登入“Ini ponselmu.” Zavian menaruh sebuah kotak ponsel baru di samping mangkuk Naresa. Seketika perhatian Naresa langsung teralihkan dari obat-obatan di depannya. Matanya membesar pelan. “Kak…” Rayhan yang melihat kotak itu langsung bersiul kecil. “Wah, cepat juga.” Naresa perlahan mengambil kotak tersebut. Tatapannya masih terlihat ragu. “Benar-benar diganti…” gumamnya pelan. “Bukalah,” ucap Zavian singkat. Naresa membuka kotak itu perlahan. Dan saat melihat ponsel barunya— ia langsung terdiam. “Itu terlalu mahal…” lirihnya. “Kau butuh ponsel yang layak.” “Tapi yang lama masih bisa dipakai…” “Layarnya hampir hancur,” sahut Zavian datar. Rayhan langsung terkekeh kecil. “Sudah terima saja. Kalau ditolak nanti dia makin cerewet.” “Kak Rayhan…” Namun diam-diam, Naresa merasa sedikit tersentuh. Karena ia tahu— Zavian mengganti ponselnya tanpa banyak bicara. Bahkan semua data di ponsel lamanya sudah dipindahkan dengan rapi. “Kak…” panggil Naresa pelan. “Hm?” “Terima
“Apa dia tidak apa-apa tidur lagi dalam keadaan belum makan apa pun, Dok?” tanya Zavian memastikan. Dokter mengangguk pelan. “Tidak apa-apa,” jawabnya tenang. “Justru kalau kita memaksa dia makan saat kondisi lambungnya sedang sangat sakit seperti ini, akibatnya bisa fatal.” Zavian langsung mengernyit. “Fatal bagaimana maksudnya?” “Bisa menyebabkan muntah terus-menerus dan membuat lambungnya semakin iritasi,” jelas dokter. “Jadi lebih baik biarkan dia istirahat dulu agar obatnya bekerja dengan baik di tubuhnya.” “Iya, Dok…” jawab Zavian pelan. Dokter itu lalu menuliskan sesuatu di papan pemeriksaan sebelum akhirnya pergi bersama perawat. Kini suasana kamar kembali hening. Naresa sudah kembali tertidur karena efek obat. Wajahnya terlihat pucat. Sesekali keningnya masih mengernyit menahan rasa tidak nyaman. Rayhan menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Kasihan sekali…” gumamnya pelan. Sedangkan Zavian masih berdiri di dekat ranjang. Tatapannya tidak
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Rayhan saat masuk ke ruang VIP. Naresa yang sedang duduk di ranjang langsung menoleh. “Itu…” ucapnya dengan wajah kesal. “Kak Zavian menyita ponsel Naresa. Katanya besok baru dikembalikan.” Rayhan langsung menoleh ke arah Zavian yang sedang duduk santai di sofa sambil memainkan tablet miliknya. “Apa maksudmu, Kak?” tanya Rayhan heran. Zavian bahkan tidak mengangkat wajahnya. “Aku sudah menyuruh asistanku mengganti ponselnya,” jawabnya santai. “Jadi besok baru aku berikan.” Rayhan mengernyit. “Memangnya ada apa dengan ponselnya?” “Ketinggalan zaman.” Seketika Naresa langsung mendelik kesal. “Kak!” “Dan lagi,” lanjut Zavian tenang, “layarnya sudah retak.” Rayhan langsung menatap Naresa. “Memang retak?” Naresa langsung salah tingkah. “Itu cuma sedikit…” “Sedikit?” ulang Zavian akhirnya menoleh. “Hampir setengah layar.” Rayhan langsung terkekeh kecil. “Astaga, Naresa…” “Masih bisa dipakai tahu!” bela Naresa cepat. “Tetap saja diganti,”
“Sonia,” panggil Rayhan sambil menyetir mobilnya. Sonia yang sedang memainkan ponselnya langsung menoleh cepat. “Eh, eh, kayak akrab saja manggil-manggil begitu,” protesnya. Rayhan melirik sekilas lalu terkekeh kecil. “Lah, terus aku harus manggil apa coba?” Sonia mengangkat alisnya. “Sayang gitu?” “Apaan dah hah?!” Sonia langsung membelalak tidak percaya. Rayhan malah tertawa puas melihat reaksinya. “Berisik.” “Kakak duluan yang ngomong aneh!” “Kan bercanda.” “Tidak lucu!” Rayhan masih tertawa kecil sambil kembali fokus ke jalan. Sedangkan Sonia mendengus kesal sambil melipat tangannya di dada. Namun beberapa detik kemudian, Rayhan kembali berbicara. “Tapi serius…” “Hm?” “Kamu memang dekat ya sama Naresa?” “Tentu saja,” jawab Sonia cepat. “Aku kan sahabatnya.” Rayhan mengangguk kecil. Lalu suasana mendadak sedikit lebih tenang. Namun tak lama kemudian, Rayhan kembali membuka suara. “Naresa…” Sonia menoleh. “Dia memang selalu menyembunyikan kalau sedang sakit?”
“Sorry Naresa… mulutku benar-benar nggak bisa dikontrol,” ucap Sonia sambil nyengir bersalah. Naresa hanya bisa menghela napas panjang. Wajahnya tampak benar-benar frustasi. Karena memang, sahabatnya itu terlalu polos untuk menyimpan rahasia. “Tidak perlu minta maaf.” Suara Zavian membuat Naresa dan Sonia langsung menoleh. “Mulai sekarang,” lanjutnya tenang, “kamu harus melaporkan siapa saja yang dekat dengan Naresa.” “Hah?” Sonia langsung membelalak. “A-aku?” “Iya.” Sonia langsung menunjuk dirinya sendiri dengan gugup. “Kak!” protes Naresa cepat. “Jangan sembarangan memberi tugas begitu!” Namun Zavian tetap terlihat serius. “Kau temannya paling dekat.” “Itu benar sih…” gumam Sonia pelan. “Sonia!” Naresa langsung melotot. Rayhan yang sejak tadi mendengarkan malah tertawa kecil. “Astaga…” gumamnya santai. “Sekarang Sonia resmi jadi mata-mata.” “Aku nggak mau jadi mata-mata!” protes Sonia cepat. “Kau sudah terlanjur dipilih,” sahut Zavian datar. Naresa langsung memeg
“Naresa!” Suara itu langsung membuat Naresa menoleh cepat. “Sonia!” sambutnya dengan wajah jauh lebih cerah. Sonia baru saja masuk ke ruang rawat sambil membawa paper bag di tangannya. Begitu melihat kondisi sahabatnya— wajah Sonia langsung berubah khawatir lagi. “Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya sambil mendekat. “Tenang,” jawab Naresa sambil tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.” Sonia langsung menghela napas lega. “Syukurlah…” Ia duduk di kursi dekat ranjang. “Kamu tahu nggak? Aku susah banget dapat izin ke sini.” Naresa mengernyit bingung. “Loh, kenapa? Papamu nggak mengizinkan?” “Iya,” keluh Sonia. “Papa lagi dinas luar, jadi agak susah minta izinnya.” Rayhan yang sedang memainkan ponselnya langsung menoleh. “Memangnya rumahmu seketat itu?” “Tidak juga,” jawab Sonia cepat. “Cuma Papa lagi overprotektif akhir-akhir ini.” Rayhan langsung tertawa kecil. “Mirip Kak Zavian.” Seketika Sonia langsung melirik Zavian yang duduk di sofa. Sedangkan Naresa spontan menah







