LOGIN“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”
“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi Halim, perjanjian dibatalkan.’ Itu, yang Samuel tekankan pada pelayannya.Henri adalah the real predator yang sebenar. Setengah jam pertama negosiasi mereka, tak terhitung Samuel hampir melayMereka sama——meski kau tidak menginginkannya, sekalipun.Pohon palm imitatif, lelampu sudut bergelantungan, rest area selalu menawarkan rasa yang sama. Secuil mentari terpercik pada tengah-tengah tarian guyuran hujan. Yang mana cahayanya, menekan tak sopan. Mengecilkanmu, menyudutkanmu. Anak manusia menyeruak lahan bumi. Calm is a privilege, Samuel duduk, mencari kepingan teka-teki hilang dalam hatinya. Duduk sang ayah di samping, tidak membantu apapun kendati Samuel telah diberi banyak hal. Sudut ponselnya Ia tekan-tekan. Sedang berpikir. Sang ayah tadi berpendapat, Samuel terus menggodoknya setengah mati.‘Siapa?’ pemuda itu, dalam tatap heningnya, mencoba menjahit pikiran. ‘Siapa anak kelas yang dekat sama Sienna? Cukup dekat buat dia bisa membantu Sienna melarikan diri? Kecuali Jonathan? Aku enggak bisa pikir orang lain selain anak itu.’ Logika Samuel mulai tersudut hingga ke ujung.Ganta berlindung dari asap tembakau yang menghala
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya. Langkah-langkah para pelayan saling bertabrakan. Mereka dipaksa hadir dalam menit waktu yang tidak manusiawi. Dua tangan saja tidak cukup bagi Samuel untuk melacak semuanya. Ditambah—Dewi—wanita itu, terus menangis di jeritannya.“Hilang! Putriku hilang!” Tubuh wanita itu runtuk ke lantai. Rest area bukan lagi mereka tumpangi, mereka invasi. Datang segerombol pengemudi lain, secepat itu pula mereka melaju pergi, mengetahui tidak ada space tenang yang tersisa.“Sienna—oh, putriku yang malang.” Dewi terus menangis. Bengkak pada matanya semakin parah. Ia tidak bisa melihat, wanita itu terus jatuh, bertabrakan, dengan bodyguard lain yang tengah sibuk dengan laptop merek
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi Halim, perjanjian dibatalkan.’ Itu, yang Samuel tekankan pada pelayannya.Henri adalah the real predator yang sebenar. Setengah jam pertama negosiasi mereka, tak terhitung Samuel hampir melayangkan tinju pada pria busuk itu. Bukan hanya memperlakukan Dewi Halim tanpa kemanusiaan, Henri juga sempat menjambak rambut istrinya. Di hadapannya.Sebelum menyelamatkan Sienna, Samuel tampaknya harus berpikir cara tercepat untuk memisahkan Dewi dari predatornya itu. Mungkin, sebab terlahir dari DNA Henri Halim sendiri, sifat Sienna yang keras kepala diturunkan darinya. Namun, Dewi?Jauh dari kata melawan, Dewi Halim bahkan tidak merasakan apapun saat dilecehkan oleh suaminya
Pada Acanthus Filigree Woodwork membentengi pintu, lempeng Rim Lock hadir untuk menggoda sang pemilik. Tidak ada yang menguncinya, pengaman classic itu secara resmi tergantung, menyembul ke udara. Sang possessor, menggunakannya sebagai pelarian. Ukirannya lebih tua dari nenek moyang pria itu sendiri—harapan Henri, bertenggerlah semacam sihir atau apapun, yang bisa membuatnya melarikan diri dari pemuda ini.Air wajah nyaris terjatuh bosan, Henri sama sekali tidak dihormati sebagai possessor rumah. Koleksi ketiga sofa antiknya jauh dari kata menolong. Kendati kulit-kulit bangkai Rusa telah dipoles, dua gallons kolagen, punggung Henri setia perih.Samuel, mengangkat beberapa inch detail wajahnya lagi. Yang diserang pemuda berseragam lengkap itu adalah layar ponselnya—kali ini. Kali keberapa berdering, sang pemuda tampaknya telah habis masa menunggu. Ia lepaskan lipatan ponsel itu.Terror kedua hadir lagi pada kediaman tenang keluarga Halim. Bentuknya, sebuah
Dingin merayapi tulang kursi hingga pada punggung kaku yang menempati. Ada begitu banyak cara untuk tidak melihat—yet, Sienna memilih membakar buku-buku jarinya sendiri. Gantungan kunci silicone terus Ia sentuh hingga ujung jemarinya melepuh. Pantang berhenti. Tidak, meskipun engsel gantungan kunci itu mulai rapuh berkat tetes keringatnya.Tidak ada yang memaksa leher Sienna untuk menoleh. Mendongak pun, hanya sebatas opsi. Justru itu, titik dimana terletak masalahnya. Yang memaksa Sienna untuk terus menundukkan wajah, adalah kata hatinya sendiri. Kepalanya boleh berisik—sebagaimana sang Dokter terus mencoba merebut perhatiannya—sayangnya, Sienna paham betul dirinya sendiri.Menolehlah sekali, maka Ia tidak akan bisa kembali.Hatinya terlalu kecil dan—sendirian, untuk memilih beban seberat ini.Stephanie, dokter muda itu, irisnya sama sekali tidak melenceng dari target pembicaraan. Telunjuknya tanpa lelah menekan-nekan pada layar monitor yang Sien
“Astaga, Nak! Enggak boleh berlarian di jalanan!”“Ibu! Maaf!”Sienna tertabrak lagi.Bahkan saat kabur dari Henri pun, Sienna tidak pernah sepanik ini. Ia bukan gadis lemah, namun sepanjang berlarinya, Sienna berkali-kali terjatuh dan menabrak pejalan kaki. Puncaknya, kakinya tak sengaja bersinggungan dengan sebuah gerobak jualan milik seorang wanita paruh baya. Hancur lebur, jualan wanita malang itu. Sebagai permohonan maaf, Sienna memberikan sejumlah uang. Yang hilang hanya tanggung jawabnya, bukan rasa bersalahnya.Terror yang diberikan keluarga Yudhistira, bagai sebuah kutukan. Paham, Sienna menyadari lebih dari siapapun. Besok, atau mungkin sore nanti, Samuel akan menemukannya secepat kerjap mata. Dan, hanya Tuhan yang tau. Apa yang keluarga Yudhistira akan lakukan padanya.Ada yang Samuel tidak paham, dari diamnya Sienna beberapa hari ini. Beruntung, gadis itu sempat membakar alat tes kehamilannya, sebelum berge







