تسجيل الدخولSesekali dalam beberapa sisi.
Tertimbun tebalnya cahaya dinding perapian Planika. Atau, refleksi percik api membatas patung marmer bersama rak wine Riedel milik ayahnya.
Beberapa skala detik dari rimbun percakapan, Douglas tidak beralih atensi pada Ganta. Sebaliknya, pria British itu menumpangkan pandangan pada putrinya. Sebelum pencuriannya tertangkap, dan Douglas memasang business smile kembali rapi.
Ganta menuangkan lagi kelas ketiga
Kerangka hidup Sienna bergantung pada tebalnya kasur lapuk ini.Siang hari saat kabu-kabu mengembang, kasurnya akan terasa luar biasa panas. Keringat bercucuran hingga ke bagian bawah, menambah lambat luka jahitannya jauh dari mengering. Malam tiba, kabu-kabu menyusut. Tiap hari Sienna habiskan dengan insomnia, depresi, kondisi kamar yang semakin memperburuk pikiran terburuk.Untungnya, semenjak satu bulan penuh sakit, Victoria jarang mendominasi ini itu. Partly, gadis berdarah bangsawan British itu mulai jijik dengan penampilan Sienna. Hidup di mansion nyaris sempurna, wajar, Sienna bagai plague penyakit tak diinginkan.Sharing the same roof adalah Victoria dengan rutinitas ponselnya, lalu pada bilik kecil terlantar, Sienna meringkuk kesakitan di bawah selimut.Belakang sofanya diisi oleh aesthetician panggilan, menata desain nail art barunya selagi ponsel terus bersuara. “Paham, Bu. Paham. Tapi, ibu
Sesekali dalam beberapa sisi.Tertimbun tebalnya cahaya dinding perapian Planika. Atau, refleksi percik api membatas patung marmer bersama rak wine Riedel milik ayahnya.Beberapa skala detik dari rimbun percakapan, Douglas tidak beralih atensi pada Ganta. Sebaliknya, pria British itu menumpangkan pandangan pada putrinya. Sebelum pencuriannya tertangkap, dan Douglas memasang business smile kembali rapi.Ganta menuangkan lagi kelas ketiga whiskey Macallan 25, bukti percakapan mengalir lancar. Samuel tak mendengarkan, dua ‘ayah’ saling bertukar kata. Tugasnya selesai. Pulang pemakaman, memancing Douglas mampir. Perangkapnya dilahap, giliran Samuel melancarkan prediksinya.“I’ll talk to my brother once again. My apologize for such a procrastination.”“Don’t tell me, Sir Ganta. My visit today is far from our agreement. You just have your new family member. Please, ask God’s forgiveness and grand
Souvenir du Docteur Jamain merambat-rambat sebagai dahan tana subur, peristirahatan. Kulit tipis pada jari-jemari mungil menyapu panjangnya mantel hitam Burberry. Sesekali menangis, merengek, ototnya belum terbentuk siap mengekspresikan kekesalan. Lutut basahnya, baik isak tangis bayinya, tak Samuel indahkan. Kepalanya penuh, dadanya, sesak, tangannya sibuk menyeka bulir embun pada makam marmer berlapis kain microfiber Scotch-Brite.Cantik. Ibunya terlihat bagai wanita pengantin. Dunia Samuel terbagi dengan rengekan bayinya, dan rengekan dirinya—sebagai anak, rindu pada ibu, rindu pada wanita yang sempat memperkenalkannya cinta.Telapak tangan Samuel tercoreng sedikit luka goresan tipis, hampir kasar mata di kulit terangnya. Bekas luka yang Samuel sengaja tidak sembuhkan. Sebagai sisa terakhir peninggan ibunya.Dengan tangan yang sama, Samuel seka tepi makam sang ibu. “Ingat ini, Bu?” Telapak terangkat, ditunjukkan pad
Dissonance beneath harmony. Harmoni utama terlihat indah. Deretan mobil-mobil luxury seolah tuts piano. Taman rapi memenuhi. ‘Tertib’, terlahir dari latar belakang kekacauan yang diabaikan semuanya. Saling depresi para pelayan, penjaga, mempertahankan keharmonisan hanya dari luar.Terutama, di lantai tiga.Segelintir orang diperbolehkan masuk, hanya Samuel yang tau betapa kacaunya.Makin serak. Makin rewel. Mengikis kesabaran hingga tipis. Kaki menjadi tangan, tangan menjadi kaki. Kendati seluruh perngorbanan, hari-hari Samuel habiskan dalam minim mengerti. ‘Sesulit inikah mengurus seorang bayi?’ Samuel muda, membayangkan. Betapa sulitnya sang ibu tahunan lalu, mengurus dirinya tanpa bantuan satupun tangan.Dan sekarang—Hal sama hampir terulang kembali.“Oi. Bangun.”Respek dan kacau bersatu padu dalam aroma yang sama. Menendang alat sterilisasi udara UV Care Multipurpose UV Sterilizer X9 sebab tak
Jahitan.Mesin pompa jantung.Selang oksigen.Napas bayi.Gemeresik keributan.Taut-tautan kepala Sienna kusut menyambung balik memori dalam mimpi buruknya belakangan ini. Sesekali percikkan kecil pembakaran Chibba Cigar menaungi suasana hati mendung. Kesibukan Victoria dengan layar ponsel serta senyumannya, terpantul silau pada sisi gelap Sienna. Tak mampu bangkit dari duduknya, tenggelam dalam lautan rasa bersalah.Silih berganti memutilasi raga jiwanya.Baccarat penuh whiskey amber pada celuk telapak Victoria tergoyang dari sentakan ponsel lain di sakunya. Sienna setia memangku dua tangan kaku begitu Victoria perlahan bangkit mengambil tasnya yang terjatuh tadi. Latar belakang ponsel berdering, suara seseorang, Victoria memasang kembali sepatu hak tingginya.“Aku tadi pulang sebentar, Sam. Ada keperluan. Oh, oke. Boleh, bisa. Bisa banget. Aku bisa menginap sampai besok, kalau kamu masih ada keperluan. What? Astaga, kayak sama siapa aja. No, no. don’t feel bad. Aku suka mengurus bay
“Sie!”Saat itu, mungkin Sienna merasa gravitasi sekitar tubuhnya berhenti berputar.Samar pantulan cermin gedung fakultas, berlarian sosok familiar terus berteriak dengan sebutan namanya. Semua orang mendengar. Terlalu kencang. Getaran vending machine jauh setara dari gema suara pemuda di sana.Sedikit—amat sangat sedikit, sebelum iris berkilat itu menabrak wajah pucatnya, darah pada tubuh Sienna turun seluruhnya.Jonathan.Gedung besar menutupi bagaimana Sienna bersembunyi. Napasnya tersangkut tiap langkah debaran, mengikuti Jonathan yang bersikeras mengejarnya.Panik menghantam sebelum Sienna bisa berpikir. Dua langkah cepat Ia ambil sampai hampir menabrak vending machine, berlarian sebelum Jonathan benar-benar menangkap sosoknya.“Sienna!” Jonathan—suaranya makin kencang. Sienna meringkuk sembunyi di balik lebatnya semak-semak. Amplop dokumen di tangannya hampir tergelincir kab
Samuel Yudhistira POVBahkan ajal pun, tak pernah mengemudi secepat ini.Setir mobil bergetar di tanganku—atau, tanganku yang bergetar.Jantungku sesempit diseret, seperti pada kecepatan tak manusiawi kendaraan ini. Terikat pada bumper, terseret pada aspal, kubayangkan diriku sendiri berkali-kali,
Timur pucat arunika berlenggak-lenggok dalam selembaran yang terurai pawana. Keduanya dinaungi atap bahtera langit sepi, senyap, kekurangan saksi mata kepanikan yang membendung.Seandainya sang dokter dapat menghentikan angin, Ia turut berprihatin meskipun semua bukan terjadi dalam kehendaknya. Si
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya.
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi







