LOGINClara bersandar di dinding koridor menunggu ayahnya. Melihat kondisi ibunya, ada rasa tak berdaya yang menyelimuti dirinya.Walaupun ini adalah penyakit Alzheimer yang paling umum ditemukan, tetapi begitu penyakit ini diderita oleh keluarga sendiri, sakit yang ditimbulkannya seperti ditusuk pisau tumpul. Ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.Alex keluar dari kamar. Dia menatap Clara yang tampak sedih, lalu melangkah maju. "Jangan khawatir, dia nggak akan melupakanmu."Dia terdiam beberapa detik, lalu melanjutkan, "Kamu melakukan eksperimen itu untuk ibumu, jadi apa pun yang ingin kamu lakukan, aku nggak akan keberatan."Dukungan dan penghiburan dari Alex membuat suasana hati Clara sedikit membaik. Setelah mengumpulkan sedikit kekuatan, dia mengangkat kepalanya. Matanya sedikit memerah, tetapi dia menahan air matanya. Suaranya juga terdengar sedikit serak. "Ayah, terima kasih."Alex tersenyum, mengulurkan tangan, dan dengan lembut menepuk bahunya. "Baiklah, ap
Di balik jendela kamar tidur yang membentang dari lantai hingga langit-langit, Jason duduk di sofa dengan kaki bersilang, dan dengan malas membolak-balik buku.Sinar matahari yang masuk melalui jendela memancarkan bayangan kecil di sisi hidungnya yang mancung dan lurus, bahkan bulu matanya yang panjang pun tampak bermandikan cahaya lembut.Jari-jarinya yang panjang dan ramping mencengkeram tepi buku. Begitu mendengar suara wanita itu di telepon, senyum tipis muncul di bibirnya. "Mau menguji peruntungan?""Kamu juga sering menguji peruntungan."Senyum pria itu makin lebar. "Oke, kalau begitu, akhir pekan.""Mengenai pernikahan Yena dengan Teddy, aku ingin Keluarga Santoso yang menyerah, karena aku nggak bisa membantah permintaan kakekku."Jika Clara secara terang-terangan menentang pernikahan itu, terlepas dari sikap kakeknya, Robert pasti akan memanfaatkan hal ini untuk kembali membuat masalah. Dia tidak ingin mempersulit kakak dan ayahnya lagi.Jason bisa menebak kekhawatirannya dan m
Melihat Clara tetap diam, Jason sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya dan menopang dahinya dengan satu tangan. "Sebenarnya, kamu bisa minta bantuanku."Clara tertegun sejenak. Matanya berkedip. "Bantuan apa?""Apa pun."Clara menatapnya dan mengerutkan kening, "Kamu punya persyaratan, 'kan?"Mata pria itu sedikit berkedip. Ada senyum tipis di sana. "Ada, tapi itu tergantung padamu."Beberapa hari kemudian, tersangka yang merekayasa insiden Helen menyerahkan diri dan memberikan bukti-bukti mengarah Sandra.Meski Sandra tahu Robert adalah dalang di balik semua itu, dia tidak mampu membela diri dan menyesal karena tidak meninggalkan bukti apa pun yang menguntungkan dirinya waktu itu.Tuan Besar Irawan mengutus orang untuk menyampaikan surat cerai kepada Sandra dan memberinya sejumlah uang sebagai bentuk penebusan karena telah melahirkan Sean. Namun, mulai sekarang, Keluarga Irawan tidak lagi berhubungan dengannya ....Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, kondisi Tuan Besar I
Pergelangan tangan Teddy berdenyut kesakitan, tetapi aura Jason jelas menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Teddy menggertakkan giginya dengan enggan, "Nona Clara, pikirkan baik-baik. Kamu sungguh nggak ingin mengetahui kebenarannya?"Clara dengan tenang menjawab, "Tuan Teddy nggak perlu mengkhawatirkan masalah keluarga kami.""Kamu ....""Kamu nggak mendengar apa yang dia katakan?" Jason menatapnya dengan dingin dan acuh tak acuh. Suaranya sedingin es dan mengandung makna tersembunyi. "Atau kamu butuh aku mengantarmu?"Teddy menelan ludah, lalu melangkah mundur ke depan mobil. Dia menunjuk Jason sambil berkata, "Tunggu saja!"Kemudian, dia pun melaju pergi dengan mobilnya.Jason berdiri di belakang Clara. Jarinya menyisir sehelai rambut panjangnya, lalu meletakkannya ke depan. "Bajingan Keluarga Santoso ini masih belum melepaskan niat jahatnya.""Kamu bicara seolah-olah kamu bukan orang seperti itu."Jason berhenti sejenak, lalu terkekeh pelan. "Aku selalu sep
Setelah Sandra dibawa pergi, ruang tamu yang tadinya gaduh menjadi sunyi senyap.Tiga lainnya juga mengerutkan kening. Mereka juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres.Apa ini benar-benar pengakuan yang dibuat secara spontan oleh Robert, atau jebakan yang direncanakan secara cermat? Jika Sandra benar-benar dalangnya, mana mungkin dia begitu mudah terpancing oleh beberapa kata dari Robert dan menguatkan kecurigaannya?Wajah Tuan Besar Irawan berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir teh sedikit gemetar. Perselingkuhan istrinya dengan putranya bagaikan duri, tertancap dalam-dalam di bagian terdalam hatinya, membuatnya hampir tidak bisa bernapas.Dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa. Dia tidak pernah membayangkan bahwa istri, dan putranya yang tidak becus, akan melakukan hal keji seperti itu di belakangnya.Teh di dalam cangkir sedikit bergoyang. Matanya menunjukkan keterkejutan, kemarahan, dan rasa malu yang mendalam yang t
Tuan Besar Irawan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?""Aku nggak sengaja mendorong Kak Helen jatuh dari tangga. Aku ... aku nggak bermaksud mencelakainya," isak Robert. Wajahnya penuh penyesalan dan ketakutan. "Saat itu, aku bertengkar dengan Kak Helen. Aku takut dia .... Aku memang bajingan! Aku nggak seharusnya khilaf! Aku pantas mati!"Robert menampar dirinya sendiri berulang kali. Setiap tamparan lebih keras dari sebelumnya.Melvin mengulurkan tangan untuk menghentikannya. "Robert, mari kita bicarakan baik-baik. Jangan sampai melukai dirimu sendiri.""Ini salahku, Ayah! Aku memang bajingan. Aku sudah bersalah padamu!""Kamu bersalah padaku?" Tuan Besar Irawan merenungkan kata-katanya, lalu tiba-tiba melirik Sandra di sampingnya. Sandra tetap terpaku di tempat duduknya, tanpa bereaksi."Aku nggak seharusnya berhubungan dengan Sandra. Aku nggak seharusnya tergoda olehnya! Aku bajingan. Akulah yang mencelakai Kak Helen!"Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di ruang tamu.Sandr
Clara mendongak dengan bingung. "Pak Jason ada masalah?"Jason tidak terburu-buru. "Apa kamu melihat berita hari ini?""Berita apa?"Clara tidak mengerti.Jason menatapnya sejenak. Tatapan matanya meredup. "Bukan apa-apa."Pria itu pun berbalik dan pergi.Clara melihat ke belakang, lalu tiba-tiba te
"Kamu menyuruhku ke acara makan, lalu menjebakku ke ruang VIP orang lain. Bahkan, memaksaku minum dan memberiku obat bius." Clara mencibir. "Cara yang digunakan Bu Sindy benar-benar keterlaluan."Para perawat langsung berbisik-bisik, seakan sulit percaya.Ekspresi wajah Sindy berubah. "Bukan aku!""
Kesedihan yang tak sengaja terpancar di mata Clara terlihat jelas oleh Sindy. Wanita itu maju ke depan sambil memperlihatkan ekspresi bangga. "Memangnya kenapa kalau kamu memulihkan kembali rekaman CCTV? Jangan-jangan kamu mengira asal Jason tahu kebenarannya, dia akan mempersulitku demi mainan sepe
Keesokan paginya, di saat Clara bangun, bibi pengasuh sudah sibuk menyiapkan sarapan.Jason tidak kembali tadi malam. Sepertinya dia pergi menemani ibu dan anak itu.Dia menarik kursi dan duduk. Tepat di saat dia mau sarapan, ibunya Clara menelepon sambil terisak, "Clara, Ibu tahu kamu melewati hidu







