Share

Bab 4 Malu

Seminggu berlalu....

"Ra, buruan jangan lama-lama. Kasian Mas Agha kelamaan nunggunya!" teriakan Bu Minah tak urung menghentikan kesibukan Rania mematut diri di depan cermin sembari membetulkan pasminanya.

"Sebentar lagi, Bu."

"Saya panggil Rania dulu, Mas Agha. Maaf, ya harus menunggu lama!" Laki-laki muda itu bernama Agha Rahmawan, berusia 28 tahun. Anak salah satu tetangga berselisih tiga rumah dari rumahnya. Agha berprofesi sebagai polisi, berkantor di kota Yogya.

"Nggak papa, Bu. Biar Rania selesaikan dulu, takutnya ada yang ketinggalan." Senyum merekah yang terlukis di wajah Agha selalu meneduhkan hati

Cklek,

"Kamu sudah cantik, butuh berapa lama lagi Agha harus menunggumu, Ra?"

"Ini dah mau selesai, Bu." Senyum tersungging di bibirnya memperlihatkan lesung pipit yang menjadi sumber pesonanya.

"Astaga, Ra!"

"Kenapa, Bu?" tanya Rania heran karena ekspresi terkejut ibunya.

"Jangan sering mengobral senyum! Ibu khawatir Pipi yang merah merona ini bisa membuat laki-laki jatuh ke pesonamu."

"Ishh, ibu nih bikin malu Ara aja. Ya nggak apa-apa kan, Bu?"

"Nggak apa-apa kalau hanya satu laki-laki macam Agha yang terpesona. Kalau banyak laki-laki justru bahaya."

Rania tergelak, lalu meyakinkan pada ibunya bahwa dia akan menepati janjinya belajar sungguh-sungguh hingga lulus kuliah dengan lancar. 

"Ara nggak mau memikirkan calon pendamping hidup, Bu. Ara ingin meraih cita-cita dulu."

"Jangan kaku begitu, Ra! Jodoh Allah yang mengatur. Kalau ditengah kamu kuliah tiba-tiba Allah menghadirkannya, kamu tidak bisa mengelak."

"Pokoknya Ara mau serius kuliah dulu, Bu."

Rania memeluk ibunya. Elusan tangan dipunggungnya memberikan ketenangan. Semangatnya untuk kembali ke kota pelajar langsung tersulut.

"Ya sudah, fokuslah belajar! Jaga diri di sana ya! Jangan terlalu mementingkan kerja sambilan takutnya kuliah jadi keteteran!"

"Siap, Bu! Yang penting doa ibu selalu mengiringi setiap langkah Ara."

"Ya, ibu selau mendoakanmu, Ra."

Bu Minah mengurai pelukan, tangan kanan mengusap bahu putrinya, dan tak lupa mengecup puncak kepala yang telah tertutup pasmina polos warna biru laut.

"Hati-hati ya, Mas Agha! Titip Rania."

"Iya, Bu. Kami berangkat dulu."

"Nanti pamitkan Bapak dan Sari ya, Bu!" Rania melambaikan tangan yang dibalas anggukan ibunya seraya melambaikan tangan. Agha menyodorkan helm pada Rania yang terlihat tak fokus. Rania harus mengakui penampilan Agha hari ini membuatnya terkesima. Apalagi suara maskulin ajakannya membuat hati kian meleleh.

Aroma citrus menguar dari parfum yang dipakai memberikan kenyamanan tersendiri bagi Rania. Tak bisa dipungkiri banyak ibu-ibu di kampung yang mengidolakan Agha jadi menantunya, pun juga ibunya. Namun Rania tak ingin bermimpi terlalu tinggi, meski Agha masuk kriteria suami idamannya, kondisi keluarga mereka seperti langit dan bumi. Asanya hanya satu, kuliah bisa lulus tepat waktu dan bisa kerja dapat uang banyak untuk membayar hutang orang tuanya. 

"Ra, hai, Rania!" Agha mengibaskan tangan di depan wajah Rania.

"Astaghfirullah. Ya, Mas." Rania terkesiap, berusaha membuang muka agar tidak kelihatan wajahnya yang merah merona. Sungguh wangi parfum itu tak juga menghilang dari indra penciumannya.

 

"Ini helmnya. Kalau hanya melamun, kita nggak jadi berangkat lho."

 

"Eh, iya Mas," jawabnya sedikit gugup. Gegas Rania memasangkan helm. Dia menarik napas dalam demi menetralkan detak jantungnya.

 

"Mas bisa mampir ke rumah Pak Cokro dulu, nggak? Mas tergesa nggak balik ke Yogyanya?" Agha mengulum senyum setiap mendengar tanya Rania yang beruntun. 

 

"Ckk, kebiasaan kamu tuh, Ra. Tanyanya satu-satu. Belum juga dijawab dah nyerocos kayak kereta api," decih Agha yang disambut gelak tawa Rania.

 

"Maaf," ucap Rania tersipu. Agha melajukan motor honda 150cc dengan kecepatan sedang menuju rumah Pak Cokro pemilik  peternakan sapi yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rania. Dia menunggu di luar, sementara Rania masuk mengambil barang.

 

"Ini ya Mbak, tadi sudah disiapkan semua jadi tinggal bawa."

 

"Makasih banyak, Mbak. Saya bawa dulu susunya ya."

 

"Semoga laris ya, Mbak!" Rania mengangguk sumringah dan mengamini doanya. Doa dari orang-orang terkasih begitu memberi semangat untuk perjuangan hidupnya. Banyak karyawan yang mengenal Rania sebagai gadis tekun dan pekerja keras, membantu keluarganya dengan berjualan susu di pelosok Boyolali. Tak ada rasa malu, yang terpenting baginya adalah kerja halal. Kini dia mulai ikut memasarkan susu murni ke beberapa kafe di Yogya. Tidak banyak uang yang didapat, tetapi sudah cukup melegakan hatinya bisa mendapat uang sedikit demi sedikit.

 

"Yuk, Mas!" Agha melihat Rania membawa cooler bag. Hatinya amat tersentuh saat melihat semangat gadis yang berselisih lebih dari lima tahun dengan usianya. 

 

"Ra, kamu nggak masalah kuliah sambil kerja?" 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status