Share

Rumah yang Menyimpan Nama Ibu

last update Last Updated: 2026-01-22 12:28:04

Bangunan itu berdiri seperti sisa mimpi yang lupa dibangunkan—bergaya art nouveau, indah dalam kelelahan.

Dindingnya retak, catnya mengelupas seperti kulit tua, namun lengkung jendelanya masih menyimpan keanggunan dari masa ketika rumah itu dibangun untuk kehidupan, bukan pelarian.

“Ini tempatnya?” tanya Leonhardt pelan.

Margarethe mengangguk. Tatapannya tertambat pada kaca jendela yang buram oleh embun dan hujan.

“Surat terakhir ditulis di sini,” ucapnya lirih.

“Nadanya… seperti seseorang yang mengucapkan selamat tinggal, tapi belum siap pergi.”

Leonhardt menoleh sedikit.

“Kau yakin ingin masuk?”

Margarethe menatapnya. Sebuah senyum tipis muncul—bukan karena tenang, tapi karena tak ada pilihan lain.

“Aku tidak datang untuk mengenang,” katanya.

“Aku datang untuk tahu.”

Adelheid mendengus pelan.

“Tempat seperti ini biasanya penuh dua hal: nostalgia dan jebakan.”

Sebelum salah satu dari mereka melangkah, pintu belakang rumah itu terbuka perlahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Pintu yang Dijaga Bayangan

    Mereka bertiga melangkah menyusuri jalur sempit yang memotong lereng pegunungan. Salju yang jatuh semalam telah memadat, membuat setiap langkah berbunyi pelan—seperti bisikan yang enggan terdengar terlalu jelas. Kabut tipis melayang rendah di antara pepohonan cemara, menyamarkan jarak dan arah. Dunia seakan mengecil menjadi garis putih, bayangan gelap, dan tiga sosok yang bergerak pelan di antaranya. “Adelheid, bisa lebih pelan sedikit?” bisik Leonhardt tanpa menoleh. “Langkahmu seperti rombongan pawai. Bahkan domba di desa bawah bisa mendengar kau mengeluh.” Adelheid mendengus. “Maaf. Aku belum sekolah jadi James Bond.” “James Bond tidak pakai parfum sebanyak itu,” gumam Margarethe, setengah geli. “Aku gugup!” sahut Adelheid cepat. “Parfum lavender menenangkan saraf. Itu ilmu pengetahuan. Kau bisa cek nanti.” Margarethe mendesah kecil. Leonhardt hanya menunduk sebentar—entah menahan tawa atau sekadar menarik napas. Tak lama kemudian, di balik kabut dan pepohonan, munc

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Rahasia yang Terlihat di Lorong Sunyi

    Matanya melebar. Napasan kecil tercekat di tenggorokannya. Ia tidak bersuara. Hanya… melihat. Di dalam, Leonhardt seketika tersadar. Ia bergerak cepat—bukan panik, tapi refleks seorang pria yang tahu apa yang harus dilindungi. Ia melepaskan diri dan membaringkan Margarethe perlahan di atas kasur. Selimut ditarik ke atas tubuhnya. Gerakannya hati-hati, seolah dunia bisa pecah jika terlalu keras. Lalu ia berdiri dan melangkah keluar kamar. Pintu ditutup dari luar. Di lorong motel yang dingin dan sunyi, Leonhardt dan Adelheid berdiri berhadapan. Tak satu pun langsung bicara. Leonhardt merapikan dasinya yang kusut, jasnya yang miring—gerakan kecil, mekanis, seperti sedang mencoba menyusun kembali sesuatu yang tak bisa benar-benar dirapikan. Akhirnya Adelheid membuka suara. Nadanya masih terguncang. “Barusan itu…” “…termasuk misi rahasia?” Leonhardt menghela napas. Ia tidak menatapnya saat menjawab. “Anggap saja… kau tidak melihatnya.” Hening. “Karena ini…

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Operasi di Atas Seprai

    “Lain kali,” gumam Adelheid sambil menyeringai, “kita biarkan dia latihan vokal dulu sebelum menyanyikan lagu kebangsaan dalam mode jazz-blues.” Leonhardt sudah berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai kayu. “Kita pulang.” Adelheid hendak ikut bangkit, tapi pria tua itu meraih pergelangan tangannya. Jarinya gemetar—antara alkohol dan sesuatu yang lebih lama terkubur. “Hey, nona… kau belum menunjukkan kemampuanmu,” katanya dengan tawa serak. “Sekarang giliranmu.” Adelheid menoleh dengan senyum yang tiba-tiba berubah berbahaya. “Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan menyesal.” Di meja, Margarethe terkekeh kecil—suara pecah yang lebih mirip desahan—lalu kepalanya jatuh ke atas permukaan kayu. Adelheid langsung menoleh pada Leonhardt. “Bawa dia pulang. Aku beri satu pertunjukan untuk pria tua ini.” Leonhardt mendengus. “Kalau kau tidak muncul dalam satu jam, aku kirim pasukan pencari.” Adelheid sudah melangkah menuju panggung kecil. “Kalau aku ditangkap,” kat

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Blues di Bawah Asap dan Bir

    Beberapa menit kemudian, sudah ada tiga gelas di depan mereka. Margarethe menenggak yang pertama terlalu cepat. Yang kedua lebih pelan. Yang ketiga… dengan senyum miring. Leonhardt menatapnya ragu. “Kau yakin ini ide bagus?” “Aku hanya sedang… beradaptasi dengan budaya lokal,” katanya ringan—kalimat yang persis sama seperti dulu, tapi kini terdengar jauh lebih rapuh. Adelheid terkekeh. “Dia tidak pernah mabuk di rumah Ernst. Ini… versi pascaperang.” Margarethe menoleh, matanya berkilau oleh alkohol dan sesuatu yang lebih dalam. “Kau tahu apa yang lucu? Selama ini aku hidup seolah aku harus selalu mengendalikan segalanya. Ternyata… aku bahkan tidak tahu siapa yang menuliskannya.” Leonhardt tidak menjawab. Ia hanya menatapnya—lebih lama dari yang seharusnya. Lalu, tanpa peringatan, Adelheid berdiri dan melompat ke panggung kecil di sudut ruangan, meraih gitar dari salah satu pemain musik. “Perhatian, dunia!” serunya. “Lagu ini untuk kakakku yang keras kepala… dan pria ne

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Umpan untuk Ayah yang Hilang

    Ruangan seakan kehilangan suhu. Leonhardt perlahan menurunkan pistol—bukan karena percaya, tapi karena instingnya mengatakan satu hal: ini bukan ancaman yang bisa ditembak. “Nama itu bahkan tidak muncul di arsip ayahku,” katanya pelan. “Karena seseorang memastikan begitu,” jawab pria itu. “Dan seseorang itu sangat berkuasa.” Margarethe menatap foto itu. Jari-jarinya sedikit bergetar saat menyentuh tepi kertas. “Dia…” suaranya hampir tak terdengar, “…ayah kami?” Pria itu mengangguk tipis. “Ilmuwan utama dalam pengembangan program biologis generasi baru. Menghilang sebelum Reich runtuh. Kami mengejarnya hampir sepuluh tahun.” Adelheid menutup wajahnya dengan satu tangan. “Oke. Ini sudah masuk wilayah telenovela perang dingin.” Leonhardt menatap pria itu tajam. “Dan Friedrich tahu tentang ini.” “Lebih dari yang kalian kira,” jawabnya. Ia menutup koper perlahan. “Dan jika kami benar… Margarethe bukan hanya bagian dari sejarah ini.” Ia menatap Margarethe lurus-lur

  • ERBLINIE: Warisan Dosa dan Pernikahan Palsu Sang Agen   Ketika Sejarah Mengetuk Pintu

    Udara dini hari merayap masuk lewat celah-celah jendela kayu apartemen, membawa dingin yang tak sekadar menyentuh kulit—melainkan ingatan. Hujan belum benar-benar berhenti. Tetesannya masih jatuh pelan di luar, seperti jam yang menolak bergerak maju. Di ruang tengah yang sempit, lampu kecil menyala pucat. Margarethe duduk di kursi kayu dekat jendela. Rambutnya masih lembap, beberapa helai menempel di pipinya. Mantelnya belum ia lepaskan sepenuhnya—seolah ia tak yakin ruangan ini benar-benar tempat yang aman untuk menanggalkan apa pun. Di atas meja, map merah bersegel tergeletak. Warisan Friedrich. Tak satu pun dari mereka menyentuhnya. Leonhardt masuk dari lorong belakang. Sepatunya basah, mantel kulitnya masih menahan bau hujan dan logam. Tatapannya langsung tertuju pada punggung Margarethe—siluet yang tampak lebih kecil dari biasanya di balik kaca buram. Ia mengambil selimut dari sandaran kursi lain dan mendekat. Gerakannya pelan, hampir hati-hati. Selimut itu disamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status