam hati.

Ehm,hmm.

Suara deheman memaksa mereka menghentikan gelak tawa. Rania terkejut lantas berdiri dan membungkukkan badan. Ada Bu Sastro yang baru datang, sepertinya ingin membeli susu juga.

"Agha, kamu sudah pantas untuk menikah. Buruan menikah biar dicarikan calon sama bapakmu. Kalau sudah menikah nanti nggak akan ada perempuan yang mengusikmu." Ucapan sinis Bu Sastro bisa dipahami Rania kalau perempuan yang dimaksud mengusik adalah dirinya. Namun sebisa mungkin Rania tetap bersikap sopan. Kenyataannya memang dirinya sering merepotkan Agha untuk memboncengkannya saat sama-sama balik ke Yogya.

"Iya pasti, Budhe. Masak iya ponakan budhe yang ganteng ini disuruh jomblo seumur hidup. Nantilah aku minta Bapak melamar gadis."

"Jangan lupa gadis yang sesuai bebet, bobot, dan bibitnya. Cantik saja nggak ada jaminan untuk memenuhi ketiganya. Bapakmu banyak relasinya, anak perwira masak menikah dengan gadis kampung jualan susu," seloroh Bu Sastro terang-terangan sembari melirik sinis Rania.

"Jangan begitu, Budhe!"

 

"Ah, sudahlah! Sana buruan berangkat biar nggak kena sanksi terlambat!"

 

Rania hanya meneguk ludahnya. Sudah seringkali ucapan menyakitkan masuk ke telinganya hingga menyayat relung hati. Mengekori Agha yang menuju motor, Rania mengelus dadanya. Benar saja apa yang dibilang Bu Sastro. Mana pantas dia bersanding dengan anak perwira yang juga seorang anggota kepolisian. Biasanya polisi dapat pasangan tak jauh dari profesinya. 

 

"Ah, sudahlah Rania kuburlah mimpimu dalam-dalam agar kamu tidak merasa menjadi orang yang menyedihkan."

 

"Ra, jangan terlalu diambil hati omongan budhe! Beliau memang suka ceplas ceplos begitu," ujar Agha membuat Rania tersenyum kecut. 

 

"Andai kamu tahu sikap Bu Sastro yang memaki ibuku dua tahun yang lalu, Mas. Pasti kamu nggak akan terima budhemu menindas keluargaku. Bahkan sampai saat ini hati Bu Sastro masih sehitam arang. Gunung kapur pun tak sanggup mengubah warnanya."

 

Keduanya bersiap melanjutkan perjalanan. Dengan diawali doa, Agha mulai menstater motornya. Sempat terjadi perdebatan awal karena Agha menginginkan cooler bag di depan, sedangkan Rania sebaliknya. Lantas Rania meletakkan tas punggungnya di dada untuk pembatas antara dirinya dan punggung tegap Agha.

 

"Pegangan yang benar, kalau mengantuk bilang. Kalau takut juga jangan diam saja!"

 

"Iya-iya, tumben cerewet sih, Mas."

 

Agha tidak menjawab, hanya seulas senyum mengembang di bibirnya saat melihat wajah kesal Rania dari kaca spion.

 

Agha mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tepat setelah masuk jalan raya. Dia tidak mengindahkan peringatan Rania untuk berhati-hati. Alhasil, Rania pasrah membonceng motor dengan mendekap erat tas punggungnya sembari berpegangan kuat pada jaket yang dikenakan pengemudinya. Sesekali Rania memejamkan mata, merapalkan doa keselamatan untuk keduanya.

 

"Astaghfirullah, jadi begini kalau polisi mengejar pengemudi motor yang suka lari dari kejaran polisi. Pantas saja mereka sering tertangkap. Polisinya naik motor sat set, nikung sana sini pandai melewati celah bahkan lalu lintas sepadat apapun. Motor meliuk ke kanan kiri mencari jalan hingga awalnya di baris belakang sekarang bisa di baris paling depan saat lampu merah menyala.

 

Rania menarik napas berkali-kali masih diiringi dengan istighfarnya. Jantungnya pun tak kalah berdetak hebat saat di tengah perjalanan motor yang ditumpanginya tadi menyalip bus besar. 

 

"Yakinlah aku membawamu sampai tempat tujuan dengan selamat! Jangan pernah membiarkan hatimu meragu!"

 

"Hmm. Ya." Dengan suara bergetar, Rania membenarkan sedikit posisinya biar nyaman karena sempat terdorong maju setelah Agha mengerem mendadak.

 

"Selamat di jalan iya, tapi jantungku nggak aman, Mas," sesalnya dalam hati meski senang bisa berangkat bersama untuk pertama kali sampai Yogya. Biasanya Rania minta diturunkan di jalan raya lalu naik bus. Kali ini Agha tidak membiarkannya naik bus, alasannya khawatir kualitas susu yang dibawa menjadi tidak bagus. Hanya sebuah alasan klasik, sesungguhnya ada bunga-bunga yang mekar di dalam hatinya.

 

Tidak sampai dua jam Rania sudah sampai di markas Agha. Semacam asrama untuk tempat tinggal para anggota kepolisian. Rania merasa seperti wanita di sarang penyamun. Malu jelas iya, disana banyak pasang mata melihat kedatangannya. Semua kaum adam tengah bersiap dengan pakaian seragamnya. Hanya dia sendiri dari golongan kaum hawa yang berada disana.

 

Membungkukkan sedikit badannya, Rania memberi tanda menyapa mereka.

 

"Nggak usah terlalu hormat, mereka bisa ngelunjak!" larang Agha.

 

"Selamat datang, Kapten! Waktu upacara sebentar lagi dimulai." Rania terkesiap melihat dengan sigapnya beberapa orang di depannya berbaris rapi dan memberi hormat pada laki-laki di sampingnya. Dia mengernyitkan dahi seraya menatap Agha dari ujung kepala hingga ujung kaki.

 

"Kapten? Apa posisi Mas Agha atasan mereka?" Rania tertunduk malu, semakin minder dibuatnya. Dia tidak tahu menahu pangkat di anggota kepolisian.

 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status