LOGINKerut di dahi Friedrich semakin dalam. Matanya bergerak dari baris ke baris, lambat—terlalu lambat untuk seseorang yang biasanya membaca laporan medan perang dalam sekejap. Akhirnya, ia mendengus pelan. “Kupikir dia mati sebagai Albrecht,” gumamnya. “Ternyata dia memilih hidup sebagai Ernst.” Leonhardt menyipitkan mata. “Jadi… Ayah tahu?” Friedrich menatapnya. “Tentu. Kami dulu satu sel. Setelah Reich runtuh dan dunia berubah, hanya ada dua pilihan: menghilang, atau menyamar. Albrecht memilih menyamar—menghapus jejak Ernst yang asli, lalu mengenakan namanya.” Margarethe melangkah maju. “Dia tak pernah memberitahuku siapa ibuku sebenarnya. Hanya bilang dia wanita yang ia cintai… dan gagal ia selamatkan.” Friedrich menatapnya lama. “Dia menyelamatkanmu,” katanya akhirnya. “Itu sudah lebih dari yang bisa dilakukan kebanyakan pria di masa itu.” Adelheid tak bisa menahan diri. “Lalu kenapa semua ini disembunyikan? Kenapa membuat kami hidup dalam dua versi kebenaran?” Friedr
Sore itu jatuh dengan cara yang sunyi. Kabut menggantung di balik jendela pondok seperti tirai tipis yang menolak terbuka. Dunia di luar tampak jauh—seolah pegunungan, hutan, dan jalan setapak hanyalah latar bagi sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam yang kini menunggu di ruangan ini. Di meja kayu yang dingin, Margarethe duduk membatu. Di hadapannya: koper tua yang baru saja mereka terima. Permukaannya penuh goresan, sudut-sudutnya terkikis, tapi ada sesuatu pada bentuknya yang terasa disengaja—seperti benda yang tak pernah dimaksudkan untuk dibuang. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan kunci kecil dari balik mantelnya. Klik. Bunyi itu lembut—tapi di dadanya, terdengar seperti dentuman. Adelheid berdiri di sampingnya, bahu kaku, bibir tergigit tanpa sadar. Leonhardt duduk di ujung sofa, punggung tegak, mata birunya tak lepas dari koper itu—refleks seorang agen yang menghadapi bahan peledak, meski yang dihadapi kali ini adalah sejarah. Saat koper terbuka, udara d
Mereka bertiga melangkah menyusuri jalur sempit yang memotong lereng pegunungan. Salju yang jatuh semalam telah memadat, membuat setiap langkah berbunyi pelan—seperti bisikan yang enggan terdengar terlalu jelas. Kabut tipis melayang rendah di antara pepohonan cemara, menyamarkan jarak dan arah. Dunia seakan mengecil menjadi garis putih, bayangan gelap, dan tiga sosok yang bergerak pelan di antaranya. “Adelheid, bisa lebih pelan sedikit?” bisik Leonhardt tanpa menoleh. “Langkahmu seperti rombongan pawai. Bahkan domba di desa bawah bisa mendengar kau mengeluh.” Adelheid mendengus. “Maaf. Aku belum sekolah jadi James Bond.” “James Bond tidak pakai parfum sebanyak itu,” gumam Margarethe, setengah geli. “Aku gugup!” sahut Adelheid cepat. “Parfum lavender menenangkan saraf. Itu ilmu pengetahuan. Kau bisa cek nanti.” Margarethe mendesah kecil. Leonhardt hanya menunduk sebentar—entah menahan tawa atau sekadar menarik napas. Tak lama kemudian, di balik kabut dan pepohonan, munc
Matanya melebar. Napasan kecil tercekat di tenggorokannya. Ia tidak bersuara. Hanya… melihat. Di dalam, Leonhardt seketika tersadar. Ia bergerak cepat—bukan panik, tapi refleks seorang pria yang tahu apa yang harus dilindungi. Ia melepaskan diri dan membaringkan Margarethe perlahan di atas kasur. Selimut ditarik ke atas tubuhnya. Gerakannya hati-hati, seolah dunia bisa pecah jika terlalu keras. Lalu ia berdiri dan melangkah keluar kamar. Pintu ditutup dari luar. Di lorong motel yang dingin dan sunyi, Leonhardt dan Adelheid berdiri berhadapan. Tak satu pun langsung bicara. Leonhardt merapikan dasinya yang kusut, jasnya yang miring—gerakan kecil, mekanis, seperti sedang mencoba menyusun kembali sesuatu yang tak bisa benar-benar dirapikan. Akhirnya Adelheid membuka suara. Nadanya masih terguncang. “Barusan itu…” “…termasuk misi rahasia?” Leonhardt menghela napas. Ia tidak menatapnya saat menjawab. “Anggap saja… kau tidak melihatnya.” Hening. “Karena ini…
“Lain kali,” gumam Adelheid sambil menyeringai, “kita biarkan dia latihan vokal dulu sebelum menyanyikan lagu kebangsaan dalam mode jazz-blues.” Leonhardt sudah berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai kayu. “Kita pulang.” Adelheid hendak ikut bangkit, tapi pria tua itu meraih pergelangan tangannya. Jarinya gemetar—antara alkohol dan sesuatu yang lebih lama terkubur. “Hey, nona… kau belum menunjukkan kemampuanmu,” katanya dengan tawa serak. “Sekarang giliranmu.” Adelheid menoleh dengan senyum yang tiba-tiba berubah berbahaya. “Baiklah, kalau itu maumu. Tapi jangan menyesal.” Di meja, Margarethe terkekeh kecil—suara pecah yang lebih mirip desahan—lalu kepalanya jatuh ke atas permukaan kayu. Adelheid langsung menoleh pada Leonhardt. “Bawa dia pulang. Aku beri satu pertunjukan untuk pria tua ini.” Leonhardt mendengus. “Kalau kau tidak muncul dalam satu jam, aku kirim pasukan pencari.” Adelheid sudah melangkah menuju panggung kecil. “Kalau aku ditangkap,” kat
Beberapa menit kemudian, sudah ada tiga gelas di depan mereka. Margarethe menenggak yang pertama terlalu cepat. Yang kedua lebih pelan. Yang ketiga… dengan senyum miring. Leonhardt menatapnya ragu. “Kau yakin ini ide bagus?” “Aku hanya sedang… beradaptasi dengan budaya lokal,” katanya ringan—kalimat yang persis sama seperti dulu, tapi kini terdengar jauh lebih rapuh. Adelheid terkekeh. “Dia tidak pernah mabuk di rumah Ernst. Ini… versi pascaperang.” Margarethe menoleh, matanya berkilau oleh alkohol dan sesuatu yang lebih dalam. “Kau tahu apa yang lucu? Selama ini aku hidup seolah aku harus selalu mengendalikan segalanya. Ternyata… aku bahkan tidak tahu siapa yang menuliskannya.” Leonhardt tidak menjawab. Ia hanya menatapnya—lebih lama dari yang seharusnya. Lalu, tanpa peringatan, Adelheid berdiri dan melompat ke panggung kecil di sudut ruangan, meraih gitar dari salah satu pemain musik. “Perhatian, dunia!” serunya. “Lagu ini untuk kakakku yang keras kepala… dan pria ne







