Beranda / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 135. Aku Minta Cerai, Mas!

Share

135. Aku Minta Cerai, Mas!

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-02 15:00:15

Damar berusaha menjawab sepelan mungkin agar tidak memicu keributan. Meskipun ia adalah pemilik rumah sakit ini dan tidak mungkin ditegur satpam—tapi membuat onar di tempat umum tentu akan mengganggu kenyamanan orang lain.

Dulu, saat ia jujur menceritakan semua wanita yang pernah ia ajak ke ranjang, Diana seolah tidak masalah.

Damar tidak tahu saja kalau mood wanita hamil memang sering berubah-ubah. Ia tidak pernah mendampingi Diana saat ngidam, mual, dan perubahan emosional lainnya, sehingga ia benar-benar tidak paham.

Diana menatap suaminya dengan pandangan tajam menusuk, kedua tangannya sudah berkacak pinggang.

"Wanita mana yang tidak cemburu saat suaminya selalu dikelilingi wanita cantik? Bukan aku saja yang cemburu, tetapi wanita di luaran sana pasti akan melakukan hal yang sama denganku. Itu namanya wajar, karena aku takut kehilangan! Kenapa begitu saja kamu tidak mengerti, Mas?"

"Jangan mentang-mentang kamu sangat tampan, lalu kamu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
jangan sampai pisah lagi ya kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • ENAK, PAK DOSEN!   497. Sadar

    “Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t

  • ENAK, PAK DOSEN!   496. Go To Manhattan

    Disambut oleh sang istri, Damar segera melepas coat hitam yang ia gunakan. Cuacanya cukup dingin malam ini sebab sebelum ia pulang tadi, mendadak memang hujan deras disertai gemuruh dan petir yang cukup kencang.“Mau balik lagi ke rumah sakit, Mas?”“Iya, tapi kamu di rumah aja, Yang. Gak usah ikut, nanti kamu sakit malah makin runyak.”“Baiklah.” Diana mengekor di belakang Damar. Ia membawa coat krem suaminya menuju keranjang kotor, meletakkannya dengan rapi lalu mengatakan, “Mandi dulu, Mas. Bau,” candanya.Damar tersenyum. Matanya menyipit saat ia mengusap kepala istrinya yang tak ditutupi hijab seperti biasanya. “Ya, … setelah ini kita bicara, ya.”“Em. Mau kuambilkan makanan di bawah, Mas? Pasti Mas lapar,” tawar Diana. Ia tahu, suaminya belum makan sama sekali. Ia hanya takut gerd Damar akan kambuh.Damar menolak, dia menggeleng tipis sambil berbalik badan di ambang pintu kamar mandi. Sebelah tangannya bersiap menekan handle pintu, tapi bibirnya mengucap, “Gak perlu, Yang. Tadi,

  • ENAK, PAK DOSEN!   495. Ketidaksetujuan

    “Saya butuh kepastian, Dok!”Rendy menelan ludah, ia tahu siapa yang sedang ia hadapi. Lalu, ia menanggapi dengan tenang agar ucapan yang akan keluar dari bibirnya tidak menyinggung pria ini.“Saya tahu, Tuan Setyawan. Kepastian itu ada pada kedisiplinan terapinya nanti. Tuan Muda Sagara harus melakukan serangkaian terapi yang sangat berat. Bukan hanya fisik, tapi juga stimulasi saraf elektrik untuk memaksa otot-ototnya tetap hidup sementara sarafnya beregenerasi. Saya pastikan kalau beliau mengikuti terapi secara teratur, semangat sembuh, dan bisa bersabar, maka kesembuhan beliau akan lebih cepat.”“Baiklah,” potong Damar cepat. “Setelah dia siuman dan kondisinya stabil, apa saya bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di New York? Saya mau putra saya mendapatkan perawatan terbaik—mengingat di sini ….”Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, pria di hadapannya itu pasti mengerti tentang keresahannya. Lalu, ia sambung dengan suara yang lebih rendah, dan pelan agar tidak menyinggung

  • ENAK, PAK DOSEN!   494. Butuh Kepastian

    “Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam

  • ENAK, PAK DOSEN!   493. Sesuatu Yang ... Fatal

    Dokter Satria menoleh cepat, masih menggenggam selang oksigen.m di tangannya ketika dia mendekati latar monitor yang tampaknya abnormal. “Ada apa, Dok? Jantung dan parunya sudah kembali stabil, ‘kan?”“Benar. Sirkulasinya pulih, tapi ….” Dokter Rendy menajamkan penglihatannya. Ia menatap tajam pada layar monitor yang tampak aneh. Setelah menganalisis apa yang terjadi, barulah ia menjelaskannya pada Dokter yang ada di sampingnya itu. “Sepertinya respons otonom pada ototnya hilang, Dok. Thallium itu sempat memblokade jalur perintah dari otak ke ekstremitas bawahnya. Terjadi kelumpuhan saraf perifer,” jelasnya terperinci.Dokter Satria kemudian mengecek semuanya, memastikan benar atau tidaknya diagnosis yang dilihat Dokter Rendy tadi.Matanya kini terpaku pada layar monitor yang menunjukkan garis nyaris statis pada aktivitas saraf perifer Sagara. Kemudian setelah memastikan, barulah ia merespons dengan ekspresi yang sangat cemas di wajahnya. “Maksudmu ... tidak ada hantaran listrik k

  • ENAK, PAK DOSEN!   492. Berhasil Melewati Fase Kritis, Tapi ....

    Di depan ruang perawatan Sagara, Ara, Damar dan Diana menatap para petugas medis—entah itu perawat atau dokter, silih berganti masuk ke ruang ICU. Mereka berdiri dengan gusar, ikut mondar mandir dengan tegang dan bahkan tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana. “Bunda, maafin aku, Bun.” “Nak Ara, gak usah merasa bersalah terus. Semua yang terjadi sama Sagara itu sudah kehendak takdir,” kata Diana dengan lembut. Ia mengusap punggung Ara dan bahunya, memberikan sedikit rasa tenang meskipun ia sendiri tidak tenang sama sekali. Meski Diana mengusap punggungnya, tapi pikiran Ara tidak bisa berhenti memikirkan Damar. Detik berikutnya, kedua orang tuanya datang dan Ara langsung memeluk mereka. “Ara ….” “Mi, Pi … aku yang buat Sagara begini.” “Jangan salahkan dirimu sendiri.” Kim menasehati putrinya. Ia telah mendengar semua yang terjadi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status