LOGINKeesokan paginya, Kiana memanggil Wilson untuk bangun, tetapi setelah beberapa kali memanggilnya, anak itu baru bangun. Melihat Wilson tampak lesu dan wajahnya memerah, Kiana segera mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya.Panas sekali!"Kamu demam!"Mungkin karena kehujanan tadi malam, jadi dia masuk angin dan demam.Kiana mengendong Wilson dan membantunya berpakaian sambil menghubungi guru.Wilson merasa canggung dan berusaha meronta."Aku nggak apa-apa. Aku bisa pakai baju sendiri."Namun begitu dia berhasil melepaskan diri dari pelukan Kiana, wanita itu menariknya kembali dan memeluknya erat."Aku ...."Kemudian, Kiana menempelkan wajahnya ke dahi Wilson, dengan hati-hati merasakan suhu tubuhnya."Sepertinya sekitar 37 atau 38 derajat Celcius. Pasti akan naik lebih tinggi lagi."Sambil berbicara, Kiana membantu Wilson mengenakan bajunya. Menyadari wajah anak itu makin memerah, dia menjadi makin khawatir. Dia mengendongnya dan buru-buru berjalan keluar."Aku ... aku bisa jalan se
Kiana membuka pintu mobil. Doris bergegas menghampirinya dan bersiap memukulnya. Kiana meraih lengannya dan menepisnya."Kamu memindahkan mobilku tanpa izinku dan kemudian menyerangku! Kamu pikir aku mudah ditindas? Aku bakal panggil orang ke sini. Tunggu saja ...."Kiana sama sekali mengabaikannya, lalu keluar dari mobil dan pergi.Di halaman belakang, beberapa orang tua sudah bangun, membantu petani menyimpan gandum. Wilson ada di antara mereka. Dia menyapu butiran gandum hingga menjadi tumpukan.Tepat di saat itu, hujan mulai turun.Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah mempercepat prosesnya dan berusaha menyelamatkan gandum sebanyak mungkin.Kiana juga ikut membantu. Dia menggunakan sekop untuk memasukkan gandum ke dalam karung.Hujan makin deras dan menjadi hujan lebat. Hujan membasahi semua orang, termasuk beberapa karung gandum terakhir. Melihat gandum yang basah kuyup, petani itu merasa tak berdaya. Dia hanya bisa memindahkannya ke dalam rumah untuk dikeringkan. Dia berh
Saat Kiana dan Wilson merapikan pakaian mereka dan keluar, terdengar suara badai petir.Istri dan orang tua petani tersebut telah menyimpan gandum di sebelah timur mobil karavan, tetapi masih ada area gandum yang luas di bawah dan di sebelah barat mobil karavan yang tidak bisa disimpan karena mobil tersebut menghalangi jalan.Petani itu sangat cemas dan terus mengetuk pintu mobil karavan, tetapi orang di dalam entah tidak bisa mendengarnya atau ada hal lain, karena masih tidak ada respons setelah sekian lama."Cepat bangun dan pindahkan mobilnya. Sebentar lagi mau hujan. Begitu hujan turun, semua gandum ini akan rusak! Nggak mudah bagi kami para petani untuk menanam sampai satu kali panen. Tolong dimaklumi!"Petani itu mengatakan hal itu dengan baik-baik, tetapi tetap tidak ada tanggapan dari dalam.Kiana tidak tahan lagi, jadi dia menyuruh Wilson untuk tetap berada di sana, sementara dia berlari ke sana."Astaga, suaramu begitu keras, tapi orang-orang di dalam masih nggak dengar? Seha
"Sebaiknya serahkan hal ini pada ayahmu. Lagian, dialah yang menikah.""Ayahku nggak tertarik pada wanita mana pun.""Kamu tahu?""Aku biasanya akan bertanya kepadanya apa pendapatnya tentang wanita-wanita itu, tapi penilaiannya terhadap wanita-wanita itu semuanya sama.""Apa?"Wilson berdehem pelan, lalu meniru Tristan berbicara, "Nggak kenal, jadi aku nggak akan buat penilaian apa pun."Kiana bisa membayangkan betapa asal-asalan dan acuh tak acuhnya Tristan saat mengucapkan kata-kata itu."Dia nggak buat penilaian apa pun karena dia malas menilai, yang berarti dia sama sekali nggak tertarik pada wanita itu! Benar saja, nggak lama kemudian, dia sudah nggak berhubungan dengan wanita itu lagi." Wilson menghela napas."Jadi, kamu ingin dia menikah atau nggak?""Aku tentu saja ingin dia menikah.""Kukira kamu nggak ingin punya ibu tiri.""Aku memang nggak ingin punya ibu tiri, tapi ayahku masih muda dan tampan. Sayang sekali kalau dia melajang seumur hidup, 'kan?""Nggak perlu sampai ....
Doris datang dengan mobil van dan juga rombongan pengawal dan staf. Kemunculannya sangat megah dan mengesankan. Awalnya, semua orang ingin mengambil foto atau meminta tanda tangan karena dia seorang aktris, tetapi setelah diusir oleh orang-orangnya, mereka kehilangan minat padanya.Semua orang juga menyadari hal itu."Kami semua fokus pada kompetisi dan nggak melihat apa pun.""Para guru berjaga di lapangan. Mereka pasti melihatnya.""Belum tentu. Semua guru memakai kacamata dan penglihatan mereka nggak terlalu bagus."Mendengar itu, Doris sangat marah. Dia menoleh ke arah para guru. Mereka ragu-ragu untuk waktu yang lama, lalu kemudian mengatakan mereka tidak melihat apa pun.Doris menggertakkan giginya dan berkata, "Kalian nggak bisa melihat, 'kan? Oke. Kalau begitu, teruskan saja!"Sambil berbicara, dia bergegas ke keranjang Kiana, berniat membalas, tetapi dia tidak bisa mengangkat keranjang itu karena terlalu berat.Setelah mencoba beberapa kali, dia pun berteriak kepada salah satu
Kiana menepuk dadanya sendiri. "Gampang saja!"Berdasarkan sikap Doris yang dibuat-buat itu, mengalahkannya adalah hal yang sangat mudah.Begitu guru meniup peluit, kompetisi pun dimulai. Kiana bertugas memetik dan Wilson bertanggung jawab untuk membawanya kembali ke lapangan serta memasukkannya ke dalam keranjang masing-masing.Jalan setapak di ladang tidak rata. Orang-orang yang terbiasa dengan kehidupan kota tidak bisa langsung beradaptasi. Banyak orang dewasa dan anak-anak terjatuh.Guru hanya bisa menggunakan megafon untuk terus mengingatkan semua orang agar berhati-hati.Kiana dan Wilson sangat cepat. Lagi pula, mereka berdua berlatih seni bela diri, jadi lapangan itu tidak berbeda dengan tanah datar bagi mereka.Sembari memetik, Kiana sekali melirik kelompok lain, terutama kelompok Doris, yang jelas-jelas kalah jauh dibandingkan kelompoknya.Seiring waktu berlalu, Kiana mengira mereka sudah menang, jadi dia melirik kembali ke keranjang dengan kepala menunduk. Dia langsung tercen
Itu hanya lantai tiga saja. Meski jatuh ke bawah, juga belum tentu bisa mati!Kiana menunjuk ke atas. "Kalau kamu mau mati langsung, aku sarankan, sebaiknya lompat dari atap saja."Usai meninggalkan kata-kata itu, Kiana pun berbalik dan berjalan keluar di bawah tatapan tidak percaya Yovan.Saat dia
Kenapa rasanya mobil itu sengaja diparkir di sana dan menunggu dia datang, lalu sengaja menabraknya?Karena luka Yovan tidak terlalu parah, ayahnya meminta Kiana tinggal di rumah sakit untuk merawatnya, jadi mereka bertiga pun pulang."Ingat ya, mulai sekarang, nyawamu itu diberikan oleh putraku. Ka
Hanya saja, Kiana berpikir lagi. Meski penawaran itu begitu menarik, apa dia sanggup menerimanya?"Se… sebaiknya kamu simpan saja sendiri atau berikan ke putramu. Aku nggak berani menerimanya."Pria tua itu mendecakkan lidahnya. "Hanya itu saja keberanianmu?""Aku memang nggak terlalu berani, teruta
"Mencoba menipu kami dengan teh...""Tuan Jimmy, jangan panik. Aku menggunakan teh ini untuk minta maaf pada semua orang. Aku benar-benar nggak bisa minum lagi karena suamiku nggak mengizinkannya."Mendengar itu, Tristan yang sedang membungkuk untuk mengetuk puntung rokoknya, berhenti sejenak, lalu







