Share

Lingkaran yang Mulai Retak

last update Last Updated: 2026-01-05 22:48:54

Pagi datang tanpa upacara.

Cahaya abu-abu merembes masuk lewat jendela apartemen tua itu, jatuh di lantai kayu yang dingin dan retak. Udara masih menyimpan sisa asin laut, bercampur aroma kopi yang terlalu lama dipanaskan—pahit, nyaris hangus. Tidak ada radio. Tidak ada detak jam. Seolah ruangan itu sepakat menahan waktu, membiarkan pagi lewat tanpa pengumuman.

Margarethe sudah duduk di meja makan.

Ia tidak sedang makan.

Cangkir di depannya masih utuh, permukaannya tak terusik. Kedua tangannya melingkar di sekeliling porselen itu—bukan untuk mencari hangat, melainkan untuk memberi batas. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya tenang dengan cara yang terlalu rapi. Bukan tenang karena damai. Tenang karena berjaga.

Di seberangnya, Adelheid duduk mengenakan sweater yang kebesaran. Rambutnya masih kusut, matanya setengah terbuka—namun tidak sepenuhnya mengantuk. Ada sesuatu yang mengganggu fokusnya sejak mereka bangun. Bukan mimpi. Bukan suara. Lebih seperti perubahan tekanan udara yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Malam Tanpa Jeda, Pagi Tanpa Janji

    Beberapa jam kemudian. Leonhardt terbaring di tengah. Margarethe di sisi kanan, memunggunginya. Garis bahunya kaku, seolah setiap tarikan napas adalah sebuah keputusan. Adelheid di kiri, bersedekap rapat—posisi bertahan yang terlalu sadar untuk disebut tidur. Jam tua di sudut kamar berdetak pelan. Terlalu pelan. Ritmenya seperti jantung yang memilih bertahan hidup, bukan berlari. “Kalau salah satu dari kalian ngorok,” bisik Margarethe tanpa menoleh, “aku akan mengaktifkan mode penyiksaan mental.” “Aku tidak ngorok,” sergah Adelheid cepat. Leonhardt menutup mata. “Aku… cuma bicara dalam tidur.” Diam. Lalu dua suara bersamaan—tajam, refleksif: “Apa?” Sunyi kembali jatuh. Tebal. Mengendap. Leonhardt tidak tidur. Ia menghitung detik—bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk menjaga jarak dari pikirannya sendiri. Dari wajah Friedrich yang berdiri di ambang cahaya lampu. Dari nada suaranya yang terlalu tenang saat mengucapkan hal-hal yang seharusnya

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Pengasingan Bernama Alpenglück

    Setelah pengakuan malam itu, Friedrich tidak memberi mereka pilihan. Ia tidak memerintahkan dengan suara keras, tidak pula menjelaskan panjang lebar. Ia hanya mengucapkan satu kalimat—tenang, presisi, seperti keputusan yang sudah lama menunggu giliran untuk dieksekusi: “Pergilah ke Harz. Gunakan nama sandi Alpenglück. Itu satu-satunya tempat yang belum disentuh pengawasan mereka.” Tiga jam kemudian, udara dingin pegunungan menyambut mereka. Kabut menggantung rendah di antara pohon-pohon pinus, menelan suara dan jarak. Bangunan tua dari batu granit itu muncul perlahan dari balik pepohonan—bukan seperti tempat perlindungan, melainkan seperti ingatan yang menolak dikubur sepenuhnya. Lampu-lampu kecil di teras menyala redup, seolah hanya ada agar orang tahu tempat itu masih ada. Di meja resepsionis yang remang, seorang perempuan paruh baya dengan logat Saxony menyerahkan kunci kamar dengan tangan sedikit bergetar. Matanya sempat menyapu wajah mereka satu per satu, lalu berhent

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Ketika Pelarian Menjadi Perlindungan

    Peluru terakhir memantul dari bodi saat mereka berbelok tajam ke jalan samping. Margarethe mencengkeram dashboard. “Kau bisa menyetir sambil menembak?” tanyanya cepat. Leonhardt menghela napas pendek. “Tidak.” Tanpa menunggu, Margarethe membuka pintu sedikit, menggeser tubuhnya. “Pindah. Sekarang.” Leonhardt tidak membantah. Dalam satu manuver kasar, mereka bertukar posisi. Mobil nyaris tergelincir—namun Margarethe mengendalikannya dengan tajam, presisi, tanpa ragu. Adelheid terdorong ke sisi kursi belakang. “Kami pernah kabur naik mobil Ernst waktu kecil!” serunya. “Kami—nabrak sesuatu, tapi—” “Fokus!” potong Leonhardt sambil membalas tembakan dari jendela terbuka. Mobil hitam muncul dari gang kiri. Terlalu dekat. Margarethe membanting setir. BRAK. Mobil musuh terguling, menghantam pagar batu dan berhenti dengan asap mengepul. Beberapa detik kemudian, api kecil menyala. Kejaran terputus. Mereka melaju beberapa blok lagi sebelum Margarethe membel

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Nama yang Mengundang Peluru

    Friedrich menatapnya. “Von Richter,” katanya. Satu kata. Tidak dijelaskan. Tidak dipertajam. Dilempar begitu saja—cukup dekat untuk melukai, cukup kabur untuk menyesatkan. Pada detik itu, jari Margarethe mengencang di tepi map. Napasnya terhenti sepersekian denyut—bukan karena takut, melainkan karena otaknya sedang menahan diri untuk tidak menyusun makna terlalu cepat. Tatapannya tidak berkedip. “Tidak seperti yang kalian pikir,” tambah Friedrich cepat, sebelum kesimpulan terbentuk. “Bukan hubungan langsung. Ada cabang. Percabangan lama. Terlalu tua untuk dicatat rapi.” Margarethe mengangkat kepala. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam. “Jadi siapa aku sekarang?” tanyanya. “Anak musuh? Sisa eksperimen? Atau alat yang kalian lupa matikan?” Leonhardt menoleh padanya. Bukan dengan kaget. Dengan sesuatu yang lebih berbahaya: penilaian ulang. “Kau bukan milik sistem mana pun,” katanya pelan. “Dan bukan produk siapa pun.” Ia menarik napas. “Kau memilih tetap

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Surat yang Tidak Pernah Boleh Dibaca

    Margarethe langsung bergerak ke rak tengah. Jemarinya menyusuri label-label usang: Proyek Vossler. Identitas Terlindung. Rekonsiliasi Politik. Leonhardt mengamati sekeliling, senyum miring tipis muncul di sudut bibirnya. “Kau sadar kita sedang menyusup ke rumah Friedrich, kan?” “Tepat sekali, Herr von Richter,” bisik Adelheid tanpa menoleh. Matanya berbinar. “Dan kita belum tahu kau ini anak kandung atau hasil kawin silang politik.” Leonhardt mendengus lirih. “Itu lebih buruk dari makanan yang pernah kau masak.” Margarethe tidak menanggapi. “Fokus. Kalau memang ada catatan tentangku… pasti ada di sini.” Adelheid, tentu saja, membuka map lain. Ia terkikik pelan. “Eh. Ini bukan arsip rahasia.” Leonhardt menoleh cepat. “Lalu?” “Katalog gaun musim panas istri-istri petinggi militer.” Adelheid mengangkat satu halaman. “Cokelat muda, renda emas. Dan—astaga—modelnya mirip kamu, Grethe.” Margarethe menghela napas pendek. “Salah lemari, Adelheid.” Waktu b

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Diam yang Berubah Menjadi Gerak

    Leonhardt akhirnya berdiri. Bukan dengan tergesa. Bukan dengan marah. Gerakannya tenang—terlalu tenang—seperti seseorang yang sudah menyusun langkah sejak sebelum tidur dan kini hanya menjalankannya. Ia mengambil mantel dari sandaran kursi. Bunyi kain bergesek terdengar lebih jelas dari yang seharusnya. Margarethe menoleh. Untuk pertama kalinya pagi itu, tatapan mereka bertemu. Tidak ada tuduhan di sana. Tidak ada pertanyaan. Hanya pengakuan singkat bahwa keheningan ini tidak bisa dibiarkan tumbuh lebih lama tanpa berubah menjadi sesuatu yang lain. “Aku akan pergi,” kata Leonhardt. Suaranya rendah. Datar. Tidak meminta izin. Adelheid mengangkat alis. “Sendirian?” Leonhardt tidak menjawabnya. Margarethe berdiri perlahan. Kursinya berderit pelan, memecah sunyi yang sudah terlalu padat. Ia menghadap Leonhardt—bukan sebagai istri palsu, bukan sebagai subjek eksperimen, bukan sebagai apa pun yang sedang mereka takutkan untuk sebut. “Ke mana?” tanyanya singkat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status