로그인“Wah, indah banget pemandangannya!” seru Sonia penuh semangat saat mobil mereka akhirnya tiba di pantai. Hamparan laut biru langsung terlihat jelas di depan mata. Angin pantai mulai terasa menyapu lembut. Namun walaupun waktu sudah menunjukkan pukul empat sore— cuacanya masih terasa cukup panas. Rayhan dan Sonia sudah lebih dulu turun dari mobil. Sedangkan— Naresa masih nyaman duduk di dalam mobil sambil memandangi pantai dari balik jendela. “Naresa ayo turun!” teriak Sonia dari luar mobil sambil melambaikan tangan. Namun gadis itu langsung menggeleng cepat. “Panas banget…” keluhnya dramatis. “Tidak kuat aku ke sana.” Rayhan langsung tertawa tidak percaya. “Katanya tadi paling semangat mau ke pantai.” “Iya, tapi kenapa panasnya begini sih?” protes Naresa sambil menyender malas di kursi. “Padahal sudah jam empat sore.” Sonia langsung menggeleng geli. “Tadi di kebun binatang semangat lihat capybara.” “Itu beda tempat.” Sedangkan Rayhan mulai menyandarkan tangannya di pi
“Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Zavian kepada Naresa saat mereka sudah duduk di dalam restoran. Naresa yang masih setengah sadar hanya menyandarkan dagunya di meja. “Terserah saja…” Zavian langsung mengangkat alis tipis. “Tidak ada makanan terserah di sini, Naresa.” Rayhan langsung terkekeh kecil mendengar jawaban datar itu. Sedangkan Sonia sibuk melihat menu sambil sesekali melirik Naresa yang terlihat masih mengantuk. “Iya pokoknya terserah Kakak,” lanjut Naresa pelan. “Emangnya Naresa boleh makan yang tanpa nasi?” Seketika Zavian langsung menatapnya. “Memangnya kenapa?” “Aku malas makan nasi.” “Kamu belum makan dari pagi.” “Tapi ngantuk…” Rayhan langsung menggeleng geli. “Ini orang kalau habis tidur jadi makin manja.” “Aku memang manja,” jawab Naresa santai tanpa merasa bersalah. Sonia langsung tertawa kecil. “Tuh kan, ngaku sendiri.” Namun perhatian Zavian tetap fokus pada Naresa. “Kamu mau mi?” Naresa langsung menggeleng kecil. “Pedas?” “Tidak boleh.” “
“Kalau memang mau berangkat sekarang, kita bisa kembali dulu,” ucap Zavian tenang. “Lalu minta izin ke Ibu sama Ayah.” Naresa langsung mengangguk cepat penuh semangat. “Tapi bagaimana dengan sahabatmu itu?” lanjut Zavian sambil melirik Sonia. “Bukannya ayahnya cukup posesif?” Sonia langsung nyengir kecil. “Tidak masalah kalau Tante Liana yang meminta izin sama Papa.” Sonia mengangkat bahu santai. “Pasti diizinkan kok.” Rayhan langsung tertawa kecil. “Wah, ternyata sudah tahu jalur amannya.” “Heh…” Sedangkan Naresa mulai terlihat bingung. “Lalu pakaianmu bagaimana?” tanyanya kepada Sonia. “Kita kan tidak bawa apa-apa.” “Ya tinggal beli,” jawab Rayhan santai. “Apa susahnya?” Sonia langsung menoleh cepat. “Hah?” “Nanti aku yang belikan pakaian Sonia.” Seketika wajah Sonia langsung merah. “K-Kak Rayhan!” Sedangkan Naresa langsung menatap Rayhan penuh arti. “Wihhh…” “Apanya?” tanya Rayhan santai tanpa rasa bersalah. “Kakak mulai berani banget sekarang.” Rayhan malah ter
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Zavian sambil menoleh khawatir ke arah Naresa. “Tidak apa-apa, Kak…” Namun suara gadis itu terdengar sedikit lemas. Panas matahari yang begitu terik membuat Naresa mulai merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa pusing. Wajahnya pun tampak memerah karena terlalu lama terkena panas. Padahal saat itu waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun cuacanya benar-benar menyengat. Sedari tadi mereka terus berjalan mengelilingi kebun binatang sambil melihat berbagai hewan dan mencoba beberapa wahana ringan. Kini Naresa memilih duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Dan tanpa sadar, dia membenamkan wajahnya ke lengan Zavian sambil memejamkan mata sebentar. “Hey, jangan bilang kamu mau pingsan,” tegur Sonia panik saat melihat wajah Naresa mulai pucat kemerahan. “Tidak…” gumam Naresa pelan. “Aku cuma berteduh dan mau istirahat sebentar.” Dia menghela napas kecil. “Cuacanya benar-benar panas.” Rayhan langsung membuka botol air miner
“Dipegang terus. Takut banget kayaknya diambil orang,” goda Rayhan saat melihat Zavian sejak tadi tidak melepaskan tangan Naresa. Naresa yang sedang berjalan langsung menoleh ke belakang. Karena saat ini mereka baru saja tiba di kebun binatang. “Iri bilang, Bos,” balas Naresa sambil menjulurkan lidah jahil. “Kenapa tidak pegang juga tuh tangannya Sonia? Bleee.” Seketika Sonia langsung tersedak malu. “Naresa!” Sedangkan Rayhan malah tertawa santai. “Boleh juga idenya.” Dan tepat setelah itu— Rayhan benar-benar menggenggam tangan Sonia. Membuat gadis itu langsung membelalak panik. “K-Kak Rayhan!” “Katanya iri.” “Bukan begitu juga!” Namun Rayhan malah terlihat santai sambil terus berjalan. Sedangkan Sonia sudah malu setengah mati sampai tidak berani menatap siapa pun. Melihat itu— Naresa langsung tertawa paling keras. “HAHAHA! Rasain!” “Ini gara-gara kamu!” protes Sonia malu. Zavian yang melihat tingkah Naresa hanya menggeleng kecil sambil menahan senyum tipisnya. “J
“Loh sayang, mau ke mana?” tanya Liana saat melihat Naresa sudah selesai sarapan pagi. “Kembali ke kamar, Bu,” jawab Naresa lesu sambil memeluk bantal kecilnya. Liana langsung mengernyit heran. “Tidak jalan-jalan sama Sonia? Biasanya kalau hari Sabtu kalian pergi bersama.” “Tidak, Bu.” “Loh kenapa?” Naresa langsung menghela napas kecil. “Itu… Sonia mau jalan sama Kak Rayhan.” Seketika Liana dan Rendra langsung saling bertatapan. “Sonia sama Rayhan?” ulang Rendra memastikan. “Iya, Yah.” Naresa mengangguk kecil. “Soalnya mereka lagi dekat, jadi kayak masa PDKT gitu.” Dan tepat setelah itu— suara batuk kecil terdengar dari arah lain. Zavian yang baru turun tangga hampir tersedak mendengar ucapan polos Naresa. Sedangkan Rayhan yang baru keluar dari dapur langsung mematung. “NARESA!” protesnya panik. Namun Naresa malah terlihat santai. “Apanya?” “Kamu bicara sembarangan lagi.” “Aku ngomong sesuai fakta.” Liana yang mendengar itu justru menahan senyum kecil. “Benarkah b