Short
Memilih Pesisir daripada Padang Pasir

Memilih Pesisir daripada Padang Pasir

By:  BagelCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
12Chapters
18views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari perjalanan kelulusan kami, pacarku, Roman, seorang pewaris mafia, dan teman masa kecilnya, Clara, meninggalkanku sendirian di tepi jalan tol yang sepi. Mobil menuju luar jalur mereka sudah melaju lebih dari setengah jam, sebelum mereka menyadari bahwa kursi belakang ternyata kosong. Ketika Roman menelepon, sama sekali tidak ada nada panik di suaranya, hanya tersirat sedikit kekesalan. "Blair, kenapa kamu nggak masuk lagi ke mobil?" "Jangan bercanda. Kami lagi buru-buru ke ngarai buat mengejar matahari terbenam. Kami nggak ada waktu buat balik jemput kamu." "Cari cara sendiri buat menumpang orang lain sampai ke sini." Lewat pengeras suara telepon, suara Clara yang terhibur terdengar dengan sangat jelas. "Dia ‘kan bukan anak umur tiga tahun. Mana bisa dia minta kamu melayaninya terus." Dulu, aku pasti mengira ini salahku, lalu meminta maaf pada Roman dengan mata berkaca-kaca. Kemudian, aku akan melakukan segala cara di tengah terpaan angin berdebu, bahkan berlari, hanya demi menyusul mobilnya. Namun kali ini, saat menengadah menatap matahari padang pasir yang menyengat, aku mendadak tidak ingin mengejarnya lagi. Aku mengeluarkan ponsel dan membatalkan semua reservasi kamar suite mewah di sepanjang rute ngarai. Aku membeli tiket bus menuju sebuah kota kecil di pesisir pantai. Tempat yang dulu mereka sebut sangat membosankan. Garis pantai membentang tanpa batas, dan dunia terasa begitu luas. Aku tidak mengikuti siapa pun lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Perjalanan kelulusan ini adalah sesuatu yang sudah lama kurencanakan bersama Roman.

Selama beberapa tahun kuliah, aku telah mengikuti pacar mafiaku itu ke banyak tempat.

Jalanan gunung bersalju, ngarai yang dalam, area arena tembak pribadi, hingga balapan liar.

Semuanya adalah tempat bermain untuk memuaskan jiwanya yang haus tantangan.

Pada malam menjelang kelulusan kami, aku bersandar di dadanya dan menyampaikan keinginanku sekali.

"Roman, ayo kita ke pantai untuk foto-foto."

"Kita cari kota pesisir, yang orang-orangnya nggak kenal kita. Kita bisa tidur sampai bangun sendiri, memotret burung camar, dan menikmati angin laut tanpa ada pengawal atau harus buru-buru."

Hari itu, dia mencium rambutku dan langsung menyetujuinya.

"Nggak masalah. Kamu sendiri yang tentukan liburan kelulusan ini."

Aku sudah menantikannya sejak lama, bahkan membuat tiga versi draf rencana perjalanan untuk sesi foto.

Hotel sudah dipesan tepat di tepi garis pantai, lengkap dengan balkon terbuka tempat kami bisa mengabadikan siluet mercusuar di malam hari.

Aku bahkan diam-diam membeli setelan pakaian dalam renda yang seksi, ingin melakukan sesuatu yang romantis dengannya diiringi suara deburan ombak.

Namun, hanya seminggu sebelum berangkat, Clara mendadak mengirimkan peta rute luar jalur Grand Canyon di grup obrolan kami.

[Perjalanan kelulusan itu harusnya ke tempat yang menantang.]

[Kalau cuma ke pantai yang membosankan, kita kapan saja bisa ke sana. Tapi jalan di luar jalur, ke tempat ekstrem di ngarai itu kesempatan langka.]

Roman membalas pesannya dalam sekejap.

[Rute ini menantang sekali!]

Aku menatap layar ponsel, ujung jariku tertahan cukup lama di atas papan ketik tanpa menekan apa pun.

Pada akhirnya, aku hanya mengetik satu kalimat.

[Tapi bukannya kita sudah sepakat mau ke pantai?]

Clara langsung membalas pesanku.

[Blair, kamu nggak benaran mau ngubah liburan kelulusan kita jadi seperti liburan orang di panti jompo, ‘kan?]

[Kita semua masih muda. Jangan kaku-kaku jadi orang.]

Teman-teman pria lain dari gengnya, ikut nimbrung di grup obrolan untuk mengejekku.

Ada yang bilang ngarai adalah satu-satunya tempat yang cocok untuk pria sejati.

Ada juga yang bilang pantai itu benar-benar membosankan.

Seseorang bilang akan sangat disayangkan jika orang-orang yang terlahir menyukai tantangan seperti Roman dan Clara, tidak ikut balapan di ngarai.

Roman tidak menuliskan sepatah kata pun di grup untuk membelaku.

Dia hanya mengirimiku pesan pribadi.

[Jangan merusak suasana.]

[Clara benar. Aku bisa ajak kamu ke tempat seperti pantai kapan saja nanti.]

Nanti.

Selalu ada kata "nanti" bersamanya.

Namun, setiap kata "nanti" yang dijanjikannya selalu berakhir untuk orang lain.

Aku menatap pesan itu, merasa seolah ada sesuatu yang meremas dadaku dengan erat.

Pada akhirnya, aku dengan patuh membalas singkat, [Oke.]

Jadi, aku dalam diam membatalkan semua rencana perjalanan ke pantai.

Aku begadang lagi untuk meriset rute ngarai, menyewa mobil SUV, memesan area perkemahan, memeriksa peringatan badai pasir, membuat daftar perlengkapan, dan bahkan menyiapkan kotak P3K.

Clara memberikan komentar santai di grup.

[Blair memang selalu jago kalau urusan logistik.]

Kalimat itu diikuti dengan emotikon jempol.

Melihat kalimatnya itu, aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Pada hari keberangkatan, Roman mengendarai mobil SUV hitam yang sudah dimodifikasi untuk menjemputku.

Clara sudah duduk di kursi penumpang depan.

Dia mengenakan kacamata hitam. Kaki panjangnya yang terbalut celana pendek terangkat ke atas dasbor, dan dia sedang memutar-mutar gelas berisi tequila dengan es batu.

Melihatku keluar membawa kotak peralatan yang berat, dia mengarahkan dagunya padaku.

"Blair, kamu duduk di belakang, ya."

"Aku gampang mabuk mobil, jadi butuh duduk di depan agar dapat udara segar," katanya.

Aku juga gampang mabuk mobil, dan Roman tahu betul soal itu dibanding siapa pun.

Tepat saat aku hendak berbicara, Roman sudah membukakan pintu belakang untukku.

"Turuti saja. Clara semalaman pesta di bar sampai jam tiga pagi, sekarang kepalanya sedang pusing."

"Di belakang tempatnya luas kok, kamu bisa tiduran kalau mau istirahat."

Aku memperhatikan bagaimana dia mengatur kenyamanan wanita lain dengan begitu alami.

Mendadak, aku teringat pada tahun pertama kami berpacaran saat kuliah.

Pertama kali aku ikut ke luar kota untuk acara keluarganya, aku mengalami mabuk mobil yang parah hingga wajahku pucat.

Saat itu, dia memberikan kursi depan untukku tanpa ragu.

Pewaris mafia yang terbiasa bersikap dingin itu justru rela berdesakan di kursi belakang, menyodorkan air, tisu, dan permen mint sepanjang jalan.

Waktu itu dia berkata, "Memangnya kenapa kalau pacarku agak manja? Aku memang suka memanjakannya."

"Aku senang merawatnya."

Namun kini, dia melempar barang bawaanku ke bagasi begitu saja.

Dia menoleh lalu bersiul ke arah Clara. "Pakai sabuk pengamanmu. Siap-siap nikmati perjalanannya."

Aku berdiri di samping mobil dan tersenyum tipis.

Ternyata, menjadi orang kesayangannya ada tanggal kedaluwarsanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status