เข้าสู่ระบบ😌😌 dirayu yang baik ya, Tili. lagi ngambek itu
“Bryan? Kau akan pulang?” tanya Tili saat melihat Bryan keluar dari ruang kerja ayahnya. Bukan kebetulan, Tili sudah menunggunya sejak tadi.“Oh, tidak. Pekerjaan saya belum selesai.” Bryan hanya bisa mengatakan itu, sambil berusaha menangkup semua benda di tangannya. Ia sedang membawa gulungan kertas panjang yang merepotkan. Peta wilayah Lunaris. Julian baru saja mendiskusikan siasat perang.Tili berpura-pura tidak menyadarinya. “Oh… aku pikir kau akan pulang. Apa kau akan kembali ke dalam? Aku sebenarnya perlu bicara pada Ayah.”Tili menunjuk ke ruang kerja ayahnya.“Iya, tapi tidak masalah kalau Anda ingin bicara sekarang. Duke Julian belum akan tidur.” Bryan mempersilakan.“Sebentar. Aku perlu tahu jadwal Ayahku untuk besok.” Tili menahan tangan Bryan.“Apa Ayahku besok akan ada acara di luar kastil?” tanya Tili dengan serius, seolah hal itu yang penting untuknya.“Benar. Untuk memeriksa pasukan bersama Sir Lloyd.” Bryan boleh memberi informasi kalau hanya sejauh itu.“Lalu setel
Makan malam bersama bukan kegiatan yang rutin terjadi di kastil Cornwall—harus ada acara atau janji. Ini karena penghuninya biasanya memiliki kesibukan masing-masing.Tili tidak selalu ada di kastil mengingat kesibukannya di Dietrich, Julian selalu sibuk di ruang kerjanya, dan Celandine sangat jarang meninggalkan paviliunnya begitu matahari turun.Tapi hari ini semua orang dipaksa keluar untuk duduk di meja makan besar yang lebih sering kosong itu, oleh Lio.“Silakan… Aku dengan khusus memasak makanan kesukaan kalian masing-masing.” Lio dengan ceria menghadirkan hidangan lengkap.Celandine yang tidak tahu apa pun keributan di luar sana, mengangguk dan bertepuk tangan bersemangat menyambut keistimewaan itu. “Pe… rayaan?”Ia ingin tahu mereka merayakan apa.“Kehamilan Tili. Kita belum pernah merayakannya.” Dengan gesit, Lio memberi alasan. Celandine percaya, dan kembali berterima kasih saat Lio menghadirkan sup jagung kesukaannya. Tapi dengan cepat terlihat kalau hanya Celandine yang
Theo merapikan tunik tebalnya dengan tergesa-gesa. Pelayan baru saja melaporkan bahwa ada utusan dari Cornwall yang datang. Tidak menyebut nama, dan ini membuatnya berdebar.Ia tidak tahu tujuannya apa, tapi bisa jadi Tili. Theo kemarin baru berani memesan seribu graphite dari Cornwall. Mungkin saja kedatangannya untuk mengurus hal itu.“Cepat, buka pintu!” Theo berlari kecil menuju pintu depan. Tidak ingin terlambat menyambut.Namun, saat pintu ruang tamunya terbuka, senyum paksa di wajah Theo langsung luntur, digantikan oleh kecewa.Bukan tubuh mungil Tili yang berdiri di sana, melainkan sosok raksasa Darian dengan wajah datar yang tidak jauh berbeda dari permukaan padang salju."Lord A-Adrian?" Theo menelan ludah, refleks mundur selangkah. Ia tentu tahu siapa Darian sekarang. Semua orang di Lunaris sekarang tahu kisah ajaib penemuan kembali scion Cornwall.Darian mengangguk, lalu masuk sebelum Theo mempersilakan. Ia mengambil tempat di depan perapian terdekat, dan duduk di sana.“K
Arielle yang juga melihat bahaya untuk Roderick, bangkit dan langsung memeluknya—untuk meratap.“Roderick, aku tahu ini berat, tapi kau harus merelakan. Masih ada ibu… tolong jangan melindungi yang salah.”Roderick mendengar semua itu, tapi tatapannya tidak beralih dari Gareth. Mata Gareth masih memperlihatkan ketidaksetujuan—menyuruhnya diam. Gareth tahu posisi Roderick sangat rentan. Jika Roderick membelanya sekarang, dewan akan menganggap Roderick bersekongkol dan posisinya sebagai penerus akan hancur. Roderick akhirnya mengepalkan tangannya kuat-kuat, terpaksa menelan kembali protesnya dengan rasa pahit yang membakar tenggorokan. Ia duduk dan memeluk Leila lagi karena tangisnya semakin keras saat mendengar hukuman mati itu.Suka atau tidak, ia harus menerima.Arielle lega, tapi melirik dengan tidak puas ke arah Gareth. Ini tidak cukup. Kematian Gareth saja tidak akan memberinya kepuasan, apalagi menyembuhkan ketakutannya pada Cal.“Baiklah. Sudah ditetapkan. Hukuman mati akan dil
Tidak ada ruang sidang khusus di istana Westhaven, karena memang ada gedung tersendiri yang biasa dipakai untuk mengadili kriminal. Ada di luar komplek kastil, malah letaknya agak jauh.Tapi karena kali ini yang bersalah adalah raja, maka ruang yang biasa dipakai untuk menggelar pertemuan besar antara bangsawan diubah menjadi ruang sidang.Sekilas pandang, tidak ada yang berubah. Gareth tetap ada di tempat biasanya berada—ujung meja panjang yang terhampar di tengah ruangan besar berlangit-langit tinggi itu.Hanya perannya berbeda. Gareth biasanya akan ada di ujung meja panjang sebagai penanya. Akan memimpin jalannya rapat, meminta penjelasan, dan juga meminta pendapat saat ada masalah.Tapi sekarang ia ada di sana sebagai objek tersangka. Harus menjawab pertanyaan dari perwakilan bangsawan yang duduk memenuhi semua kursi. Bahkan ada yang berdiri karena kursi sudah habis.Ruangan besar yang biasanya dingin itu sampai terasa pengap. Apalagi ditambah emosi yang meruap dari wajah-wajah mer
"Saya tidak membutuhkan persetujuan Greybone untuk mengambil keputusan, Pangeran Caelan," ucap Elias sambil mengulurkan tangan. "Dunham berdiri bersama Cornwall. Titik."Cal tersenyum dan menjabat tangan itu dengan erat. Insting ayah mertuanya yang tajam itu terlalu benar. Ia bahkan tidak perlu membujuk—hanya meminta.“Kau tidak peduli yang kau bela adalah Castellan?” tanya Cal, mencoba mencari celah dari niat baik Elias.“Terus terang saja, saya tidak pernah punya masalah dengan Castellan. Keluarga saya tidak pernah ikut perang itu.” Elias mengangkat bahu. “Tapi yang saya lakukan saat ini adalah membela orang yang telah membantu saya. Castellan atau bukan, saya percaya Anda–juga Lady Tilia pantas dibela.”Cal kembali mengulurkan tangan, kali ini bukan sekadar menjabat, tapi menggenggam. “Terima kasih atas kepercayaannya.”Elias mengangguk. “Dan saya bisa berbicara untuk Roland juga," lanjut Elias, menyebut Valewood. “Kau tahu aku akan ke sana?” Cal terkekeh pelan.“Tentu saja. Kalau







