MasukMelarikan diri. Itulah yang dilakukan Yin Anzhu begitu mengetahui ayah liciknya berencana menjualnya kepada seorang pejabat korup. Namun pelariannya segera berakhir di tangan seorang pria misterius berjubah hitam. Alih-alih membantunya lolos dari kejaran, pria itu justru mengembalikannya ke Kediaman Yin. Beberapa hari kemudian, bukan utusan pembawa hadiah dari pejabat korup yang datang, melainkan sebuah lamaran dari pria misterius yang ternyata adalah putra sulung dari Kediaman Wakil Menteri. Lebih mengejutkan lagi, ia bukan ingin menjadikan Yin Anzhu selir atau wanita simpanan. Ia datang untuk menjadikannya istri sah.
Lihat lebih banyak"Nyonya Muda, bukankah itu Nona Kedua?"Yin Anzhu yang baru saja turun dari kereta, segera menoleh ke arah yang dilihat Taotao. Di seberang Aula Ruyi, di depan sebuah toko wewangian, Shangguan Zhiyi sedang berdiri bersama sekelompok wanita muda. Kelihatannya mereka sedang berbincang. Akan tetapi, melihat ekspresi Shangguan Zhiyi yang dingin, sepertinya itu bukan percakapan yang menyenangkan. Yin Anzhu mengabaikannya dan hendak masuk ke dalam toko. Namun langkahnya mendadak terhenti. Ia menoleh lagi. Nona muda dari keluarga Wu juga ada dalam kelompok itu. Wanita yang masih membuat darahnya mendidih tiap kali diingat. Itulah Nona Ketujuh Wu. Tapi tidak hanya dia, Nona Kesembilan Wu juga ada di antara mereka.Alis Yin Anzhu berkerut tipis. Ia masih mengamati mereka beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas dan melangkah masuk ke Aula Ruyi.Penjaga toko segera menyambut. Di pagi hari, tampaknya Song Mama telah mengirim orang untuk memberitahu si penjaga toko, sehingga saat Yin Anz
Shangguan Zhiyi terdiam. Ekspresinya menjadi lebih buruk.Seolah protes dengan saran ibunya barusan, ia membalas, "Mengapa repot-repot membujuknya? Ibu bicarakan saja langsung dengan Bibi Jiang. Lagipula, pertunangan belum diresmikan, hanya kesepakatan lisan. Tidak masalah jika tidak dilanjutkan lagi."Nyonya Su segera memalingkan wajah. Ia mengangkat kipas bundar di pangkuan dan mengipasi dirinya pelan. Pandangannya kini tertuju ke taman di depan."Ibu tidak mendengarkanku?" Shangguan Zhiyi meninggikan suaranya sedikit. Ia tahu ibunya sedang mengabaikannya.“Ibu!” panggilnya dengan nada merengek. Ia lantas mendengus kecil. “Aku tidak mau tahu. Aku tidak ingin bertemu Jiang Wenxiu lagi. Ibu yang mengatur perjodohan ini, Ibu juga yang harus mengakhirinya.”Di bawah pohon di taman depan, Yin Anzhu yang sejak tadi diam-diam menyimak percakapan mereka hanya bisa memutar mata. Ia mengusap-usap dagunya seperti seorang pria tua, sementara mata bulatnya sedikit disipitkan.Sifat Adik iparnya
Halaman MagnoliaYang Mama, wanita paruh baya dengan tahi lalat besar di pipi berjalan masuk dari gerbang luar dengan dagu terangkat. Sikapnya jauh lebih angkuh dibanding sang majikan pemilik halaman.Melihatnya masuk, para pelayan yang sedang bertugas di pekarangan, sedikit menundukkan kepala. Tak satupun yang tidak menunjukkan sikap hormat di depannya. Meski begitu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang diomongkan di belakang orangnya.Tak lama kemudian, wanita yang sudah mulai beruban itu tiba di depan pintu kamar utama. Ia merapikan pakaian sekedarnya sebelum mencondongkan kepala ke depan.“Selir, saya kembali,” ujarnya pelan dengan suara penuh hormat.“Mama, masuklah.” Pintu didorong perlahan. Yang Mama masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.Di dalam ruangan, aroma dupa yang khas memenuhi udara. Jika seseorang baru pertama kali menghirupnya, ia mungkin tidak akan langsung terbiasa dengan wanginya. Namun, setelah lama menghirupnya, aroma itu justru akan terasa semakin menyen
Sayangnya, sebelum Tuan Kedua Ye sempat mengajak Yin Anzhu mampir ke tokonya, Yin Anzhu melihat Moyan berdiri dalam jangkauan pandangannya.Bawahan itu menunduk dengan hormat dan terus berdiri di jalan seberang tanpa beranjak. Yin Anzhu bisa saja mengabaikannya, namun melihat pria itu tidak berpaling darinya, perasaannya tiba-tiba tidak enak.Ia berpikir sebentar, kemudian menoleh pada Tuan Kedua Ye di samping. “Mm…Aku tiba-tiba ingat masih ada urusan yang harus diselesaikan di rumah.” “Lain kali,“ ujarnya. “Lain kali aku pasti akan mampir ke toko kalian. Oh, juga penyangga kuas yang sebelumnya kujanjikan, pasti akan kubawa.”Wajah Tuan Kedua Ye terlihat sedikit kecewa, namun ia segera tersenyum lalu mengangguk kecil. “Baiklah. Kau sudah tahu tempatnya. Datanglah kapanpun sempat. Adik Kedua juga pasti ingin bertemu lagi denganmu.”Yin Anzhu mengangguk. Setelah itu, ia melambai padanya dan beranjak dari sana bersama Taotao.Di seberang jalan, Moyan masih berdiri menghadap ke arahnya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan