Share

Garis yang Ditarik dalam Diam

Penulis: Pilar Waisakha
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 13:36:35

Leonhardt menyetir tanpa musik.

Jalan pesisir memanjang gelap di depan mereka, hanya disela lampu-lampu kecil yang muncul lalu lenyap seperti pikiran yang tidak ingin diingat. Setir di tangannya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa sebagian hidupnya mungkin dibangun di atas asumsi yang salah.

Ia tidak menoleh ke kursi penumpang.

Ia tahu Margarethe ada di sana—kehadirannya terasa seperti tekanan udara yang berubah, bukan seperti suara atau gerakan. Leonhardt belajar sejak lama bahwa beberapa hal tidak perlu dilihat untuk dipastikan keberadaannya.

Ia fokus ke jalan.

Karena jika ia menoleh, ia tidak yakin apa yang akan ia lihat: wanita yang sama seperti kemarin, atau seseorang yang tiba-tiba menjadi bagian dari sejarah yang selama ini ia kejar dari jarak aman.

Ia mengingat kata-kata Ernst.

Bukan bunyinya—melainkan celahnya.

Ernst tidak pernah berbohong terang-terangan. Ia memilih diam di tempat yang tepat, menutup sebagian kebenaran den
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Surat yang Tidak Pernah Boleh Dibaca

    Margarethe langsung bergerak ke rak tengah. Jemarinya menyusuri label-label usang: Proyek Vossler. Identitas Terlindung. Rekonsiliasi Politik. Leonhardt mengamati sekeliling, senyum miring tipis muncul di sudut bibirnya. “Kau sadar kita sedang menyusup ke rumah Friedrich, kan?” “Tepat sekali, Herr von Richter,” bisik Adelheid tanpa menoleh. Matanya berbinar. “Dan kita belum tahu kau ini anak kandung atau hasil kawin silang politik.” Leonhardt mendengus lirih. “Itu lebih buruk dari makanan yang pernah kau masak.” Margarethe tidak menanggapi. “Fokus. Kalau memang ada catatan tentangku… pasti ada di sini.” Adelheid, tentu saja, membuka map lain. Ia terkikik pelan. “Eh. Ini bukan arsip rahasia.” Leonhardt menoleh cepat. “Lalu?” “Katalog gaun musim panas istri-istri petinggi militer.” Adelheid mengangkat satu halaman. “Cokelat muda, renda emas. Dan—astaga—modelnya mirip kamu, Grethe.” Margarethe menghela napas pendek. “Salah lemari, Adelheid.” Waktu b

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Diam yang Berubah Menjadi Gerak

    Leonhardt akhirnya berdiri. Bukan dengan tergesa. Bukan dengan marah. Gerakannya tenang—terlalu tenang—seperti seseorang yang sudah menyusun langkah sejak sebelum tidur dan kini hanya menjalankannya. Ia mengambil mantel dari sandaran kursi. Bunyi kain bergesek terdengar lebih jelas dari yang seharusnya. Margarethe menoleh. Untuk pertama kalinya pagi itu, tatapan mereka bertemu. Tidak ada tuduhan di sana. Tidak ada pertanyaan. Hanya pengakuan singkat bahwa keheningan ini tidak bisa dibiarkan tumbuh lebih lama tanpa berubah menjadi sesuatu yang lain. “Aku akan pergi,” kata Leonhardt. Suaranya rendah. Datar. Tidak meminta izin. Adelheid mengangkat alis. “Sendirian?” Leonhardt tidak menjawabnya. Margarethe berdiri perlahan. Kursinya berderit pelan, memecah sunyi yang sudah terlalu padat. Ia menghadap Leonhardt—bukan sebagai istri palsu, bukan sebagai subjek eksperimen, bukan sebagai apa pun yang sedang mereka takutkan untuk sebut. “Ke mana?” tanyanya singkat.

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Lingkaran yang Mulai Retak

    Pagi datang tanpa upacara. Cahaya abu-abu merembes masuk lewat jendela apartemen tua itu, jatuh di lantai kayu yang dingin dan retak. Udara masih menyimpan sisa asin laut, bercampur aroma kopi yang terlalu lama dipanaskan—pahit, nyaris hangus. Tidak ada radio. Tidak ada detak jam. Seolah ruangan itu sepakat menahan waktu, membiarkan pagi lewat tanpa pengumuman. Margarethe sudah duduk di meja makan. Ia tidak sedang makan. Cangkir di depannya masih utuh, permukaannya tak terusik. Kedua tangannya melingkar di sekeliling porselen itu—bukan untuk mencari hangat, melainkan untuk memberi batas. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya tenang dengan cara yang terlalu rapi. Bukan tenang karena damai. Tenang karena berjaga. Di seberangnya, Adelheid duduk mengenakan sweater yang kebesaran. Rambutnya masih kusut, matanya setengah terbuka—namun tidak sepenuhnya mengantuk. Ada sesuatu yang mengganggu fokusnya sejak mereka bangun. Bukan mimpi. Bukan suara. Lebih seperti perubahan tekanan udara yan

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Garis yang Ditarik dalam Diam

    Leonhardt menyetir tanpa musik. Jalan pesisir memanjang gelap di depan mereka, hanya disela lampu-lampu kecil yang muncul lalu lenyap seperti pikiran yang tidak ingin diingat. Setir di tangannya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa sebagian hidupnya mungkin dibangun di atas asumsi yang salah. Ia tidak menoleh ke kursi penumpang. Ia tahu Margarethe ada di sana—kehadirannya terasa seperti tekanan udara yang berubah, bukan seperti suara atau gerakan. Leonhardt belajar sejak lama bahwa beberapa hal tidak perlu dilihat untuk dipastikan keberadaannya. Ia fokus ke jalan. Karena jika ia menoleh, ia tidak yakin apa yang akan ia lihat: wanita yang sama seperti kemarin, atau seseorang yang tiba-tiba menjadi bagian dari sejarah yang selama ini ia kejar dari jarak aman. Ia mengingat kata-kata Ernst. Bukan bunyinya—melainkan celahnya. Ernst tidak pernah berbohong terang-terangan. Ia memilih diam di tempat yang tepat, menutup sebagian kebenaran den

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Garis yang Digeser di Dalam Gelap

    Malam telah jatuh sepenuhnya di Berlin Barat. Di ruang kerja yang tak pernah benar-benar tidur, Friedrich von Richter berdiri di depan peta tua yang menggantung di dinding. Kertasnya telah menguning, lipatannya menyimpan bekas tangan yang sama selama puluhan tahun. Jarum penunjuk distrik ditandai dengan titik-titik kecil—merah, biru, hitam—sistem klasifikasi yang hanya ia pahami sepenuhnya. Satu titik dilingkari ulang dengan pensil abu-abu: Charlottenburg. Ia tidak bergerak. Tidak duduk. Tidak menyalakan cerutu. Di belakangnya, pintu terbuka tanpa suara. Wilhelm masuk dengan langkah yang nyaris tidak terdengar, membawa sebuah amplop tipis. Warnanya pudar, seperti benda yang seharusnya tidak lagi berpindah tangan. “Konfrontasi telah terjadi, Jenderal,” ucap Wilhelm pelan. Friedrich tidak menoleh. Anggukan kecil saja sudah cukup—bukan sebagai respons, melainkan pengakuan bahwa informasi itu datang tepat waktu. Atau mungkin, terlambat. “Lambat,” kata Friedrich akh

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Kebenaran yang Disisakan Setengah

    Pintu kayu tua itu terbuka dengan bunyi yang terlalu pelan untuk sebuah rumah yang telah lama berhenti menyambut tamu. Ernst Vogel berdiri di ambang pintu. Mantel militernya masih rapi meski warnanya telah pudar, seolah waktu hanya berani menyentuh kain—bukan disiplin yang membentuk tubuhnya. Rambutnya memutih, tapi matanya tetap tajam, seperti arsip yang menolak dilupakan. Ia menatap mereka satu per satu. Margarethe. Leonhardt. Adelheid. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. “Aku tahu kenapa kalian datang,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, stabil—suara seseorang yang telah lama menyiapkan kalimat ini, tapi tak pernah berharap harus mengucapkannya. Tak ada yang menjawab. Angin malam bergerak pelan di halaman, membawa bau tanah lembap dan daun tua. Lampu teras berpendar kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang membuat jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari sebelumnya. Ernst memusatkan pandangannya pada Margarethe. “Dan aku tahu,” lanjutnya, “kau akhir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status