
Dua Kakak Tiri Yang Posesif
Naresa Elvano, siswi kelas 3 SMA yang polos dan lembut, harus memulai hidup baru setelah ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya.
Demi ibunya, Naresa mencoba menerima keluarga barunya.
Termasuk dua kakak tirinya yang memiliki sifat bertolak belakang.
Zavian Althera Pratama — pria berusia dua puluh enam tahun yang dingin, perfeksionis, dan sudah mengelola perusahaan keluarga.
Sementara Reyhan Arkana Pratama — mahasiswa arsitektur yang jahil, hyper aktif, dan selalu membuat hidup Naresa berisik setiap hari.
Sebagai gadis mungil dengan tinggi hanya 158 cm, Naresa sering diperlakukan seperti anak kecil oleh mereka berdua.
Awalnya Naresa mengira semua itu hanyalah perhatian biasa.
Namun semakin lama tinggal serumah, perhatian kedua kakak tirinya mulai terasa berlebihan.
Zavian selalu bersikap terlalu protektif.
Sedangkan Reyhan tidak pernah berhenti mencari perhatian darinya.
Di tengah kehidupan sekolah, konflik keluarga baru, rasa canggung tinggal serumah, dan rahasia masa lalu yang perlahan terungkap…
Naresa mulai menyadari bahwa hubungannya dengan kedua kakak tirinya menjadi semakin rumit.
Karena terkadang, perasaan yang tumbuh di antara mereka terasa lebih berbahaya daripada sekadar kedekatan keluarga.
Leer
Chapter: Tamu“Kenapa aku harus ikut juga?” Tanya Naresa sambil berjalan berdampingan dengan Rayhan menuju ruang tamu. “Bukannya itu urusan Ayah dan Zavian?” Rayhan menoleh sekilas. “Memang urusan Ayah dan Kak Zavian.” “Nah kan.” “Namun.” Rayhan menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih kepada Naresa. “Kamu juga bagian dari masalah ini.” “Hah?” “Mereka datang membawa lamaran untuk Kak Zavian.” “...” “Sedangkan kamu adalah kekasihnya.” Naresa langsung terdiam. “Jadi menurutku.” Lanjut Rayhan. “Lebih baik kamu mendengarnya langsung.” “Daripada nanti salah paham lagi.” Deg. Kalimat itu membuat Naresa langsung mengingat kejadian sore tadi. Tanpa sadar. Tangannya menggenggam ujung bajunya. “Aku takut.” Ucapnya pelan. Rayhan tersenyum tipis. “Takut kenapa?” “Takut mereka kecewa.” “Hm.” “Dan takut kalau nanti suasananya tidak enak.” Rayhan menghela napas kecil. “Itu memang tidak bisa dihindari.” “...” “Namun lebih baik semuanya jelas sejak awal.” Naresa mengangg
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: Rasa Takut“Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar
Última actualización: 2026-06-27
Chapter: Takut Kehilangan“Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka
Última actualización: 2026-06-26
Chapter: Kecewa“Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar
Última actualización: 2026-06-25
Chapter: Bertengkar Hebat“Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn
Última actualización: 2026-06-24
Chapter: Waktu Bersama“Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m
Última actualización: 2026-06-23

Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper
Aluna adalah seorang gadis bisu yang hidup dengan penuh keterbatasan. Sejak kecil ia tidak mampu berbicara, sehingga hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Demi bertahan hidup, Aluna bekerja sebagai pelayan di rumah seorang pengusaha muda yang terkenal dingin dan sulit didekati.
Pria itu adalah Arsen Wijaya.
Arsen dikenal sebagai majikan yang tegas, dominan, dan tidak suka orang lain mencampuri urusannya. Namun sejak kehadiran Aluna di rumahnya, sikapnya perlahan berubah. Tanpa ia sadari, perhatian Arsen terhadap gadis bisu itu menjadi semakin besar.
Ia tidak suka melihat Aluna dekat dengan orang lain. Ia mudah cemburu. Ia juga selalu ingin memastikan Aluna berada di bawah perlindungannya.
Perhatian Arsen yang begitu intens membuat banyak orang merasa iri dan mulai memandang Aluna dengan tidak suka. Di tengah perbedaan status dan berbagai konflik yang muncul, hubungan mereka pun perlahan berubah menjadi semakin rumit.
Sementara itu, Aluna hanya bisa menyimpan semua perasaannya dalam diam.
Karena meskipun hatinya dipenuhi banyak kata. Ia tetap tidak mampu mengucapkannya.
Leer
Chapter: Perubahan Drastis"Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang
Última actualización: 2026-06-25
Chapter: Luka yang Tersisa"Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m
Última actualización: 2026-06-23
Chapter: Hidup yang Berubah"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny
Última actualización: 2026-06-22
Chapter: Hidup Sedikit Tenang"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak
Última actualización: 2026-06-20
Chapter: Amarah"Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse
Última actualización: 2026-05-21
Chapter: Informasi Ditemukan"Bagaimana? Apa perasaanmu sudah benar-benar membaik?" tanya Arsen pelan kepada Aluna. Aluna yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung menganggukkan kepalanya kecil. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Bahkan senyum kecil kini mulai sering terlihat di wajah pucatnya. Melihat itu, Arsen akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah." Tangannya perlahan merapikan selimut Aluna yang sedikit berantakan. "Sekarang kamu harus banyak makan." "Supaya cepat sembuh dan bisa pulang dari sini." Aluna kembali mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian— Tatapannya justru terus tertuju pada Arsen. Membuat pria itu mengernyit pelan. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya. Aluna hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Hal itu justru membuat Bi Ina yang sedang berada di sofa terkekeh pelan. "Nona Aluna sekarang lebih sering tersenyum kalau bersama Tuan." "Bi Ina," tegur Arsen pelan. Namun wajahnya justru terlihat sedi
Última actualización: 2026-05-20