Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 89. Kebut-Kebutan

Share

89. Kebut-Kebutan

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-09-11 12:15:16

Bruum!

Deru knalpot mobil yang ditumpangi Diana dan Yudha terdengar menjauh. Yudha terhuyung sebab belum siap, ia juga tak mengenakan sabuk pengaman, saat Diana sudah melesat tanpa rem sekali pun.

Ciiiiit!

Jedug!

"Aduh! Hampir aja!" keluh Diana sambil memegangi kepalanya yang baru saja terantuk roda kemudi.

“Maaaak! Ampun. Ya Allah. Mbak, kita mau cari Pak Damar atau mau cari mati ini namanya? Untung remnya pakem. Coba kalau enggak, mati kita mah!” gerutu seorang pemuda yang sedang berada di samping Diana saat ini. Hampir saja mereka menabrak pengguna jalan yang hendak menyeberang.

"Allahu akbar. Gusti, tulung!" teriak Yudha histeris.

Lelaki berusia 20 tahun tersebut berpegangan kuat pada jok mobil. Tubuhnya terhuyung kesana kemari karena Diana mengemudi ugal-ugalan. Bahkan, Diana tak peduli jika wanita yang hendak ditabraknya tadi mengumpat.

"Mbak awas, Mbak! Mbak! Mbaaak! Awas! Awas! Minggir! Mbak!" Be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Riza Hidayati
2 bab baca tentang absurdan si yudha terus bikin emosi ... l
goodnovel comment avatar
Triany Andiastuty
ada sih ya..karyawan kurang ajar sprt si Yuda, mndng di pecat aja tuh
goodnovel comment avatar
Triany Andiastuty
ih..lama2 jijik bngt sama penulisnya, lg suasana darurat di bkn becanda yg vulgar...dah ah males ngikutin lg...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   494. Butuh Kepastian

    “Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam

  • ENAK, PAK DOSEN!   493. Sesuatu Yang ... Fatal

    Dokter Satria menoleh cepat, masih menggenggam selang oksigen.m di tangannya ketika dia mendekati latar monitor yang tampaknya abnormal. “Ada apa, Dok? Jantung dan parunya sudah kembali stabil, ‘kan?”“Benar. Sirkulasinya pulih, tapi ….” Dokter Rendy menajamkan penglihatannya. Ia menatap tajam pada layar monitor yang tampak aneh. Setelah menganalisis apa yang terjadi, barulah ia menjelaskannya pada Dokter yang ada di sampingnya itu. “Sepertinya respons otonom pada ototnya hilang, Dok. Thallium itu sempat memblokade jalur perintah dari otak ke ekstremitas bawahnya. Terjadi kelumpuhan saraf perifer,” jelasnya terperinci.Dokter Satria kemudian mengecek semuanya, memastikan benar atau tidaknya diagnosis yang dilihat Dokter Rendy tadi.Matanya kini terpaku pada layar monitor yang menunjukkan garis nyaris statis pada aktivitas saraf perifer Sagara. Kemudian setelah memastikan, barulah ia merespons dengan ekspresi yang sangat cemas di wajahnya. “Maksudmu ... tidak ada hantaran listrik k

  • ENAK, PAK DOSEN!   492. Berhasil Melewati Fase Kritis, Tapi ....

    Di depan ruang perawatan Sagara, Ara, Damar dan Diana menatap para petugas medis—entah itu perawat atau dokter, silih berganti masuk ke ruang ICU. Mereka berdiri dengan gusar, ikut mondar mandir dengan tegang dan bahkan tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana. “Bunda, maafin aku, Bun.” “Nak Ara, gak usah merasa bersalah terus. Semua yang terjadi sama Sagara itu sudah kehendak takdir,” kata Diana dengan lembut. Ia mengusap punggung Ara dan bahunya, memberikan sedikit rasa tenang meskipun ia sendiri tidak tenang sama sekali. Meski Diana mengusap punggungnya, tapi pikiran Ara tidak bisa berhenti memikirkan Damar. Detik berikutnya, kedua orang tuanya datang dan Ara langsung memeluk mereka. “Ara ….” “Mi, Pi … aku yang buat Sagara begini.” “Jangan salahkan dirimu sendiri.” Kim menasehati putrinya. Ia telah mendengar semua yang terjadi.

  • ENAK, PAK DOSEN!   491. Hemodialisis

    “Setelah melakukan uji laboratorium ...,” Dokter berkacamata itu menghela napas berat, lalu meletakkan selembar kertas hasil uji toksikologi di atas meja agar ayah dari pasiennya itu ikut melihat hasilnya. “Kami menemukan jejak Thallium Sulfate dalam aliran darah Tuan Muda Sagara, Tuan.”Damar mengerutkan kening, menunggu penjelasan lebih lanjut. Tapi lantaran resah, bibir pun tak sabar unuk menanyakan, “Thallium Sulfate? Apa itu?” “Ini adalah sejenis logam berat yang sangat toksik. Sifatnya tidak berasa dan tidak berbau, sehingga pasien tidak akan menyadari saat zat ini masuk ke tubuhnya,” jelas dokter dengan nada serius. Dia menunjukkan sesuatu pada Damar dari tab-nya, menunjukkan contoh cairan Thallium Sulfate yang dimaksud, sambil terus memberikan pemahaman bagi ayah pasien yang sangat awam mengenai ini. Damar mengamati gambar di tab dokter tersebut. Saat matanya menelisik jenis zat yang berbahaya itu, telinganya tetap mendengar dengan seksama p

  • ENAK, PAK DOSEN!   490. Thallium Sulfate

    “Kenapa kamu membiarkan perawat tidak jelas masuk ke sini, Nak? Sadarkah apa yang kamu lakukan ini salah? Membiarkan sembarang orang masuk, itu tindak kelalaian,” cecar Damar dengan tatapan yang menghujam jantung Ara. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan. Tapi, ia hanya kecewa karena Ara yang secerdas itu bisa-bisanya lalai. Terlebih lagi anak buahnya yang tidak becus membuatnya makin emosi. Entahlah, Damar merasa kepalanya ingin meledak sekarang!Sedangkan Ara sendiri tersentak mendengar ucapan Damar. Tatapan Damar seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang nyaris merenggut nyawa putranya.Lirih cicitan keluar dari bibirnya, “M–maaf, Om. Aku … aku gak tahu kalau ini bakalan terjadi. Aku sempat curiga, Om. Tapi kupikir karena dia melakukan hal yang wajar sebagai seorang tenaga medis—seperti mengecek tekanan darah, menanyakan makanannya habis atau tidak, dan ada keluhan apa, kurasa itu wajar, ‘kan? Makanya aku

  • ENAK, PAK DOSEN!   489. Meragukan Kredibilitas

    Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status