Home / Romansa / Duh, Kelepasan Sama Anak Magang! / 20. Masih Berani Pulang?

Share

20. Masih Berani Pulang?

Author: Blue Ice
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-16 21:49:45
Mobil sedan hitam yang dikendarai Leo berhenti dengan halus di pelataran kediaman utama keluarga Pramudita.

Sebelum keluar dari mobil, Kinara menyempatkan diri memeriksa penampilannya di cermin rias. Ia memeriksa kerah blusnya yang tinggi serta selendang yang menutupi lehernya, memastikan sisa jejak percintaan semalam tertutup rapat tanpa cela.

"Sudah rapi, Bu," panggil Leo dari kursi kemudi. Pemuda itu menatapnya lewat cermin tengah, mengulurkan senyum tipis yang amat tenang.

Kinara mengh
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    93. Kita Sama!

    Leo berdiri tegap di ambang pintu. Pria itu menurunkan lengan tegapnya, menatap Alex dengan binar mata hitam yang dipenuhi ancaman membunuh yang pekat. "Gunakan tangan kotormu itu sekali lagi pada kakakkuku ..." desis Leo dengan suara bariton rendah yang amat tajam, "... dan aku pastikan pergelangan tanganmu patah malam ini juga." Alex menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pria itu bangkit berdiri perlahan, merapikan kemeja sutranya yang kusut seraya menatap Leo dengan napas memburu kencang. "Valen! Ini urusan rumah tanggaku dengan kakakmu!" cetus Alex jengkel, mencoba menegakkan punggungnya. "Dia sudah bertindak melampaui batas! Dia hamil anak pria lain dan—" "Tutup mulutmu, Alexandre," pangkas Leo tegap, melangkah satu tindak maju yang membuat Alex refleks mundur setengah langkah. Leo menyunggingkan senyum sinis yang amat menghina. "Melampaui batas, katamu? Kamu bicara soal moral di depan rumah ini?"

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    92. Anak Siapa?!

    Leo sebenarnya ingin segera pergi dari kediaman Sutedja. Namun masih tertahan dengan makan malam. Ia menggeser kursinya sedikit menjauh karena di sebelahnya duduk Giselle."Valen ... bisakah ambilkan aku udang itu?" pinta Giselle menunjuk udang yang tepat berada di sebelah tangan Leo.Namun pemuda yang dimintai tolong hanya diam saja. Giselle meremat sendok di tangannya. Ia harus mengendalikan Leo lagi. Jika tidak ... pertunangannya dan pemuda itu mungkin akan benar-benar berakhir.Ia mengambil rencana lain. Sekarang menatap Arthur dan Nenek Kusuma dengan tatapan memelas, memohon pembelaan. Ting!Seketia bunyi bertending membuat mereka tersentak. Kepala keluarga Sutedja yang meletakkan sendok ke piringnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara nyaring karena beradu dengan piring."Valentino!" Suara menggelegar Arthur menggema di ruang makan. "Kamu tidak dengar Giselle minta apa?" "Bukan urusanku!" balas Leo acuh."Valen ..." Sekarang Nenek Kusuma yang berbicara. "Berhenti dingin pa

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    91. Dia Datang!

    Gerbang besi bermotif ukiran emas meluncur terbuka secara otomatis. Mobil sedan hitam berpelat istimewa melaju perlahan melintasi pelataran luas Kediaman Sutedja. Sebuah istana megah berarsitektur klasik yang memancarkan pilar-pilar keangkuhan klan konglomerat paling berpengaruh di negeri ini. Pintu mobil terbuka. Pria bertubuh tegap berbalut setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Meskipun bekas luka di belakang kepalanya masih tersembunyi rapat di balik tatanan rambut hitamnya yang rapi, aura dingin nan mematikan yang terpancar dari tubuh Valentino Sutedja seketika menekan atmosfer di sekitarnya. Baru saja Leo menginjakkan kakinya di teras utama, pintu ganda rumah besar itu terbuka. Valerie melangkah keluar bersama Devan yang mengekor di belakangnya membawa dokumen kantor. Langkah Valerie terhenti kaku saat matanya menangkap sosok adiknya yang berdiri tegap di depannya. Binar matanya bergetar tipis, memancarkan rasa cemas yang teramat sangat melihat perban yan

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    90. Punya Cara Sendiri

    Tawa riang Arkana pelan-pelan mereda saat bocah kecil itu mulai asyik mewarnai buku gambarnya di atas meja sofa. Kinara mengusap pucuk kepala putranya sebentar, lalu melangkah kembali mendekati ranjang. Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di samping Leo. Tatapan mata Kinara begitu tenang, memancarkan ketegasan seorang wanita dewasa yang tak mudah digoyahkan oleh gertakan. "Arka sudah tenang di sana," bisik Kinara seraya menatap jemari tegap Leo yang terbebas dari infus. "Sekarang, kita harus bicara serius, Leo." Leo mengalihkan pandangannya dari sofa, menatap wajah anggun di sampingnya dengan pendar mata yang dalam. "Soal ucapan Ayahmu tadi?" Kinara menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan cuma itu. Kita juga tidak bisa terus-terusan bertahan dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja di sini." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, mengagumi keberanian wanita di hadapannya. "Maksudmu?" "Pak Devan pasti membawakan informasi penting dari Jakarta, kan?" tembak Kinara tepat sa

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    89. Tembok Kokoh Keluarga

    Pintu kamar perawatan Leo terbuka lebar. Suasana manis yang sempat menyelimuti ruangan kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi hembusan angin dingin yang menekan. Hendra Pramudita melangkah masuk dengan aura kepemimpinan khas Presdir Danantara yang begitu dominan, diikuti oleh Ratih dan Sarah. Sementara itu, Radit memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu bersama Arkana, enggan memperkeruh suasana yang kian tegang. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan binar mata hitamnya. Meskipun tubuhnya masih lemah dengan perban yang melilit kepala, tatapan mata pria itu tetap tajam dan dingin. Ia menegakkan posisi duduknya secara perlahan, mengabaikan denyutan nyeri yang menjambak kepalanya. "Ayah, Mama ... tolong jangan bicara di sini. Leo masih butuh istirahat," peringat Kinara seraya melangkah pasang badan di antara mereka, raut wajahnya tampak kaku. "Justru karena dia sedang berada di ranjang rumah sakit, kita harus menyelesaikan ini seka

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    88. Restu Tak Sampai

    Sinar matahari sore menerpa kaca depan mobil sedan mewah yang menepi pelan di area parkir Rumah Sakit Medika. Langkah kaki terburu-buru beriringan memenuhi koridor lantai tiga. Hendra Pramudita melangkah tegap dengan setelan jas mahalnya, meski raut wajah paruh bayanya diliputi kecemasan mendalam. Di sampingnya, Ratih, sang istri yang berbalut gaun elegan khas sosialita, memegang erat lengan suaminya usai menempuh penerbangan darurat. Sementara itu, Sarah berjalan di sisi mereka dengan senyum tipis yang sarat akan muslihat, berpura-pura menjadi putri yang paling berbakti. "Sarah, apa Mbakmu benar-benar aman di rumah sakit ini?" tanya Ratih dengan suara tertahan namun penuh wibawa, meremas tas merek mewahnya. "Mama cemas sekali sejak koneksi bisnis Ayah memberi tahu seberapa berbahaya situasi keluarga Sutedja saat ini." "Iya, Ma. Tenang dulu," sahut Sarah dengan nada suara mendayu-dayu yang sangat meyakinkan. "Aku sengaja ajak Ayah sama Mama ke sini supaya kita bisa bicarakan ini ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status