MasukMalam turun perlahan, tanpa suara peringatan. Rumah itu kembali sunyi—sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hening yang kosong, melainkan hening yang sarat, seperti udara sebelum hujan benar-benar jatuh. Margarethe masih di loteng. Kotak peninggalan itu terbuka di hadapannya, isinya tertata rapi—foto-foto lama, pita bayi, kertas yang terlalu rapuh untuk dipaksa mengingat lebih jauh. Cahaya lampu kecil menggantung rendah, menorehkan bayang di dinding miring. Setiap bayang terasa seperti pertanyaan yang belum menemukan kalimatnya. Ia menutup mata sejenak. Di dalam dadanya, sesuatu retak—bukan pecah, bukan runtuh. Retak yang panjang, sabar, dan jujur. Dinding-dinding yang selama ini menahan dunia agar tidak masuk terlalu dalam, kini bergeser sedikit. Cukup untuk membuatnya bernapas—dan cukup untuk membuatnya takut. “Kalau semua ini benar…” suaranya keluar pelan, hampir tak terdengar, “kalau aku hanya hasil eksperimen yang selamat… lalu apa artinya hidup yang sudah kujalani?”
Senja belum sepenuhnya turun, tapi langit sudah menggantungkan warna kelabu di atas kota. Rumah itu sunyi—seperti jiwanya. Angin mengetuk pelan jendela tua yang mulai berderit, seolah mengabarkan bahwa badai telah lewat, namun meninggalkan puing yang tak terlihat. Ernst dan Adelheid baru saja pulang. Mereka hampir tidak bicara sepanjang perjalanan—hanya suara mesin mobil, dan sesekali tarikan napas berat dari Ernst, seperti seseorang yang menahan sesuatu terlalu lama hingga lupa cara melepaskannya. Begitu mobil berhenti, Adelheid turun lebih dulu. Langkahnya tergesa menaiki tangga, seolah ada sesuatu yang harus ia pastikan sebelum keberanian itu surut. Pintu kamar Margarethe tidak terkunci. Cahaya pucat dari jendela menyapu lantai kayu, menyentuh bahu Margarethe yang duduk membelakangi pintu, menghadap ke luar. Bahunya tegap, diam—seperti patung yang menjaga luka dalam senyap. Ia tidak menoleh ketika Adelheid masuk. Tidak perlu. Adelheid melangkah perlahan, lalu duduk di s
Ernst Vogel sudah berdiri di tengah ruangan. Mantelnya rapi. Topinya ia pegang di tangan. Posturnya tegap, meski usia telah menarik garis-garis lelah di wajahnya. Ia tidak mencari-cari Adelheid. Tidak menanyakan kabar. Tatapannya lurus—hanya tertuju pada dua orang: Friedrich von Richter dan Leonhardt. Friedrich duduk di kursinya, kaki tersilang, tangan bertumpu tenang di sandaran. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. Seolah kunjungan ini telah lama ia masukkan ke dalam jadwal batinnya. Leonhardt masuk terakhir. Saat tatapannya bertemu dengan Ernst, ia tahu—ini bukan kunjungan keluarga. Ini konfrontasi yang tertunda terlalu lama. Ruang tamu terasa menyempit. Friedrich bersuara lebih dulu, nadanya terlalu tenang untuk percakapan ayah-anak. “Putrimu,” katanya, seolah menyebut statistik, “pernah mengatakan ingin menikahi Leonhardt.” “Aku tujuh tahun,” potong Adelheid cepat. Wajahnya memerah. “Aku bahkan tidak tahu itu keinginanku sendiri atau cuma suara orang dew
Sementara Margarethe kembali ke rumah yang membesarkannya, Leonhardt dan Adelheid menuju ke arah berlawanan. Mobil hitam itu berhenti di halaman rumah von Richter dengan bunyi mesin yang dimatikan perlahan—seolah bahkan mesin pun tahu tempat ini tidak menyukai suara mendadak. Udara malam terasa lebih dingin di sini, bukan karena cuaca, melainkan karena ingatan. Rumah itu berdiri seperti biasa: besar, simetris, dan tak ramah terhadap spontanitas. Lebih menyerupai markas pensiunan jenderal daripada tempat bernapas manusia. Adelheid melepas sabuk pengaman, menghembuskan napas pelan. “Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke rumah ini,” gumamnya, setengah pada dirinya sendiri. Leonhardt membuka pintu. Engselnya berderit lirih. “Karena segalanya dimulai dari sini,” jawabnya singkat. Mereka masuk. Di dalam, rumah itu terlalu sepi. Bukan sepi malam—melainkan sepi yang disengaja, sepi yang dipelihara. Lampu-lampu menyala seperlunya. Tidak ada pelayan. Tidak ada radio. Tidak
Ernst bangkit dari kursi goyangnya. Gerakannya lambat, bukan karena ragu, melainkan karena tubuh renta itu sudah terlalu sering menanggung keputusan yang tak pernah ringan. Tangannya berhenti sejenak di gagang pintu—seolah ia telah tahu siapa yang berdiri di baliknya, bahkan sebelum kunci diputar. Pintu terbuka. Di bawah cahaya lampu teras yang redup, Margarethe berdiri. Rambutnya kusut. Mantel panjangnya basah dan berdebu, seperti seseorang yang berjalan jauh tanpa benar-benar tahu ke mana arah langkahnya. Matanya sembab—bukan karena tangis, melainkan karena terlalu lama menahan sesuatu yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Ia tidak berkata apa-apa. Ia melangkah masuk—dan memeluk Ernst. Pelukan itu tidak tergesa. Tidak kuat. Pelukan seorang anak yang akhirnya kelelahan berpura-pura menjadi dewasa. Ernst membeku. Beberapa detik pertama, ia tidak membalas. Tangannya menggantung di udara—bukan karena tak ingin, melainkan karena dadanya terlalu penuh. Lalu, perlahan, tangann
Malam itu, di dalam mobil tua yang berbau kabel hangus dan debu arsip sejarah, mereka duduk dalam diam. Seperti tiga arwah yang baru saja lolos dari liang waktu—tidak sepenuhnya hidup, tidak sepenuhnya bebas. Adelheid duduk di kursi depan, meregangkan tubuh dengan gerakan berlebihan, lalu menguap keras. “Aku rasa aku baru saja memecahkan rekor dunia,” gumamnya, “menyelinap tercepat dari kejaran anjing penjaga.” Margarethe menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Senyum tipis—lelah—tertarik di sudut bibirnya. “Itu bukan anjing,” katanya datar. “Itu petugas kebersihan.” Leonhardt tidak ikut menanggapi. Ia duduk di samping Adelheid, membuka map hasil penyusupan. Tangannya berhenti di satu lembar surat berkop lusuh. Tinta hitamnya tebal, tegas—tulisan tangan yang terlalu ia kenal. Sorot matanya berubah. “Ini…” gumamnya pelan. “Surat dari ayahku. Ditujukan pada seseorang bernama Tangan Kiri.” Ia menarik napas singkat. “Ini bukan prosedur militer. Ini jaringan bayangan.”







