Share

Fondasi yang Tersembunyi

Penulis: Pilar Waisakha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 18:59:10

Pagi datang tanpa semangat. Matahari masih enggan menembus tirai kota, tapi suara perut Adelheid lebih dulu memecah kesunyian.

“Aduh… kelaparan bisa membunuh siapa pun,” gumamnya sambil membongkar laci dapur kecil safehouse tua itu. “Bahkan gadis manis sepertiku.”

Isinya menyedihkan—sisa roti kering dan satu toples selai yang mengeras seperti batu.

Di ruang tamu, Margar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rostock

    Jam dinding berdetak. Satu. Dua. Tiga. Di dalam suite VIP 404, udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Koper logam di meja sudah tertutup. Dokumen Edellicht masih berserakan seperti luka lama yang baru saja dibuka. Tak ada yang bicara. Hanya suara laut jauh di balik kaca. Lalu— klik. Lampu di langit-langit berkedip sekali. Edelheid mengangkat kepala. “...itu bukan generator normal.” Lampu mati. Ruangan tenggelam dalam gelap total. Sepersekian detik kemudian—sirene pendek meraung dari lorong. Leonhardt sudah bergerak sebelum suara kedua muncul. Tangannya menarik pistol dari dalam jas, tubuhnya berpindah ke sisi jendela dengan refleks latihan bertahun-tahun. “Lampu cadangan sepuluh detik,” gumamnya. Margarethe berdiri dari kursinya. Gaun merahnya berdesir ringan saat ia mundur satu langkah dari meja. Keller menegang di kursinya. “Apa—” Kalimatnya terpotong. Lampu darurat menyala. Merah. Koridor di luar suite berubah menjadi bayangan

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Ordo Api Kedua

    Udara malam di dek Nordlicht tajam dan asin. Angin Baltik menyapu geladak dengan dingin yang menembus kain jas. Dari dalam kapal, musik waltz masih terdengar samar—gema jauh dari dunia yang tampak elegan dan aman. Di sini, hanya ada laut. Dan bayangan. Berthold Keller berhenti di dekat pagar logam dek layanan. Bahunya menegang sedikit—gerakan kecil, tapi cukup bagi seseorang yang terbiasa membaca bahaya. Ia tidak langsung menoleh. Seorang pria yang hidup lama di dunia gelap tahu satu hal: ketika insting berbunyi, berarti seseorang sudah terlalu dekat. Langkah sepatu terdengar di belakangnya. Leonhardt muncul lebih dulu dari pintu servis. Tuxedo putihnya tetap rapi, kontras dengan dinginnya sorot mata biru yang menilai jarak, sudut tembak, dan jalur mundur hanya dalam satu pandangan singkat. Ia berhenti beberapa langkah dari Keller. Tenang. Presisi. Seolah kapal pesiar ini hanyalah ruang pertemuan pribadi. Dari sisi lain dek, langkah lain muncul dari bay

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Di Bawah Lampu Kristal

    Lorong menuju suite 313 sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Hanya deru halus mesin kapal yang bergetar di balik dinding baja. Cahaya lampu koridor jatuh hangat dan menipu—seolah tak ada bahaya di balik pintu-pintu tertutup. Adelheid berhenti di depan pintu. Troli linen di depannya, wajahnya setengah bosan seperti staf hotel yang sudah lelah shift malam. Tiga ketukan ringan. “Layanan kamar.” Kunci berputar. Pintu terbuka setengah. Seorang pria berkumis tipis, berkacamata, menatap bingung. “Maaf, Fräulein, saya tidak—” Leonhardt bergerak sebelum kalimatnya selesai. Satu langkah masuk. Satu dorongan halus ke dalam. Moncong pistol tersembunyi menempel di sisi tubuh pria itu, tepat di bawah tulang rusuk. “Masuk,” ucapnya tenang. “Pelan. Jangan berteriak.” Nada suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya lebih mengancam. Pria itu mundur. Pintu tertutup tanpa suara. Adelheid masuk terakhir, mengunci dari dalam. Leonhardt memutar pria itu ke di

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Tamu atau Mangsa

    Dek atas lebih sunyi dari yang terlihat dari bawah. Lampu-lampu pesta terkumpul di sisi barat kapal, tempat waltz dan tawa mengalir seperti sampanye yang tak pernah habis. Sisi timur—dekat pagar baja dan tangga darurat—lebih gelap. Hanya pantulan laut Baltik yang hitam berkilau, naik turun perlahan seperti napas raksasa yang sabar. Leonhardt muncul lebih dulu. Nampan kosong di tangannya, langkahnya ringan seperti pelayan yang tersesat arah. Ia tidak terlihat tergesa. Tidak terlihat waspada. Hanya… bekerja. Beberapa detik kemudian, pintu kaca terbuka pelan. Margarethe keluar. Anggun. Tenang. Seolah hanya mencari udara segar dari ruangan yang terlalu penuh. Gaunnya tertiup angin laut, siluetnya memotong cahaya redup. Terakhir, Adelheid muncul dari koridor servis, mendorong troli linen sebelum memarkirkannya di sudut gelap. Mereka tidak berdiri berdekatan. Hanya cukup dekat untuk berbicara tanpa terlihat berbicara. “Suite VIP 404,” bisik Adelheid, nadanya nyaris

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Pesta Dua Lapis

    Dek Utama Margarethe melangkah melewati pintu utama Nordlicht dengan keanggunan yang terukur. Gaun malam biru tuanya jatuh presisi di sepanjang tubuhnya. Rambut tersanggul rapi, bahu terbuka secukupnya untuk memancing perhatian—tanpa terlihat mencarinya. Ia menyerahkan kartu undangan. Petugas bersarung tangan putih memeriksa sekilas. “Fräulein Marianne von Lichtenfels.” Margarethe tersenyum tipis. “Herr.” Langkahnya ringan. Matanya bekerja. Satu sapuan pandang memetakan ruangan: — Tangga spiral menuju dek privat. — Balkon sempit menghadap laut. — Kamera tersembunyi di sudut lampu kristal. — Dua pria tanpa pasangan berdiri terlalu diam di sisi timur. Pengawal. Ia mengambil segelas sampanye dari baki pelayan. Tidak diminum. Hanya properti. “Fräulein von Lichtenfels, bukan?” suara pria tua bermonokel menghentikannya. Margarethe menoleh perlahan. Senyumnya tetap, matanya tidak. “Perjalanan panjang, Herr Doktor. Akan sia-sia jika malam seindah ini di

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Infiltrasi Nordlicht

    Hening menelan kamar penginapan tua itu. Langit di luar jendela sempit telah menghitam. Lampu jalan yang redup menembus tirai tipis, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu yang retak. Bau kayu lapuk bercampur dengan sisa mesiu yang masih melekat di mantel mereka. Tak ada yang langsung berbicara. Leonhardt duduk di kursi kayu reyot dekat meja kecil. Map Marienlied terbuka di depannya. Lembar-lembar dokumen yang mereka selamatkan dari bunker berserakan tak beraturan. Jemarinya berhenti pada satu halaman. Tanda tangan itu masih sama. F. v. R. Ia tidak marah. Dan itu justru yang paling berbahaya. Di sudut ruangan, Margarethe berdiri di dekat wastafel kecil, membersihkan sisa darah kering di pergelangan tangannya. Air keran mengalir tipis, sempat berwarna kemerahan sebelum kembali jernih. “Aku tidak merasa hancur,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Aku merasa… dijelaskan.” Adelheid yang duduk bersila di ranjang dengan laptop tua berstiker retak berhenti men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status