Share

Eps. 2 Pelukan yang Kurindukan

Penulis: Peter Samudra
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 00:06:30

“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue.

Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue yang secara teratur melambat. Kedua mata ini pun enggan untuk mengedipkannya. Karena di dalam bola mata ini tampak terlihat sesosok wanita tengah berdiri di depan pintu rumah, melambaikan tangan dengan senyuman indah penuh kerinduan yang terlukis di wajahnya.

Dengan segera gue hempaskan barang bawaan gue, lalu berlari ke arahnya. Setiap langkah yang gue pijak, berputar seiring dengan segala kenangan yang tersimpan baik di hati ini. Dinginnya malam dan terangnya bulan menjadi saksi atas kerinduan yang tak tertahankan.

Dan… senyuman itu terlihat semakin nyata di saat gue berada di hadapannya. Tak sepatah kata pun terucap. Hanya dua tatapan saling bertemu. Kemudian naluri pun mengikuti. Sebuah pelukan hangat telah mendarat di tubuh gue. Pelukan dari orang yang selalu gue ucap dalam doa. Pelukan dari manusia yang telah memilih gue sebagai tujuan hidupnya.

Ya, beliau adalah ibu yang merawat gue. Gue pun tidak sanggup lagi menahan air mata ini. Air mata bahagia karena telah kembali ke rumah. Merasakan hangatnya suasana yang tidak bisa tergantikan di tempat lain.

“Maafin Andra ya, Ma. Selama ini Andra udah nggak peduli dengan kalian,” bisik gue, diiringi air mata jatuh membasahi pipi. “Iya, udah-udah. Yang penting kamu udah kembali sekarang. Jadi, Mama nggak perlu khawatir lagi. Udah, ah! Malu dilihat teman-temanmu tuh!” balas Ibu, mencoba menenangkan gue yang sedang terbawa suasana.

Lalu, tiba-tiba sebuah pelukan lain mendarat dari arah belakang gue. Tanpa menengok pun, gue bisa mengetahui kalau itu adalah adik gue, Diana. “Kak Andra!” serunya, tampak bahagia dengan sentuhan yang masih terasa canggung.

Beberapa saat kemudian, “Ehem, Dra!” terdengar suara Abay memanggil gue. “Oh, iya. Sori ya guys, sampe lupa ada kalian,” terkejut gue, baru menyadarinya.

“Iya, nggak apa-apa. Yaudah, kalo gitu kami langsung balik dulu aja ya, Dra. Mari Tante,” ucap Vero, pamit undur diri. Sementara gue merasa sungkan karena tidak menyuguhkan apa-apa ke mereka yang sudah susah payah menjemput gue. “Oke deh. Lain kali kalo ke sini lagi kita makan-makan ya,” celetuk gue, sesaat sebelum mereka pergi.

“Itu tadi sahabat SMA-mu yang dulu, kan?” dengan ragu, Ibu menatap gue. “Kalo si Abay iya, Ma. Kalo Vero, Andra baru kenal tadi,” jawab gue, apa adanya. “Oh, gitu. Eh, tapi dia itu perempuan kan? Mama takut salah manggil. Soalnya pakai bajunya kayak anak laki-laki,” heran Ibu, mengingat dandanan Vero yang memang terlihat tomboy.

“Ya, kayaknya cewek sih, Ma. Andra belum periksa juga dalemnya,” canda gue, sambil membayangkan. “Hush! Kamu kok jadi genit gini!” Ibu terkejut, tidak pernah melihat pribadi gue yang seperti ini.

“Oh, ya. Vero itu ternyata masih tetanggaan sama kita lho, Ma. Beda beberapa blok doang dari sini,” lanjut gue. “Oh, ya? Hmm, dia suka drakor nggak, ya?” Gue mengangkat bahu, lalu menyelonong pergi—tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.

Gue langsung menuju ke kamar yang telah lama gue tinggalkan. Kamar yang selalu menghangatkan gue dari sejak kecil hingga terakhir gue meninggalkannya. Sebuah kamar, yang telah menjadi saksi bisu atas segala hal yang gue rasakan, di saat orang lain tidak mau mengerti.

“Jglek!” suara pintu terbuka. “Yeah, welcome home, Deandra,” ucap gue menyambut diri sendiri. “Welkom-welkom,” sahut Diana lirih mengejutkan gue. “HAAHAIYAA!” Mendadak gue cosplay jadi Spiderman merayap di dinding. Diana menatap sinis. Mungkin di dalam benaknya, ia sedang berpikir: lebay banget sih manusia satu ini.

“Ka—kamu ngapain di sini? Kakak kira kosong nggak ada siapa-siapa tadi,” dengan detak jantung yang masih kencang, gue bertanya. “Ish, kalo nggak disuruh Mama juga Diana males ke sini! Kamar udah kayak markas mafia pengangguran!” balasnya membuat gue terdiam. Adik gue satu ini memang galak mirip macan baru dilepas dari kandang.

“Silahkan, Tuan Deandra, kamar Anda sudah siap. Kini Anda bisa beristirahat selamanya… eh, maksud saya beristirahat dengan nyaman,” lanjutnya menyeringai sebelum keluar dari kamar. Saat itu juga gue baru sadar jika Diana ternyata baru saja membersihkan kamar gue. Gue pun buru-buru memberikan senyuman terindah gue, namun… “Uweeeek!” Entah ia kenapa.

Tak terasa hari pun sudah larut malam. Langit tampak gelap karena bulan bersembunyi di balik awan. Cahaya lampu yang menerangi kamar juga telah padam. Diikuti oleh heningnya suasana yang sedikit mencekam.

Kurebahkan badan ini karena lelah yang tak tertahankan. Mengistirahatkan jiwa raga dan juga pikiran yang sering mengancam. Bola mata menari-nari, dari ujung kiri hingga ujung kanan. Mengingat segala kenangan, hingga tak sadar telah terpejam.

Selamat malam wahai engkau yang akan kuimpikan. Kita kan bertemu, walau di alam yang tak kita inginkan.

Di suatu tempat

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, tampak seorang wanita sedang membolak-balikkan tiap-tiap halaman pada scrapbook yang baru ditemukannya itu. Ia membaca setiap kata demi kata yang tertulis di sana. Matanya berbinar, seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga di buku tersebut. Lalu ia bersedih, air matanya jatuh tanpa ia sadari.

“Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 20 Eksperimen Hati

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 19 Dopamin Bernama Sonya

    Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 18 Hari yang Ribut Bersamanya

    Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 17 Pria yang Tidak Boleh Dicintai

    “Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 16 Ketika Dunia Menolakku

    KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 15 Akar dari Segala Ketakutan

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status