ログインSamuel Yudhistira POV“Ugh—uhuk. Ah. Hng—ugh. Ha…”“Kenapa, Sam? Ugh—sakit? Atau, enak?”Jalur napasku terblokir cengkraman tangannya. Sienna bermain di atas. Kontrol seluruh permainan ada di tangannya sekarang. Apapun gadis itu lakukan, demi mencegahku pingsan. Termasuk, membuat sisa-sisa darah di tubuhku mengalir sepenuhnya ke batang penisku. Sekujur tubuhku dingin, sebeku mayat. Namun bagai tau mana prioritas yang diagungkan, penis yang dipakai bermain oleh peliharaanku sekarang, terus menegak sempurna.“Ugh—ggh.” Di sela desahan, aku terus terbatuk. Kekurangan pasokan darah ke otak memblokir napasku makin dalam. Sienna tau itu, dan sengaja membuat leherku sebagai batang tumpuannya. Selagi pinggangnya naik turun, Sienna terus mencekikku hingga wajahku berubah merah.Namun, anehnya, vaginanya terus mengetat. Yang di ambang batas kematian, padahal, aku sekarang. Seolah seluruh rasa sakitku tersalur padanya, Sienna terus menggenjot bagian atas tubuhku dengan vagina yang meremas-rema
Samuel Yudhistira POVDi seberang tanda kutip buku sastra paling kubenci “Hunden gøer, når dens hale bliver bidt, katten kradser, når dens hoved forstyrres. For at tæmme et vildt dyr kræves der blidhed, ikke styrke. For i sin hale gemmer den sin følsomhed. En herre må vide, hvordan man tæmmer et vildt dyr, så det til sidst vender sig om og logrer med halen.” Karya Odd Fallen, pujangga agung. Namanya ada di barisan paling depan buku absensi kami. Sebesar itu, guru sastraku dulu, memujanya.Aku ingat persis. Sebelum malam natal, Ibu menangis di hadapan mayat peliharaan kami yang mendingin tertimbun tumpukkan es. Sebanyak apapun saksi di malam itu, Ibu terus menuduhku telah membunuh anjing kesayangannya. Uniknya, alasanku diam hingga detik ini, justru karena paham alasan dibalik Ibu mengatakan itu.Fortes, anjing peranakan Labrador Retriever kami.Ayah lah yang membunuhnya.Ibu menuduhku, karena tidak sanggup menerima fakta. Suami kesayangannya, adalah seorang psikopat.Buku sastra Odd F
Christine Soediharjo POV “Iya, iya. Makasih sudah datang ke sini, Kak. Sorry, jauh-jauh ngerepotin. Oke, diganti perbannya setiap dua jam sekali. Apa? Oh, dia belum boleh mandi dulu. Oke, Kak, siap. Makasih sekali lagi.” “Ha…” Cleopatra memutuskan sambungan dari Samsong Galaxy X Flip-5, sebelum akhirnya mendaratkan satu sentilan tajam ke keningku. “Dengar barusan? Jangan mandi dulu, jangan gerak dulu, jangan marah dulu. Apalagi, tadi? Oh, Ganti perban dua jam sekali. Kakakku memutuskan pakai stitch pads daripada jahitan asli. Dia pikir, orang tuamu bakal panik kalau lihat bekas jahitan di leher anaknya nanti.” “Thanks, Cleo,” ucapku, lemah. Kering yang ditinggalkan obat bius Lidocaine dosis minor terasa di setiap kali kucoba membuka suara. Kusentuh, punggung leherku, dimana perban putih terlilit. Bekas luka yang ditinggalkan seorang lelaki, bisa terasa sesakit ini. Dadaku terasa sesak. Bukan karena pengalaman nyaris bunuh diri barusan, justru, dari seorang manusia yang bahka
Christine Soediharjo POVMenyebrang dari deretan dining steward yang diisi kakak kelas kami, The Wisteria Pavilion lambat laun mulai ditinggali. Tebaran pendatang VVIP yang tersisa hanya menuntaskan kredit pembayaran mereka. Hanya hidangan di meja kami, dan aku, yang masih belum berambah inci dari terakhir kali mereka melayani.Ostriche Fine de Claire di mulutku mulai terasa amis. Ekspresiku bagai tengah mengunyah batangan besi, mengundang tatapan jengah dari Cheff yang susah payah menghidangkanku ini. Kalau mau berbuat, salahkan atensi lelaki yang mengisi kursi seberangku!Mulutku dipaksa menggiling semua sajian premium yang ada di meja, karena Samuel terlalu sibuk dengan layar ponselnya. Belum cukup dia mengabaikanku satu jam penuh, sekarang, sepasang earbuds menyumpal lubang telinganya. Kesal sudah menjadi penutup sampingan. Aku tak tahan malu dengan para senior yang mulai mentertawakanku!Sengaja, kuseret dining fork hingga berdenting di sebelah piringnya. Samuel melirik sedikit,
Christine Soediharjo POV“Very well. Kalau begitu list terakhir kita—ah, bagaimana dengan Sienna Halim? Kenal dengan dia?” Sersan Domestic Investigation Unit menconteng lembaran terakhir restricted-access case folders. Payung bolpoin hitam diketuk-ketuk pada papan yang berdiri di samping dekap lengannya. Menunggu berjejer barisan siswa-siswi lain di hadapanku, mereka semua memiliki pandangan horor yang sama.“Tidak,” kubilang. Bolpoin itu menconteng lagi. Diburu desah resah pemegangnya, kutahan senyuman gembira untuk tidak mengembang.“Tapi di sini, teman sekelasmu bilang, kalian berdua teman masa kecil,” Sersan DIU itu menekan lagi. Kalau ini adalah murid lain, detik kedua mereka menghampiri, semua sudah tertangkap basah. Sayang sekali sampel yang mereka jumpai sudah menunggu-nunggu momen ini sejak tahunan lamanya.“Teman kecil bukan berarti dekat saat dewasa, Pak Polisi.” Bibirku termanyun, berlagak lesu. “Saya turut berduka cita atas hilangnya siswi Sienna Halim, di lingkungan seko
Sienna Halim POVPatron satir merangkak ejek, balik ke sayuku yang mendelik. Terpelintir. Di luar semampai putih mentereng di mata, adalah semboyan ekstrakurikuler PMR paling berisik seraya; “Merah di darah, putih di dada. Bagi kami, keselamatan adalah yang paling utama.”Aku meludah pada semboyan konyol itu. Mengejek, atau apa? Nyatanya di bawah sablon mentereng itu, seorang pemuda sedang merudapaksa diriku. Mana perginya perawat atau guru yang berjaga? Kurasa teriakkanku terlalu lembut, sampai dianggap untaian lulaby oleh mereka.Latihan memang tidak mengkhianati insan. Ujung celana dalamku yang masih bercium baru robek dengan suara yang renyah sekali. Perlawananku baru melejit tatkala monster di atasku lupa diri, menargetkan rok sekolahku kesekian kalinya.Kalau setan berjenis kelamin manusia ini merobeknya juga, aku mau masuk kelas pakai apa!? Demi Tuhan. Pemerkosaan kedua ini rasanya tidak setimpal dengan betapa tebal jengkelku sekarang. Terpaksa, melihat diriku kalah.“Tumben, e







