LOGINBuih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak.
“A-Aku,” pahit di tenggorokan mengacaukan suaranya. “A-aku t-t-tidak—” Christine masih di sana. Tangan melipat depan dada. Tegap. Tidak mencemooh, juga tidak mencaci maki. Ke‘Tempat nikah? In this fucking situation? Can’t we just pick random places to begin with? It’s not like we’re loving each other.’ Sienna menggerutu. Kekesalannya dilimpahkan pada kulit kepala. Cekung di celah kedua alis gadis itu makin melebar, berkerut, bergelombang oleh kejengkelan. Jemari kurusnya memanjat pelipis, memijit sisi kanan kepalanya yang mendadak berdenyut.Semenjak tinggal di mansion ini—apa Sienna merasa tenang? In the hell. Kontras, gadis itu tak pernah tak mendapat mimpi buruk. Anemianya kambuh parah, migraine terasa tak ada habisnya. Lebih parah lagi, wanita hamil dilarang mengonsumsi obat—Dokter Kishibe bilang.‘Terus? Mau dibiarkan sakit kepala sampai mati, gitu?’ geram isi kepalanya. Sienna menunduk sebentar, sandal rumahnya bergesek pada lantai batuan teras dengan gerak berulang. Gadis itu menguji kesabarannya sendiri. Ia
Satu gelas terguling.Airnya tumpah berceceran. Merambat cepat ke penjuru meja, menetes hingga membasahi lantai. Beberapa potongan jamur yang Dewi siapkan ikut terpental keluar. Samuel dan Dewi Halim sama-sama terdiam. Keduanya saling tersentak, suara gebrakan tadi begitu kencang hingga meyedot segala kehangatan yang ada.Mata Dewi Halim membulat, sumpitnya terhenti di udara. Samuel bereaksi lebih cepat. Segera Ia panggil beberapa pelayan untuk membersihkan serpih-serpihan keramik pecah. Pemuda itu sedikit menegang di kursinya, namun tetap berusaha tenang. Ekspresinya tak panik saat sarapan mereka menjadi ajang perpecahan. Satu-satunya yang panik di ruang makan itu, adalah——Sienna sendiri.Tangan bersarung putih menggeser tubuhnya—pelayan, membantu Sienna menjauh dari serpihan keramik yang hampir mengenai kakinya. Napas gadis itu sedikit tersengal, pandangannya turun pada dua tangan tersangka utama kekacauan. Seakan baru menyadari apa y
“Sudah berapa bulan, sekarang?”Sienna menggaruk pangkal lehernya. ‘Bisa kita enggak bahas itu?’ melengos, batinnya. Dipaksa senyum kikuk terpancar, demi memuaskan sang ibu. Kontras dengan besarnya enggan melekat di ulu hati.“Masuk trimeter kedua, kayaknya, Bu. Enggak paham. Dokter yang kemarin bilang,” balasnya, seadanya. Terkekeh Dewi muncul lagi. Wanita itu pura-pura tenang—aslinya, menahan tawa—gadisnya yang sebentar lagi menjadi Ibu, namun tetap clueless seperti biasa.“Trimester, sayang,” tanggapinya, menahan senyum. “Jadi, sudah jalan trimester kedua? Ibu mau tanya, kalau Sienna enggak keberatan.”“Enggak keberatan.” Sienna langsung menjawab. Iris berkilat serius. Kendati perkataan sang Ibu belum diselesaikan. “Ibu boleh tanya apapun ke Sienna. Minta apapun, pun, boleh. Jangan berpikir sungkan.”Genggaman tangan Dewi makin melek
Pendar dari baskara pagi membelah lautan ruang menjadi dua; terang keemasan, hitam melekat. Terbagi ganda dwiwarna. Menyelip, seonggok daging hidup. Binarnya juga membagi wajah Sienna menjadi dua; sisi positifnya terpendam, gelap sisi lain terangkat.Bianglala bagai dalam simulasi kepalanya. Berputar terus kemudi roda itu—kalimat yang ditinggal Samuel. ‘Apa KAMU mau menikah dengan aku, atau enggak?’ —sialan. Keparat bangsat seribu kali lipat. Sienna urungkan menghantam wajah pemuda tadi dengan sendal. Berlari masuk ke dalam kamar, meringkuk, separuhnya merasa kalah.Separuh lagi, merasa bersalah.Bukan dari hidung, Sienna lepaskan hembus napas paling berat lewat mulut. Rahangnya yang sedari tadi mengatup, kini terbuka tegang. Asal mengambil raihan tangannya ke sisi kiri—vas bunga ukuran sedang ditarik. Sienna lempar benda keramik itu hingga meledak pecah.Sekali, dua kali. Belum ada
—like an animal.Percakapan saling sahut mengitari utensils keramik beradu-adu. Ritmenya pecah. Jejeran pelayan silih berganti menempatkan gelas-gelas kristal, LimoncelloBeverage. 70 tahun sebelum jatuhnya Berlin, warga-warga pengungsi menempatkan vodka sebagai racun tambahan. Pahit yang dihasilkan, mereka sebut sebagai resistance. Pahit yang tidak bisa tersubsidikan sebatas kucuran teh hangat dan almond biscuit.Di tengah kepahitan—Sienna tidak berbicara tentang vodka beverages—Ia duduk.Hiburannya sesempit karpet Persia. Disinyalir, bulunya diambil dari kulit singa. Telapak kaki polos Sienna menggantung, pada lampisan bulu-bulu menggelitik. Geli? Tidak. Jijik. Sebab bulu karpetnya? Bukan. Akan tetapi, suara ayahnya.Sepuluh inci dari Sienna mendaratkan duduk bosan, Henri terus tergelak tawa.Sienna mengendurkan matanya—sedikit, demi menahan rasa
Penjepit kertas Greaseproof Paper pada tangannya dipelintir, sebelum Samuel menambahkan dua lembar daging asap ke bagian tengah roti panggang. Dibantu Sienna, Samuel membungkus cheese sauce dari loyang di atas kompor. Disajikan di atas helai-helai daging berwarna cokelat kemerahan, garis-garis panggangnya tampak simetris dari luar.Di sela tangannya yang bergerak sibuk, pandangan Sienna masih sempat menepi ke batas dapur.Batas ruang tamu dan kitchen, dimana Jonathan duduk sendirian. Menunggu.Menyipit mata Sienna, risih dipadu kesal menyaksikan diamnya Jonathan di sepanjang ruangan. Hanya hela napasnya yang terdengar sampai ke sini. Saat Sienna menoleh ke belakang, punggungnya harus bertabrakan dengan fenomena pemuda itu menumpu wajah di atas paha. Kepalanya terus tertunduk seolah mereka berdua yang sibuk di dapur, tampak invisible.“Ayamnya tambah juga.” Samuel menutup kotal salad pertama, hingga bunyi







