Beranda / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 210. Jangan Gila!

Share

210. Jangan Gila!

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 09:26:32

"Damar, kamu gak ngerti! Ini antara hidup dan mati!" Profesor Bima menjerit frustrasi dengan suara yang parau. Ia memohon seperti orang yang benar-benar kehilangan pegangan. "Kumohon, Damar! Lakukan permintaanku! Sekali saja, hanya satu bulan! Setelah itu, Raline akan ku bawa jauh, jauh dari Indonesia!"

Tapi, Damar tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Ia akan hal itu mempengaruhi keputusannya yang sudah bulat itu.

"Tidak, Prof! Sekali tidak, tetap tidak!" tolak Damar tegas.

Tubuhnya tetap tegak, seperti patung marmer yang tak tersentuh emosi. Meskipun pria yang ada di hadapannya memohon dan mengancam, tapi ia tak akan pernah merubah keputusannya.

"Kalau begitu, aku akan mati!" ancam Profesor Bima, nadinya semakin ditekan oleh bilah pisau kecil itu. Wajahnya yang kuyu dipenuhi tekad nekat.

Kini, pria itu mengarahkan sisi pisau yang tajam tepat ke pergelangan tangan kirinya. "Biarkan saja arwahku gentayangan di kantor ini dan kantormu jadi angker!"

Namun, ancaman itu sama sekali
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Chili Ruhenk
tunggu aja kau dan bpk mu di bunuh dasr ulat bulu kerjaan Bikin masalah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • ENAK, PAK DOSEN!   479. Mahar—No! Pemindahan Aset—Yes!

    “Mansion di Menteng? Itu bukan sekadar rumah, itu adalah simbol kasta tertinggi di ibu kota yang bahkan aku saja tidak punya satu pun di sana. Dan mobil tadi, harganya … ya ampun! Masih ditambah satu apartemen di PIK yang harganya miliaran. Goddamn! Dia seserius itu, atau hanya sedang menggertakku dengan angka-angka di atas kertas?”Arnold perlahan meraih gelas wine-nya, namun bukannya meminumnya, ia hanya menatap pantulan dirinya di cairan merah tersebut. “Kamu mencoba membeli anakku, Damar?” tanya Arnold lirih, ia mencoba bersikap biasa meski dalam hatinya ingin menjerit, girang bukan main. “Kamu pikir aset-aset ini bisa membayar trauma yang mungkin dialami Ara karena putramu?”“Bukan membeli,” sahut Damar tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke dalam mata biru Arnold. “Ini hanya sebagai jaminan. Jaminan bahwa kalau pun dunia ini runtuh dan hubungan anak-anak kita tidak bisa diselamatkan, setidaknya Ara dan calon cucuku tidak akan pernah kekurangan satu helai rambu

  • ENAK, PAK DOSEN!   478. Mahar 5 Miliar

    Suasana di dalam ruang private restoran cepat saji itu terasa sangat kontras. Di luar, riuh rendah suara pengunjung dan aroma ayam goreng menyeruak, namun di dalam ruangan ini, udara seolah membeku. Damar duduk dengan punggung tegak namun santai di depan Arnold. Di tengah meja bundar yang besar itu, setangkai mawar merah dalam vas kecil tampak kontras di antara dua pria yang sedang memendam ego masing-masing.Begitu seorang waiters masuk dengan langkah hati-hati dan menyerahkan buku menu, Damar bahkan tidak meliriknya. Ia hanya menatap lurus pada pria bermata biru di hadapannya.“Sajikan yang paling spesial dan jangan lupa sajikan wine terbaik kalian ke sini,” titah Damar dengan suara berat yang mutlak.“Baik, Sir. Mohon tunggu sebentar,” sahut waiter itu sambil membungkuk hormat, merasa terintimidasi oleh aura dua pria di dalam ruangan tersebut.Selama lima menit menunggu, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Tak ada tegur sapa. Arnold sibuk dengan ponselnya, jemarinya

  • ENAK, PAK DOSEN!   477. Gak Hamil, Gue Hamili Lagi

    Sambil menikmati santap siang itu, Diana mencoba mencairkan suasana. Ia menopang dagu, menatap Ara dengan binar penuh minat. “Ngomong-ngomong, Nak, Tante belum tahu banyak soal kamu. Katanya kamu kuliah jurusan hukum. Udah semester berapa?” Ara menghentikan suapan dimsum ke mulutnya. Ia menelan makanannya perlahan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sopan. “Semester lima, Tante,” jawabnya singkat, agak canggung. Diana melirik Damar dengan raut wajah sedikit resah. Pasalnya, Ara mendadak menjadi sosok yang sangat irit bicara dan penuh batasan, kontras sekali dengan betapa berapi-apinya gadis itu saat berdebat dengan Sagara tadi. Merasa masih ada yang mengganjal, Diana bertanya lagi dengan nada hati-hati, “Kalau memang beneran hamil ... kamu yakin mau dinikahin Sagara dan cuti kuliah?” Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Ara terhenti. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menatap Diana dengan sorot mata yang mendadak dewasa. “Bener, Tante. Itu keputusan terbaik menurut aku,

  • ENAK, PAK DOSEN!   476. Gak Ada Kata Batal

    Ara memutar bola mata malas. Ia yakin, di otak Sagara isinya hanya seputar sel4ngkangan saja. “Udah, gue mau pulang! Kita udah sepakat. Kalau hamil, kita nikah. Kalau gak hamil—”“Kita ulang sampai hamil, terus kita bisa nikah. Fix! No debat!” potong Sagara dengan nada final. Ia menyeringai tipis, sepasang matanya yang sayu namun tajam mengunci pergerakan Ara, seolah-olah kata ‘batal’ tidak pernah ada dalam kamusnya.Di koridor, Damar menarik napas panjang. Ia menangkap binar obsesi yang terlalu pekat dari suara putranya. Ia melirik Diana yang tampak ragu.“Yang, telinga kita bisa panas kalo kelamaan di sini. Udah, ayo masuk,” bisik Damar.“Tapi, Mas. Apa kita nggak ganggu mereka?” Diana meremas jemarinya cemas. “Kayaknya mereka lagi panas banget pembahasannya. Aku rasa momennya gak pas, Mas.”Damar menggeleng tegas, urat di pelipisnya sedikit berdenyut. “Justru kalau kita nggak masuk, Ara bakal kabur. Kedekatan kita semua akan lebih cepat terjalin kalau kita segera masuk. Kita harus

  • ENAK, PAK DOSEN!   475. Kuat Beronde-ronde

    Di sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit, suasana begitu kontras dengan ketegangan di kamar rawat. Diana dan Damar duduk berhadapan di sebuah private room. Meski usia pernikahan mereka sudah menginjak 18 tahun, namun kemesraan mereka tidak pernah luntur.“Kayak pengantin baru aja, Yang, harus disuapin segala,” goda Damar. Namun, ia tidak menolak saat sendok berisi makanan diarahkan ke mulutnya. Ia sangat bersyukur, hampir dua dekade bersama, hubungan mereka tetap harmonis tanpa pertengkaran yang berarti.“Ini salah satu cara agar hubungan kita tetap langgeng, Mas. Kalau nggak gini, ya dingin hubungan kita. Jadi ... aaaaa! Buka mulutnya, Mas,” pinta Diana manja.“Aku lebih suka buka baju, Yang!” bisik Damar nakal.“Ish! Mas!” Diana mencubit lengan suaminya, wajahnya merona merah.Sambil menikmati hidangan, raut wajah Damar kembali serius. “Ngomong-ngomong, anak-anak sepakat nikah nggak ya, Yang? Kok aku takut Ara nggak mau, atau Ara malah ngajakin Sagara pindah agama.”“Nggak usa

  • ENAK, PAK DOSEN!   474. Bebas Coblos Tiap Hari

    Sagara menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerik Ara. Tangan kirinya yang tak terinfus bergerak gelisah, meremas seprai hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol, sementara napasnya masih terasa sedikit berat akibat luka di dadanya.“Syarat apa lagi sih, Ra? Lo kaya gak ikhlas gitu deh nikah sama gue,” katanya dramatis.Ara pun mengangkat bahunya tak acuh. “Ya emang gue gak ikhlas nikah sama lo. Pernikahan ini ‘kan gak gue pengenin. Lagian, kita nikah kalo gue hamil. Kalo gak, gak ada pernikahan!”“Ck, oke, oke.” Setelah berdecak, Sagara mendesak Ara. “Terus kalah jadi nikah, syarat apa sih yang Lo kasih ke gue?”“Banyak sih, Gar.” Ara terkekeh pelan. Ia melihat betapa frustasinya Sagara. Tapi, apa ia peduli? Tidak! Sagara telah membuat hidupnya berantakan Dan kini ia pun harus mengeruk keuntungan dari kesempatan yang diambil Sagara tersebut. “Hah? Banyak? Lo sengaja buat gue kesel ya?”“Iya!”“Ampun deh, Ra! Ja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status