Share

Chapter 86

last update publish date: 2026-04-14 11:00:44

Haute Couture—belum pernah menjelma pada suite predestial berporos beberapa jam.

Hadapan pintu raksasa ganda, lusinan hired bodyguard—terbuka, bukan lagi sebatas kamar hotel. Lanskap kecil berisikan koper-koper aluminium, berjejer, mengantre untuk memenuhi masing-masing perannya.

Garmet bag panjang berlogo house mode, tripod crystal, botol-botolan mahal berjejer pada meja rias besar. Lantai marmer hotel Mortel

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 86

    Haute Couture—belum pernah menjelma pada suite predestial berporos beberapa jam.Hadapan pintu raksasa ganda, lusinan hired bodyguard—terbuka, bukan lagi sebatas kamar hotel. Lanskap kecil berisikan koper-koper aluminium, berjejer, mengantre untuk memenuhi masing-masing perannya.Garmet bag panjang berlogo house mode, tripod crystal, botol-botolan mahal berjejer pada meja rias besar. Lantai marmer hotel Mortelmour penuh dengan jejeran nama-nama beauty professional, wajah yang hanya muncul pada majalah-majalah mendunia La’Pairre, Cle de Peau Beaute, Haute Couture, Gucci Magazine, Khhuhodo. Pada tengah ruangan, sumber cahaya menggantung.Jika gaun maka kemilaunya melehibi pancaran mentari. Jika perhiasan maka batu-batuan mulianya memenuhi jajaran tabel koleksi.Warna ivory opaline dipilih untuk menonjolkan skin tone calon pemakainya n

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 85

    “Premature Rupture of Membranes, atau—PROM,” Raya menimpa wajah lelahnya dengan lengan, penjelasannya penuh dengan hela napas tersengal. “Singkatnya, water broke early. Sienna ngeluh sakit di bagian bawah… apa, itu, abdomen? Enggak lama, ketubannya merembes. Kupikir awalnya, ketubannya pecah. Tapi, tadi, dokter bilang, cuma merembes. Bukan cuma, sih, still very serious. Air ketuban merembes bukan waktunya itu termasuk kelainan.”“Isn’t that… very dangerous?” Jonathan terang-terangan cemas lewat matanya. Ponsel tadi melekat dalam genggaman, perlahan diturunkan oleh gemetaran. Tatapannya bagai tercekik, berlarian dari arah pintu kamar mandi—gugup menunggu Sienna keluar—lalu, ke hadapan Raya yang sama pucatnya dengan dia.“It is,” Raya menjawab. Napasnya juga sama-sama pendek, frustasi. “Banget, malahan. Setau

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 84

    “—apa.”“Tunggu—”“HAH!!???”Compang-camping, Raya menyeret Sienna ke dalam kamar mandi umum.Berdesak-desakan pada koridor itu, toilet umum mall memang tidak dikhususkan ibu hamil.Raya tak bisa berpikir lagi. Keringat dingin di telapaknya nyaris membuat tangannya meleset. Butuh beberapa kali mengetuk-ngetuk pintu toilet, sampai pada akhirnya Raya menemukan satu bilik kamar mandi kosong.“Kau! Duduk sini!”Bahu Sienna didorong. Dipaksa, gadis itu duduk di bantalan closet kosong. Hanya ada satu rak kecil—di balik cermin—toilet ini. Raya mengacak-acak isian botol-botol di dalamnya. Harap-harap cemas, bisa menemukan sesuatu.Biasanya Sienna tak pernah setuju dibuat paksa seperti ini. Sekarang, anehnya, gadis itu diam. Posisi duduknya membuat kedua paha gadis itu terbuka, pandangan Sienna jatuh tertunduk. Bukan pada lantai putih toilet dingin

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 83

    —143/lbs.HR-ttexity Garmin, luxury weight scale. Angka yang Sienna Halim terakhir dapatkan—143 pounds. Seberat 64 kilogram, jika diperkirakan.Tapak kaki pucat berdiri sejajar pada lempengan kaca berkedi-kedip. Tak ada angka yang berubah, kendati telah dicoba menekan-nekan. Sederet angka digital menampilkan berat badan terkini Sienna, yang gadis itu kerap ukur tiap pagi. Semenjak, dirinya merasa begah. Bangun tidur, membawa gundukan besar di bawah lapisan rectus abdominis.Tak lama beberapa waktu, Sienna adalah pemegang gelar gadis ber-body jarum pasir paling terkenal se-tongkrongan. Berlapis bikini pantai, pun, Sienna tak takut. Satu waktu pernah terjadi, Sienna dan Raya bertengkar sebab satu potongan baju diperebutkan. Raya, mengancam—bercanda—akan menyebar foto bugil Sienna, jika tidak mau mengalah.—Oh, gadis itu tak takut. Bisa diingat deng

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 82

    Kali ini, pagi tak menyapa lewat jendela— —adhesi. Tarik menarik dua energi berbeda di dalamnya memekikkan kekacauan. Tipis, pucat, menyisa cahaya tersangkut pada gundukan sela tirai yang lupa jalan pulang. Ruang tamu kediaman Wilyono menampung tarian mentari pagi tanpa antusias—gudang, mungkin lebih disebut pantas. Ruang ‘penyimpanan’ sementara dua anak manusia. Saling meluruskan usaha masing-masing. Lapisan kaca di meja tertimbun dossier separuh terbuka. Lembar demi lembaran legal melengkung, dari ujungnya yang terlalu banyak disentuh. Di sekitarannya, sisa-sisa penjajahan microplastic—bungkus mie instan, cup noodle, kertas kopi, pembungkus nasi instan, saling tumpuk-menumpuk menyerupai gundukan sampah negara. Butuh tiga hari penuh untuk menyulap ruang tamu Jonathan, serupa kamar tidur Hikikomori. Udara tak tersirkulasi segar. Padat. Memaksa dua manusia di dalamnya bernapas melalui tekanan—beban pikiran mereka. Jonathan berdiri di tengah-tengahnya. Kacamata tipisnya terus berge

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 81

    “Pfftt. Sini-sini kakimu, aku bantu pijat.” Angelina mendadak mellow wajahnya. Bibirnya mengerucut, manja. “Siennaaaaa.” “Gila, sih.” Mengoceh lagi, Angelina. Keluhannya kali ini sedikit lebih datar, mengingat sudah ada Sienna yang memijit pergelangan kakinya. “Kuat kamu tinggal di sini, Sie? Aku? Kayaknya seminggu tinggal di sini bakal habis buat hapalin jalan doang.” “Pfftt.” Sienna tertawa lagi. Buncit di perutnya agak sedikit mengganggu—juga, maternity gown ini—namun sang gadis senang. Angelina datang jauh-jauh untuk menjenguk. Terlebih, dua hari ini, Sienna merasa tak enak badan usai bertengkar dengan Samuel. “Ya sudah, kalau gitu bantu aku kabur dari sini, dong. Kayak, waktu itu,” tutur Sienna. Bercanda. Sang sepupu menanggapinya dengan tragis. Posisi duduk Angelina seketika bergeser ke belakang, menjauh dari sepupunya. “Amit-amit. Seneng ya liat aku mati?” Angelina geram, memeluk kedua lengannya sendiri. Gemetaran. “Waktu itu, kalau enggak ditolong seseorang, Samuel hampir

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 75

    —like an animal.Percakapan saling sahut mengitari utensils keramik beradu-adu. Ritmenya pecah. Jejeran pelayan silih berganti menempatkan gelas-gelas kristal, LimoncelloBeverage. 70 tahun sebelum jatuhnya Berlin, warga-warga pengungsi menempatkan

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 74

    Penjepit kertas Greaseproof Paper pada tangannya dipelintir, sebelum Samuel menambahkan dua lembar daging asap ke bagian tengah roti panggang. Dibantu Sienna, Samuel membungkus cheese sauce dari loyang di atas kompor. Disajikan di atas helai-helai daging berwarna cokelat kemerah

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 73

    “Sam, jangan nyalahin Jonathan. Aku, aku yang bawa dia ke sini.” Sienna menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Gadis itu gunakan tubuhnya, berdiri di tengah dua lelaki bersungut tinggi. Menjadi tameng. “Aku telpon Jo ke sini, biar bisa tau kondisi Ibu. Hari ini dia pulang, kok. Dia ha

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 72

    Christine Soediharjo POV00:41 – failed00:48 – failed01:12 – failed“Hey. Pamanmu Arthur bilang dia enggak bisa bantu. Kecuali kita berdua udah lulus, dia enggak bisa bantu legalitas pernikahan. Dia minta aku dan Sienna lulus sekolah dulu. Oi. Gimana ini, maksudnya.”‘The number you dialed is not

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status