分享

19. Bukan Boneka

作者: Blue Ice
last update publish date: 2026-09-16 08:30:01

Kinara menyambar ponselnya dengan tangan gemetaran, lalu menekan tombol hijau. Kinara menarik napas dalam-dalam, berusaha mengubah nada suaranya agar terdengar seperti biasa.

"Halo? Iya, Sayang?"

"Mama?" Suara kecil dan polos Arkana terdengar dari seberang telepon.

"Mama di mana? Kenapa semalam Mama tidak pulang?"

Kinara membeku sepersekian detik. Bingung harus merangkai alasan apa.

Di sampingnya, Leo yang mendengar suara anak kecil itu dari p
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    95. Semakin Jatuh

    Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai jendela apartemen, membiaskan pendar hangat di atas lantai kayu. Di dalam kamar mandi, uap air hangat masih membumbung tipis. Kinara berdiri kaku di depan cermin besar. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan kini diliputi raut jengkel yang luar biasa. Jemari lentiknya menarik kerah jubah mandinya sedikit ke bawah, memperlihatkan beberapa bercak kemerahan yang tercetak jelas di sekitar leher dan tulang selangkanya. "Pria gila itu ..." gumam Kinara berdesis pelan, meremas kerah jubahnya erat-erat. Bercak-bercak tanda kepemilikan itu menyebar begitu kentara. Pria muda itu benar-benar beringas dan tidak tahu aturan semalam. Kinara harus memutar otak, memoleskan concealer tebal berkali-kali di lehernya agar bekas cumbuan gila itu tidak menjadi bahan gunjingan di kantor nanti. Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja berkerah tinggi yang tertutup rapat, Kinara melangkah keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia me

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    94. Welcome Back

    Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di dalam apartemen sederhana milik Kinara terasa begitu hening. Arkana sudah tertidur pulas di dalam kamarnya usai mendengarkan dongeng sebelum tidur. Kinara yang baru saja menutup pintu kamar putranya melangkah gontai ke area ruang tamu. Mengingat seharian penuh ia mengurus laporan kantor, Kinara menyanggul asal rambut panjangnya dan mengenakan pakaian rumah yang santai. Ia melangkah menuju dapur kecil untuk mengambil segelas air hangat. Bip, bip, bip. Suara tombol sandi pintu utama apartemennya mendadak berbunyi dari luar. Kinara menghentikan langkahnya, menatap gagang pintu dengan kening bertaut dalam. Seingatnya, hanya ada satu orang luar yang memegang akses sandi rumah ini. KLEK! Pintu utama terdorong terbuka. Sosok pria bertubuh tegap tinggi berbalut kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku melangkah masuk. Binar mata hitam Leo berkilat liar dan intens—penuh akan dahaga kepemilikan yang amat pekat. "Leo?!

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    93. Kita Sama!

    Leo berdiri tegap di ambang pintu. Pria itu menurunkan lengan tegapnya, menatap Alex dengan binar mata hitam yang dipenuhi ancaman membunuh yang pekat. "Gunakan tangan kotormu itu sekali lagi pada kakakkuku ..." desis Leo dengan suara bariton rendah yang amat tajam, "... dan aku pastikan pergelangan tanganmu patah malam ini juga." Alex menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pria itu bangkit berdiri perlahan, merapikan kemeja sutranya yang kusut seraya menatap Leo dengan napas memburu kencang. "Valen! Ini urusan rumah tanggaku dengan kakakmu!" cetus Alex jengkel, mencoba menegakkan punggungnya. "Dia sudah bertindak melampaui batas! Dia hamil anak pria lain dan—" "Tutup mulutmu, Alexandre," pangkas Leo tegap, melangkah satu tindak maju yang membuat Alex refleks mundur setengah langkah. Leo menyunggingkan senyum sinis yang amat menghina. "Melampaui batas, katamu? Kamu bicara soal moral di depan rumah ini?"

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    92. Anak Siapa?!

    Leo sebenarnya ingin segera pergi dari kediaman Sutedja. Namun masih tertahan dengan makan malam. Ia menggeser kursinya sedikit menjauh karena di sebelahnya duduk Giselle."Valen ... bisakah ambilkan aku udang itu?" pinta Giselle menunjuk udang yang tepat berada di sebelah tangan Leo.Namun pemuda yang dimintai tolong hanya diam saja. Giselle meremat sendok di tangannya. Ia harus mengendalikan Leo lagi. Jika tidak ... pertunangannya dan pemuda itu mungkin akan benar-benar berakhir.Ia mengambil rencana lain. Sekarang menatap Arthur dan Nenek Kusuma dengan tatapan memelas, memohon pembelaan. Ting!Seketia bunyi bertending membuat mereka tersentak. Kepala keluarga Sutedja yang meletakkan sendok ke piringnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara nyaring karena beradu dengan piring."Valentino!" Suara menggelegar Arthur menggema di ruang makan. "Kamu tidak dengar Giselle minta apa?" "Bukan urusanku!" balas Leo acuh."Valen ..." Sekarang Nenek Kusuma yang berbicara. "Berhenti dingin pa

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    91. Dia Datang!

    Gerbang besi bermotif ukiran emas meluncur terbuka secara otomatis. Mobil sedan hitam berpelat istimewa melaju perlahan melintasi pelataran luas Kediaman Sutedja. Sebuah istana megah berarsitektur klasik yang memancarkan pilar-pilar keangkuhan klan konglomerat paling berpengaruh di negeri ini. Pintu mobil terbuka. Pria bertubuh tegap berbalut setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Meskipun bekas luka di belakang kepalanya masih tersembunyi rapat di balik tatanan rambut hitamnya yang rapi, aura dingin nan mematikan yang terpancar dari tubuh Valentino Sutedja seketika menekan atmosfer di sekitarnya. Baru saja Leo menginjakkan kakinya di teras utama, pintu ganda rumah besar itu terbuka. Valerie melangkah keluar bersama Devan yang mengekor di belakangnya membawa dokumen kantor. Langkah Valerie terhenti kaku saat matanya menangkap sosok adiknya yang berdiri tegap di depannya. Binar matanya bergetar tipis, memancarkan rasa cemas yang teramat sangat melihat perban yan

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    90. Punya Cara Sendiri

    Tawa riang Arkana pelan-pelan mereda saat bocah kecil itu mulai asyik mewarnai buku gambarnya di atas meja sofa. Kinara mengusap pucuk kepala putranya sebentar, lalu melangkah kembali mendekati ranjang. Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di samping Leo. Tatapan mata Kinara begitu tenang, memancarkan ketegasan seorang wanita dewasa yang tak mudah digoyahkan oleh gertakan. "Arka sudah tenang di sana," bisik Kinara seraya menatap jemari tegap Leo yang terbebas dari infus. "Sekarang, kita harus bicara serius, Leo." Leo mengalihkan pandangannya dari sofa, menatap wajah anggun di sampingnya dengan pendar mata yang dalam. "Soal ucapan Ayahmu tadi?" Kinara menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan cuma itu. Kita juga tidak bisa terus-terusan bertahan dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja di sini." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, mengagumi keberanian wanita di hadapannya. "Maksudmu?" "Pak Devan pasti membawakan informasi penting dari Jakarta, kan?" tembak Kinara tepat sa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status