Share

Bab 5

Penulis: Darlene
Wajah Jason mendadak muram. Tepat di saat dia ingin melepaskan Sindy, wanita itu malah menahannya. "Jason, aku masih nggak enak badan. Bisa nggak temani aku ambil obat?"

Pria itu mengerutkan kening. Dia mengalihkan pandangannya dari sosok Clara yang menghilang dan bergumam pelan.

Jason menemani Sindy ke ruang farmasi untuk mengambil obat. Sindy menoleh. Melihat pria itu tidak fokus, dia pun tersenyum dan mendekatinya. "Jason, Stefan ingin masuk TK swasta, tapi dia masih belum punya KK. Boleh nggak untuk sementara biarkan Stefan masuk ke KK-mu..."

Khawatir Jason akan menolaknya, Sindy pun menambahkan. "Jangan khawatir, hanya sementara saja. Nggak akan ada yang tahu."

Jason menatapnya.

Sindy tidak berani menghindari tatapannya, tetapi diam-diam mengepalkan tangannya. "Jason, kamu…nggak senang?"

"Kurang pantas kalau pakai KK-ku." Jason tetap tenang. "Aku bisa minta ibuku untuk mengakuinya sebagai anak angkat."

Sindy terdiam.

Anak angkat Keluarga Horman…

Bukankah itu berarti satu generasi dengan Jason?

Putranya malah menjadi 'adik angkat' Jason. Jadi, apa kedudukannya sebagai seorang ibu?

Jason menatapnya. Matanya sedikit menggelap. "Nggak mau?"

Sindy tidak berani protes. "Bukan…kamu atur saja."

Jason hanya menggumam pelan dan tidak berbicara lagi.

Sindy mengepalkan tangannya.

Hatinya tidak rela.

Namun, masalah ini tidak boleh terburu-buru.

Asalkan putranya masuk ke dalam Keluarga Horman dan mendapat dukungan dari para tetua Keluarga Horman, apa dia masih khawatir tidak bisa membalikkan keadaan?

Jason tidak kembali sepanjang malam.

Dulu, Clara akan membiarkan lampu menyala dan menunggunya, tetapi dia tidak melakukannya lagi sekarang.

Karena Jason pulang atau tidak, sudah tidak penting lagi.

Clara baru saja mau pergi ke rumah sakit. Dia kebetulan bertemu dengan Sindy dan anaknya di lantai bawah.

Dia ingin melewati mereka berdua, tetapi Sindy menghentikannya. "Dokter Clara."

Clara berhenti dan menatapnya. "Ada apa?"

"Dokter Clara, kamu…nggak suka sama aku ya?" Sindy menatapnya.

"Nona Sindy berpikir terlalu banyak."

Bukannya tidak suka, tetapi tidak perlu menyukainya.

Toh, Clara tidak dekat dengannya.

Sindy dan anaknya berjalan mendekatinya. "Baguslah kalau begitu. Oh ya, kamu mau ke rumah sakit, 'kan? Habis antar anak, aku juga mau ke rumah sakit."

"Karena searah, nanti aku minta Jason antar kamu sekalian."

Ekspresi wajah Clara menjadi sedikit tidak terkendali.

Ternyata Jason tidak pulang semalaman karena bersama dengan Sindy.

Mereka masih belum bercerai.

Pria itu sudah tidak sabar naik ke ranjang wanita lain.

Clara pun berkata, "Nggak usah, aku punya mobil sendiri."

Sindy menahannya dan berkata, "Jangan segan. Kita kerja di rumah sakit yang sama. Jason sudah mau datang kok."

Clara diam-diam menahan amarah di hatinya.

Dia bahkan curiga Sindy sengaja melakukannya. Apa dia sudah tahu hubungannya dengan Jason dan sengaja pamer di depannya?

Clara menarik tangannya dengan kuat. "Sudah kubilang, nggak usah."

Sindy tiba-tiba terjatuh.

Melihat ibunya terjatuh karena didorong, Stefan pun mendorong Clara. "Dasar wanita jahat. Berani-beraninya dorong ibuku!"

Ponsel Clara terjatuh ke tanah.

Saking kesalnya, Stefan sampai menginjak ponselnya beberapa kali.

"Apa kamu nggak diajari?" Clara hanya menarik Stefan ke samping. Anak itu langsung duduk di tanah sambil menangis sekeras-kerasnya.

Melihat hal itu, Jason memarkir mobilnya di pinggir jalan dan keluar. Dia berjalan dengan kaki jenjangnya. "Clara!"

Karena tergesa-gesa, dia bahkan tidak khawatir Sindy mengetahui hubungan mereka dengan memanggil nama Clara langsung.

"Ayah, wanita jahat ini mendorongku!"

Stefan menangis tersedu-sedu, seolah baru saja dirugikan.

Sindy berbalik dan memeriksa luka di tubuh Stefan. Wajahnya tampak tidak senang. "Dokter Clara, kalau ada masalah, silakan serang aku saja. Tapi jangan main tangan sama anak!"

Clara menarik napas dalam-dalam dan menggertakkan giginya. "Mengapa Nona Sindy nggak bilang anakmu dengan sengaja menginjak ponselku?"

Sindy menghindari tatapannya. "Stefan…juga nggak sengaja!"

"Kalau hanya diinjak sekali, mungkin dia nggak sengaja, tapi dia sudah menginjaknya beberapa kali. Itu berarti dia sengaja!"

"Clara."

Ada sedikit kemarahan di mata Jason.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Sharira Nalanda
clara jgn mau di tindass dan di bodohi jason dg dalih masih jd suami doong, ayo jadi wanita tangguh dan badas
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
Stefan gak punya kartu KK ,lah berarti sindy ini gak menikah tapi punya anak gitu ,kok aneh?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 444

    Clara tiba-tiba berhenti. Dia perlahan berbalik dan menatapnya. Ekspresi pria itu tetap tenang. Sikapnya yang sulit dipahami tetap misterius seperti biasanya.Sebelum dia sempat berbicara, Nyonya Hanifa yang kebetulan lewat di koridor luar, mengintip ke dalam dengan penasaran. "Pak Jason, Nyonya Horman, kenapa kalian berada di sini?"Sebelum dia sempat menjawab, Jason berkata dengan nada bercanda, "Istriku lama sekali di kamar mandi. Aku khawatir dia tersesat."Kata-kata itu membuat Nyonya Hanifa tertawa. "Pak Jason, jangan bercanda. Keluarga kami nggak sebesar itu. Tapi aku merasa Pak Jason sangatlah perhatian sama istri."Jason menoleh dan memandang Clara. Senyumnya penuh kasih sayang. "Memang benar."Clara memelototinya, lalu berjalan mendekati Nyonya Hanifa. "Maaf, sudah membuat lelucon di depan Nyonya.""Nggak kok. Suami istri memang seharusnya harmonis dan saling mencintai. Lagian, kalian masih muda."Clara hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan itu lagi.Keduanya mengiku

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 443

    Nyonya Hanifa tersenyum dan berdiri. "Kebetulan sekali. Pak Jason juga datang." Selesai berbicara, dia kembali menatapnya. "Nyonya Horman yakin nggak datang bersama Pak Jason?"Clara memalingkan muka, lalu tersenyum canggung. "Hanya kebetulan saja.""Rupanya Nyonya Horman juga datang. Kebetulan sekali. Bagaimana kalau Pak Jason dan Nyonya Horman makan di rumah kami hari ini? Rumah kami sudah lama nggak seramai ini!" kata Pak Petra pada Nyonya Hanifa.Nyonya Hanifa tersenyum dan menjawab, "Kalau begitu, aku beri tahu orang dapur untuk menyiapkan makanan."Jason duduk di sebelah Pak Petra dan kebetulan posisinya berhadapan dengan Clara. Clara memalingkan muka, lalu mengambil cangkir teh di atas meja, dan menyesapnya."Nyonya Horman dan putriku sangat dekat. Kali ini kamu datang untuk putriku, 'kan?" Pak Petra tiba-tiba menatapnya.Clara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Kupikir dia ada di rumah, jadi aku datang mencarinya.""Dia nggak di rumah, tapi Nyonya Horman bisa menghadiri pesta p

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 442

    Samuel terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan satu tangan. "Sayang sekali, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada wanita.""Aku akan bekerja sama dalam pernikahan nanti, jadi kembalikan ponselku!" Inara menahan air matanya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah akan hancur hanya dengan sentuhan ringan.Samuel menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Inara bukanlah wanita yang sangat cantik. Dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah bersamanya, Inara masih kurang menarik, tetapi penampilannya juga tidak buruk. Setidaknya, dia enak dipandang. Apalagi, sifatnya yang cerdik dan sedikit nakal yang dimilikinya merupakan sesuatu yang belum pernah dia temui sebelumnya.Setidaknya tidak ada sanjungan, tidak ada perasaan palsu ataupun sikap yang dibuat-buat.Untuk pertama kalinya, dia punya pemikiran tidak masuk akal seperti ini.Jika dia bisa melabuhkan hatinya dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dengan Inara, itu juga aka

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 441

    "Kita sudah kenal begitu lama. Aku paling memahamimu. Bukankah kamu ingin menggunakan anak Samuel untuk mengendalikanku?" Heru perlahan berdiri dan berjalan ke arahnya. "Samuel nggak peduli sama anak itu, tapi aku berbeda. Bagaimanapun, dia satu-satunya keturunan Keluarga Ferdinand. Dia adalah cucu kandungku. Mungkin kelak belum tentu ada lagi."Julia berjalan ke samping dan duduk tanpa mengubah ekspresinya. "Putri Keluarga Sucipto bisa melahirkan cucu untukmu. Kenapa aku harus menggunakan anak itu untuk mengendalikanmu?""Bisa menunggu sampai dia melahirkan cucu untukku itu masalah lain." Heru berhenti di depannya, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuh lebih dekat, dan mencibir. "Kalau nggak, bagaimana kalau kamu melahirkan putra untukku lagi? Di usiamu sekarang ini, seharusnya bukan hal mustahil, 'kan?""Kamu gila!" teriak Julia dengan marah.Dia sangat menolak dan enggan mengungkit masalah 'anak', karena akan mengingatkannya pada bayi yang lahir mati waktu itu.Heru menegakkan tubuhnya

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 440

    Polisi wanita itu dengan cepat menjatuhkan Sindy, lalu dua polisi lainnya tiba, menangkapnya, dan membawanya pergi secara paksa.Raungan histeris Sindy menjadi serak dan tidak nyaman didengar. Ternyata di saat emosi seseorang runtuh hingga ekstrem, raut wajah mereka akan menjadi ganas dan menakutkan seperti iblis.Setidaknya, matanya yang merah itu benar-benar membuat Clara ketakutan."Pak Jason, sudah waktunya pergi."Pengawal di belakangnya mengingatkannya.Jason tidak menjawab. Dia melirik orang yang ada di pelukannya, lalu tiba-tiba mengendongnya, dan melangkah pergi.Tempat parkir."Jason, kamu sudah boleh turunkan aku."Clara yang masih dalam gendongan pria itu, berbicara sambil menghindari tatapan orang-orang yang lewat. Pria itu tidak mengatakan apa pun dan menurunkannya.Peristiwa hari ini memang di luar dugaan Clara. Bahkan, bukti yang dimilikinya pun belum dipublikasikan. Sejak Sindy terluka dan dirawat di rumah sakit, semuanya telah diatur oleh tangan tersembunyi, bahkan me

  • Enam Tahun dalam Dingin, Saat Kulepas Dia Memohon Cinta   Bab 439

    "Pengacara Leo, walau aku nggak tahu dari mana asal kekeliruanmu, tapi kalau kamu nggak bisa memberikan bukti, masalah ini akan memengaruhi reputasimu." Pengacara Shinta memutuskan untuk mengambil risiko dan bertaruh bahwa Pengacara Leo tidak punya bukti yang substansial.Lagi pula, jika manipulasi hasil tes terungkap, banyak orang yang akan terlibat. Dia tidak percaya bahwa orang-orang di Biro Kehakiman akan sebodoh itu hingga mempertaruhkan reputasi dan masa depan mereka sendiri.Menghadapi sikapnya yang agresif, Pengacara Leo tetap tenang. Tak lama kemudian, seorang menteri dari Biro Kehakiman muncul di pengadilan sebagai saksi.Begitu melihat wajah orang itu dengan jelas, Julia tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.Pengacara Shinta baru menyadari sesuatu saat ini. Ketenangannya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa panik dan kekhawatiran bahwa kebenaran akan segera terungkap.Hakim bertanya kepada saksi, "Dari dua hasil tes di layar, mana yang asli?"Menteri Kehakiman menelan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status