Permaisuri Racun Dari Dunia Lain

Permaisuri Racun Dari Dunia Lain

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-14
Oleh:  IttazuraOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Kematian seharusnya adalah akhir. Namun bagi Zailyn, wanita modern yang cerdas dan tangguh, itu hanyalah awal dari takdir baru yang kejam. Ia terbangun dalam tubuh rapuh seorang selir rendahan, sekarat akibat racun di tengah intrik istana kuno yang mematikan. Dihantui pengkhianatan masa lalunya, satu sumpah terukir di hatinya: ia tidak akan mati sia-sia lagi. Di labirin harem yang mematikan, di mana setiap senyuman bisa menyembunyikan belati beracun, Zailyn harus menggunakan otaknya yang gesit, bukan kekuatannya, untuk bertahan. Tindakan tak terduga dan keberaniannya perlahan menarik perhatian Kaisar Xerxes, penguasa kejam dan dingin yang selama ini tak tersentuh. Dari kecurigaan, tumbuh rasa penasaran, lalu hormat yang samar, saat Zailyn membuktikan dirinya lebih dari sekadar bidak. Namun, saat konspirasi yang lebih besar mengancam kekaisaran, ia dan sang Kaisar terikat dalam aliansi yang rumit. Di tengah bara peperangan dan tantangan takhta, sebuah cinta terlarang yang membara mulai menyala—ikatan yang lahir dari trauma dan kekuatan, di mana Zailyn mulai melihat hati di balik tatapan dingin Kaisar, dan Kaisar menemukan kehangatan dalam kecerdasan Zailyn. Mampukah Zailyn mengendalikan "racun" di tangannya, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengubah nasibnya? Bisakah ia menyelamatkan kekaisaran, menaklukkan hati seorang Kaisar sedingin es, dan bangkit menjadi Permaisuri agung yang paling berpengaruh? Ini adalah kisah tentang kelangsungan hidup, cinta yang mustahil, dan kekuatan seorang wanita yang menolak untuk menjadi korban, melainkan menjadi dalang takdirnya sendiri.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Terdampar

"Ah, uhuk!" seorang gadis menelan ludah dengan kesakitan.

Napasnya tersengal, merobek tenggorokan yang terasa hangus. Rasa sakit itu, seperti bara api di ulu hati, membakar tanpa ampun. Zailyn, gadis yang telah lulus dari maut. Ia mengerang, berusaha membuka mata, namun hanya kegelapan dan siluet buram yang menyambutnya. Kepalanya berdenyut, berat, seolah baru saja dihantam palu godam.

"Dia bergerak?" Suara bisikan, samar, jauh.

"Jangan sentuh dia. Biarkan saja. Tabib sudah bilang, tidak akan lama." Suara lain, lebih dingin, penuh ketidakpedulian.

Zailyn mencoba fokus. Suara-suara itu... bukan suara yang ia kenal. Bukan suara mesin rumah sakit. Bukan suara keluarganya.

"Air..." desisnya. Bibirnya kering, pecah-pecah.

"Dengar? Dia bicara."

"Biarkan saja. Untuk apa? Dia sudah merepotkan."

Sebuah tangan menyentuh keningnya. Dingin. Bukan tangan yang lembut. Bukan tangan perawat.

"Panas sekali," kata suara itu lagi. "Apa yang terjadi padanya?"

Zailyn mengerahkan seluruh tenaganya, mencoba meraih tangan itu. Kekuatan di tubuhnya lenyap. Otot-ototnya terasa seperti agar-agar.

"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" teriaknya dalam hati, namun yang keluar hanya rintihan lemah.

Aku di mana?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Terakhir kali, ia ingat... ruang operasi. Bau antiseptik. Lampu terang. Lalu... kegelapan. Kematian. Ia seorang dokter forensik, Zailyn. Ia meninggal di meja bedah setelah kecelakaan mobil.

Ini mimpi?

"Selir Ling yang malang," bisik suara pertama, penuh kepalsuan. "Pantas saja Kaisar tidak pernah mengunjunginya."

"Selir Ling?" Zailyn mengulang nama itu dalam benaknya. Siapa Selir Ling?

Kilasan gambar menerjang otaknya, bukan miliknya. Sebuah kamar yang megah namun sepi. Gaun sutra. Wajah seorang gadis, pucat, mata penuh ketakutan. Ada rasa getir di lidah. Rasa pahit yang tak tertahankan.

Racun.

Jantung Zailyn berdebar kencang. Ia tahu rasa racun. Ia tahu gejalanya. Mual. Pusing. Nyeri perut yang melilit. Ini... ini gejala yang sama.

"Air! Aku butuh air!" Ia mencoba bicara lagi, kali ini sedikit lebih jelas.

Keheningan sesaat. Lalu, tawa kecil yang sinis. "Masih sempat-sempatnya meminta air. Bukankah dia sudah hampir mati?"

Sialan! Darah Zailyn mendidih. Ia tidak mati! Ia hidup! Tapi di tubuh siapa ini?

Matanya terbuka paksa. Penglihatan masih kabur, tapi ia bisa membedakan siluet. Dua wanita berdiri di dekat ranjangnya. Pakaian mereka... bukan pakaian modern. Kimono? Hanfu? Terlalu mewah untuk sekadar gaun tidur.

"Siapa kalian?" desis Zailyn. Suaranya serak, parau, bukan suaranya sendiri.

Kedua wanita itu terkesiap. Salah satunya mundur selangkah.

"Lihat! Dia sudah sadar!"

"Tapi... tabib bilang..."

Zailyn mencoba menggerakkan jari-jarinya. Sulit. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Tulang-tulangnya seperti rapuh. Tubuh ini... sangat lemah.

"Ini bukan tubuhku. Ini tubuh gadis itu. Selir Ling?" tanyanya dalam hati.

Ingatan-ingatan asing menyerbu. Nama-nama. Wajah-wajah. Sebuah istana megah. Hierarki yang kejam. Kaisar. Harem. Kepalanya mendadak penuh dengan semua memori lampau yang tidak ia kenal sebelumnya.

"Ya Tuhan. Ini benar-benar terjadi!" Diambang keraguannya, ia mencoba untuk mencerna dengan semua yang telah terjadi.

Ia bereinkarnasi. Ke dalam tubuh Selir Ling, seorang selir rendahan yang diracun. Racun yang lambat, menggerogoti. Racun yang sama yang ia rasakan sekarang.

"Nyonya... Anda sudah sadar?" Suara yang lebih muda, lebih lembut, kini mendekat. Itu bukan salah satu dari dua wanita yang tadi bicara sinis.

Zailyn menoleh perlahan. Seorang gadis muda, wajahnya polos, mata penuh kekhawatiran. Xiao Li? Ya, Xiao Li. Pelayan pribadi Selir Ling.

"Air..." Zailyn mengulang, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.

Xiao Li bergegas. "Tentu, Nyonya! Sebentar!"

Dua wanita yang tadi sinis saling pandang. "Dasar wanita lemah," bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk didengar Zailyn. "Berpura-pura mati saja masih tidak becus."

Zailyn mengepalkan tangannya. Kemarahan membara. Ini bukan pura-pura. Ini nyata. Rasa sakit ini nyata. Kematian yang nyaris ia alami, juga nyata.

Xiao Li kembali dengan cangkir kecil berisi air. Zailyn meneguknya rakus. Cairan dingin itu terasa seperti surga di tenggorokannya yang terbakar.

"Pelan-pelan, Nyonya." Xiao Li membantu menopang kepalanya.

Pandangan Zailyn mulai sedikit jernih. Kamar ini... megah, tapi terasa dingin. Tirai sutra, ukiran naga di tiang-tiang, perabotan kayu yang diukir rumit. Tapi tidak ada kehangatan. Tidak ada kehidupan. Hanya kemewahan yang sunyi.

"Apa yang terjadi padaku?" Zailyn bertanya, suaranya masih parau. Ia harus berpura-pura. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia tahu.

Xiao Li menunduk, gemetar. "Nyonya... Anda... Anda sakit. Tabib bilang... Anda diracun."

Diracun.

Konfirmasi itu menghantamnya seperti gelombang dingin. Racun. Harem. Intrik. Ia, seorang dokter forensik dari abad ke-21, terdampar di dunia fantasi yang kejam ini, sekarat karena racun.

"Siapa yang meracuniku?" Zailyn mendesis, suaranya lebih tajam dari yang ia duga.

Xiao Li terkesiap, lalu melirik ke arah dua pelayan yang masih berdiri di sudut, pura-pura sibuk. "Nyonya... saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi... ada rumor..."

"Rumor apa?"

"Rumor bahwa... Selir Mei... tidak suka dengan Nyonya." Xiao Li berbisik, takut-takut.

Selir Mei. Ingatan Selir Ling berkelebat. Wanita cantik, ambisius, kejam. Peringkatnya tinggi. Selalu menganggap Selir Ling sebagai duri dalam daging.

Jadi, dia pelakunya?

Zailyn menatap langit-langit. Ini bukan mimpi. Ini bukan lelucon. Ia tidak lagi Zailyn, si dokter forensik. Ia adalah Selir Ling, yang lemah, yang diracun, yang tidak diinginkan, bahkan dianggap tidak berguna dan tidak memiliki harga diri.

Rasa sakit kembali menyerbu, lebih kuat dari sebelumnya. Perutnya melilit. Mual. Kepalanya berputar.

"Sial, apakah aku akan mati lagi?" gumamnya dalam hati.

Ketakutan itu, ketakutan akan kegelapan yang sama, mencengkeramnya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kemarahan. Kemarahan karena kematiannya yang pertama sia-sia. Kemarahan karena nasib Selir Ling yang malang.

Ia seorang dokter. Ia tahu cara bertahan hidup. Ia tahu racun. Ia tahu tubuh manusia.

"Tidak! Aku tidak akan mati. Aku tidak boleh mati!"

Tekad itu, tipis namun membara, mulai tumbuh. Ia tidak akan menyerah. Tidak di sini. Tidak lagi.

"Nyonya? Anda baik-baik saja?" Xiao Li bertanya, cemas.

Zailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa sakit yang menggerogoti. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia harus berpikir. Ia harus merencanakan.

"Aku baik-baik saja," katanya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Xiao Li, aku butuh kau. Kau bisa percaya padaku?"

Xiao Li menatapnya, matanya berbinar. "Tentu, Nyonya! Saya selalu setia!"

"Bagus." Zailyn membuka matanya, menatap langit-langit asing itu dengan tatapan tajam dan meremas keras kain tebal yang menyelimuti tubuhnya saat ini, pancaran yang belum pernah ada di mata Selir Ling sebelumnya.

"Aku tidak akan mati sia-sia lagi." Bisikannya pelan, namun penuh janji. Janji yang akan mengubah takdir istana ini.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status