MasukJulius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu.
Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi. Pandangan Jonathan terbuang pada pekarangan taman yang basah terguyur hujan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, dingin, tanpa minat menjawab. “Pulang,” balasnya, singkat. Lawan bicarany“—yah,”“—kapan, ya, terakhir—aku lupa. Yudhistira itu banyak, banyak banget mixed blood. Sam, Victoria, walau mereka cousins, basically mereka hampir enggak ada ‘darah’. Dulu, Tante Diana sama Paman Ganta juga dijodohkan. Cuma, karena ada Tante Carla, so, enggak jadi.”“Tapi, gara-gara itu juga Tante Diana ngebet banget buat jodohin anak semata wayangnya, Victoria—dan, tau, gak? Bahkan dari bayi! Vi, sama Sam itu lahirnya barengan. Cuma beda beberapa jam doang. Duluan Vi, baru Sam. Begitu Sam lahir, Tante Diana yang masih pakai hospital gown, buru-buru ke kamar bersalin Tante Carla—dan, ugh, mau tau apa?”“Tante Diana maksa Paman Ganta buat jodohin anak mereka berdua! Yang basically masih bayi! Ugh, dengar cerita itu dari orang tuaku pun, merinding setengah mati. Yakin, Sam pasti enggak per
—poof, poof, poof.Dengung Lamirengalle Hair Dryer tanpa jeda. Uapnya mengepul-ngepul di atas kepala. Sanggulan diangkat lebih tinggi, mensejajarkan lekuk leher jenjang milik paras cantik. Bercampur harum powder stay dengan white-floral elegan juga, seorang make-up artist yang berlulut di lantai. Hem gaun panjang dirapikan oleh tangan bersarung katun hitam, asistennya yang lain, bantu melengserkan lekukan pada veil panjang. Hampir sepanjang luas karpet Persia.“Antingnya kurang satu—ukuran S, oval cut—ah, bukan, bukan. Raya, bisa tolong bantu cariin? Astaga, ini sudah jam berapa.” Membawa kotak perhiasan berbordir, Angelina sibuk mondar-mandir. Setengah panik, mereka tidak kekurangan tenaga. Hanya saja, mendadak waktu melaju begitu cepat. Tak terasa, embun pagi habis mengempis.Tak ada yang tau kapan jemputan Sienna datang. Juga, tak seorangpun bisa ditanya.Di si
Haute Couture—belum pernah menjelma pada suite predestial berporos beberapa jam.Hadapan pintu raksasa ganda, lusinan hired bodyguard—terbuka, bukan lagi sebatas kamar hotel. Lanskap kecil berisikan koper-koper aluminium, berjejer, mengantre untuk memenuhi masing-masing perannya.Garmet bag panjang berlogo house mode, tripod crystal, botol-botolan mahal berjejer pada meja rias besar. Lantai marmer hotel Mortelmour penuh dengan jejeran nama-nama beauty professional, wajah yang hanya muncul pada majalah-majalah mendunia La’Pairre, Cle de Peau Beaute, Haute Couture, Gucci Magazine, Khhuhodo. Pada tengah ruangan, sumber cahaya menggantung.Jika gaun maka kemilaunya melehibi pancaran mentari. Jika perhiasan maka batu-batuan mulianya memenuhi jajaran tabel koleksi.Warna ivory opaline dipilih untuk menonjolkan skin tone calon pemakainya n
“Premature Rupture of Membranes, atau—PROM,” Raya menimpa wajah lelahnya dengan lengan, penjelasannya penuh dengan hela napas tersengal. “Singkatnya, water broke early. Sienna ngeluh sakit di bagian bawah… apa, itu, abdomen? Enggak lama, ketubannya merembes. Kupikir awalnya, ketubannya pecah. Tapi, tadi, dokter bilang, cuma merembes. Bukan cuma, sih, still very serious. Air ketuban merembes bukan waktunya itu termasuk kelainan.”“Isn’t that… very dangerous?” Jonathan terang-terangan cemas lewat matanya. Ponsel tadi melekat dalam genggaman, perlahan diturunkan oleh gemetaran. Tatapannya bagai tercekik, berlarian dari arah pintu kamar mandi—gugup menunggu Sienna keluar—lalu, ke hadapan Raya yang sama pucatnya dengan dia.“It is,” Raya menjawab. Napasnya juga sama-sama pendek, frustasi. “Banget, malahan. Setau
“—apa.”“Tunggu—”“HAH!!???”Compang-camping, Raya menyeret Sienna ke dalam kamar mandi umum.Berdesak-desakan pada koridor itu, toilet umum mall memang tidak dikhususkan ibu hamil.Raya tak bisa berpikir lagi. Keringat dingin di telapaknya nyaris membuat tangannya meleset. Butuh beberapa kali mengetuk-ngetuk pintu toilet, sampai pada akhirnya Raya menemukan satu bilik kamar mandi kosong.“Kau! Duduk sini!”Bahu Sienna didorong. Dipaksa, gadis itu duduk di bantalan closet kosong. Hanya ada satu rak kecil—di balik cermin—toilet ini. Raya mengacak-acak isian botol-botol di dalamnya. Harap-harap cemas, bisa menemukan sesuatu.Biasanya Sienna tak pernah setuju dibuat paksa seperti ini. Sekarang, anehnya, gadis itu diam. Posisi duduknya membuat kedua paha gadis itu terbuka, pandangan Sienna jatuh tertunduk. Bukan pada lantai putih toilet dingin
—143/lbs.HR-ttexity Garmin, luxury weight scale. Angka yang Sienna Halim terakhir dapatkan—143 pounds. Seberat 64 kilogram, jika diperkirakan.Tapak kaki pucat berdiri sejajar pada lempengan kaca berkedi-kedip. Tak ada angka yang berubah, kendati telah dicoba menekan-nekan. Sederet angka digital menampilkan berat badan terkini Sienna, yang gadis itu kerap ukur tiap pagi. Semenjak, dirinya merasa begah. Bangun tidur, membawa gundukan besar di bawah lapisan rectus abdominis.Tak lama beberapa waktu, Sienna adalah pemegang gelar gadis ber-body jarum pasir paling terkenal se-tongkrongan. Berlapis bikini pantai, pun, Sienna tak takut. Satu waktu pernah terjadi, Sienna dan Raya bertengkar sebab satu potongan baju diperebutkan. Raya, mengancam—bercanda—akan menyebar foto bugil Sienna, jika tidak mau mengalah.—Oh, gadis itu tak takut. Bisa diingat deng
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya.
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi
Pada Acanthus Filigree Woodwork membentengi pintu, lempeng Rim Lock hadir untuk menggoda sang pemilik. Tidak ada yang menguncinya, pengaman classic itu secara resmi tergantung, menyembul ke udara. Sang possessor, menggunakannya sebagai pelarian. Ukirannya lebih tua dari nenek moyang pria itu send
Dingin merayapi tulang kursi hingga pada punggung kaku yang menempati. Ada begitu banyak cara untuk tidak melihat—yet, Sienna memilih membakar buku-buku jarinya sendiri. Gantungan kunci silicone terus Ia sentuh hingga ujung jemarinya melepuh. Pantang berhenti. Tidak, meskipun engsel gantungan kun







