MasukDua bulan berselang, Damar berkunjung ke kota asal istrinya. Karena bertepatan dengan keterlambatan datang bulan sang istri, Damar sengaja mengajak Carol memeriksakan kandungan.
“Udah siap, Dek?”“Udah, Mas. Yuk.” Caroline bersorak gembira.Jadwal hari ini, Damar hendak mengantarkan istrinya ke sebuah klinik kandungan yang berada di dekat rumah ibu mertuanya. Memang sudah sejak beberapa hari yang lalu, mereka tinggal di sini.Wajah keduanya berseri. Selepas menghabiskan berpuluh malam bersama, kini Damar dan Caroline berharap ada buah cinta mereka yang segera hadir melengkapi kebahagiaan keduanya.“Aku harap hasilnya positif, Mas. Aku deg-deg an banget dari kemarin. Sudah telat seminggu,” ujar Caroline sambil bergelayut manja di lengan Damar.“Aamiin.” sahut Damar.Pria dingin itu seperti biasa. Dia bersikap dingin dan juga acuh. Selama ini dia menganggap Carol sebagai Diana. Di mana Caroline hanya dianggap sebagai teman di atas ranjang nya saja.Tida“Setelah melakukan uji laboratorium ...,” Dokter berkacamata itu menghela napas berat, lalu meletakkan selembar kertas hasil uji toksikologi di atas meja agar ayah dari pasiennya itu ikut melihat hasilnya. “Kami menemukan jejak Thallium Sulfate dalam aliran darah Tuan Muda Sagara, Tuan.”Damar mengerutkan kening, menunggu penjelasan lebih lanjut. Tapi lantaran resah, bibir pun tak sabar unuk menanyakan, “Thallium Sulfate? Apa itu?” “Ini adalah sejenis logam berat yang sangat toksik. Sifatnya tidak berasa dan tidak berbau, sehingga pasien tidak akan menyadari saat zat ini masuk ke tubuhnya,” jelas dokter dengan nada serius. Dia menunjukkan sesuatu pada Damar dari tab-nya, menunjukkan contoh cairan Thallium Sulfate yang dimaksud, sambil terus memberikan pemahaman bagi ayah pasien yang sangat awam mengenai ini. Damar mengamati gambar di tab dokter tersebut. Saat matanya menelisik jenis zat yang berbahaya itu, telinganya tetap mendengar dengan seksama p
“Kenapa kamu membiarkan perawat tidak jelas masuk ke sini, Nak? Sadarkah apa yang kamu lakukan ini salah? Membiarkan sembarang orang masuk, itu tindak kelalaian,” cecar Damar dengan tatapan yang menghujam jantung Ara. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan. Tapi, ia hanya kecewa karena Ara yang secerdas itu bisa-bisanya lalai. Terlebih lagi anak buahnya yang tidak becus membuatnya makin emosi. Entahlah, Damar merasa kepalanya ingin meledak sekarang!Sedangkan Ara sendiri tersentak mendengar ucapan Damar. Tatapan Damar seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang nyaris merenggut nyawa putranya.Lirih cicitan keluar dari bibirnya, “M–maaf, Om. Aku … aku gak tahu kalau ini bakalan terjadi. Aku sempat curiga, Om. Tapi kupikir karena dia melakukan hal yang wajar sebagai seorang tenaga medis—seperti mengecek tekanan darah, menanyakan makanannya habis atau tidak, dan ada keluhan apa, kurasa itu wajar, ‘kan? Makanya aku
Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk
“Ya Tuhan! Garaaaa!”Laptop di pangkuannya jatuh begitu saja ke lantai. Ara berlari kalap, menekan tombol darurat berkali-kali sambil berusaha menahan tubuh Sagara yang berguncang hebat di atas ranjang. Matanya membelalak ngeri melihat kondisi pria itu. Ia baru sadar bahwa tidur tenang Sagara sebelumnya adalah awal dari reaksi maut yang disuntikkan suster tadi.“Gara, bangun, Gar! Garaaa! Bangun!” teriaknya parau, namun tak ada satu pun tenaga medis yang muncul dalam kurun waktu setengah menit.Kehabisan waktu, Ara berlari keluar ruangan. Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu tersentak melihat Ara yang pucat pasi.“Nona, ada apa?”“Apakah terjadi sesuatu?”“Ya! Gara ... dia ….” Ara megap-megap mencoba mengatur napas. Jujur, Ara panik dan takut. Ia takut disalahkan oleh keluarga Sagara mengingat dia lah yang mempersilahkan suster itu masuk tanpa diperiksa terlebih dahulu. Demi Tuha
Di rumah, Diana dan Damar sedang bersiap-siap. Waktu menunjuk ke angka 6.40 petang. “Yang ….”“Ya, Mas?” Diana yang baru saja selesai sholat, langsung melipat mukena dan sajadahnya. Meletakkannya ke atas meja khusus kemudian menghampiri sang suami. “Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak?”“Kita ke rumah sakit sekarang, Yang. Aku ganti baju dulu. Tunggu di bawah, suruh Alex siapkan mobil.” Damar mengajak tiba-tiba, membuat Diana curiga. Ia menyentuh lengan suaminya dan bertanya, “Kok buru-buru banget sih, Mas? Ada apa? Apa ada kepentingan sampai harus ke sana sebelum jadwalnya? Bukannya di sana udah ada Ara, ya, Mas?”Damar mengangguk, “Iya, Yang. Tapi ….” Menggeleng, entah kenapa perasaannya tidak enak. Lalu, ia katakan pada Diana sejujurnya, “Tapi, kok aku ngerasa ada yang mengganjal gitu, Yang. Aku pengen lihat Sagara segera.”“Mungkin karena Mas gak ketemu Sagara seharian, makanya Mas khawatir.”“Bisa jadi sih, Yang.”“Ya udah. Ayo kalau gitu. Aku tinggal pakai hijab. Mas siap-siap aja
Batinnya merutuk kesal karena telah membayangkan kenikmatan yang diberikan Sagara saat itu.“Ih, apaan sih gue! Kok jadi mesum kek gini? Sadar, Ra, sadar! Gak usah pengen lagi! Meski enak, tapi yang lo hadepin ini jin mesum!”Saat Ara masih sibuk dengan isi kepalanya, Sagara sendiri merasa kesal. Pasalnya, ucapannya tadi tak ditanggapi sama sekali oleh calon istrinya ini.Saat suapan terakhir hampir habis, Sagara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Ara, menghentikan gerakan gadis itu. Ia menatap Ara dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan tenang.“Nanti malam lo bobok sini, ya? Temenin gue. Bunda dan Ayah nggak pernah nginep di sini, tau. Capek gue ditemenin bodyguard Mulu,” kata Sagara dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Padahal, semalam saja Damar dan Diana berebut siapa yang mau jaga, tapi demi modus, Sagara tidak segan-segan menjual nama orang tuanya.“Gak, ah. Bau karbol, gak suka,” tolak Ara mentah-mentah sambil meletakkan kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas. Ia







