LOGINScarlett O'Connor, héritière déchue de la dynastie vampire O'Connor, n'a plus rien à perdre. Son père, le patriarche Alistair, est plongé dans un coma magique dont il ne se réveillera peut-être jamais. Sa famille est ruinée, trahie de l'intérieur, poussée à l'effondrement par Storne Industries, l'empire impitoyable des loups-garous. Pour sauver les siens, Scarlett devient Elara Vance, une consultante humaine au passé irréprochable, et infiltre la tour Storne, au cœur de la machine ennemie. Sa mission : détruire Kaelen Thorne, le CEO loup-garou qui a orchestré la chute de sa dynastie.
View MoreHal pertama yang Ryan Juliar sadari saat kesadarannya kembali adalah suara seseorang yang sedang berteriak.
"Kalian masuk akademi bela diri tapi yang dibaca Matematika Lanjut dan Aljabar Linear?! Uang orang tua kalian dipakai untuk bayar biaya di sini, bukan untuk menonton kalian jadi kutu buku!!"
Ryan mengedipkan mata.
Ada perempuan berkacamata di depan kelas, tepatnya di sisi lain podium tempat ia berdiri. Berdiri dengan punggung tegak, ekspresi yang terasa seperti jaksa yang sudah kehabisan toleransi, dan suara yang memenuhi ruangan tanpa perlu pengeras.
Memori asing mulai mengalir masuk. Ruang kelas. Kelas X-2. Akademi Bela Diri Bayasura. Ia guru di sini.
Dan perempuan berkacamata yang sedang berteriak itu adalah Naura Elvandari, Kepala Guru angkatan pertama.
"Peringkat terakhir untuk progres kultivasi! Peringkat terakhir untuk tempur beregu! Peringkat terakhir untuk duel individu!" Naura mengangkat laporan penilaian setengah semester lalu membantingnya ke podium dalam satu gerakan. Suaranya keras sampai beberapa siswa kontan menarik napas. Yang lebih mengejutkan, podium kayu solid itu retak. "Ini 'prestasi' yang berhasil diraih Kelas X-2. Luar biasa sekali!"
Tidak ada satu siswa pun yang berani bergerak.
Ryan yang baru setengah sadar mencoba meredakan keadaan dengan refleks.
"Sudah, Naura. Tidak perlu terlalu keras sama anak-anak..."
"Berapa kali harus kukatakan." Naura memutar kepala ke arahnya. Di balik kacamatanya, tatapannya berhenti tepat di wajah Ryan dengan cara yang tidak terasa seperti melihat, lebih ke cara mengukur. "Pakai titel saat jam kerja."
Ryan menutup mulut.
Naura menghela napas pendek, mengalihkan pandangan dari kelas yang masih membeku, lalu melangkah mendekat ke Ryan. Nada suaranya turun beberapa oktaf, tidak lagi berteriak, tapi terasa justru lebih berat dari sebelumnya.
"Ryan. Sebagai wali kelas sementara Kelas X-2, kondisi ini sebagian ada di tanggung jawabmu." Ia berhenti sebentar. "Dewan Sekolah sudah bicara padaku hari ini. Kalau tidak ada perubahan di semester depan, aku tidak bisa berbuat apa pun untukmu."
Satu jeda lagi.
"Nasibmu ada di tanganmu sendiri."
Setelah itu ia berbalik dan melangkah keluar. Langkahnya terukur, rok profesionalnya bergerak mengikuti, siluetnya menghilang di balik pintu tanpa sekali pun menoleh.
Ryan memandanginya sampai pintu tertutup.
'Untuk seseorang yang baru saja menyerahkan nasibku pada diriku sendiri,' ia mengusap pangkal hidung, 'posturnya terlalu bagus untuk diabaikan.'
Lalu ia menarik napas dalam dan memutuskan untuk tidak memperpanjang pikiran itu.
**
Di kehidupan sebelumnya, ia juga bernama Ryan Juliar.
Karyawan biasa di perusahaan distribusi. Suatu pagi dipanggil ke ruangan HR yang entah kenapa penuh tanaman hias, pulang dengan status baru sebagai korban efisiensi. Tidak ada drama, ia tanda tangan dan pergi.
Dua minggu kemudian sudah pakai helm hijau, terima order ojek online dari pagi sampai malam. Bukan pilihan ideal tapi perut tidak protes, dan jalanan selalu lebih jujur dari kantor.
Sampai persimpangan licin malam itu. Hujan baru berhenti. Lampu truk dari arah yang salah.
Gelap.
Lalu ia buka mata di dunia ini, di tubuh yang, dengan kebetulan yang tidak ia mengerti sepenuhnya, juga bernama Ryan Juliar.
'Setidaknya tidak perlu hafal nama baru,' ia pikir.
**
Gambaran besarnya perlahan terbentuk dari memori tubuh ini yang terus meresap masuk.
Dunia bela diri tinggi.
Manusia bisa membangkitkan kemampuan supranatural dan mengolah kekuatan tubuh jauh di atas batas normal.
Kemampuan supranatural punya tingkatan dimulai dari F, E, D, C, B, A, S, SS, SSS sampai X.
Kekuatan fisik punya tujuh tahap dari paling rendah ke paling tinggi, yaitu Batu, Baja, Perak, Emas, Zamrud, Safir, dan Intan.
Di atas Intan ada golongan yang disebut Pendekar Adikuasa, yang sudah tidak relevan diukur dengan standar biasa. Satu orang dari golongan itu mampu meratakan satu kota jika mereka mau.
Naura ada di Zamrud. Tingkat lima.
Ryan ada di Perak. Tingkat tiga. Setelah semua sumber daya Keluarga Juliar dikerahkan.
'Pantas perjodohan itu tidak pernah dipertegas.'
Ya, perjodohan. Keluarga Juliar dan Keluarga Elvandari, dua keluarga besar di Negara Redwhite, pernah mengikat kesepakatan lama antar anak mereka. Tapi jarak bakat keduanya terlalu mencolok untuk dipaksakan jadi sesuatu yang resmi. Ikatan itu dibiarkan menggantung.
Di atas kertas, Naura masih terhubung dengannya. Konsekuensi praktisnya sederhana saja. kalau siapapun di akademi ini pecat Ryan, Keluarga Juliar turun tangan. Tapi kalau yang pecat adalah Naura sendiri, keluarganya paling banter cuma angkat bahu sebelum balik menyalahkan Ryan karena tidak becus jaga posisi.
'Satu-satunya orang yang tidak bisa kutentang,' ia menatap langit-langit sebentar, 'justru yang punya kendali penuh atas pekerjaanku. Luar biasa.'
Pemilik asli tubuh ini sudah menanam masalah ini jauh sebelum Ryan tiba. T
erlalu yakin nama keluarga adalah tameng abadi, tidak pernah sungguh-sungguh bekerja, dan perlahan terdegradasi dari guru tetap jadi guru bantu.
Kalau tidak ada yang berubah, Ryan akan jadi guru pertama yang dipecat dari Akademi Bela Diri Bayasura dalam sejarahnya.
Ia menahan sesuatu yang ingin sekali ia sebut sebagai keluhan.
**
Ryan menegakkan bahu, memasang senyum profesional seadanya, dan berbalik ke kelas.
"Baik, kalian semua..."
Tidak ada yang mendongak.
Para siswa yang tadi membeku ketakutan di bawah amarah Naura kini sudah kembali ke aktivitas masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa. Buku "Aljabar Linear" terbuka lagi.
Soal latihan dikerjakan lagi dengan kecepatan yang cukup memusingkan. Di barisan belakang ada kepala yang perlahan menunduk ke arah lengan sendiri.
Ryan menatap pemandangan itu diam-diam.
'Kayu seperti ini, jangankan dipahat, dipegang pun bisa langsung hancur.'
Masuk akal juga. Pemilik asli tubuh ini sudah lama menjadikan kelas ini tempat menghabiskan jam kerja tanpa benar-benar hadir. Para siswa hanya melanjutkan kebiasaan yang sudah terbentuk lama sebelum Ryan datang. Mau marah pun rasanya aneh, ini bukan salah mereka sepenuhnya.
Untuk sesaat ia mempertimbangkan apakah lebih baik mulai memikirkan cara membalik situasi ini... atau menyusun surat ke sang Ayah lebih dulu agar penyambutan pulang nanti tidak terlalu melukai harga diri.
'Kepada Ayah yang terhormat, putramu sedang menghadapi situasi yang butuh beberapa paragraf untuk dijelaskan secara layak...'
Baru sampai situ, sesuatu tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Bukan suara dari kelas, bukan dari luar jendela. Lebih seperti notifikasi yang melewati telinga dan langsung ada di belakang kesadaran.
[Ting! Sistem Guru Terhebat telah aktif. Apakah kamu bersedia menerima?]
ScarlettMon père est au sol. Mon oncle est mort. L'homme que j'aime se vide sur la pierre. Et Damian est là, à quatre mètres, avec sa lame et son sourire qui vacille.Je ne pense plus.Ce n'est pas une métaphore, je le jure sur tout ce qui reste : la pensée s'arrête, s'éteint, et à sa place il y a quelque chose de plus vieux, de plus simple, un courant qui monte du sol, qui passe par mes jambes, qui emplit mes bras, ma gorge, mes yeux. La rage. Pas la colère, j'ai connu la colère, la colère est une chose de la tête. La rage est une chose du sang, et mon sang, ce sang hybride que Fell n'avait jamais vu, ce sang moitié vampire, moitié quelque chose d'autre, mon sang bout littéralement dans mes veines.Damian me voit venir. Et pour la première fois depuis que je le connais, pour la première fois dans toute cette longue histoire, je vois dans ses yeux gris quelque chose qui n'a jamais été là.De la peur.Je ne cours pas ve
Scarlett C'est mon père qui bouge le premier. Mon père. Soixante-dix ans, cinq ans d'agonie, des semaines de cage, des jambes qui le portent à peine, et il bouge le premier, parce que les patriarches ne regardent jamais leurs filles se faire tuer sans répondre. Je le vois du coin de l'œil : il a ramassé quelque chose, un tesson, un éclat de pierre du mur, n'importe quoi, et ses lèvres remuent, et je comprends avec un coup de froid que mon père, cet homme que j'ai toujours cru dénué de magie, connaît un sort. Un seul. Un vieux sort des clans, le genre de sort qu'on apprend aux patriarches et qui ne sert qu'une fois, qui coûte tout ce qu'on a. — Alistair, non, dit Lyra, qui a compris aussi. Alistair ! Le sort part. Ce n'est pas grand-chose à voir : une ondulation dans l'air, un voile qui se tend entre Damian et moi, fragile comme une toile d'araignée et suffisant, peut-être, pour une seconde. Une protection. L
ScarlettLe hurlement, c'est moi qui le pousse.La lame entre dans Kaelen et la douleur m'arrive en même temps, pas atténuée, pas diluée, entière, le lien purifié ne filtre plus rien, il transmet tout, et pendant une seconde je suis à genoux sans savoir comment, une main sur mon propre côté qui ne saigne pas, et je sens sa vie qui vacille comme une flamme dans un courant d'air.— Voilà, dit Damian. Il se redresse au-dessus de Kaelen, et sa lame brille, et il y a dans sa voix quelque chose d'ivre, d'extatique, d'à peine humain. Voilà ce que ça fait. Sept ans que tu hurlais dans ma tête, cousin, sept ans de ce lien immonde qui me rappelait que tu avais ce que je méritais. Maintenant tu sais ce que c'est, quand on vous prend le trône de l'intérieur.Kaelen est au sol. Il respire encore. Il cherche mon regard, il le trouve, et même là, même comme ça, il me fait un signe infime du menton : pas encore, attends, tiens-toi.Je me tiens.
KaelenC'est à ce moment-là que la porte du fond s'ouvre.Je la sens avant de l'entendre. Une odeur, un courant d'air, quelque chose dans la pression de la salle qui change, et je me retourne, et Damian est là.Il entre seul. Il a ôté son écharpe, et son bras estropié pend le long de son corps, mort, inutile, la marque de mes crocs. Sa jambe traîne. Il est diminué, estropié, diminué de partout, sauf des yeux. Ses yeux gris n'ont jamais été aussi grands, aussi brillants, aussi fous. Parce que c'est ça que je vois, maintenant, sans plus aucun doute : la folie. Pas la folie bruyante. La folie qui calcule, qui sourit, qui a tout perdu sauf la haine et qui vit de la haine comme d'un dernier pays.— Cousin, dit-il. Tu es venu par la cave. La cave ! Le passage du vieux. Je m'en suis souvenu cette nuit, une heure trop tard. Il rit doucement. Une heure. Toute ma vie contre toi se résume à ça : une heure trop tard.Et derrière lui, dans l






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.