Share

Eps. 3 18 Bulan Kemudian

Author: Peter Samudra
last update Last Updated: 2026-03-05 00:15:20

18 bulan kemudian

“Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak.

“Deandraaa! Orang tua manggil nggak di jawab-jawab!” teriak Ibu hingga menggema ke seluruh ruangan. “Awas ya, nggak Mama masakin lagi, lho!” lanjut beliau mengancam dengan kalimat pamungkasnya.

“Iya, Ma, bentar, lagi tanggung,” balas gue, bergegas. “Hah! Tanggung? Emang kamu lagi ngapain?” Nada Ibu terdengar heran. “Tanggung lagi beresin tempat tidur, Maaaaa...” jawab gue, buru-buru menghampiri, salto, lalu berpose di hadapannya.

“Taraaaa! Andra udah siap,” lanjut gue, mempersembahkan diri sendiri, lengkap dengan kedua tangan terbuka lebar. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue yang absurd itu.

“Beberapa hari ini kamu telat bangun terus. Insomnia kamu kumat lagi ya?” tanya beliau, memperhatikan wajah gue dengan tatapan yang bisa menembus pertahanan siapa pun. Gue tersentak. “E… emang keliatan ya, Ma?” sahut gue pelan.

Ibu mendengus sambil melotot kecil. “Tadinya Mama pikir kamu cosplay jadi K****u Panda, kantong matamu hitam banget!” ledeknya, separuh bercanda, separuh khawatir. Gue cuma bisa menghela napas panjang.

“Apa ini ada hubungannya dengan permintaan Mama waktu itu? Kamu jadi kepikiran lagi?” Suaranya melunak. Permintaan yang dimaksud adalah hal yang sama yang sudah berkali-kali beliau ucapkan—hingga gue hafal tiap intonasinya. Hal yang tidak pernah benar-benar gue inginkan.

“Emangnya kamu nggak mau tahu asal-usul kamu, Nak?” lanjutnya, kali ini menatap gue sungguh-sungguh, seolah setiap kata diberi bobot. “Hmm… bukannya Andra nggak mau, Ma. Tapi… bagi Andra, selama ada kalian, itu udah cukup,” jawab gue dengan keyakinan yang dicampur sedikit lelah.

“Iya, Mama tau itu.” Beliau mengusap punggung gue perlahan. “Tapi sampai kapan kamu akan menyimpan rasa benci itu? Kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu agar hidupmu tenang, Nak.”

Kami terdiam. Hening menggantung seperti asap yang enggan hilang. Sesekali pandangan kami bertemu, tapi langsung kabur lagi, seperti masing-masing takut membuka pintu emosi yang dalam.

“Pokoknya kamu harus ingat… kalau di sini sakit, jangan ditahan.” Jari Ibu menunjuk dada. “Iya, Ma…” jawab gue lirih. “Kamu masih ingat kan kata-kata Dokter Silvi, kan?”

Gue mengangguk pelan. “Iya, nggak perlu overthinking dan nggak boleh ngerasa sendirian.” Kalimat itu keluar otomatis, seperti mantra yang sudah terlalu sering gue ulang.

“Kalau kamu merasakan gejalanya, kamu harus langsung menemui beliau. Mama nggak mau kejadian lima tahun lalu terulang lagi.” Suara Ibu bergetar tipis. Masih ada trauma di sana, meski beliau berusaha menutupinya dengan wajah tegar.

Gue hanya bisa menarik napas panjang. Rasa mual yang samar tercampur dengan kehilangan selera makan. Untuk mengalihkan suasana, gue bertanya, “Oh, ya… Diana mana? Kok nggak ikut sarapan?”

“Diana? Ya udah berangkat dong,” jawab Ibu, memandang gue seakan gue baru turun dari planet lain. “Hah? Ke mana?” penasaran gue. “Tuh, kan. Kamu nggak perhatian sama adikmu. Diana kan udah mulai kerja dari minggu lalu. Masa kamu lupa sih?” Kedua tangan Ibu bertengger di pinggang.

“Oh, iya ya. Ya maap.” Gue merasa bersalah. Terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai dunia sekitar lewat begitu saja.

Ya, di rumah ini, kami cuma hidup bertiga: Ibu—seorang single fighter yang membesarkan dua anaknya seorang diri—gue dan adik perempuan gue, Diana, yang baru lulus kuliah tahun ini. Seharusnya gue bisa lebih hadir, lebih peka. Tapi nyatanya, gue sering tersesat di dalam diri sendiri.

Setelah sarapan, gue bersiap untuk menjalani kegiatan hari ini. Sudah enam bulan gue bekerja sebagai kapster[2] di sebuah barbershop di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Awalnya, gue memilih profesi ini bukan karena gue suka dengan dunia tata rambut. Melainkan karena tidak semua bidang pekerjaan dapat menerima kondisi fisik gue apa adanya—dengan tato hampir di seluruh badan. Pilihan hidup gue sendiri, memang. Sudah terlambat untuk menyesal, tapi bukan alasan untuk berhenti berfungsi.

Setidaknya, dalam pekerjaan ini, yang diuji bukan penampilan, melainkan keterampilan. Dan untungnya, gue memang lebih nyaman bekerja dengan kreativitas. Dalam bidang ini berkreasi dengan rambut, yang bagi sebagian orang, hanyalah rambut. Tapi bagi gue, itu identitas. Mahkota yang bercerita.

Tugas gue adalah membantu orang menemukan cerita itu melalui potongan yang tepat. Potongan undercut gue sendiri membantu garis rahang terlihat tegas, membuat penampilan gue lebih “nyala”.

Di depan kaca kamar, gue bergaya sambil memeriksa outfit kerja hari ini. Kaos hitam belel bergambar sampul album Saosin—band yang menemani masa sekolah gue dulu. Dipadukan jeans hitam usang, gesper kulit coklat tua berkepala besi, dan sepatu boots hitam kebanggaan dari Cibaduyut.

“Ugh, yeah… rock n roll baby!” gumam gue sambil pose ala vokalis band indie gagal manggung. “Walaupun penampilan belel, yang penting muka nggak gembel, hahay!” celetuk gue lagi, menghibur diri sambil joget asal yang gue sendiri pun… ssst­—, malu melihatnya.

Setelah beberapa saat, gue pun berdiri di depan dinding kamar—dinding yang sejak bertahun-tahun lalu setia memajang para idola masa remaja gue.

Bye Underoath, Roxette, Mew, Of Mice & Men,” pamit gue, seolah mereka semua adalah sahabat lama yang masih menjaga sudut kecil kehidupan gue. Mereka menjadi saksi bisu dari fase paling bising, kacau, namun juga paling jujur dalam hidup gue.

Gue bersyukur pernah tumbuh di era klasik sekaligus masih bertahan di zaman yang serba modern ini. Tapi jujur, gue memang bukan tipikal manusia yang mudah tergoda teknologi baru. Gue lebih suka hal-hal yang membawa aroma masa lalu. Kata orang sih gue belum move on. Ya terserah. Inilah gue—manusia yang hidup berdampingan dengan sejuta kenangan yang enggan gue lepaskan.

Termasuk motor 400cc yang sedang gue panaskan ini. Si bandit jadul yang gue beli dari hasil kerja keras merantau di Bali beberapa tahun lalu. Whroom... whroom! Suara mesinnya mengaum seperti singa yang baru bangun tidur—merdu di telinga gue, mengganggu di telinga orang lain. Banyak yang benci sama motor ini karena bising. Padahal tidak digeber pun, suaranya sudah serupa konser metal. Namanya juga mesin besar.

“Deandraaa! Udah dong manasin motornya, berisik banget tau! Mama lagi nonton Ahn Bo Hyun, nih!” teriak Ibu—haters nomor satu si bandit.

“Mbok Yun?! Mama nonton drakor apa Dagelan Jawa sih?” heran gue sambil mengambil helm yang penuh stiker. “Yee, kamu tuh, dari ujung sepatu sampe ke atas, belel semua! Rambut doang yang mengkilap! Itu pake kecap dapur Mama, ya?!” serangnya balik. Ibu kalau sudah menyerang, critical point-nya selalu 100%.

“Yaudah ah, Ma. Andra berangkat dulu, bye!” Gue ngegas si bandit, lalu meluncur pergi. Whroom! Suaranya mengantarkan gue keluar dari halaman rumah seperti ritual pagi yang tidak pernah gagal membuat tetangga sadar bahwa gue sudah bangun. “Helloow epribadeeeh!”

***

[2] Sebutan profesi untuk seseorang yang ahli dalam dunia potong rambut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 20 Eksperimen Hati

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 19 Dopamin Bernama Sonya

    Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 18 Hari yang Ribut Bersamanya

    Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 17 Pria yang Tidak Boleh Dicintai

    “Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 16 Ketika Dunia Menolakku

    KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 15 Akar dari Segala Ketakutan

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status