LOGINSetelah dinasti keluarganya runtuh, Ming Zhu, putri dari kaisar yang dilengserkan, kehilangan segalanya—orang tuanya dibunuh dan kakaknya, Ming Yue, dijual ke rumah bordil. Hidup dalam pelarian, Ming Zhu akhirnya bekerja sebagai asisten pribadi seorang bangsawan misterius bernama Liang Wei, pria dingin dengan penglihatan yang lemah dan rahasia yang tak diketahui siapa pun. Hubungan keduanya semakin menegang saat Liang Wei menyelamatkannya dari rumah bordil dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Di tengah intrik istana, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan, dua orang yang sama-sama hidup dalam bayangan akhirnya menyadari bahwa takdir mereka saling terikat. Ketika identitas mereka akhirnya terbongkar ke dunia, Ming Zhu dan Liang Wei tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Namun alih-alih jatuh, mereka memilih untuk bangkit. Bersama-sama mereka memulai permainan berbahaya melawan para pengkhianat yang telah menghancurkan masa lalu mereka. Akankah mereka berhasil merebut kembali tahta yang seharusnya milik mereka?
View MoreKabut pagi masih menggantung di halaman kediaman itu ketika Ming Zhu melangkah melewati gerbang dalam dengan kepala tertunduk.
Jubah kasim abu-abu yang dikenakannya tampak terlalu besar untuk tubuhnya, dan topi hitam menutupi rambutnya yang diikat rapat. Dari luar, ia tampak seperti kasim muda biasa yang baru dipindahkan ke tempat tugas baru. Di sini, ia bukan Ming Zhu. Ia adalah Xiao Yao, kasim kecil yang kebetulan bisa membaca. Kediaman tempat ia ditugaskan berada di bagian paling sunyi dari kompleks bangsawan. Tidak banyak pelayan yang berlalu-lalang, dan bahkan para penjaga tampak menjaga jarak dari bangunan utama. Sejak pagi tadi ia sudah mendengar beberapa bisikan dari para pelayan lama ataupun tetangga sekitar. “Jangan terlalu dekat dengan tuan itu.” “Dengar-dengar dia orang kerajaan. Hati-hati.” “Matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas.” Tidak ada yang menyebut nama tuan rumah itu secara langsung. Ia kemudian berhenti di depan pintu ruang belajar dan menarik napas pelan sebelum mengetuk. “Masuk,” sahut suara dari dalam. Ming Zhu mendorong pintu perlahan. Aroma kayu cendana langsung menyambutnya. Ruangan itu luas tetapi tidak terlalu terang tirai sutra tipis menahan sebagian cahaya pagi. Rak-rak kitab berdiri di sepanjang dinding, penuh dengan gulungan bambu dan buku. Di tengah ruangan, seorang pria duduk di kursi kayu ukir. Ia mengenakan jubah panjang berwarna biru tua yang sederhana tetapi jelas mahal. Rambut hitamnya diikat rapi dengan mahkota rambut perak kecil. Di samping kursinya bersandar sebuah tongkat kayu hitam. Matanya terbuka. Namun tatapannya tidak benar-benar fokus. Seperti seseorang yang melihat dunia melalui kabut tipis. Ming Zhu segera menunduk dalam-dalam. “Hamba memberi salam, Tuan,” ucap Ming Zhu. Beberapa detik ruangan itu sunyi. Kemudian pria itu bertanya dengan suara tenang, “Namamu.” “Xiao Yao,” ujar Ming Zhu. “Kasim baru?” tanya Pria itu. “Ya, Tuan.” Ming Zhu menjaga nada suaranya tetap rendah dan patuh. Ia sudah belajar bahwa menjadi kasim berarti tidak menarik perhatian tidak terlalu cepat menjawab, dan tidak terlalu lambat bergerak. Pria itu mengangkat sedikit dagunya. “Kau bisa membaca?” “Bisa, Tuan.” Itulah satu-satunya alasan ia dipilih untuk tugas ini. Tidak banyak kasim yang bisa membaca dengan lancar, dan tuan muda di kediaman ini membutuhkan seseorang untuk membacakan dokumen. Pria itu menggerakkan tangannya sedikit ke arah meja rendah di sampingnya. “Ada dokumen di sana. Bacakan,” ujar Tuan Muda itu. “Baik, Tuan,” balas Ming Zhu dengan patuh. Ming Zhu berjalan ke meja tersebut dan mengambil gulungan bambu yang diletakkan paling atas. Ia membukanya perlahan, memastikan suaranya tidak terdengar gugup. “Laporan perdagangan dari Prefektur Jiangnan,” katanya sebelum mulai membaca. Suara Ming Zhu mengalir tenang, jelas, dan teratur. Sejak kecil ia terbiasa membaca kitab-kitab istana, sehingga kata-kata panjang dan kalimat resmi bukan sesuatu yang sulit baginya. Ia membaca beberapa paragraf sampai akhirnya tiba-tiba pria itu berkata, “Berhenti.” Ming Zhu langsung diam. Ia menunduk lagi sambil menunggu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu pria itu memiringkan kepalanya sedikit, seperti seseorang yang sedang mencoba mendengar sesuatu dengan lebih jelas. “Berjalanlah,” ucapnya tanpa basa basi. Ming Zhu mengangkat kepalanya sedikit karena bingung. “M-maksud Tuan?” “Di dalam ruangan ini.” Ming Zhu ragu sejenak, tetapi kemudian berdiri dan berjalan perlahan melintasi lantai kayu. Suara langkahnya lembut, hampir tidak terdengar. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit. “Berhenti.” Ming Zhu berhenti. “Sekarang kembali.” ucapnya. Ia berjalan kembali ke tempat semula. Setelah beberapa detik, pria itu berkata, “Benar.” “Apa yang benar, Tuan?” tanya Ming Zhu tanpa sadar. Pria itu tersenyum tipis. Senyuman yang begitu samar hingga hampir tidak terlihat. “Langkahmu terlalu ringan untuk seorang kasim.” Jantung Ming Zhu berdetak lebih keras. Namun sebelum ia sempat menjawab, pria itu berkata lagi dengan nada santai. “Tapi itu tidak penting.” Ia mengulurkan tangannya ke arah meja. Gerakannya lagi-lagi terlalu tepat. Jarinya berhenti tepat di atas gulungan kedua yang tadi hendak dibaca Ming Zhu. “Kasim yang bisa membaca dengan baik lebih berguna daripada kasim yang berjalan dengan benar.” Ruangan kembali sunyi beberapa saat. Kemudian pria itu mengulurkan tangannya ke arah meja. Gerakannya begitu tepat hingga ujung jarinya berhenti hanya beberapa inci dari dokumen yang sedang dipegang Ming Zhu. Ming Zhu menahan napas tanpa sadar. Pria itu memang memiliki tongkat dan mata yang tampak kabur, tetapi gerakannya sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang benar-benar tidak tahu arah. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berkata dengan nada yang sama tenangnya. “Lanjutkan membaca,” ucapnya. “Baik, Tuan.” Ming Zhu kembali membaca dokumen tersebut, tetapi kali ini pikirannya tidak setenang sebelumnya. Ada sesuatu yang aneh. Sepanjang ia membaca, kepala pria itu tetap menghadap ke arahnya. Seolah-olah ia tahu dengan tepat di mana Ming Zhu berdiri. Setelah dokumen selesai, Ming Zhu menutup gulungan bambu itu dengan hati-hati. Ruangan kembali hening. Pria itu bersandar sedikit di kursinya sebelum berkata, “Xiao Yao.” “Ya, Tuan?” “Suaramu terlalu halus,” ujar nya. Ming Zhu tidak tahu apakah itu pujian atau sekadar pengamatan. Namun kata-kata berikutnya membuat jantungnya sedikit menegang. “Dan langkahmu terlalu pelan.” Ia tidak berani menjawab. Pria itu berdiri perlahan dan mengambil tongkat kayunya. Langkahnya terdengar tenang saat berjalan melewati Ming Zhu. Saat ia lewat di sampingnya, jarak mereka begitu dekat hingga Ming Zhu bisa merasakan aroma samar kayu cendana dari jubahnya. Pria itu berhenti sejenak. Hanya satu langkah di belakangnya. Kemudian berkata pelan, “Mulai besok, kau akan membaca untukku setiap hari. Kau bisa tinggal disini sementara waktu.” Ming Zhu merasakan udara di sekitarnya tiba-tiba terasa lebih dingin. “B-baik, Tuan. Terima kasih.” Namun pria itu tidak menunggu jawaban. Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu. Sebelum keluar dari ruangan, ia berkata tanpa menoleh. Pintu terbuka lalu tertutup kembali. Ruangan itu kembali sunyi. Ming Zhu tetap berdiri di tempatnya dengan kepala tertunduk. Namun di balik topi kasimnya, jari-jarinya perlahan mengepal. Ia tidak tahu siapa sebenarnya pria yang tinggal di kediaman sunyi ini. Yang ia tahu, Instingnya mengatakan bahwa tuan muda itu jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat. “Dia… tidak mencurigaiku, kan?”Malam itu terasa lebih panjang dari sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar pergi. Pria tua dari Gunung Tianyi duduk di dekat ranjang, sesekali memeriksa nadi Ming Zhu, sesekali menambahkan ramuan ke dalam mangkuk kecil yang aromanya semakin tajam memenuhi ruangan.Jarum-jarum masih tertancap di beberapa titik tubuh Ming Zhu. Tubuhnya tetap lemah. Namun sesuatu telah berubah. Napasnya lebih stabil. Tidak lagi terputus-putus seperti sebelumnya. Ming Yue berdiri di sisi lain, memperhatikan setiap detail dengan seksama. Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, bahunya tidak setegang sebelumnya. “Dia bertahan,” gumamnya pelan. Pria tua itu mendengus. “Jangan terlalu cepat senang. Ini baru langkah pertama.” Ia melirik ke arah Liang Wei. “Kau. Keluar,” katanya singkat. Perintah itu datang tiba-tiba. Semua orang terdiam. Liang Wei tidak bergerak. “Aku tetap di sini.” “Kalau kau tetap di sini, kau akan mengganggu.” nada pria tua itu datar, namun tak terbantahkan. “Aura kematianmu te
Ssreekkk~ “Siapa disana?!” seru Ye Shuang. Brukk~ “Aku,” ucap Hei Yan. “Bagaimana kau bisa kemari?” tanya Ye Shuang. “Tuan memintaku untuk memastikan perjalanan kalian aman. Nona Ming, dalam kondisi kritis. Maka dari itu, kita harus cepat,” jelas Hei Yan. Kabut Lereng Gunung Tianyi terbelah oleh dua bayangan yang bergerak cepat. Perjalanan turun tidak lebih mudah dari saat naik bahkan lebih berbahaya. Jalan sempit, jurang di kedua sisi, dan beberapa sosok yang mencoba menghadang, namun semuanya berakhir tanpa banyak suara. Hei Yan tidak pernah ragu. Dan Ye Shuang tidak pernah menoleh ke belakang. Di tengah mereka, pria tua itu berjalan atau lebih tepatnya, dipaksa berjalan lebih cepat dari yang ia inginkan. “Benar-benar tidak punya sopan santun,” gerutunya, meski napasnya tetap stabil. “Sudah lama tidak ada yang menyeretku turun gunung seperti ini,” lanjutnya kesal. “Diam dan berjalan,” balas Ye Shuang dingin. Pria tua itu melirik sekilas ke arah Hei Yan, yang berj
Perjalanan ke Gunung Tianyi bukanlah sesuatu yang bisa ditempuh dengan mudah. Kabut tebal menyelimuti lerengnya hampir sepanjang waktu, jalan setapak berliku seperti labirin, dan cerita tentang orang-orang yang tersesat tanpa jejak bukanlah sekadar rumor. Namun Ye Shuang tidak pernah mempercayai rumor. Ia hanya percaya pada tujuan. Angin gunung menerpa keras saat ia melangkah tanpa ragu, melewati jalur sempit, tebing curam, hingga akhirnya mencapai sebuah tempat yang tersembunyi di balik hutan pinus tua. Sebuah pondok sederhana. Terlihat biasa saja, namun justru itulah yang membuatnya mencurigakan. Ye Shuang berhenti beberapa langkah dari pintu. “Keluar,” ucapnya. Suaranya datar, namun cukup untuk memecah keheningan. Tidak ada jawaban. Hanya ada suara angin.Namun sesaat kemudian— “Jarang ada tamu yang datang tanpa membawa sopan santun,” sahut seseorang dari dalam. Pintu terbuka perlahan. Seorang pria tua keluar, rambutnya memutih, matanya tajam, terlalu tajam untuk seseo
“Kalau kau ingin dia hidup, pastikan dirimu sendiri tidak mati lebih dulu. Bau darah di bajumu sudah sangat mengganggu,” celetuk Ming Yue. Su Mu mendengus pelan dibelakang. “Akhirnya ada yang bicara masuk akal.” Namun Liang Wei tidak bergeming. Ia tetap di sana, di sisi Ming Zhu, seolah dunia di luar ruangan itu sudah tidak ada artinya lagi. “Aku sudah kembali,” bisiknya lirih, menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh tangan Ming Zhu. “Jadi, kau juga harus kembali,” lanjutnya. Lampu minyak berkelip pelan. Ming Yue bangkit, memberi ruang, namun tidak benar-benar pergi. Ia berdiri tak jauh, mengawasi sebagai kakak, sekaligus satu-satunya orang yang bisa menjaga garis tipis antara hidup dan mati saat ini. “Dia jatuh cinta pada adikmu,” bisik Su Mu pada Ming Yue. Ming Yue menghela napasnya pelan. “Aku sudah sadar sejak pertama kali bertemu dengannya.” Malam berganti tanpa ada yang benar-benar menyadarinya. Lampu minyak di kamar itu sudah diganti beberapa kali. Aroma her
Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang W
Ruangan itu perlahan kembali sunyi setelah Su Mu pergi. Pintu tertutup rapat, meninggalkan hanya dua orang di dalam. Liang Wei dan gadis yang sejak tadi tak pernah benar-benar jauh darinya. Peta masih terbentang di meja. Namun perhatian mereka tidak lagi di sana. Liang Wei berdiri diam beberapa s
“Aku akan memotong lidahnya jika kabar ini tersebar,” ucap Liang Wei. Sementara di luar, Su Mu berdiri beberapa langkah dari pintu, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. “Pantas Tuan sangat lembut pada Nona Ming,” gumam Su Mu kemudian pergi. “Tuan, sudah waktunya beristirahat,”
Malam itu, paviliun dalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ming Zhu berdiri di depan pintu, tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya perlahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke bagian kediaman yang paling pribadi milik Liang Wei—tempat yang bahkan para pelayan lama pun jarang diizinkan mendekat.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews