تسجيل الدخولDunia terasa runtuh setelah Adelaide Astheria melihat putri kecilnya mati dengan cara sadis. Bahkan dirinya juga ikut mati terbunuh di tangan selir kesayangan suaminya. Adelaide memohon pada Tuhan agar diberikan satu kali lagi kesempatan hidup. Untuk menyelamatkan putri kecilnya, juga membalaskan dendam dan sakit hatinya pada sang suami dan selirnya. Tuhan mengabulkan doa Adelaide. Di kehidupan keduanya, Adelaide berhasil membesarkan putri kecilnya yang memiliki kecerdasan dan kejeniusan tingkat tinggi melebihi usia anak umur tiga tahun. Mereka bertekad akan menjadi pemenangnya. Membuat selir keji itu hancur berkeping-keping dan juga suaminya yang akan bertekuk lutut dan menangis penuh penyesalan.
عرض المزيد“Ivony, anakku bangunlah. Jangan tinggalkan Ibu...”
Isak tangis pilu Duchess Adelaide Astheria menggema memeluk tubuh kecil putrinya yang baru saja berusia tiga tahun kini lemas tak bernyawa dengan darah mengalir di bibirnya akibat racun mematikan yang dijejal paksa ke mulutnya beberapa menit yang lalu. Dengan hati hancur dan amarah yang membara, Adelaide menatap sosok wanita berambut panjang di depannya yang berdiri tersenyum menyeringai jahat seperti iblis berwajah manusia. Wanita itu adalah Serafina Madison—selir kesayangan, sekaligus teman masa kecil suaminya—Duke Alexander Olifford, pria dingin yang empat tahun lalu menikah dengannya. Tetapi selama pernikahan itu, Alexander tidak pernah mencintainya sedikitpun, karena cinta yang Alexander miliki tercurahkan pada satu wanita, yaitu Serafina Madison. Wanita licik yang berusaha menyingkirkan Adelaide dan anaknya. Serafina dengan sengaja membayar orang untuk menculik dan membunuh Adelaide bersama putri kecilnya Ivony—dengan meminumkan paksa sebuah racun mematikan. Adelaide mengecup kening putrinya dan tangisnya masih tak terbendung. “Ivony. Anakku Sayang, bangunlah, Nak...” “Tangisanmu tidak akan menghidupkan kembali anakmu itu, Adelaide!”Ucapan remeh itu terucap dari bibir Serafina. Dia yang bersedekap dan berdiri menjulang di hadapan Adelaide di dalam sebuah rumah tua tempat Adelaide dan putrinya disekap dan disiksa selama tiga hari tiga malam. “Apa salahku dan anakku padamu, Serafina?” Suara Adelaide gemetar. Ia memeluk putrinya erat-erat. “Kau sudah mengambil segalanya dari kami, kau sudah suamiku dan menjadi kesayangannya, harta pun sudah kau dapatkan... mengapa kau sekarang membunuh anakku?!” Adelaide berteriak tanpa peduli dengan lima pria pembunuh bayaran yang mengelilinginya dan siap memenggalnya kapan saja. Serafina berjalan satu langkah mendekati Adelaide dan membungkukkan badannya dengan tatapan nyalang. "Karena aku tidak ingin kasih sayang Alexander terbagi untukmu dan untuk anakmu yang tidak berguna ini!” tekan Serafina dengan mata melebar. “Setelah segalanya kau dapatkan dari suamiku, apakah itu masih belum cukup?” Gigi Adelaide bergemeretak. “...ya,” Serafina mengangguk. “Aku tidak akan pernah merasa puas sebelum aku menjadi Duchess Olifford, sekaligus menjadi Calon Ratu Balford! Dan menyingkirkanmu dari muka bumi ini!” Adelaide yang terduduk di atas lantai tercengang memandangnya. Ia kembali menundukkan kepala mendekap erat tubuh Ivony yang tak bernyawa. Serafina menatap kelima pembunuh bayaran di depannya. “Bunuh wanita menyedihkan itu, sekarang juga!” Dua bola mata Adelaide melebar mendengar instruksi Serafina pada para pria bersenjata itu. Adelaide tidak bisa kabur atau melarikan diri, kedua kakinya hancur berdarah-darah akibat siksaan berat yang Serafina lakukan padanya. Adelaide tertunduk menatap wajah putri kecilnya yang malang. Ia mengelus pipi Ivony dengan air mata menetes deras. “Ibu akan ikut bersamamu, Sayang,” bisik Adelaide mendekap sang putri erat-erat. Ssing! Suara ayunan pedang itu menjadi akhir kehidupannya. Belum sempat Adelaide berucap sepatah kata, tubuhnya tersentak hebat, matanya terbelalak dan kepala tertunduk menatap ujung runcing pedang menembus punggung hingga dadanya. Darah mengalir dari bibirnya sebelum pedang itu ditarik dengan hentakan kasar hingga menimbulkan sakit berlipat-lipat. Adelaide terjatuh memeluk putrinya. Napasnya hampir putus. Pandangannya semakin buram dan gelap. ‘Kumohon, Tuhan... berikan aku kesempatan hidup sekali lagi.’ Adelaide menangis memohon dalam hatinya. ‘Untuk anakku, aku ingin hidup setidaknya untuk melindungi anakku, Ivony....’ Pandangan Adelaide mulai menggelap, suara tawa Serafina kian jauh dan tak terdengar lagi di telinganya. Namun Adelaide masih memohon pada Tuhan untuk kesempatan satu kali lagi! . . “Duchess, Anda sudah sadar!” Adelaide terbelalak dengan sepasang mata melebar dan napas naik turun seperti baru terlempar dari jurang kematian. Adelaide mengedarkan pandangannya di dalam sebuah kamar mewah. Sampai pelayan setianya—Mica berdiri di sampingnya menatap panik. Wajah Adelaide masih menegang, namun tubuhnya terasa lemas dan remuk tak bertenaga. Adelaide memegangi dadanya dan matanya melebar. Ia hendak bangun, namun pelayan menahannya cepat. “Anda jangan banyak bergerak, Yang Mulia. Tenaga Anda masih lemah usai persalinan tadi,” ujar pelayan itu. Adelaide menatapnya dengan gemetar. “Pe-persalinan?” Pelayan itu mengangguk. “Benar. Anda pingsan karena kelelahan. Tapi Anda jangan risau, bayi Anda baik-baik saja.” “Di mana? Di mana anakku?!” Adelaide tak kuasa menahan air matanya. Pelayan itu mengambil bayi mungil di dalam ranjang kecil dan menggendongnya, lalu menyerahkan bayi pada Adelaide. Adelaide terguncang hebat bersama isak tangisnya yang pecah memeluk erat tubuh bayinya. “I-Ivony...” Adelaide mengecup pipi bayinya dan memeluknya erat-erat. Adelaide mengingat jelas, ia dan Iovny telah mati mengenaskan bersimbah darah. Tapi, bagaimana bisa kini Adelaide terbangun di saat ia melahirkan putri kecilnya. Lamat-lamat Adelaide tersadar bahwa ia memohon pada Tuhan untuk diberikan kesempatan hidup sekali lagi untuk menjaga Ivony. Tangis Adelaide terhenti, wanita itu masih mengingat jelas kejadian-kejadian dalam hidupnya sebelum ia meregang nyawa. Tapi kali ini, di kehidupan keduanya Adelaide akan membalaskan semua rasa sakit hati dan ketidak adilan dalam hidupnya. Adelaide menatap ke arah pintu dengan jeli. Ia mengingat sebentar lagi suaminya akan pulang setelah beberapa hari pergi ke wilayah Camford untuk menyelamatkan teman masa kecil sekaligus wanita tercintanya yang akan menjadi maut bagi Adelaide dan anaknya di masa depan, wanita itu adalah Serafina Madison. “Yang Mulia telah kembali!” Suara penjaga dari luar pintu kamar itu membuat Adelaide tercekat, ia mengeratkan pelukannya pada sang bayi. Wanita itu hampir tak percaya, waktu benar-benar mengantarkannya kembali ke masa lalu. Pintu kamar terbuka, di sana Adelaide menatap sosok pria berparas aristokrat bak dewa, dengan jubah hitam kerajaan Balford yang berdiri tegap berjalan ke arahnya. Pria itu adalah suaminya, Duke Alexander Olifford. Adelaide menahan napas saat pria itu mendekatinya dan menatapnya dingin. Lalu, di belakangnya diikuti oleh seorang wanita berwajah polos yang tertunduk memegangi lengan Alexander. Di kehidupan yang dulu, Adelaide terkejut melihat siapa yang dibawa oleh suaminya. Tetapi kali ini, Adelaide menatap dingin pada mereka berdua. “Kau melahirkan anak perempuan?” Alexander menatap bayi dalam gendongan Adelaide. “Ya,” jawab Adelaide menatap tegas pria itu. “Ini putriku, Ivony Astheria.” Alexander masih menatap bayi mungil dalam pelukan Adelaide. Anak itu adalah anak mereka, tapi Alexander terlihat tidak peduli sama sekali. “Yang Mulia,” lirih wanita di belakangnya. Alexander menoleh pada Serafina dan meraih tangannya. Lalu pria itu kembali menatap Adelaide. “Aku membawa Serafina pulang bersamaku, dia akan tinggal di sini karena wilayahnya menjadi medan perang,” ujar Alexander menjelaskan kedatangan wanita itu. Serafina memberikan hormatnya pada Adelaide. “Saya sangat berterima kasih Duchess Adelaide menerima saya. Dan saya ucapkan selamat atas kelahiran putri Anda. Selama saya di sini, dengan senang hati saya akan membantu menjaga dan merawat bayi kecil Anda.” Dulu Adelaide percaya pada ucapan manis Serafina. Tapi kali ini, tidak akan! Adelaide tersenyum samar menatap bayinya, sebelum mengalihkan pandangannya yang datar pada Serafina dan Alexander. “Tidak perlu repot-repot," jawab Adelaide dingin. "Aku tidak akan mengizinkan orang asing, untuk menyentuh bayiku!”Ivony terlelap dalam pelukan Alexander. Saat pertemuan penting para strategis perang berkumpul, Ivony yang duduk di atas meja di depan Alexander—anak itu tiba-tiba turun ke pangkuan Alexander dan tidur memeluknya. Alexander tidak pernah melihat Ivony tidur. Terakhir kali ia melihatnya saat anak itu masih bayi. Kini, ia bisa melihat Ivony tertidur meringkuk dalam pelukannya yang hangat. "Anak Ayah." Alexander berbisik tak terdengar oleh siapapun. "Pertemuan selesai!" putus Alexander tiba-tiba setelah pembahasan selesai. Semua orang pun setuju dan mereka bersiap untuk keluar dari dalam ruangan itu. Alexander menggendong Ivony untuk diajak bersamanya. "Apa Tuan Putri akan ikut dengan Anda?" tanya Eros pada Alexander. "Tentu. Aku akan membawanya pulang bersamaku," jawab Alexander. Eros tersenyum. "Sebenarnya saya tapi penasaran, Bagaimana bisa Tuan Putri keluar malam-malam sendiri tanpa sepengetahuan siapapun." "Ibunya memang ceroboh dan bodoh," balas Alexander. Setelah mengatak
"Tuan Duke, setelah saya berkoodinasi dengan Yang Mulia Raja, beliau meminta saya agar untuk meminta pendapat Anda terkait urusan strategi peperangan." Tuan Seron menunjukkan gulungan peta di tangannya. Dalam selembar kertas itu, ada banyak coretan, nama kawasan, serta banyak lagi tanda-tanda yang memiliki makna tertentu. "Banyak prajurit yang gugur di wilayah selatan. Daerah Elioster bisa jatuh ke tangan musuh dalam waktu dekat bila kita tidak waspada dan mempersiapkan kekuatan baru." Sir Andes pun ikut menjabarkan. Alexander meraih peta di hadapannya dan mempelajari ulang strategi peperangan yang telah dibentuk beberapa bulan lalu. "Kawasan selatan memiliki lokasi yang sangat panas, tidak heran bila banyak pasukan yang gugur karena haus dan kelaparan." Alexander berkata. "Benar, Yang Mulia. Di tenda darurat, pengobatan juga mulai menipis. Para ahli medis juga banyak yang pergi entah ke mana meninggalkan medan perang tanpa rasa tanggung jawab." Alexander memperhatikan Ivony yan
Adelaide menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu dan terdiam dengan rasa marah yang tersisa. Matanya memandang sayu telapak tangan kanannya yang ia gunakan untuk menampar para pelayan-pelayan tadi. Adelaide tidak menyangka ia akan berbuat sejauh ini. Padahal dirinya di kehidupan yang dulu hanya bisa menangis dan bersedih. Tetapi kali di kehidupan yang baru ini, Adelaide mengubah segalanya, termasuk ketegasan dalam dirinya. "Tidak, aku tidak melakukan kesalahan dengan menampar mereka." Suara lirih itu terucap dari bibir Adelaide. "Mereka pantas mendapatkannya." Adelaide mengusap wajahnya kasar. Lalu berjalan menuju ke arah ranjang dan duduk di sana. Adelaide menyadari sesuatu, bahwa sebagian kejadian masa lalu yang menyedihkan sudah ia halau di masa kini. Satu-satunya yang membuat Adelaide ingin berubah adalah demi melindungi Ivony. "Yang Mulia Duchess, bolehkah saya masuk!" Suara keras Pelayan Mica terdengar. Adelaide menoleh ke arah pintu k
Phak! Phak! Nyaring suara tamparan mendarat di pipi kelima pelayan yang sudah berani menghina dan memaki Ivony secara terang-terangan. Para pelayan itu langsung bersimpuh di hadapan Adelaide sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan keras dari tangan Adelaide. "Berani kalian menghina putriku seperti itu, huh?" ucapan Adelaide bercampur kemarahan. "Kalian adalah pelayan di rumah ini. Kalian tidak ditugaskan untuk mencaci maki putriku!" Tangan Adelaide sampai gemetar. Nyalang pandangan matanya seperti singa betina liar yang mengamuk. "Tidak sekali dua kali kalian menghina Ivony tapi aku diam. Kalian selalu mengatakan anakku menjijikkan, anakku adalah kutukan, lalu apa lagi?!" bentak Adelaide pada para pelayan-pelayan yang bungkam tidak berani membalasnya. Tak satupun pelayan berani membuka mulut. Semuanya diam, bungkam. Tiba-tiba salah satu dari mereka mendekati Adelaide dan mencekal kakinya. "Nyonya Duchess, maafkan kami. Kami tidak akan lagi-lagi mengatakan hal seper
Adelaide mengajak Ivony ke dalam sebuah perpustakaan—salah satu tempat yang paling disukai oleh Ivony. Anak kecil itu berjalan mengambil satu buku di sana. Ivony memperhatikan ibunya yang sedang mencari sebuah buku untuk keperluan obat-obatan. "Ibu, apakah hari ini Ibu akan membuat obat lagi?" ta
Dua tahun Kemudian. "Ibu... bolehkah Ivony menemui Tuan Duke dan memarahinya! Beraninya Tuan Duke menolak laporan pekerjaan Ibu yang kelima kalinya!" Anak perempuan bertubuh mungil, rambut cokelatnya yang bergelombang dikuncir dua dengan hiasan pita, berbalut gaun renda merah muda—berdiri berk
Embun pagi yang turun dari langit, tak sedingin ruang tamu di kastil utara. Dua orang yang tengah berhadapan di sana. Tiada hujan, tiada angin, pagi-pagi buta Alexander memasuki kastil utara hanya untuk bertemu dengannya. Adelaide tidak tahu, apalagi rencananya? Hal ini ia tidak mengingatnya di ma
[Berita panas di Balford! Setelah Duchess Adelaide melahirkan, belum genap bayi perempuannya berusia sepuluh hari, Duke Alexander sudah mengangkat sahabat masa kecilnya untuk menjadi selirnya ] [Kisah cinta Duke dan sahabatnya yang tak terpisahkan, hubungan mereka yang dulunya pupus karena Duke ha












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر