Share

#319 Racun Atau Luka?

Penulis: aisakurachan
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 16:33:12
Arielle sedang menyesap teh hangatnya dan tersentak saat tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka. Cangkir porselen di tangannya sampai terlepas—menumpahkan cairan pekat langsung ke atas gaun sutra di pangkuannya.

Matanya membelalak kaku, menatap sosok yang terlalu tidak terbayang melangkah masuk ke dalam kamarnya yang terjaga ketat.

“Tilia Cornwall?” Tidak pernah dalam mimpinya yang paling liar sekalipun pernah terbayang Tili akan menginjak kamarnya.

Zane yang berada di dalam ruangan secara
aisakurachan

🥺🥺🥺 kan... Tiliiii

| 10
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
nah kan....kelewatan waktu...udah sampe begini...bakal jadi masalah baru....papah julian bakal ngamuk besar..
goodnovel comment avatar
Yanti
duh Tili, jangan sampai kehilangan anak lagi deh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #346 Extra 13 - Sempurna Atau Bahagia?

    “Lucian Valerius?” Cal tidak percaya, karena ingat kalau Scion Valerius itu menyerah dengan mudah—bukan saingan yang terlalu berat.“Benar.” Miriam tersenyum tapi wajahnya agak merona. “Aku harus membujuknya untuk meninggalkanmu—menyebut kau bukan jodohnya. Bahkan sebelum dia bertemu denganmu.”“Aku? Lucian terobsesi padamu.” Tili bingung. Ia juga merasa kalau Lucian tidak akan amat sulit diyakinkan.“Karena dalam proses untuk meyakinkan kalau kau tidak cocok menjadi istrinya, aku menunjukkan terlalu banyak keajaiban pada Lucian. Pada akhirnya—Lucian terlalu tertarik padaku.” Miriam jelas salah tingkah. Bagian Lucian terobsesi padanya itu agak membuatnya malu.“Sialan!” Cal memaki, akhirnya mengakui kalau memang hidupnya diatur oleh Miriam.Sempurna pada akhirnya—tapi menyisakan rasa janggal dan tidak menyenangkan. Ia merasa menjadi boneka—yang langkah dan keputusannya telah diatur.“Aku rasa semua sudah jelas.” Miriam bangkit, lalu memeluk Celandine. Sejak tadi Celandine tidak bicara

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #345 Extra 12 - Manfaat Atau Hadiah?

    Miriam menepuk pelan paha Celandine lalu menatap Tili lagi. “Bukankah dengan gelang itu kau memperbaiki kehidupan Celandine? Kau menyelamatkan nyawa Cal dan Celandine. Bahkan Celandine bisa bersama pria itu—” Miriam menunjuk Gareth dengan dagu—masih tidak setuju, tapi menghormati pilihan Celandine. “Gelang itu ada agar Celandine bahagia. Memiliki anak dan suaminya dengan utuh.”Tili perlahan luruh ke tanah, terduduk sambil menutup bibirnya. Cal berusaha menahan agar Tili tidak jatuh, tapi ia sendiri malah ikut terduduk. Apa yang disebut Miriam terlalu mustahil untuk dipercaya. “Kau memanfaatkan aku?” gumam Tili.“Ya.” Miriam menggangguk. “Tapi agak kejam kalau kau menyebutnya memanfaatkan. Bukankah aku membuatmu melihat lebih jelas—dan menemukan pria yang lebih baik? Kau juga mendapatkan manfaat yang baik darinya.” Miriam menatap Cal lalu tertawa pelan. “Atau kau belum puas dengan yang ini? Tampan, tapi memang kau bisa mendapatkan yang lebih tampan lagi.”Cal mengerutkan kening. “

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #344 Extra 11 - Balasan Atau Kebetulan?

    “Ja…jangan…” Celandine harus melarang, saat putri Cal dan Tili—Iris, berusaha memasukkan segenggam rumput ke mulutnya.Celandine tadi merasa kalau memperkenalkan tanah pada dua bocah itu adalah ide bagus, tapi kini tidak lagi. Iris dan Elm—pangeran Lunaris pertama—sejak tadi lebih memilih untuk memakan apa pun benda yang mereka temukan. Termasuk kerikil, daun kering, yang terakhir adalah tanah dan rumput.Celandine mencintai kedua bocah itu dalam sekali pandang, tapi jelas agak kewalahan mengatasi keaktifannya. “Ti…dak…”Celandine kali ini harus mencegah Elm mencabut salah satu tunas tanamannya. Ia juga mulai merasa kalau berkumpul di taman yang tidak jauh dari kebun obatnya bukan ide bagus.Tempat itu indah dan tenang—karena jauh dari pemukiman pada dokter yang belajar di sana, tapi terlalu banyak benda yang tidak boleh dirusak.“Apa aku boleh membantu?”Suara lembut menawarkan bantuan. Celandine mengangguk dengan senang hati, sambil berpaling untuk berterima kasih.Tapi saat bertemu

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #343 Extra 10 - Aman Atau Bahaya?

    “Dan kau menceritakan semua itu untuk apa?” Cal menuang madu lavender ke dalam teh, lalu menatap Roderick yang juga sedang menyesap teh, dengan mata bosan. Roderick baru saja selesai menceritakan kisah pertemuannya dengan Zinnia dengan sangat detail.“Kau yang bertanya tadi—ingin tahu bagaimana aku bertemu Zinnia. Aku menjelaskan.” Roderick memutar bola matanya. Merasa tidak salah.“Apa aku terlihat ingin tahu sebanyak itu?” Cal mendengus. “Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu mengambil istri dari baron miskin. Itu saja.”“Dan aku menjelaskannya!” Roderick melotot padanya. Kegiatan minum teh biasanya membawa ketenangan, tapi kalau minum teh bersama Cal akibatnya akan berbeda.“Aku hanya butuh sebabnya. Kau hanya tinggal mengatakan ‘aku menyukainya’ atau ‘aku mencintainya’. Sudah cukup. Aku tidak butuh penjelasan detail bagaimana kau bertemu dengannya—apalagi berbumbu kisah sok heroik.” Cal mengerutkan wajah dengan jijik.Roderick terlalu banyak memuji diri dalam kisahnya tadi.“Aku

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #342 Extra 9 - Tawaran Atau Bantahan?

    Morvan yang masih meringis kesakitan, berubah menjadi bingung—dan tentu ketakutan. Ia menatap Roderick juga kedua pria kokoh yang masih mengangkat pedang.Roderick menyeringai. “Kau boleh mencoba membunuhku kalau kau bisa.”Morvan merintih, beringsut menjauh, tapi masih tidak terima.“Kau tidak tahu berurusan dengan siapa! Ayahku seorang Count! Aku akan melaporkanmu pada Duke Montclair! Dan kau, Zinnia, pernikahan kita batal malam ini juga!”Zinnia panik. Pikirannya buntu. Insting bertahannya membuat ia memohon, “Lord Morvan, tolong tarik ancaman itu. Ayah saya—”“Berhenti memohon pada sampah yang tidak pantas menjadi suamimu, Zinnia!” bentak Roderick tegas. “Jangan pernah memohon padanya!” Roderick menarik tangan Zinnia—karena jelas ia akan menolong Morvan.“Tapi… tapi… aku tidak bisa…”“Akan ada pria yang jauh lebih baik untukmu! Kau tidak harus menjual dirimu pada pria rendahan seperti dia!”Morvan menahan sakitnya, lalu tertawa mengejek di sela rintihannya. “Pria lain? Jangan mimp

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #341 Extra 8 - Langkah Atau Kebodohan?

    Roderick membiarkan Zinnia menangis menenggelamkan wajah di tuniknya, sampai merasakannya menjauh.“Duduklah,” ucap Roderick lembut setelah tangisan Zinnia mereda. “Biar aku yang memasak malam ini.”Zinnia mengikuti langkah dan duduk di kursi, tapi sambil mendongak kaget, matanya masih basah, tapi keinginan menangis itu teralihkan. “Apa kau bisa memasak?”“Tidak,” jawab Roderick jujur. “Tapi temanku bisa.”Roderick tidak tahu apakah hal itu benar, tapi dengan paksa menarik Lance dan Tristan masuk lewat pintu belakang. “Mereka akan membantuku.” Roderick menunjuk dua pria kebingungan itu, dan tersenyum meyakinkan. “Kau istirahat saja bersama ayahmu.”Roderick memaksa, membantu Zinnia berdiri, mengantarnya keluar dari dapur.“Kau bisa?” tanya Lance sambil berpaling menatap Tristan.“Seharusnya bisa.” Tristan menghela napas, dan mulai melepaskan sabuk pedang dan pisaunya—juga jubah.Seaneh apa pun, mereka harus menjalankan perintah itu.****Untungnya hidangan yang tercipta tidak seburuk

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #176 Rahasia Atau Mimpi?

    Duke itu tidak terlihat kecewa sedikit pun. Mata berkabutnya perlahan melebar sebelum ia tertawa—tawa yang dalam, pelan, dan diwarnai dengan pujian segan."Perkembangan buruk, katamu?" Julian menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Bryan dengan pandangan kagum yang jarang ia tunjukkan untuk kepona

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #173 Dokter Atau Teman?

    Roda kereta kuda akhirnya berhenti berderit saat memasuki pelataran berbatu Kastil Cornwall. Perjalanan panjang itu terasa menguras tenaga, namun udara rumah yang familier setidaknya memberikan sedikit kelegaan bagi Tili.Tapi saat akan melangkah turun dari kereta, tangan bersarung tangan hitam ter

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #172 Godaan Atau Bantuan?

    Tapi Tili hanya ingin menampar. “CAL!”Cal terkekeh dan menangkap tangan Tili yang sudah terayun. “Maaf. Aku mengerti.” Cal tidak menggoda lagi, ia tahu Tili berusaha keras melawan malu untuk mengatakannya. Ia meremas lembut lengan Tili.“Tapi aku mohon juga, jangan pernah minum lagi kecuali kau se

  • Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?   #171 Belebihan Atau Perlu?

    Entah karena kekuatan Tili yang berlebihan—atau kain pembuat bantal yang sudah jelek—pukulan itu membuat bulu angsa di dalamnya berhamburan.“Tili!” Cal tidak menegur, hanya terkejut dan tertawa saat mendapati hujan empuk warna putih berhamburan di sekitarnya.“Astaga!” Tili juga sampai lupa pada ra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status