เข้าสู่ระบบPesta selebrasi di restoran seafood akhirnya usai menjelang tengah malam. Setelah memastikan seluruh anggota timnya pulang menggunakan taksi online dengan aman, Kinara menuntun langkah Leo menuju sedan hitam di pelataran parkir.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Leo terus memejamkan mata di kursi penumpang. Pipi pemuda berusia dua puluh enam tahun itu menampakkan rona merah tipis, sementara napasnya berhembus teratur dengan aroma alkohol yang menguar samar. "Leo, kamuSuasana di lantai lima gedung PT Danantara terasa seperti hari-hari biasanya. Namun, bagi Kinara yang duduk di kursi kebesarannya, ruangan itu terasa bak penjara yang makin menyempit. Kinara menyandarkan punggungnya yang lemas, pandangan matanya kosong menatap layar laptop. Pikiran dan jiwanya sepenuhnya terguncang. Selain ancaman perebutan Arkana yang terus terngiang-ngiang di kepalanya, kehadiran Leo di luar ruangan kerjanya makin menambah beban batinnya. Kinara merasa sangat serba salah. Pengakuan sepihak Leo kemarin pagi yang menyebut mereka berdua 'berpacaran'—serta persetujuan pasrah yang Kinara lontarkan karena rasa bersalah—membuat Kinara sengaja membangun jarak. Ia tahu hubungan ini tidak masuk akal. Leo terlalu muda, dan statusnya sebagai anak magang hanya akan menjadi umpan empuk bagi Rendra dan ayahnya untuk terus menyerangnya. Tok, tok. Pintu ruangan terdorong pelan. Leo melangkah masuk membawa cangkir teh chamomile hangat yang baru saja ia seduh. "Selamat pagi, Bu
Langkah kaki Kinara terasa begitu berat saat menyusuri lorong marmer kediaman utama keluarga Pramudita. Setiap pijakannya serasa menghantam jalan setapak yang penuh dengan pecahan kaca. Pagi yang semula ia harapkan membawa ketenangan, mendadak berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan sepanjang hidupnya. Ia tahu akan ada hal buruk lagi jika ayahnya sudah memberikan titah tegas untuknya pulang. Kali ini Kinara pulang sendirian. Ia takut ayahnya akan menamparnya lagi jika ia membawa anak. Wanita itu tak ingin Arkana makin trauma melihat kekerasan fisik di rumah ini. Di ruang keluarga yang megah namun dingin itu, Hendra Pramudita duduk di kursi kebesarannya. Di samping sang ayah, Rendra berdiri bersedekap dada seraya menyandarkan tubuhnya di tepi meja. Kondisi rumah yang sepi menandakan ibunya, Ratih, belum pulang dari luar negeri. Biasanya, Ratih akan membela Kinara jika ayahnya mulai keterlaluan. Kali ini ia harus menghadapi ayahnya dan adik keduanya sendirian. Kinara menggengg
Matahari pagi menyinari pelataran rumah bernuansa asri di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah sedan hitam berhenti mulus di depan pagar. Kinara melangkah turun dari mobil bersama Leo yang tampil santai dengan kemeja kasualnya. Suasana hunian itu terasa sangat asri dengan deretan tanaman hias di pelataran. Pintu rumah terbuka, menyambut kedatangan mereka. Maya—sepupu perempuan Kinara—keluar seraya menuntun Arkana yang sudah rapi berpakaian. Di belakang Maya, Haris, suaminya, menyunggingkan senyum hangat. Mbak Yuni juga tampak berdiri di dekat pintu, merapikan tas perlengkapan Arkana yang ia jaga sepanjang malam di sana. "Mama!" seru Arka riang. Bocah empat tahun itu langsung berlari memeluk kaki Kinara. "Hai, anak mama yang pintar," sapa Kinara lembut seraya merengkuh tubuh putranya. Namun, pandangan Arka seketika beralih begitu melihat sosok tinggi di samping mamanya. Wajah kecilnya berbinar makin terang. "Om Leo! Om Leo ikut jemput Alka juga?!" Leo terkekeh renyah, berlutut cepat d
Dua jam kemudian, gejolak panas di dalam kamar tidur utama itu akhirnya mereda sepenuhnya. Kinara sudah terlelap sangat lelap di atas kasur empuk dengan kondisi berantakan. Napasnya berhembus halus dan teratur, menandakan betapa lelahnya wanita itu setelah terkuras habis energinya dalam pergulatan panas tadi. Leo duduk bersandar di kepala ranjang, membiarkan tubuh bagian atasnya yang polos terekspos di udara malam. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu memeriksa dengan teliti setiap inci kulit mulus Kinara yang terekspos di balik selimut. 'Ingat posisimu di kantor, Valen,' batin Leo seraya menyusuri leher jenjang Kinara dengan pandangan cermat. 'Satu bekas saja terlihat esok hari, wanita besi ini pasti langsung memblokirku total.' Ia memastikan dengan sangat cermat bahwa permainan panasnya tadi tidak meninggalkan jejak atau memar yang mencurigakan di area leher dan dada Kinara. Menjaga agar rahasia ini tetap aman dari penglihatan o
Pesta selebrasi di restoran seafood akhirnya usai menjelang tengah malam. Setelah memastikan seluruh anggota timnya pulang menggunakan taksi online dengan aman, Kinara menuntun langkah Leo menuju sedan hitam di pelataran parkir. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Leo terus memejamkan mata di kursi penumpang. Pipi pemuda berusia dua puluh enam tahun itu menampakkan rona merah tipis, sementara napasnya berhembus teratur dengan aroma alkohol yang menguar samar. "Leo, kamu masih sadar, kan?" tanya Kinara cemas seraya mengemudikan mobil memasuki area parkir basement apartemennya. "Masih, Bu ..." gumam Leo serak, menyandarkan kepalanya di sandaran jok seraya melirik Kinara dengan pandangan mata yang sengaja dibuat sayu. Dengan susah payah, Kinara membimbing tubuh tegap Leo naik menggunakan lift hingga tiba di dalam apartemennya. Karena malam ini Arkana sedang menginap di rumah sepupu Kinara, suasana hunian bernuansa hangat itu terasa begitu suny
Suasana di area VIP restoran *eafood yang berada di pinggir pantai itu terasa hangat dan meriah. Bau aroma masakan laut yang dibakar gurih berpadu dengan hembusan angin malam yang segar. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang sudah dipenuhi oleh jajaran piring besar berisi lobster saus padang, kepiting asap, udang bakar madu, hingga kerang hijau bumbu rempah. Seluruh anggota tim Divisi Pengembangan Bisnis duduk mengelilingi meja dengan raut wajah berseri-seri. Beban berat dan rasa lelah yang menumpuk selama berhari-hari mendadak sirnah digantikan tawa riang. Kinara berdiri dari kursi pimpinannya seraya mengangkat gelas berisi white wine berwarna keemasan. Gaun kerja simpel namun elegan yang ia kenakan membuat paras cantiknya malam itu makin memancar. "Terima kasih untuk kerja keras kalian semua selama seminggu ini," panggil Kinara dengan suara lembut namun tegas. Seluruh bawahannya seketika menghentikan obrolan dan menatap manajer me







