Share

Bab 2

Author: Peachy
Sambungan telepon itu mendadak hening.

Dari kejauhan, aku masih bisa mendengar suara-suara samar di ruang kerja Rinto, disusul bunyi kursi yang digeser. Jelas dia sedang rapat. Teleponku pasti baru saja memotong sesuatu yang penting.

"Rapat selesai." Suara Rinto terdengar tegas, rendah, dan penuh wibawa. "Semua keluar."

Suara langkah kaki perlahan menjauh. Pintu tertutup. Kini hanya tinggal kami berdua.

"Tiga tahun, Aurel." Suara Rinto berubah sedingin es. "Tiga tahun sejak kamu memilih memusuhi Keluarga Maulana demi melindungi bajingan itu. Dan sekarang kamu meneleponku? Kamu cuma ingat namaku saat hidupmu sedang kacau?"

Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan lama kembali menyerbu.

Kami tumbuh bersama. Rinto selalu mengikuti di belakangku, seperti setia yang menjaga tuan putrinya. Dia bahkan menolak masuk universitas unggulan demi ikut kuliah di universitas yang sama denganku.

Namun saat itu, yang kuinginkan hanya satu, yaitu kabur dari keluargaku, kabur dari takdir yang sudah dituliskan untukku sejak awal. Kemudian, aku jatuh cinta pada Viktor, pria yang selalu membuat jantungku berdebar.

Pada malam kelulusan kami, Rinto menyatakan perasaannya.

"Aurel, menikahlah denganku. Kamu tahu ini yang selalu aku inginkan. Aku rela ...."

Namun, aku memotong ucapannya. Tanpa belas kasihan.

"Aku nggak bakal pernah menikah denganmu, Rinto. Nggak akan pernah."

Aku dengar malam itu dia mabuk sampai tidak sadarkan diri. Orang-orang bilang dia berjalan menyusuri jalanan Chilago sampai matahari terbit.

"Ya," jawabku pelan, suaraku datar. "Aku sedang dalam masalah."

"Heh." Rinto mendengus sinis. "Akhirnya putri Keluarga Suwandi mengakui kalau dia memilih pria yang salah?"

Aku bertaruh untuk seorang pria jalanan dan mengira dia seorang raja," kataku hampa. "Ternyata aku salah."

Sambungan itu kembali sunyi selama beberapa detik.

Aku bisa merasakan keterkejutannya. Mungkin juga ... rasa sakitnya?

"Tapi ...," lanjutku, rasa lelah mendadak menghantam seluruh tubuhku. "Kalau kamu nggak tertarik, lupakan saja. Lamaran pernikahan tadi cuma ide gilaku."

Aku hendak menutup telepon.

"Jangan berani-beraninya memutus teleponku."

Suara Rinto membentak tajam, seperti perintah yang tidak memberi ruang untuk dibantah.

"Buka kembali semua jalur komunikasi aman kita. Semuanya. Sekarang."

Aku terdiam.

"Kirim lokasimu. Sebulan lagi, aku akan datang menjemputmu sendiri." Suaranya melunak, tetapi ancamannya masih terasa jelas. "Aurel, kali ini kamu nggak boleh menarik diri. Nggak lagi."

Kemudian, dia menutup telepon.

Aku duduk di tepi ranjang, ponsel itu terlepas dari genggamanku. Aku berjalan ke meja rias dan membuka laci paling bawah. Di dalamnya tersimpan foto-foto rahasia tentang Viktor yang pernah kuambil diam-diam, juga jurnal-jurnal yang kutulis saat aku masih mencintainya. Tiga tahun cinta sepihak, tiga tahun harapan kosong.

Aku mengeluarkan semuanya dan berjalan ke taman. Api melalap foto-foto itu, melalap kata-kata bodoh yang pernah kutulis. Cahaya jingga yang menyala di hadapanku terasa seperti tumpukan kayu pembakaran untuk mengubur diriku yang dulu.

"Kamu sedang bakar apa?"

Suara Viktor terdengar dari belakangku.

Aku tidak menoleh. "Beberapa surat lama."

"Surat seperti apa yang harus dibakar?"

Dia melangkah mendekat, berusaha melihat apa yang ada di dalam api.

Tepat saat itu, suara tangis seorang wanita memecah udara.

"Viktor!"

Karina berlari menghampiri kami dengan mata yang membelalak dan dipenuhi air mata.

"Aku minta maaf! Aku benar-benar nggak sengaja!"

Viktor langsung melupakan keberadaanku dan bergegas menghampiri Karina.

"Ada apa?"

"A ... aku nggak sengaja menabrak lukisan itu," isak Karina sambil menunjuk ke arah tangga. "Anggur merahnya tumpah. Tumpahannya menodai wajah Aurel di lukisan. Aku benar-benar nggak sengaja!"

Dadaku terasa seperti diremas. Lukisan itu dilukis oleh aku sendiri. Butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya.

Karena Viktor menolak mengambil foto pernikahan, itu satu-satunya cara bagiku untuk menyimpan kenangan kami bersama. Satu-satunya benda di seluruh rumah ini yang menjadi bukti bahwa pernikahan kami benar-benar nyata.

"Posisi lukisannya nggak tepat." Karina terisak. "Aku tersandung, lalu anggurnya .... Pergelangan kakiku juga sudah mulai bengkak."

Aku ingin menyela, ingin mengatakan bahwa selama tiga tahun benda itu berada di sana tanpa pernah menimbulkan masalah.

Namun, Viktor sudah lebih dulu mengangkat Karina ke dalam pelukannya.

"Ssst, nggak apa-apa. Cuma lukisan," gumamnya lembut sambil menarik Karina mendekat. "Lupakan lukisannya. Pergelangan kakimu gimana? Kita panggil dokter."

Kemudian, dia menoleh kepada salah satu anak buah yang berdiri di dekat sana.

"Bakar lukisan itu," perintahnya dingin seperti es. "Itu menghalangi jalan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 24

    Sudut pandang Aurel:Saat belati beracun Karina hendak menusuk arteriku, aku memejamkan mata dan siap untuk menghadapi akhir hidupku.Dor!Satu letusan yang memekakkan telinga bergema di seluruh ruang suci itu.Tubuh Karina tersentak ke belakang dan luka berdarah mengenai tepat di tengah dahinya. Matanya membelalak karena tidak percaya dan masih menatapku dengan penuh kebencian serta dendam. Darah memercik ke gaun pengantinku, lalu aku ambruk ke lantai. Racun, rasa terkejut, dan benturan, semua itu membuat kesadaranku terlempar ke dalam kegelapan."Aurel!"Terdengar suara Rinto seperti bergema dari jauh, makin lama makin samar-samar. Dengan sisa kesadaranku yang terakhir, aku melihat dia berlari ke arahku. Di balkon yang tinggi di atas organ, sebuah bayangan melepaskan diri dari kegelapan yang lebih pekat. Seorang profesional membongkar senapan runduknya dengan tenang karena pekerjaannya sudah selesai.Setelah itu, dunia seolah-olah menjadi sunyi.Saat bangun, aku sudah berada di kamar

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 23

    Sudut pandang Aurel:Saat belati beracun Karina menempel di leherku, aku bisa merasakan racun itu perlahan-lahan meresap ke dalam darahku."Aku mau kamu dan Viktor mati bersama, kalian memang pantas sama-sama pergi ke neraka," bisik Karina di telingaku.Para tamu membeku karena ketakutan, tetapi aku bisa melihat Rinto perlahan-lahan mendekat."Karina, lepaskan dia. Apa pun yang kamu mau, lampiaskan saja padaku," kata Rinto dengan nada tenang sekaligus berbahaya.Karina tertawa seperti orang gila. "Padamu? Memangnya kamu ini siapa? Ini urusanku dengan mereka!"Dengan suara yang tak goyah dan tatapan terkunci padaku, Rinto berkata, "Kamu mau satu nyawa, 'kan? Ambil nyawaku. Aku rela mati seribu kali untuknya."Mendengar itu, hatiku terasa seperti dihantam dengan keras. Bahkan sekarang dan di saat berbahaya seperti ini, Rinto tetap hanya ingin melindungiku.Tepat saat itu, pintu samping katedral dibanting hingga terbuka. Viktor menerobos masuk dengan pakaian berantakan dan wajah berlumura

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 22

    Sudut pandang Aurel:Terdengar suara Rinto dari telepon dengan nada main-main. "Suaramu terdengar gugup. Ada apa, tuan putriku?"Mendengar betapa santainya nada bicara Rinto, kecemasanku agak berkurang. Aku bertanya dengan suara yang masih bergetar, "Rumor itu ... kamu melihatnya?"Suara Rinto berubah menjadi lembut. "Aku melihatnya, seluruh Chilago sedang membicarakannya."Jantungku seolah-olah naik ke tenggorokan lagi. "Jadi kamu ...."Rinto langsung menyela dengan suara rendah, "Aku hanya merasa marah pada sampah itu saat melihat apa yang sudah kamu alami. Aurel, masa lalumu bukan sesuatu yang aku terima. Itu adalah bagian dari dirimu dan aku menerima seluruh dirimu."Air mata langsung mengaburkan penglihatanku. "Rinto ...."Suara Rinto tiba-tiba terdengar posesif. "Dan aku peringatkan kamu, jangan pernah berpikir untuk kabur lagi.""Aku nggak ...."Rinto menyela dengan yakin, "Kamu ada, aku bisa mendengar ketakutan dalam suaramu. Kamu takut aku akan meninggalkanmu, sama seperti sam

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 21

    Sudut pandang Aurel:Viktor menunggu jawabanku, tetapi jawabanku tidak pernah begitu jelas. "Nggak."Satu kata sederhana itu membuat Viktor yang berada di ujung telepon langsung terdiam. Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suaranya yang dibalut dengan suara tawa yang menjijikkan. Dia mengulang, "Nggak? Aurel, kamu benar-benar mau begitu tega?""Tega?"Aku mencibir, "Viktor, aku rasa kamu sudah salah paham dengan arti kata itu."Suara Viktor mulai terdengar tidak waras. "Baik, baik. Kalau kamu pilih untuk membenciku, ya sudah. Meskipun itu kebencian, aku juga akan buat kamu mengingatku seumur hidupmu."Setelah itu, suara Viktor terdengar makin gelisah. "Kamu nggak akan pernah bisa menyingkirkanku, Aurel. Nggak akan pernah."Kata-kata Viktor mendorongku melewati batasanku. Aku tertawa, lalu berkata dengan suara yang terdengar datar dan hampa, "Mengingatmu? Viktor, sepertinya kamu hidup dalam delusi dan berpikir kamu masih berarti.""Apa maksudmu?" tanya Viktor.Aku berjalan ke jend

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 20

    Sudut Pandang Aurel:Suara Rinto menggema di seluruh aula lelang, penuh nada santai sekaligus penghinaan.Di bawah, wajah Viktor sudah pucat, tetapi dia masih menggertakkan gigi dan bertahan."Dua ratus miliar!" teriaknya, suaranya sampai pecah.Aku melihat anak buahnya, Marko, sibuk memeriksa ponselnya dengan panik, jelas sedang menghitung sisa dana mereka.Rinto terkekeh pelan, lalu dengan tenang merapikan kancing lengannya."Sepertinya kamu benar-benar menginginkan set perhiasan ini," katanya sambil menatap Viktor dari atas. "Tapi ...."Dia berhenti sejenak, membiarkan suasana menegang."Aku ikuti tawaranmu dan aku pertaruhkan segalanya."Empat kata itu menghantam seperti petir. Seluruh hadirin langsung ricuh.Kalimat itu adalah pernyataan kekuatan tertinggi dalam lelang, artinya dana tidak terbatas, berapa pun harganya. Hanya orang-orang dengan kekayaan luar biasa yang berani mengatakannya.Para tamu terengah, lalu langsung berbisik riuh."Astaga, Keluarga Maulana benar-benar beran

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 19

    Sudut Pandang Viktor:Aku dihentikan oleh petugas keamanan di lantai utama gedung lelang. Yang bisa kulakukan hanya melihat Aurel dan Rinto naik lift menuju ruang VIP.Kekayaan 10 triliun. Aku tersenyum pahit.Sejak Keluarga Suwandi memutus hubungan denganku, aset likuid Keluarga Hara hampir habis.Namun, aku tidak bisa menyerah begitu saja."Pak, Anda masih bisa ikut menawar dari sini." Seorang staf menyerahkan papan penawar kepadaku. "Hanya saja Bapak nggak bisa masuk ke area VIP."Aku mengambil papan penawar itu dan duduk di pojok aula utama.Para tamu di sekitarku berbisik-bisik, sesekali melirik ke arahku."Itu pemimpin Keluarga Hara, 'kan? Ngapain dia duduk di bawah sini?""Aku dengar keluarganya lagi kena masalah besar. Kena sanksi dari Keluarga Suwandi.""Lihat dia sekarang. Akhirnya jatuh juga."Aku pura-pura tidak mendengar sindiran mereka dan fokus pada katalog lelang.Akhirnya, aku menemukan benda yang kucari. Satu set perhiasan zamrud antik.Aku ingat jelas set perhiasan i

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 6

    Viktor menatapku, matanya benar-benar dingin tanpa sedikit pun kehangatan."Laksanakan."Sebelum aku sempat bereaksi, seutas tali kasar sudah melilit pergelangan tanganku, lalu aku diseret ke halaman belakang."Viktor!" Aku meronta-ronta. "Kamu bakal menyesal!"Namun, dia sudah berbalik, merangkul K

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 5

    Ponselku langsung menyala.Rinto langsung membalas pesanku.[ Baik. Tiga hari. Aku akan ke sana. ]Akhirnya, aku bisa mengembuskan napas lega. Setidaknya masih ada seseorang yang mau mengeluarkanku dari neraka ini.Aku menghabiskan tiga hari di klinik. Selama itu, Viktor tidak pernah menelepon. Tida

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 4

    "Dia yang melakukan ini padamu," kata Viktor dengan suara rendah yang berbahaya. "Sebagai suaminya, ini adalah utang yang harus aku bayar."Kata-katanya menyambar seperti petir. Dia benar-benar akan "membantu" Karina?Aku tidak percaya. Pria yang kucintai, pria yang kupanggil suamiku, mengatakan hal

  • Empat Hadiah Perpisahan, Merayakan Kehancuran   Bab 3

    Api melalap lukisanku.Kerja keras selama tiga bulan, sebuah bukti untuk perkawinan selama tiga tahun, berubah menjadi abu.Aku berdiri di sana, menatap nyala api jingga yang menjilat kanvas, menghapus gambaran kami yang saling berpelukan. Dadaku terasa nyeri, tumpul dan menekan, tetapi aku tidak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status