Entre Estações

Entre Estações

last updateLast Updated : 2026-01-19
By:  Elen Cristina L.L.Completed
Language: Portuguese
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
80Chapters
3.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Cristina vivia como o inverno: forte, reservada e acostumada ao frio da sua solidão. Após perder o esposo, decidiu que o amor seria uma estação que jamais voltaria a florescer em sua vida. Os anos passaram, e ela se acomodou na segurança de uma vida sem surpresas… até que Fernando surge como a primavera, trazendo cores e sensações que ela não sentia a muito tempo. A diferença de idade entre eles é apenas uma das barreiras que Cristina ergue em seu coração à princípio, mas Fernando não se importa com o tempo que separa os dois, ele acredita que o amor não segue calendários de tempo. Agora, Cristina precisa decidir: continuará presa ao inverno do passado ou vai se permitir colher flores novas trazidas nessa nova estação chamada amor!

View More

Chapter 1

capítulo 01

“Praak..! Praang..!”

Suara piring pecah yang berasal dari ruangan dapur di mana di sana terdapak rak piring dan gelas, aku hentikan sejenak menyuap dan mengunyah nasi di dalam mulutku.

“Wah..! Apa yang terjadi di dapur? Sepertinya suara piring yang pecah itu bukan karena terjatuh melainkan dibanting?” gumamku dalam hati.

Aku yang masih berada di meja makan tak jauh dari dapur itu merasa penasaran, pasalnya tadi yang ada di dapur itu hanya Bi Asih seorang pembantu di rumah mewah milik Om ku itu.

“Enak aja makan minum di rumah ini secara gratis! Apa dia kira hidup di kota gampang!” terdengar suara wanita mengomel dan itu bukan Bi Asih melainkan suara Tante Dewi.

Aku yang tadi bermaksud berdiri dan menuju ruangan dapur ingin melihat apa yang terjadi, tiba-tiba urungkan niatku itu. Selera makanku tiba-tiba hilang dan akupun menyudahi makan siang itu, lalu beranjak ke teras rumah dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

“Perasaanku jadi nggak enak, marahnya Tante Dewi tadi pasti bukan ditujukan pada Bi Asih, pasalnya hanya aku yang saat itu makan siang,” gumamku dalam hati sembari menatap kosong ke arah halaman.

Aku merasa semakin tidak nyaman duduk berlama-lama di teras itu, hingga aku memutuskan untuk ke kamarku yang berada di lantai atas. Setibanya di kamar, aku baringkan tubuhku di ranjang berharap perasaan tak nyaman itu hilang.

Namun setelah beberapa saat berbaring bahkan memejamkan mata, perasaan tak enak hati itu masih saja menyelinap di hati hingga aku memutuskan untuk bangkit duduk di ranjangku itu.

“Aku yakin amarah Tante Dewi tadi ditujukan padaku, pasalnya sejak aku datang dan tinggal di sini Tante Dewi kerap menunjukan sikap sinisnya saat berpapasan jalan atau duduk bareng di dalam rumah ini,” aku berbicara sendiri di dalam kamarku itu.

“Tapi kenapa sikap Tante Dewi itu hanya terlihat ketika Om Ramlan nggak ada di rumah? Atau Tante Dewi emang takut dengan Om hingga sikap sinisnya itu ia tunjukan setiap kali Om Ramlan nggak ada? Ah, apa yang harus aku lakukan untuk menyikapi sikap Tante Dewi itu padaku?” kepalaku jadi pusing memikirkan kejadian Tante Dewi marah-marah di dapur tadi, hingga aku kembali rebahan berharap dapat pejamkan mata dan menenangkan pikiranku.

Hari berikutnya sepulang dari sekolah, seperti biasa setelah mengganti pakaian seragam sekolah di kamar langsung turun dan menuju meja makan untuk makan siang. Sebelum duduk di salah satu kursi di sela-sela meja makan itu, aku sempatkan dulu untuk mengitari pandangan mulai ke arah ruangan depan hingga ruangan dapur.

Setelah aku tak melihat sosok yang menjadi keinginanku untuk mencari tahu mengitari pandangan di dekat meja makan itu, akupun duduk lalu membuka penutup menu makanan yang ada di atas meja.

“Astaga..!”

Aku terperanjat saat aku melihat di atas meja makan itu hanya ada sepiring nasi bercampur kerak yang telah diremas-remas sedemikian rupa hingga antara nasi dan kerak itu sudah tak dapat disisihkan lagi, lalu di dekat piring itu ada secuil sambal tanpa lauk yang ditaruh di piring kecil.

Aku ingin sekali menemui Bi Asih yang tadi aku lihat berada di ruangan belakang, untuk menanyakan kenapa di meja makan hanya ada sepiring nasi bercampur kerak dan secuil sambal tanpa lauk di atas piring kecil, akan tetapi aku urungkan karena aku tak ingin memperburuk situasi.

Akupun duduk dan memandang sepiring nasi campur kerak dan secuil sambal itu, karena perutku memang sudah lapar sejak tadi akhirnya aku makan saja. Ketika beberapa suap nasi bercampur kerak itu aku makan, tiba-tiba hatiku merasa sedih dan mataku langsung berkaca-kaca.

“Untuk pertama kalinya aku makan nasi kerak dengan secuil sambal ini, sesusah-susahnya di desa tinggal dengan kedua orang tuaku, aku nggak pernah mengalami hal seperti ini. Kalaupun nggak ada lauk pauk dan hanya makan dengan sambal serta rebusan sayur, akan tetapi nasinya nggak pernah dicampur dengan kerak seperti ini,” gumamku di sela-sela terus mengunyah nasi kerak itu agar rasa laparku segera hilang dan aku bisa menghentikan makan.

Ku sudahi makan siang itu ketika rasa lapar di perutku mulai berkurang, aku kemudian berdiri dan memutuskan untuk langsung ke lantai atas di mana di sana kamarku berada.

Ketika aku hampir tiba di tangga, tiba-tiba aku berpapasan dengan Bi Asih.

“Mas Ryan,” sapa Bi Asih.

“Ya Bi, ada apa?” tanyaku.

“Mas Ryan diminta menemui Nyonya di luar di samping kanan rumah,” jawab Bi Asih.

 “Baik Bi, aku akan ke sana sekarang,” ujarku, meskipun dengan perasaan tak enak namun aku beranikan diri untuk menemui Tante Dewi di samping rumah yang dikatakan Bi Asih itu, di sana aku melihat Tante Dewi tengah berdiri berkacak pinggang sambil melihat ke arah selokan yang berada di sisi kanan di seberang pagar rumah mewah itu.

“Ada apa, Tante?” sapa ku saat aku telah berdiri di samping Tante Dewi.

“Enak sekali ya, jadi kamu! Pergi sekolah di kasih uang jajan! Pulang sekolah makan, lalu tidur-tiduran di kamar!” seru Tante Dewi dengan nada ketus, aku hanya tundukan kepala mendengar perkataannya itu.

“Hidup di kota ini nggak ada yang gratis! Semua orang harus bekerja keras agar bisa mendapatkan uang untuk makan! Nah, karena kamu udah diberi uang jajan tadi pagi oleh Mas Ramlan sekarang harus kamu bayar dengan membersihkan selokan di sepanjang perkarangan rumah ini!” tutur Tante Dewi dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian.

“Baik Tante, sekarang juga aku akan bersihkan selokan ini.” ujarku sembari menunjuk selokan yang dimaksud Tante Dewi itu, kemudian aku mencari peralatan seperti cangkul yang terdapat di gudang di belakang rumah mewah itu.

“Dasar tak tahu diri! Enak saja tinggal di rumah ini secara gratis! Di kasih jajan lagi!” gerutu Tante Dewi sambil melangkah masuk ke dalam rumah, hal itu terdengar jelas olehku karena Tante Dewi menggerutu dengan lantang.

“Bruuuuuuk...!”

Saat hendak melangkah ke gudang, aku terkejut mendengar suara sesuatu dari dalam rumah...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


No Comments
80 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status