Beranda / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 80. Sendiri Lebih Bebas

Share

80. Sendiri Lebih Bebas

Penulis: OTHOR CENTIL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-08 12:15:42

Laki-laki yang menggunakan jaket jeans dan juga kaos putih polos tersebut menatap Diana dengan lekat. Memperhatikan dengan seksama, apakah yang dilihat oleh nya saat ini bukanlah kemiripan semata? Tetapi saat memperhatikan tattoo berada di pergelangan tangan kiri wanita itu, Hans yakin jika itu Diana.

“Diana! Ini loe beneran Diana?” tanya Hans— teman sekolahnya dulu.

“Hans? I— iya. Ini gue, Hans.” Diana menjawab santai. Dia melirik ke samping. Dua anak kembar Hans berjenis kelamin perempuan itu mungkin juga sekolah di sini.

Lantas, mana ibunya? Apa Hans sudah berpisah?

“Nggak nyangka gue ketemu lo di sini. Nganterin ... Siapa? Gue nganterin twins nih, masih di PAUD.” kekeh Hans menunjuk putri-putrinya.

“Anak gue. Di kelas TK A.” Diana menjelaskan.

Setelah membiarkan putri kembarnya masuk ke dalam halaman sekolah, Hans sedikit macet Diana melipir ke sebuah tempat duduk yang terletak tidak jauh dari sana.

Di bawah pohon ri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ENAK, PAK DOSEN!   489. Meragukan Kredibilitas

    Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk

  • ENAK, PAK DOSEN!   488. Please, Jangan Pergi

    “Ya Tuhan! Garaaaa!”Laptop di pangkuannya jatuh begitu saja ke lantai. Ara berlari kalap, menekan tombol darurat berkali-kali sambil berusaha menahan tubuh Sagara yang berguncang hebat di atas ranjang. Matanya membelalak ngeri melihat kondisi pria itu. Ia baru sadar bahwa tidur tenang Sagara sebelumnya adalah awal dari reaksi maut yang disuntikkan suster tadi.“Gara, bangun, Gar! Garaaa! Bangun!” teriaknya parau, namun tak ada satu pun tenaga medis yang muncul dalam kurun waktu setengah menit.Kehabisan waktu, Ara berlari keluar ruangan. Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu tersentak melihat Ara yang pucat pasi.“Nona, ada apa?”“Apakah terjadi sesuatu?”“Ya! Gara ... dia ….” Ara megap-megap mencoba mengatur napas. Jujur, Ara panik dan takut. Ia takut disalahkan oleh keluarga Sagara mengingat dia lah yang mempersilahkan suster itu masuk tanpa diperiksa terlebih dahulu. Demi Tuha

  • ENAK, PAK DOSEN!   487. Kejang

    Di rumah, Diana dan Damar sedang bersiap-siap. Waktu menunjuk ke angka 6.40 petang. “Yang ….”“Ya, Mas?” Diana yang baru saja selesai sholat, langsung melipat mukena dan sajadahnya. Meletakkannya ke atas meja khusus kemudian menghampiri sang suami. “Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak?”“Kita ke rumah sakit sekarang, Yang. Aku ganti baju dulu. Tunggu di bawah, suruh Alex siapkan mobil.” Damar mengajak tiba-tiba, membuat Diana curiga. Ia menyentuh lengan suaminya dan bertanya, “Kok buru-buru banget sih, Mas? Ada apa? Apa ada kepentingan sampai harus ke sana sebelum jadwalnya? Bukannya di sana udah ada Ara, ya, Mas?”Damar mengangguk, “Iya, Yang. Tapi ….” Menggeleng, entah kenapa perasaannya tidak enak. Lalu, ia katakan pada Diana sejujurnya, “Tapi, kok aku ngerasa ada yang mengganjal gitu, Yang. Aku pengen lihat Sagara segera.”“Mungkin karena Mas gak ketemu Sagara seharian, makanya Mas khawatir.”“Bisa jadi sih, Yang.”“Ya udah. Ayo kalau gitu. Aku tinggal pakai hijab. Mas siap-siap aja

  • ENAK, PAK DOSEN!   486. Rasa Kantuk Yang Aneh

    Batinnya merutuk kesal karena telah membayangkan kenikmatan yang diberikan Sagara saat itu.“Ih, apaan sih gue! Kok jadi mesum kek gini? Sadar, Ra, sadar! Gak usah pengen lagi! Meski enak, tapi yang lo hadepin ini jin mesum!”Saat Ara masih sibuk dengan isi kepalanya, Sagara sendiri merasa kesal. Pasalnya, ucapannya tadi tak ditanggapi sama sekali oleh calon istrinya ini.Saat suapan terakhir hampir habis, Sagara tiba-tiba memegang pergelangan tangan Ara, menghentikan gerakan gadis itu. Ia menatap Ara dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan tenang.“Nanti malam lo bobok sini, ya? Temenin gue. Bunda dan Ayah nggak pernah nginep di sini, tau. Capek gue ditemenin bodyguard Mulu,” kata Sagara dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Padahal, semalam saja Damar dan Diana berebut siapa yang mau jaga, tapi demi modus, Sagara tidak segan-segan menjual nama orang tuanya.“Gak, ah. Bau karbol, gak suka,” tolak Ara mentah-mentah sambil meletakkan kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas. Ia

  • ENAK, PAK DOSEN!   485. Jin Mesum

    Membahas Ayahnya—Damar, Sagara sendiri juga tidak tahu. Sejak siang tadi, Ayahnya bahkan tak menghubungi akan ke sini atau tidak. Hanya bilang bunda-nya yang ke sini. Tapi, rasa-rasanya tidak masalah ayahnya tidak ke sini. Toh kalau Damar ke sini, yang ada ia dipaksa belajar dengan setumpuk buku yang menyebalkan. Kini, Sagara melirik Ara dari sudut mata, melihat wajah lesu calon istrinya itu. “Kenapa tanya-tanya? Butuh sangu, ya? Atau … butuh belaian?” “Ish!” “Kalau butuh duit, bilang. Nanti gue TF, Cintaaaa!” kekeh Sagara. Pikirnya, Arnold sudah di tangan, dan Ara semakin mudah didapatkan. Right? “Gak lah! Gue nggak se-kere itu ya sampai malak pasien. Lagian, gak usah sok mau TF segala! Uang lo aja punya bokap lo semua. Kalo uang hasil kerja keras Lo sendiri, gue sih oke mau Lo TF berapa pun,” sahut Ara sambil melempar bantal kecil ke arah Sagara. Sagara menangkap

  • ENAK, PAK DOSEN!   484. Butuh Belaian

    Setelah melewati hari yang melelahkan di kampus dengan suasana hati yang berantakan, Ara akhirnya melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Sagara memang belum diperbolehkan pulang, tapi kondisi pria itu sudah jauh lebih bugar—bahkan energi ‘tengilnya’ sudah kembali ke level maksimal. Begitu pintu kamar terbuka dan sosok Ara muncul, Sagara yang sedang bersandar di ranjang langsung menyeringai lebar. “Eh, calon makmum sudah datang!” sapanya dengan nada yang sengaja dibuat semanis mungkin. Namun, senyum Sagara perlahan memudar saat melihat wajah Ara yang ditekuk bak cucian kotor dan tangan gadis itu yang kosong. “Nganggur aja, nih? Nggak bawa buah atau makanan apa pun kayak kemarin? Tega bener! Jenguk orang sakit nganggur!” protes Sagara sambil mencebikkan bibir, pura-pura tersakiti. “Nggak usah mancing gue deh, Gar! Hari ini gue lagi bad mood banget,” sahut Ara ketus. Ia meletakkan tasnya di sofa dengan kasar, l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status