مشاركة

Chapter 119

last update تاريخ النشر: 2026-05-19 10:00:49

Souvenir du Docteur Jamain merambat-rambat sebagai dahan tana subur, peristirahatan. Kulit tipis pada jari-jemari mungil menyapu panjangnya mantel hitam Burberry. Sesekali menangis, merengek, ototnya belum terbentuk siap mengekspresikan kekesalan. Lutut basahnya, baik isak tangis bayinya, tak Samuel indahkan. Kepalanya penuh, dadanya, sesak, tangannya sibuk menyeka bulir embun pada makam marmer berlapis kain microfiber Scotch-Brite.

Cantik. I

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 121

    Kerangka hidup Sienna bergantung pada tebalnya kasur lapuk ini.Siang hari saat kabu-kabu mengembang, kasurnya akan terasa luar biasa panas. Keringat bercucuran hingga ke bagian bawah, menambah lambat luka jahitannya jauh dari mengering. Malam tiba, kabu-kabu menyusut. Tiap hari Sienna habiskan dengan insomnia, depresi, kondisi kamar yang semakin memperburuk pikiran terburuk.Untungnya, semenjak satu bulan penuh sakit, Victoria jarang mendominasi ini itu. Partly, gadis berdarah bangsawan British itu mulai jijik dengan penampilan Sienna. Hidup di mansion nyaris sempurna, wajar, Sienna bagai plague penyakit tak diinginkan.Sharing the same roof adalah Victoria dengan rutinitas ponselnya, lalu pada bilik kecil terlantar, Sienna meringkuk kesakitan di bawah selimut.Belakang sofanya diisi oleh aesthetician panggilan, menata desain nail art barunya selagi ponsel terus bersuara. “Paham, Bu. Paham. Tapi, ibu

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 120

    Sesekali dalam beberapa sisi.Tertimbun tebalnya cahaya dinding perapian Planika. Atau, refleksi percik api membatas patung marmer bersama rak wine Riedel milik ayahnya.Beberapa skala detik dari rimbun percakapan, Douglas tidak beralih atensi pada Ganta. Sebaliknya, pria British itu menumpangkan pandangan pada putrinya. Sebelum pencuriannya tertangkap, dan Douglas memasang business smile kembali rapi.Ganta menuangkan lagi kelas ketiga whiskey Macallan 25, bukti percakapan mengalir lancar. Samuel tak mendengarkan, dua ‘ayah’ saling bertukar kata. Tugasnya selesai. Pulang pemakaman, memancing Douglas mampir. Perangkapnya dilahap, giliran Samuel melancarkan prediksinya.“I’ll talk to my brother once again. My apologize for such a procrastination.”“Don’t tell me, Sir Ganta. My visit today is far from our agreement. You just have your new family member. Please, ask God’s forgiveness and grand

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 119

    Souvenir du Docteur Jamain merambat-rambat sebagai dahan tana subur, peristirahatan. Kulit tipis pada jari-jemari mungil menyapu panjangnya mantel hitam Burberry. Sesekali menangis, merengek, ototnya belum terbentuk siap mengekspresikan kekesalan. Lutut basahnya, baik isak tangis bayinya, tak Samuel indahkan. Kepalanya penuh, dadanya, sesak, tangannya sibuk menyeka bulir embun pada makam marmer berlapis kain microfiber Scotch-Brite.Cantik. Ibunya terlihat bagai wanita pengantin. Dunia Samuel terbagi dengan rengekan bayinya, dan rengekan dirinya—sebagai anak, rindu pada ibu, rindu pada wanita yang sempat memperkenalkannya cinta.Telapak tangan Samuel tercoreng sedikit luka goresan tipis, hampir kasar mata di kulit terangnya. Bekas luka yang Samuel sengaja tidak sembuhkan. Sebagai sisa terakhir peninggan ibunya.Dengan tangan yang sama, Samuel seka tepi makam sang ibu. “Ingat ini, Bu?” Telapak terangkat, ditunjukkan pad

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 118

    Dissonance beneath harmony. Harmoni utama terlihat indah. Deretan mobil-mobil luxury seolah tuts piano. Taman rapi memenuhi. ‘Tertib’, terlahir dari latar belakang kekacauan yang diabaikan semuanya. Saling depresi para pelayan, penjaga, mempertahankan keharmonisan hanya dari luar.Terutama, di lantai tiga.Segelintir orang diperbolehkan masuk, hanya Samuel yang tau betapa kacaunya.Makin serak. Makin rewel. Mengikis kesabaran hingga tipis. Kaki menjadi tangan, tangan menjadi kaki. Kendati seluruh perngorbanan, hari-hari Samuel habiskan dalam minim mengerti. ‘Sesulit inikah mengurus seorang bayi?’ Samuel muda, membayangkan. Betapa sulitnya sang ibu tahunan lalu, mengurus dirinya tanpa bantuan satupun tangan.Dan sekarang—Hal sama hampir terulang kembali.“Oi. Bangun.”Respek dan kacau bersatu padu dalam aroma yang sama. Menendang alat sterilisasi udara UV Care Multipurpose UV Sterilizer X9 sebab tak

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 117

    Jahitan.Mesin pompa jantung.Selang oksigen.Napas bayi.Gemeresik keributan.Taut-tautan kepala Sienna kusut menyambung balik memori dalam mimpi buruknya belakangan ini. Sesekali percikkan kecil pembakaran Chibba Cigar menaungi suasana hati mendung. Kesibukan Victoria dengan layar ponsel serta senyumannya, terpantul silau pada sisi gelap Sienna. Tak mampu bangkit dari duduknya, tenggelam dalam lautan rasa bersalah.Silih berganti memutilasi raga jiwanya.Baccarat penuh whiskey amber pada celuk telapak Victoria tergoyang dari sentakan ponsel lain di sakunya. Sienna setia memangku dua tangan kaku begitu Victoria perlahan bangkit mengambil tasnya yang terjatuh tadi. Latar belakang ponsel berdering, suara seseorang, Victoria memasang kembali sepatu hak tingginya.“Aku tadi pulang sebentar, Sam. Ada keperluan. Oh, oke. Boleh, bisa. Bisa banget. Aku bisa menginap sampai besok, kalau kamu masih ada keperluan. What? Astaga, kayak sama siapa aja. No, no. don’t feel bad. Aku suka mengurus bay

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 116

    “Sie!”Saat itu, mungkin Sienna merasa gravitasi sekitar tubuhnya berhenti berputar.Samar pantulan cermin gedung fakultas, berlarian sosok familiar terus berteriak dengan sebutan namanya. Semua orang mendengar. Terlalu kencang. Getaran vending machine jauh setara dari gema suara pemuda di sana.Sedikit—amat sangat sedikit, sebelum iris berkilat itu menabrak wajah pucatnya, darah pada tubuh Sienna turun seluruhnya.Jonathan.Gedung besar menutupi bagaimana Sienna bersembunyi. Napasnya tersangkut tiap langkah debaran, mengikuti Jonathan yang bersikeras mengejarnya.Panik menghantam sebelum Sienna bisa berpikir. Dua langkah cepat Ia ambil sampai hampir menabrak vending machine, berlarian sebelum Jonathan benar-benar menangkap sosoknya.“Sienna!” Jonathan—suaranya makin kencang. Sienna meringkuk sembunyi di balik lebatnya semak-semak. Amplop dokumen di tangannya hampir tergelincir kab

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 63

    Debu angin peninggalan Porsche Taycan dari laju kencangnya menerpa rok pleated hitam Christine. Tangannya belum ingin mangkir dari posisi melambai, jari jemarinya mengendur hanya untuk meluapkan kekosongan yang Jonathan tinggalkan.“Ha...” Christine melenguhkan napas tanpa udara. Sepatu

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 62

    Jonathan Wilyono POV Toile de Jouy corak gagal melengkung sempurna. Bentangan abu-abu tirai blackout hanya memudarkan panasnya, bukan cahayanya. Marmer cream di bawah kami memantulkan terik pagi bertumpuk-tumpuk. Bagai ingin menginterogasi niat kaburku yang gagal selama dua pagi ini.

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 61

    “Senpai enggak bermaksud buat aku mengurus persalinan anak ini, kan? Enggak mau. Nyebelin. Cari dokter lain aja. Aku memang punya lisensi kedokteran, tapi mengurus persalinan itu nyebelin! Aku benci suara bayi!” Kishibe terus mendumal dengan bahasa ibunya. Bukti, Ia mulai jengah berada di Indones

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 59

    First fact: kedatanganku hanya untuk menghentikan sesuatu.Second fact: seorang dokter, hadir menghalangi, membunuh bayiku.Third fact: pembunuh. Itu yang Sienna panggilkan untukku.Menyaingi Polka Dot Stingray. Tenggelam, akuarium kering, tersengal-sengal napas. Kebebasanku direnggut usai Sienna m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status