LOGINSetelah menyampaikan niatnya Samudra tidak langsung pergi dari rumah, sempat mengobrol bersama Husein di halaman samping dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa camilan sore. Hujan juga menguyur kota, tadi. Jadi kedua orangtuanya menyarankan Samudra untuk tetap tinggal. Bahkan lelaki itu ditawari untuk ikut makan malam bersama sebelum pamit pulang ke rumah.Perihal lamaran memang belum mendapat jawaban pasti, tetapi bukan berarti orang tua Naya abai atau membenci Samudra. Lagipula lelaki itu bukan sosok asing di keluarga Ganendra. Kedua orang tua Naya hanya perlu diyakinkan jika meraka tidak salah akan menyerahkan putri bungsunya kepada Samudra."Cerita apa aja sama Mamah, Papah?" tanya Naya ketika keduanya sudah berada di parkiran. "Cerita kita udah tidur bareng juga?" lanjut Naya sarkas yang berhasil membuat Samudra menoleh menatapnya."Tidak."Naya mengganguk lalu memalingkan muka menatap kearah lain, seperti enggan bertatapan dengan lelaki itu. "Aku kira Dokt
"Username aja 17, eh ternyata umurnya udah 36 tahun. Gue ngga nyangka ya selera lo malah jauh banget dari seorang Nathan ke Samudra—ralat Om Samudra!" "Stev!" Naya lagi-lagi merengek. "Udah dong, ngeroasting mulu ih, ngga berhenti-berhenti." Stevani mendelik menatap Naya beberapa saat, lalu kembali menatap ke depan memperhatikan jalanan yang dilaluinya, tangannya sibuk memegang stir, tetapi mulutnya sedari tadi tidak bisa diam berkomentar ini dan itu tentang Samudra. "Ya gue ngga habis pikir aja, Nay. Lo bukan seorang fatherless, bukan juga dari keluarga broken home. Kenapa harus Samudra yang umurnya jauh lebih tua? Sepemahaman gue cewe-cewe fatherless atau ngga broken home yang biasanya nyari cowok yang lebih tua karena dia butuh sosok laki-laki dewasa yang bisa diandelin di hidupnya. Lah lo... keluarga cemara parah, tajir—apa yang kurang?" Naya masih cemberut, Stevani ini benar-benar tidak berhenti sedari tadi, sibuk
"Really!"Naya mengangguk pelan, ia sudah menebak bagaimana reaksi sahabatnya ketika ia memberi tahu tentang Samudra."Ini udah ke calon suami banget? Kedua orang tua lo tahu, Bang Devan?" Stevani bertanya, keningnya tampak mengernyit seolah masih banyak kebingungan yang ia rasakan."Bang Dev tahu, Mamah sama Papah ngga... lebih tepatnya belum tahu," jawab Naya pelan, entah mengapa atmosfer di kamar ini terasa tidak nyaman. Naya tahu, dirinya akan dihujani banyak sekali pertanyaan setelah ini."Samudra lho, Nay. Kakak tirinya Disya. Lo yakin?""...."Tidak menjawab, Naya mengangguk pelan.Stevani terperangah, gadis itu sampai bangun dari tempat tidur, mengusap wajahnya frustasi. "Lo bohong kan?"Lagi-lagi, Naya menggeleng."Wait—" Stevani menjeda kalimatnya, perempuan itu tampak memegang kepalanya yang mungkin saja berdenyut sakit karena baru saja mendengar fakta mengejutkan dari sahabatnya. "Jangan-jangan alasan lo tiba-tiba mutusin Nathan karena
Naya menatap dirinya di cermin, ia baru selesai mandi. Kalau boleh jujur selama tiga hari kemarin gadis itu benar-benar tidak mandi, yang ia lakukan hanya berbaring di kasur meratapi kesedihannya, tetapi ia memutuskan untuk mandi pagi ini karena tubuhnya benar-benar sudah tidak terasa nyaman. Semalam sepertinya tidurnya cukup nyenyak dipelukan Mamahnya, hal itu juga yang membuat moodnya cukup baik pagi ini. Naya bangun tepat pukul delapan pagi, sudah tidak ada sang Mamah ketika ia bangun. Setelah mengeringkan rambut, Naya teringat jika semalam Samudra menelpon—matanya dengan cepat mencari handphonenya di atas kasur yang belum dibereskan, tetapi rupanya handphone miliknya berada di atas nakas sedang diisi daya, keningnyanya mengernyit karena seingatnya handphone itu ada di gengamannya semalam, paling tidak handphonenya tergeletak di kasur kalaupun ia ketiduran. Buru-buru mengecek handphonenya—Mamahnya pasti yang menyimpan handphone miliknya di atas nakas.
Justru aneh jika mereka berdua langsung setuju, kan? Devan begitu sangat menentang hubungan Samudra dan Naya, lelaki itu bener-benar tidak percaya dengan cerita cinta keduanya."Alasan kamu berpisah dengan Nathan, dan memutuskan menetap di Lampung, karena Samudra?"Naya hanya mengangguk pelan.Keduanya sudah berada di dalam mobil yang masih terparkir di area parkiran resto."Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Devan menatap Naya dengan raut khawatir."Dulu, jauh sekali sebelum Nay tahu Dokter Sam adalah Kakak Disya. Kita tanpa sengaja bertemu di klub. Kita tidur bersama, tidak apa pemaksaan, kita berdua melakukannya begitu saja."Jawaban itu sudah Naya hapal dengan baik. Hatinya sakit— semua penjelasannya adalah kebohongan. Dadanya juga terasa sesak ketika melihat raut kecewa kakak lelakinya setelah ia menjelaskan, Devan terlihat memijat pelipisnya, memalingkan muka menatap ke luar jendela mobil dengan tangannya yang sudah mengepal kuat.Naya menunduk dalam, mencoba untuk berhenti men
Samudra menghela napas untuk yang kesekian kalinya ketika dia sudah duduk di sofa ruang tengah, berhadapan dengan Gina yang sedang menatapnya dengan maniknya yang berkaca menyiratkan kekecewaan. "Kita berdua tidak saling mencintai, Mah. Raina juga sebenarnya mencintai Wisnu, bukan aku—" "Lalu kamu mencintai siapa?" tanya Gina cepat memotong ucapan Samudra. "Ada... seseorang, nanti aku kenalkan." Gina menggeleng pelan. "Terserah! Mamah peringatkan saja sejak awal, jangan salahkan Mamah kalau Mamah akan selalu membandingkan perempuan yang kamu pilih dengan Raina," katanya lalu beranjak pergi meninggalkan Samudra seorang diri. Jelas kedatangan Samudra ke rumah untuk menjelaskan alasan hubungan pertunangannya dengan Raina berakhir, tidak akan berujung baik, Gina marah—Samudra tahu, dia juga menebak hal seperti ini akan terjadi. Gina salah satu yang sangat-sangat setuju tentang hubungan Samudra dan Raina, bisa dibilang Raina adalah sosok menantu idaman, tidak hanya mempunyai paras yan
Naya datang ke klub untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Tadinya Naya tidak berniat datang, namun salah satu temannya terus membujuk. Bahkan temannya itu merengek, mengatakan jika Naya sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya, banyak yang merindukannya. Mengingat sudah sekitar tig
Naya menundukkan wajahnya dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, kedua tangannya saling menggenggam erat."Diminum dulu," seorang perempuan memakai jas dokter membawakan segelas air hangat untuk Naya.Naya menerimannya, dan dengan segera meneguknya. "Te—terima kasih
"Kenapa Nenek ngga minta gue buat jadi suami lo ya, Rai?" dumel Widi di sela menikmati makanannya. Membuat beberapa orang di meja makan terkekeh mendengar ucapan lelaki itu kecuali—Samudra. "Nenek mau cucu menantu seorang dokter bukan artis seperti kamu, Wid!" jawab Didi asal yang semakin membuat
Samudra menghembuskan napanya kasar, lelaki itu tidak sedang dalam kondisi baik, memukul samsak boxing dengan membabi buta, meluapkan segala emosi yang mengganjal di dalam hatinya. "Bang Sam...." Seorang perempuan memanggilnya, membuat atensi Samudra teralihkan, memandang perempuan yang memanggil







