author-banner
NisfiDA
NisfiDA
Author

Novels by NisfiDA

Dua Kakak Tiri Yang Posesif

Dua Kakak Tiri Yang Posesif

Naresa Elvano, siswi kelas 3 SMA yang polos dan lembut, harus memulai hidup baru setelah ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya. Demi ibunya, Naresa mencoba menerima keluarga barunya. Termasuk dua kakak tirinya yang memiliki sifat bertolak belakang. Zavian Althera Pratama — pria berusia dua puluh enam tahun yang dingin, perfeksionis, dan sudah mengelola perusahaan keluarga. Sementara Reyhan Arkana Pratama — mahasiswa arsitektur yang jahil, hyper aktif, dan selalu membuat hidup Naresa berisik setiap hari. Sebagai gadis mungil dengan tinggi hanya 158 cm, Naresa sering diperlakukan seperti anak kecil oleh mereka berdua. Awalnya Naresa mengira semua itu hanyalah perhatian biasa. Namun semakin lama tinggal serumah, perhatian kedua kakak tirinya mulai terasa berlebihan. Zavian selalu bersikap terlalu protektif. Sedangkan Reyhan tidak pernah berhenti mencari perhatian darinya. Di tengah kehidupan sekolah, konflik keluarga baru, rasa canggung tinggal serumah, dan rahasia masa lalu yang perlahan terungkap… Naresa mulai menyadari bahwa hubungannya dengan kedua kakak tirinya menjadi semakin rumit. Karena terkadang, perasaan yang tumbuh di antara mereka terasa lebih berbahaya daripada sekadar kedekatan keluarga.
Read
Chapter: Sedikit Kesal
“Kak.” “Hm?” sahut Zavian sambil fokus menyetir. “Lain kali kalau jemput jangan terlalu ganteng bisa kan?” Seketika Zavian menoleh sekilas ke arahnya. Sedangkan Naresa masih terlihat kesal sambil menatap ke luar jendela. “Apa?” “Naresa kesal melihat mereka menatap Kakak gimana gitu.” Membuat sudut bibir Zavian perlahan terangkat. “Siapa?” “Anak-anak tadi.” “Hm.” “Jangan hmm terus.” “Kamu sedang cemburu?” Seketika Naresa langsung menoleh. “Hah?” “Karena mereka melihatku?” “Tentu saja tidak!” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Membuat Zavian semakin yakin. “Kalau begitu kenapa kesal?” Naresa langsung mengerucutkan bibirnya. Karena jujur saja. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya kesal. Yang jelas. Sejak melihat beberapa siswi tadi diam-diam memperhatikan Zavian. Suasana hatinya langsung berubah. “Pokoknya kesal.” “Alasan yang bagus.” “Heh.” Membuat Zavian terkekeh pelan. Sedangkan Naresa semakin kesal. “Bahkan ada yang sampai pura-pura jalan pelan.” “Hm.” “
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Menangih
“Naresa.” panggilan Sonia membuat Naresa mengangkat kepalanya dari buku magang yang sedari tadi dibacanya. “Ada apa?” tanya Naresa. Saat ini mereka sedang berada di laboratorium. Waktu istirahat baru saja dimulai. Sedangkan Naresa memilih duduk sambil memeriksa kembali catatan magangnya. “Aku dengar dari Kak Rayhan.” “Hm?” “Dua hari yang lalu Kak Zavian ngomong sama Om dan Tante ya?” “E-eh?” Seketika Naresa langsung menegang. Membuat Sonia menyipitkan matanya curiga. “Nah kan!” “Apa sih?” “Jadi benar?” Naresa langsung memalingkan wajahnya. Namun telinganya yang mulai memerah membuat Sonia semakin yakin. “Ya ampun, jadi benar!” “Sonia, kecilin suaramu.” “Terus?” “Terus apa?” “Jangan pura-pura tidak tahu.” Sonia langsung menarik kursinya mendekat. “Ceritakan semuanya.” “Tidak mau.” “Kenapa?” “Malu.” “Loh?” Naresa langsung memegangi dahinya. Karena dirinya sudah bisa menebak bagaimana reaksi Sonia jika mengetahui semuanya. “Naresa.” “Apa?” “Aku sahabatmu.”
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Permintaan Maaf Yang Tulus
“M-maafkan Naresa, A-ayah... Ibu...” ucap Naresa dengan suara yang bergetar. Air matanya terus mengalir. “M-maafkan Naresa...” Seketika Liana langsung berdiri dari duduknya. Namun Naresa lebih dulu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf karena sudah mempunyai perasaan seperti ini...” lanjutnya sambil menangis. “Naresa benar-benar tidak pernah berniat seperti ini.” Ruangan kembali hening. Hanya suara isak tangis Naresa yang terdengar. “Aku sudah berusaha menganggap Kak Zavian hanya sebagai kakak.” Tangisnya semakin menjadi. “Aku juga berusaha menjauh.” “Aku berusaha melupakannya.” “Tapi aku tidak bisa...” Membuat hati Liana langsung terasa sesak. Karena selama ini. Putrinya menanggung semua itu sendirian. “Aku takut Ayah dan Ibu kecewa.” “Aku takut Ayah dan Ibu marah.” “Aku takut keluarga kita jadi hancur karena aku.” Tangannya mengepal erat. Bahkan tubuhnya sedikit gemetar. “M-maafkan Naresa...” “Naresa.” Suara Rendra akhirnya terdengar. Membuat gadis itu p
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Nekat
“Kak, jangan bilang dulu,” ucap Naresa kepada Zavian. Saat ini mereka sudah tiba di kediaman Pratama. Mobil baru saja berhenti beberapa menit yang lalu. Dan sekarang. Naresa mengikuti langkah Zavian dari belakang sambil terus mencoba menghentikannya. “Kak,” panggilnya lagi dengan wajah panik. Namun Zavian tetap berjalan santai menuju pintu masuk. “Kamu tidak perlu sepanik itu, Naresa.” “Tapi Kak—” “Aku akan mengatakan semuanya kepada Ayah dan Ibu.” Deg. Seketika wajah Naresa langsung pucat. “K-kak!” “Apa?” “Jangan sekarang.” “Kenapa?” “Karena aku belum siap.” Membuat Zavian akhirnya berhenti melangkah. Pria itu berbalik menghadap Naresa. Lalu menatap gadis itu beberapa saat. “Apa kamu tidak memiliki perasaan kepadaku sehingga kamu takut jika aku berbicara dengan Ayah dan Ibu?” Seketika Naresa langsung membeku. Wajahnya berubah kesal. “Kenapa Kakak malah bertanya seperti itu?” tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. Karena menurutnya. Pertanyaan itu sangat ti
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Malu Setengah Mati
“Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Seketika tubuh Naresa langsung menegang. Matanya membulat lebar. Sedangkan wajahnya sudah merah sepenuhnya. “K-kak!” “Apa?” “Kakak jangan ngomong sembarangan saat menyetir!” Membuat Zavian mengangkat satu alisnya. “Itu ada hubungannya dengan menyetir?” “Ada!” “Apa hubungannya?” Naresa langsung membuka mulutnya. Namun tidak ada jawaban yang keluar. Karena dirinya sendiri tidak tahu apa hubungannya. Pokoknya gugup. Sangat gugup. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucap Zavian santai. Naresa langsung memeluk kotak macaronnya semakin erat. “Pertanyaan apa?” “Memang salah jika aku memanggilmu sayang?” Deg. Jantung Naresa kembali berdetak tidak karuan. “Kak...” “Hm?” “Kita lagi di jalan.” “Iya.” “Jangan bahas begitu.” “Kenapa?” “Malu.” Jawaban jujur itu akhirnya keluar juga. Membuat Zavian meliriknya sekilas. Dan benar saja. Wajah Naresa benar-benar merah sampai ke telinga. Seolah ingin menghilang dari dalam mobil.
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Hati Yang Belum Siap
“Malah dijemput...” gerutu Naresa pelan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. “Hah?” Sonia langsung menoleh bingung. “Apa maksudmu?” “Lihat ke depan gerbang.” Saat ini pukul tiga sore. Waktu magang mereka akhirnya selesai. Para siswa mulai keluar dari gedung laboratorium satu per satu untuk pulang. Sonia yang penasaran langsung mengikuti arah pandangan Naresa. Dan beberapa detik kemudian— matanya langsung membulat. “Eh?” Di depan gerbang laboratorium. Terparkir sebuah mobil hitam yang sangat familiar. Mobil yang biasa digunakan Zavian. “Bukannya dia baru sampai?” tanya Sonia terkejut. “Iya.” “Terus langsung ke sini?” “Iya.” Sonia langsung menoleh ke arah sahabatnya. Sedangkan Naresa justru terlihat semakin tidak tenang. “Loh kok mukamu begitu?” “Bagaimana?” “Kayak orang mau sidang.” “Heh.” Padahal jujur saja— sejak membaca pesan Zavian tadi. Naresa sudah memikirkan kemungkinan ini. Namun dia tidak menyangka pria itu benar-benar datang menjemputny
Last Updated: 2026-06-08
Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper

Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper

Aluna adalah seorang gadis bisu yang hidup dengan penuh keterbatasan. Sejak kecil ia tidak mampu berbicara, sehingga hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Demi bertahan hidup, Aluna bekerja sebagai pelayan di rumah seorang pengusaha muda yang terkenal dingin dan sulit didekati. Pria itu adalah Arsen Wijaya. Arsen dikenal sebagai majikan yang tegas, dominan, dan tidak suka orang lain mencampuri urusannya. Namun sejak kehadiran Aluna di rumahnya, sikapnya perlahan berubah. Tanpa ia sadari, perhatian Arsen terhadap gadis bisu itu menjadi semakin besar. Ia tidak suka melihat Aluna dekat dengan orang lain. Ia mudah cemburu. Ia juga selalu ingin memastikan Aluna berada di bawah perlindungannya. Perhatian Arsen yang begitu intens membuat banyak orang merasa iri dan mulai memandang Aluna dengan tidak suka. Di tengah perbedaan status dan berbagai konflik yang muncul, hubungan mereka pun perlahan berubah menjadi semakin rumit. Sementara itu, Aluna hanya bisa menyimpan semua perasaannya dalam diam. Karena meskipun hatinya dipenuhi banyak kata. Ia tetap tidak mampu mengucapkannya.
Read
Chapter: Amarah
"Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: Informasi Ditemukan
"Bagaimana? Apa perasaanmu sudah benar-benar membaik?" tanya Arsen pelan kepada Aluna. Aluna yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung menganggukkan kepalanya kecil. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Bahkan senyum kecil kini mulai sering terlihat di wajah pucatnya. Melihat itu, Arsen akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah." Tangannya perlahan merapikan selimut Aluna yang sedikit berantakan. "Sekarang kamu harus banyak makan." "Supaya cepat sembuh dan bisa pulang dari sini." Aluna kembali mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian— Tatapannya justru terus tertuju pada Arsen. Membuat pria itu mengernyit pelan. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya. Aluna hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Hal itu justru membuat Bi Ina yang sedang berada di sofa terkekeh pelan. "Nona Aluna sekarang lebih sering tersenyum kalau bersama Tuan." "Bi Ina," tegur Arsen pelan. Namun wajahnya justru terlihat sedi
Last Updated: 2026-05-20
Chapter: Terlalu Rumit
"Tuan, dari tadi ponsel Anda berdering terus," ucap Sara sambil menyodorkan ponsel milik Arsen. Arsen yang sedang duduk di samping ranjang Aluna langsung menoleh. Ia mengambil ponselnya lalu melihat nama yang muncul di layar. Jack. Tanpa menunggu lama, Arsen langsung menjawab panggilan itu. "Katakan, Jack." Suara dari seberang telepon terdengar sangat kacau. "Aku benar-benar bingung harus bagaimana, Arsen." Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" Terdengar helaan napas panjang dari arah telepon. Lalu Jack kembali berbicara dengan nada frustrasi, "Orang tua Bella menyuruhku menikahinya." Seketika Arsen langsung terdiam. "Karena anak yang dikandungnya." Ucapan itu membuat suasana di sekitar Arsen langsung terasa berat. Ia berdiri perlahan lalu berjalan sedikit menjauh dari ranjang Aluna. "Apa Bella mengatakan semuanya kepada orang tuanya?" tanya Arsen serius. "Iya." "Dan sekarang mereka menganggap aku ayah dari anak itu." Arsen langsung memijat pelipisn
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: Lebih Posesif
"Aluna, kamu sudah bangun?" tanya Bi Ina pelan saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Aluna berkedip beberapa kali. Pandangan matanya masih terlihat sedikit buram. Tubuhnya terasa sangat berat. Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja terasa sulit. Bi Ina langsung mendekat ke samping ranjang dengan wajah lega. "Syukurlah…" gumamnya lirih. Aluna perlahan menoleh. Ia melihat Bi Ina duduk di sampingnya sambil memegang tangannya dengan lembut. Tak lama kemudian, Sara yang baru masuk ke dalam ruangan langsung tersenyum lebar. "Aluna sudah sadar!" ucap Sara senang. Suara itu membuat Arsen yang sedang duduk di sofa langsung mengangkat kepalanya cepat. Ia segera berdiri lalu mendekat ke arah ranjang Aluna. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Arsen dengan nada penuh kekhawatiran. Aluna hanya menatapnya diam. Mungkin karena tubuhnya masih terlalu lemah untuk bergerak banyak. Dokter memang mengatakan bahwa efek operasi masih akan terasa cukup berat beberapa hari ke depan. Melihat Aluna
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: Lelah
"Di mana Jack?" tanya Arsen saat keluar dari ruang rawat Aluna. Bi Ina yang sedang duduk langsung berdiri. "Oh, Tuan Jack baru saja pergi," jawab Bi Ina cepat. "Pergi?" ulang Arsen. Bi Ina mengangguk pelan. "Iya, Tuan." Arsen mengernyitkan dahinya. "Ke mana?" "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu." Bi Ina terlihat sedikit ragu sebelum melanjutkan, "Karena tadi Tuan Jack terlihat sangat buru-buru." Arsen langsung terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah lorong rumah sakit. Biasanya Jack tidak akan pergi begitu saja dalam keadaan seperti ini. "Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi?" tanya Arsen lagi. Bi Ina mencoba mengingat. "Tidak banyak, Tuan." "Beliau hanya meminta kami tetap menjaga Nona Aluna." Arsen menghela napas pelan. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Jack. Namun saat ini. Fokusnya tetap kepada Aluna. Pria itu kembali menoleh ke arah pintu ruang rawat VVIP milik Aluna. Tatapannya perlahan melembut. Setelah melihat sendiri bagaimana Aluna kesakita
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: Terasa Hancur
"Aluna, ada apa?" tanya Arsen panik saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Saat ini, Aluna sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Namun dari raut wajahnya terlihat jelas. Ia sedang menahan rasa sakit. Keningnya berkerut. Napasnya tidak teratur. Dan sesekali terdengar suara erangan kecil dari bibirnya. Hal itu membuat Arsen semakin panik. Ia langsung berdiri di samping ranjang Aluna lalu mendekat. "Aluna, ada apa?" tanyanya lagi dengan nada penuh kekhawatiran. Aluna hanya kembali mengerang pelan. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sakit. Tetapi tubuhnya terlalu lemah. Melihat keadaan itu, Arsen langsung menoleh ke arah dokter yang berada di sampingnya. "Dok, apa yang terjadi?" tanya Arsen cepat. "Dia mengerang seperti itu… sepertinya dia kesakitan." Dokter itu memperhatikan kondisi Aluna beberapa detik sebelum menjawab, "Sepertinya efek obat biusnya sudah mulai habis." Seketika Arsen langsung menegang. "Jadi sekarang dia mulai merasaka
Last Updated: 2026-05-14
You may also like
Tersimpan dalam Diam
Tersimpan dalam Diam
Young Adult · poetically destroyed
710 views
Cinta Gita
Cinta Gita
Young Adult · Yoongina
693 views
Cinta Dalam Dendam
Cinta Dalam Dendam
Young Adult · Sarangheo
693 views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status