LOGINSiang harinya, Lily datang menemui Clara untuk menanyakan kejadian semalam.Setelah Clara menceritakan apa yang terjadi, dia juga sangat marah dengan perilaku Bayu sekeluarga. "Keluarga macam apa mereka? Mereka lebih seperti musuh! Dasar keluarga serakah! Aku sudah sering bertemu dengan orang yang memanfaatkan orang tuanya, tapi ini pertama kalinya aku bertemu orang yang memanfaatkan keponakan sendiri!"Clara menyesap kopi. Ekspresinya tampak acuh tak acuh.Padahal, mereka pernah diberi pelajaran ketika Nyonya Besar Dwi masih hidup, tetapi mereka melupakannya setelah beliau meninggal. Jika dia tidak memberi mereka pelajaran kali ini, mungkin hal seperti ini akan terulang lagi."Kakak Ipar, apa rencanamu selanjutnya?""Aku sudah minta Billy menanganinya." Clara meletakkan cangkirnya. "Mereka ingin putri mereka menikah dengan keluarga kaya, tapi aku akan menghancurkan harapan mereka."Lily bertepuk tangan dan tertawa. "Orang lain mungkin bilang itu namanya memisahkan pasangan yang saling
"Kak, maafkan aku. Awalnya aku pikir aku bisa mengatasi mereka bahkan tanpa bantuanmu. Aku tahu keluarga Paman Bayu serakah, tapi aku hanya ingin mengambil risiko bahwa Bella berbeda dari mereka, tapi aku salah." Hansen mengepalkan tinjunya, bukan sedih, tetapi marah karena telah ditipu. "Aku bodoh. Aku nggak bisa melihat kebohongan mereka. Aku bahkan sempat mengira bahwa setidaknya ada satu kerabatku yang berbeda!"Clara mengangkat tangannya dan menekan pelipisnya. Amarah di dadanya berubah menjadi desahan panjang. "Jangan khawatirkan hal itu lagi. Aku akan suruh Billy menanganinya, tapi ini terakhir kalinya."Clara berbalik dan keluar. Kali ini, dia tidak lagi menghibur Hansen.Clara memang sangat marah. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya Hansen dijebak. Hansen tidak bisa menilai orang dengan benar, dan juga tidak belajar dari kesalahannya. Jika demikian, dia terpaksa harus 'melepaskan semuanya'.Billy berjalan ke samping tempat tidur dan menekan tangannya dengan keras di bahu Hans
"Itu sungguhan!" kata Bayu dengan tergesa-gesa. "Putri Keluarga Irawan itu dibesarkan oleh adikku beserta istrinya. Kalau kalian nggak percaya, silakan periksa saja. Kalian pasti bisa menemukan akta catatan sipilnya dulu!"Billy mengulurkan lengannya yang panjang dan meletakkannya di bahu Bayu. "Pak Tua, kuharap itu sesuai dengan omonganmu. Kalau nggak, aku pasti akan ... menghabisimu!"Wajah Bayu langsung pucat pasi.Dia menarik tangannya, melambaikan tangan kepada orang-orang berbaju hitam di belakangnya. "Bawa Hansen pergi."Setelah mengatakan itu, dia melirik keluarga tersebut. "Aku beri kalian waktu lima hari. Kalau uangnya masih nggak dikembalikan, aku akan datang mencari kalian. Percuma saja kalian bersembunyi, karena aku tahu alamat kalian."Dua pria berpakaian hitam masuk ke ruang itu, dan membawa Hansen yang tidak sadarkan diri keluar. Begitu mereka pergi, Bayu nyaris kehilangan keseimbangan.Siapa sebenarnya orang-orang ini!Bahkan tahu alamat mereka!"Sialan. Bukankah Hanse
"Kak Hansen, kamu kenapa?"Bella sengaja menghampirinya untuk bertanya, berpura-pura khawatir. Melihat itu, Nisa langsung bertukar pandang dengan suaminya. "Yang benar saja anak ini. Bagaimana dia bisa mabuk hanya dengan satu gelas anggur? Bella, bawa kakak sepupumu ke ruang sebelah untuk beristirahat.""Ya." Bella membantu Hansen berdiri, tetapi dia bahkan tidak bisa berdiri karena terlalu lemah.Melihat Bella tidak bisa memapahnya, Bayu terpaksa turun tangan sendiri dan membawa Hansen ke ruang sebelah.Bibi Gaby menenangkan putri dalam pelukannya. "Devi, anak baik, bagaimana kalau kamu pergi bermain di ruang sebelah bersama dengan Bella?"Putrinya terlahir dengan gangguan mental terkait epilepsi dan memiliki kecerdasan seperti anak kecil, jadi dia tidak pernah bersekolah. Bahkan, menikah pun merupakan hal yang sangat sulit terwujudkan.Bagaimanapun, semua orang yang mengenal keluarga Bibi Gaby mengetahui kondisi putrinya. Mereka juga telah meminta orang untuk mencarikan pasangan untu
Ketika Hansen memasuki ruang VIP paling murah di lantai pertama, pamannya sekeluarga, Bibi Gaby, dan putrinya sudah duduk menunggunya.Nisa melirik Bella, yang segera tersenyum dan berdiri untuk menyambut Hansen. "Kak Hansen, kamu sudah datang! Kami sudah lama menunggumu!"Dia memegang lengan Hansen, dan menuntunnya ke tempat duduk.Setelah Hansen duduk, dia melirik wanita di sebelah Bibi Gaby. Wanita itu mengenakan gaun yang tidak pas, dengan gugup memutar-mutar jarinya, kepalanya tertunduk rendah, tidak berani bertatapan langsung dengannya.Secercah rasa jijik yang nyaris tidak terlihat terlintas di mata Hansen.Dia benci terhadap perjodohan."Hansen, ini putri Bibi Gaby, Devi Hanjaya, sebaya denganmu. Oh ya, kamu masih ingat Bibi Gaby nggak? Ayahmu sering mengajakmu ke rumahnya waktu kamu masih kecil dulu!" ucap Bayu menepuk bahunya sambil tersenyum.Bibi Gaby melambaikan tangannya dan berkata, "Sudah sekian tahun berlalu, Hansen mungkin nggak ingat lagi." Seraya berbicara, dia mena
Samira duduk kembali, tangannya mengepal tanpa sadar. Suaranya bergetar ketika berbicara. "Gadis nakal itu ... sengaja melawanku, 'kan?""Sayang." Ayahnya Lily berjalan ke sisinya, membungkuk, dan meletakkan tangannya di bahunya. "Meskipun putri kita keras kepala, dia juga bukan tipe yang nggak punya batasan diri. Pikirkanlah, bagaimana kalau putra Keluarga Gunawan benar-benar punya perasaan padanya, dan mereka berdua saling mencintai?"Samira mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. "Sekalipun punya perasaan, Keluarga Gunawan sudah punya pertunangan. Bukankah kurang pantas bagi keluarga kita untuk ikut campur?"Ayahnya Lily tersenyum. "Masalah pembatalan pertunangan adalah urusan Keluarga Gunawan, apa hubungannya dengan keluarga kita? Toh, hubungan kedua anak itu belum diumumkan kepada publik. Kalau Niel benar-benar membatalkan pertunangan itu demi putri kita, aku yakin dia tentu akan bersedia menunda untuk mempublikasikan hubungan mereka hingga satu atau dua tahun. Ini akan menjadi







